
"Jumat kalian saja ya Nan, kami tidak usah dampingi." kata Mario pada Nanta.
"Iya Pi." jawab Nanta, hanya untuk lihat lokasi bersama sahabatnya memang tidak perlu didampingi oleh petinggi.
"Nanti Ambar saja yang dampingi." Ambar tawarkan diri.
"Ya kamu harus dampingi, Mbar." kata Mario pada Ambar.
"Boleh sekalian diumumkan di media sosial tidak kehadiran Pak Nanta dan temannya?" Ambar minta ijin petinggi.
"Bagaimana Nan?" tanya Mario.
"Terserah saja." jawab Nanta.
"Siap-siap ramai loh." kata Mario pada Ambar.
"Justru kan maunya ramai Pak." jawab Ambar senang dapatkan ijin.
"Jadi Pak Nanta dan teman ada disini jam berapa?" tanya Ambar.
"Kami sih janjian setelah sholat jumat." jawab Nanta.
"Kalau boleh sih dari pagi Pak, pagi bisa bahas pekerjaan, setelahnya ladeni penggemar." Ambar memberi saran.
"Nanti aku bahas sama ketiga temanku ya, tapi tidak jamin kehadiran kami akan buat ramai pengunjung juga loh." kata Nanta pada Ambar.
"Usaha saja dulu." jawab Ambar terkekeh, Nanta ikut terkekeh.
"Oke apalagi nih?" tanya Mario. Semua saling pandang. Sepertinya tidak ada lagi yang mau disampaikan.
"Baiklah Suman, pembayaran siang ini segera diproses." kata Mario pada Suman lalu hubungi bagian keuangan untuk proses pembayaran pihak ketiga cabang utara.
"Traktir." celutuk Ambar pada Suman.
"Tuh Pak Nanta, saya bilang juga apa dia makannya banyak." kata Suman lagi membuat semuanya terbahak.
"Yuk minum jus dulu kita." Mario ajak semua untuk nikmati jus yang sudah disediakan. Ambar juga siapkan makan siang untuk semuanya.
"Pak makan dulu baru pulang." kata Ambar pada bosnya.
"Kamu yang traktir?" Mario bercandai Ambar.
"Beban kantor dong, kan kepentingan kantor." jawabnya tertawa senang. Mario ikut tertawa sudah pasti kalau begini beban kantor.
"Ada juga dia yang minta traktir Pak, mana pernah traktir." kata Suman pada Mario. Semua kembali tertawa.
"Kalian ini sepertinya sudah sangat kenal satu sama lain ya." kata Mario pada Suman.
"Lumayan lah Pak beberapa kali urus cabang ini, jadi begini deh." jawab Suman terkekeh.
"Beberapa kali jalan bersama sepertinya." tebak Nanta terkekeh.
"Kan sama-sama single Pak, jalan sama siapa saja boleh. Tapi tidak lebih dari itu kok." Ambar menjelaskan.
"Kalau lebih juga bukan urusan saya." jawab Mario.
"Urusan Bapak juga dong, kalau ternyata jodoh. Tapi rupanya tidak." jawab Ambar terkekeh.
"Kenapa yakin tidak, kan tidak pernah tahu kedepannya?" tanya Nanta.
"Tidak kuat minta traktir terus." jawab Suman bercandai Ambar.
"Bukan karena itu." Ambar terbahak.
"Kenapa?" tanya Nanta kepo.
"Kasih tahu, Man?" tanya Ambar pada Suman. Suman tertawa saja.
"Kalau ke club pasti bertemu Suman lagi diantara para wanita." kata Andi pada Nanta.
"Ih Pak Andi, memangnya pernah lihat saya di club?" tanya Suman bingung.
"Benar tidak yang gue bilang?" tanya Andi. Suman terkekeh tidak bilang iya atau tidak.
"Begitu Pak Nanta, Ambar cari yang serius, dia masih mau main-main." jawab Ambar tertawa.
"Patah hati dong sama Suman?" tanya Nanta.
"Tidak, kan cuma jalan saja bukan pedekate." jawab Ambar.
"Minta traktir, gue ajak ke club tidak mau." jawab Suman akhirnya.
"Jangan habiskan uang ditempat tidak berguna, Man. Sudah saatnya pikirkan masa depan." Mario ingatkan Suman.
"Iya Pak." jawab Suman terkekeh.
"Kita juga pernah muda, tapi tidak habiskan waktu kesana." kata Andi lagi.
"Tuh lihat hasilnya, gue kasih tahu dari awal juga tidak dengarkan." kata Ambar pada Suman mereka seperti berteman baik.
"Iya bawel." kata Suman pada Ambar.
"Ayo Pak, makan." kata Ambar pada yang lainnya, jus mereka sudah habis perlahan sambil ngobrol tadi.
"Memang sudah jam makan siang ya?" tanya Andi melihat jam dipergelangan tangannya.
"Tamu saja sudah ramai Pak." kata Ambar tunjuki Meja yang sudah mulai terisi.
"Kalau jam makan siang selalu ramai begini?" tanya Nanta.
"Keseringannya begitu, tapi ini lebih ramai dari biasa." jawab Ambar.
"Makanya saya minta Pak Nanta dan teman datangnya pagi kalau saya bikin pengumuman pasti akan lebih ramai dari ini." lanjut Ambar lagi.
"Betul juga Nan." kata Mario pada Nanta.
"Nanti aku kabari Sahabatku, Pi." kata Nanta pada Mario.
"Kamu mau panggil Papi juga boleh." kata Mario pada Ambar.
"Nanti yang lain iri." kata Ambar lagi-lagi semua terbahak.
"Ya sudah jangan komplen kalau begitu." kata Andi disela tawanya.
"Disini tidak ada VIP room ya?" tanya Nanta karena ruangan loss saja.
"Ada diatas Pak Nanta." jawab Ambar. Nanta anggukan kepalanya.
"Jumat butuh ruang VIP?" tanya Ambar.
"Tidak usah." jawab Nanta.
"Pakai ruang kerja kami saja Boy." tunjuk Mario pada ruang kerja.
"Iya Pi." jawab Nanta.
"Kalau Papi sudah ijinkan, Jumat Ambar buka pintunya." Mulai panggil Papi dia. Semua kembali terbahak.
Malam harinya Nanta hubungi ketiga sahabatnya.
"Gue lagi sibuk." kata Mike sambil tunjukkan undangan dan label, rupanya sedang tempelkan nama-nama pada undangan.
"Bukannya suruh Wedding Organizer?" tanya Nanta.
"Ini yang tambahan." kata Mike, tidak lama muncul Doni yang baru saja selesai mandi.
"Dari mana mandi malam?" tanya Mike.
"Kalau sudah menikah mandi bisa kapan saja." jawab Doni membuat Nanta terbahak.
"Gue lagi dijalan." kata Larry yang baru muncul, ia lagi menyetir rupanya.
"Wah tutup deh." kata Nanta.
"Tidak apa, ada yang pegangi." kata Larry terkekeh.
"Lagi sama siapa?" tanya Mike penasaran.
"Ada deh." jawab Larry kembali terkekeh.
"Ih sombongnya." kesal Mike gelengkan kepala.
"Sama aku, Bang." Daniel arahkan kamera pada wajahnya.
"Bagus deh gue kira sama si itu."
"Si itu siapa?" Larry terbahak, sudah tahu maksud Mike.
"Jangan terlalu antipati Mike." Nanta mengingatkan.
"Iya sih, tapi gue takut Larry jatuh cinta. Rumi modelnya mepet gitu." kata Mike lagi.
"Gue bukan elu Mike." jawab Larry terbahak, Daniel setia pegangi handphone arahkan pada Abangnya yang sedang menyetir kendaraan.
"Gue mau info, jumat kita bertemu pagi saja dicabang utara jam sepuluh, bagaimana? setelah itu sholat jumat dan makan siang disana." kata Nanta pada sahabatnya.
"Boleh lah, sore gue ada acara sama Seiqa." jawab Mike.
"Ok gue free." kata Larry.
"Gue juga free." jawab Doni.
"Aku ikut dong." pinta Daniel pada semuanya.
"Ikut saja." kata Nanta pada Daniel.
"Daniel, lu kok masih disini sih? tidak balik ke asrama?" tanya Doni.
"Libur panjang, Bang. Papa dan Mama tugas luar kota, mau jalan sama teman tidak dikasih." Daniel mulai curhat.
"Teman-teman Daniel blacklist." Larry terbahak.
"Makanya aku ikut Abang terus." adu Daniel lagi.
"Makanya jangan nakal dong." kata Mike pada Daniel.
"Iya ini tidak nakal." jawab Daniel membuat Larry terkekeh.
"Redi mana?" tanya Nanta pada Larry dan Daniel.
"Ikut ke luar kota." jawab Larry.
"Kenapa elu tidak ikut Daniel?" tanya Mike.
"Yah masa ikut Mama Papa kerja." Daniel terkekeh.
"Redi ikut tuh."
"Terpaksa dia. Tidak ada alasan untuk menolak." Larry tertawakan Redi adiknya.
"Jadi jumat oke ya, mau berangkat bersama atau bertemu disana?" tanya Nanta.
"Bertemu disana saja." jawab Mike.
"Gue ikut siapa deh, malas setir sendirian nih." kata Doni.
"Sama gue boleh Don, nanti gue jemput." kata Nanta.
"Jemput gue sekalian Nan." pinta Larry.
"Oke." jawab Nanta acungkan jempol, laku mereka akhiri sambungan teleponnya.