I Love You Too

I Love You Too
Lepas sambut



Senin pagi, Kenan bersiap ke kantor bersama Raymond, Nona dan Roma. Sesuai jadwal pukul sembilan pagi akan ada acara lepas sambut. Untung saja kehamilan Nona tidak pakai mual sehingga pagi ini Nona bisa ikut Kenan tanpa keluhan.


Acara berjalan dengan lancar, saat lepas sambut Kenan, Raymond dan Fero didampingi istri masing-masing, banyak karyawan yang berbisik-bisik saat melihat Tari tampak akrab dengan Nona. Untuk sebagian orang mungkin ini merupakan hal yang aneh, sementara Nona dan Tari menjalankan biasa saja.


Seperti biasa Kenan tidak pernah berlama-lama dalam memberikan sambutan, ia juga mengucapkan salam perpisahan, bagaimanapun tanggung jawab sekarang ada pada Raymond. Tapi Kenan juga mengatakan sekali waktu ia akan berkunjung ke cabang Malang. Ada juga yang tampak sedih karena Kenan harus pindah Ke Jakarta.


"Tari saya titip Ray." kata Kenan pada Tari


"Ray, bukannya kamu yang harus jaga saya." protes Tari pada Raymond. Semua yang ada disana tertawa.


"Baiklah saya pamit dulu, terimakasih untuk kerjasamanya selama ini, saya mohon maaf jika ada kesalahan,ucapan atau perbuatan yang menyinggung perasaan kalian selama ini, tanpa kalian perusahaan ini bukanlah apa-apa. Tetap semangat dalam bekerja, sekali lagi saya ucapkan Terima kasih." Kenan menutup pertemuan setelah memperkenalkan Raymond yang mereka memang sudah kenal dan Fero pengganti Raymond beserta istri mereka.


Raymond mengantarkan Nona dan Kenan menuju lift setelah mereka bersalaman dengan yang lain.


"Om yakin ke Jakarta mau bawa mobil?" tanya Raymond khawatir, mengingat terakhir kali ke Jakarta Kenan kecelakaan.


"Saya ditemani Pak Atang. Lagipula Nona mau mampir ke Cirebon mengambil beberapa barangnya." jawab Kenan terus menggandeng Nona.


"Huhu Kak Nona." Roma memeluk Nona dengan wajah merengek ingin menangis


"Setiap weekend ke Jakarta saja." kata Nona memprovokasi. Roma memandang Raymond meminta dukungan.


"Aku janji sebulan sekali, tidak setiap minggu, itupun dengan catatan." Raymond memasukkan kedua tangannya disaku celana, sedang Roma mendekat pada suaminya.


"Jangan ajak nego, kan belum tahu kesibukan yang ditinggal Om Kenan seperti apa." kata Raymond lagi pada Roma. Roma memonyongkan bibirnya.


"Adaptasi paling hanya sebentar Rom, teman baru kamu juga asik itu." kata Nona yang tadi sempat ngobrol dengan istri Fero.


"Semoga seasik Kak Nona." kata Roma membuat Nona tertawa.


"Om langsung pamit ke Jakarta ya, kalian masih sibuk disini kan." kata Kenan pada Roma dan Raymond.


"Loh bukannya berangkat nanti malam?" tanya Roma.


"Menjemput Nanta, membeli oleh-oleh lanjut menuju Jakarta, kita jalan santai, supaya Nona tidak terlalu capek. Malam menginap dicirebon dulu." jawab Kenan disambut anggukan Nona.


"Dari Cirebon ke Jakarta sudah dekat."


"Iya, paling besok jam sepuluh sampai di Jakarta, kalau berangkat shubuh Dari Cirebon."


"Berkabar ya Om, aku limbung tidak ada Om. Doakan aku bisa Om."


"Kamu pasti bisa, Boy." Kenan menepuk bahu keponakannya, kemudian mereka saling berpelukan erat.


"Aku sedih." kata Roma kembali memeluk Nona lalu menyalami Kenan.


"Tidak akan sedih lagi karena sebentar lagi akan ada penghuni baru disini." kata Nona mengelus perut Roma.


"Aamiin." jawab Raymond dan Nona bersamaan.


"Sayang, kapan ke dokter kandungan." tanya Roma pada Raymond.


"Minggu depan ya, aku masih adaptasi seminggu ini." Roma menganggukkan kepalanya tidak mendebat suaminya.


"Berkabar ya Kak Nona, nanti yang kursus piano private kabari aku." Nona menganggukkan kepalanya. Ia belum menceritakan pada Kenan jika ada yang ingin kursus piano private.


"Kenapa itu kursus piano?" tanya Kenan ketika mereka berjalan menuju keparkiran, dimana Pak Atang sudah menunggu sejak tadi.


"Teman Roma di Jakarta, keponakannya ada yang mau kursus piano private sama aku, bagaimana?"


"Lihat nanti saja, kita belum sampai Jakarta, belum tahu juga kondisi hamil kamu bagaimana." jawab Kenan pada Nona.


"Iya." jawab Nona menurut.


"Pak Atang sudah bawa baju" tanya Nona kemudian pada Pak Atang.


"Sudah, Non." jawab Pak Atang tersenyum.


"Hari sabtu, Pak. Naik kereta."


"Loh, naik pesawat saja, kasihan bawa Balita."


"Takut naik pesawat Pak, biar saja naik kereta enak bocahnya bisa jajan." Pak Atang tersenyum melalui kaca spion pada Kenan.


"Di Pesawat juga bisa jajan." kata Nona terkekeh.


"Tapi takut, nanti malah repot Maknya takut anaknya ndak bisa diam." kata Pak Atang kembali terkekeh. Nona ikut terkekeh.


"Kasih nama anak dan istri Pak Atang ke Bu Tari ya, nanti dipesankan tiket keretanya." kata Kenan, sambil mengirim pesan pada Tari agar anak dan istri Atang dibelikan tiket kereta yang nyaman.


"Siap Pak. Nanti saya kirimkan." kata Pak Atang pada Kenan, kembali menatap Kenan melalui kaca spion.


Mereka tiba disekolah Nanta sepuluh menit lebih cepat, Warung makanan di seberang sekolah Nanta membuat air liur Nona mengalir.


"Sayang, mau mie ayam bangka." kata Nona pada Kenan.


"Mau makan ditempat apa dimobil?"


"Makan ditempat saja, sekaligus menunggu Nanta." kata Nona pada suaminya. Kenan menuruti keinginan Nona, meminta Pak Atang memindahkan Mobil kedepan kios Mie bangka yang Nona inginkan.


"Pak, ayo turun." ajak Kenan pada Pak Atang.


"Pak Kenan ikut makan mie?" tanya Pak Atang herang karena Kenan sudah lama tidak makan Mie.


"Kenapa memangnya? Mas Kenan Alergi mie?" tanya Nona pada Kenan.


"Tidak, selama ini selalu saja ajak Pak Atang makan nasi yang banyak sayurnya, bukan Mie yang banyak sawinya." kata Kenan terkekeh.


"Jadi bagaimana?" tanya Nona bingung.


"Tidak apa, kita makan saja." jawab Kenan mendorong pelan badan istrinya. Pak Atang mengikuti dari belakang. Tidak begitu ramai, mengingat siswa masih belajar didalam dan belum waktunya bubaran sekolah, karena bukan ruangan ber ac Nona pun menyerah, minta Mie dibungkus saja, ia akan makan di mobil, sementara Kenan dan Pak Atang dibiarkan makan di Warung.


"Pak Atang makan saja dulu, nanti saya dan Nona makan dimobil." kata Kenan pada Pak Atang yang siap menyantap Mie bakso dihadapannya, setelah membayar dan minta agar yang 2 porsi dibawakan ke mobil, Kenan mengambil kunci mobil dari Pak Atang dan menyalakan mesin juga AC untuk Nona.


"Enak, kalau tahu dari dulu makan disini." kata Nona sambil menikmati Mie Ayam miliknya.


"Untung baru tahu, makan Mie tidak bole terlalu sering." jawab Kenan terkekeh.


"Iya tapi seenak ini, bagaimana nanti kalau sampai Jakarta terbayang rasanya." kata Nona pada Kenan.


"Nanti kita cari yang di Jakarta, banyak juga yang enak." jawab Kenan sambil menyantap Mie Ayam.


"Apa kita bikin Warung Mie Ayam saja di Jakarta, kita minta si Bapak buka cabang." kata Nona memandang suaminya, serius sekali wajahnya. Kenan terbahak ingin sekali menyentik jidat Nona, ada saya rencananya, tadi terima kursus piano, sekarang buka Warung Mie Ayam.


"Pak, minta nomor telepon pemilik Mie Ayam ini ya." kata Nona pada Pelayan Warung, ketika mereka sudah selesai makan. Entah kenapa pelayan Warung dengan polosnya memenuhi permintaan Nona. Semudah itu memberikan nomor handphone pada orang yang tidak dikenal.


"Kamu serius mau buka Warung Mie Ayam?" tanya Kenan ketika pelayan berlalu.


"Jika Allah dan Mas Kenan mengijinkan." kata Nona sambil tersenyum semanis mungkin.


"Lihat nanti saja ya, begitu kita sudah tahu situasi di Jakarta." kata Kenan pada Nona, Nona mengangguk tidak mendebat, kemudian tersenyum melihat Nanta berlari menghampiri Kenan dan Nona di Mobil.


"Kamu mau makan Mie Ayam?" tanya Kenan pada bujangnya.


"Tidak, aku mau ikut Papa pola hidup sehat." jawab Nanta yang sudah berganti pakaian, sementara perlengkapan ya sudah dibagasi Mobil sedari pagi.


"Mau makan siang dimana?" tanya Kenan pada Nanta.


"Aku bungkus saja ya, ada Warung nasi disana. Papa dan Kak Nona mau?"


"Kami makan Mie Ayam barusan, kenyang cenderung begah." jawab Kenan terkekeh.


"Aku belikan air mineral, Papa dan Kak Nona minum sesering mungkin biar tidak begah." kata Nanta segera berlalu menuju Warung nasi langganannya.