I Love You Too

I Love You Too
Dongeng



"Aban Leyi..." tampak wajah Balen saat Larry angkat teleponnya, dikiranya Nanta akan ajak video group lagi rupanya Balen yang hubungi.


"Eh kok Baen belum bobo?" tanya Larry karena sudah hampir jam sepuluh, singkong rebus masih tampak lincah dan suaranya masih terdengar lantang.


"Beum nantuk Baen, bobo teus tadi sian." Balen menjelaskan, sementara dibelakangnya Nanta tampak hilir mudik entah kerjakan apa.


"Bobo dong, biar besok pagi bisa latihan berenang." Larry ingatkan Balen, jika besok Balen latihan berenang. Tapi latihan sendiri tanpa Larry, Nanta yang akan temani Balen. Untuk memperlancar gerakan Balen, Larry minta Balen berlatih setiap hari di pagi hari.


"Oh iya, Baen upa." kata singkong cantiknya Larry.


"Aban..." panggilnya lagi.


"Ya."


"Baen ndak jadi isti Aban ya talo udah dedek." katanya lagi ralat keinginannya. Larry terbahak mendengarnya.


"Yah kenapa?" tanya Larry menggoda Balen.


"Semuana ndak suju." kata Balen membuat Larry kembali terbahak.


"Eh bahas apa sih?" tanya Nanta ikutan nimbrung.


"Balen tidak jadi Lamar gue." kata Larry pada Nanta.


"Oh kamu sudah tahu mau jadi istri siapa selain Leyi?" tanya Nanta konyol.


"Beum." jawab Balen jujur.


"Kenapa tidak jadi?" tanya Nanta pada adiknya.


"Semuana ndak suju." jawab Balen tanpa beban, Nanta terkikik geli.


"Iyalah masih kecil mau jadi istri." kata Nanta lagi pada adiknya.


"Talo ama Aban Danil suju ndak?" tanya Balen pada Nanta dan Larry. Kembali Larry terbahak, Balen selalu membuat Larry tertawa geli.


"Kan sudah dibilang kalau masih kecil belum ada yang setuju." jawab Nanta pada adiknya.


"Oh tundu dedek ya?" tanya Balen.


"Iya nanti kalau sudah besar, Balen boleh tanya lagi sama kami, setuju apa tidak ya." kata Larry pada adik kecilnya.


"Talo dedek tata Mamon beum tau suami Baen sapa." kata Balen lagi.


"Memang, karena itu masih rahasia." jawab Larry.


"Talo ditu nanti Aban Leyi istina sapa don?" tanya Balen.


"Kakak siapa ya? nanti kalau Kakaknya sudah ketemu aban kasih tahu Baen." jawab Larry terkekeh.


"Oh Ilan tatana ya." jawab Balen membuat Nanta dan Larry tertawa.


"Masih dicari bukan hilang." jawab Nanta.


"Upa umahna ya," tebak Balen lagi.


"Ya lupa rumahnya dimana." jawab Larry ikuti Balen.


"Di Ciebon ndak?" tanya Balen.


"Hahaha yang dirumah Om Deni waktu itu ya Baen?" tanya Larry tertawa.


"Yah." jawab Balen.


"Tidak tahu juga di Cirebon apa Jakarta. Nantilah kalau sudah ketemu aban kasih tahu." jawab Larry.


"Ini elu yang telepon apa Balen?" tanya Nanta pada sahabatnya.


"Balen." jawab Larry.


"Buset, terganggu dong lagi ngobrol sama Rumi, sorry ya." Nanta jadi tidak enak hati.


"Tidak, malah senang ternyata Baen bukan elu." jawab Larry, sementara Balen sedang asik bercanda sama Ichie dan Dania.


"Mereka lagi dikamar lu?" tanya Larry.


"Iya, rusuh tuh." kata Nanta, Larry terbahak.


"Sudah ya." kata Nanta kemudian.


"Tanya Balen dulu masih mau bicara tidak." kata Larry pada Nanta.


"Balen, tutup ya telepon Aban Leyi." ijin Nanta pada Balen.


"Iya sayang." jawab Larry tersenyum.


"Tasih tau Baen talo istina udah temu." kata Balen pada Larry.


"Iya masih ditumpukan jerami, Abang pilih dulu." jawab Larry membuat Nanta tertawa.


"Dikira jarum ditumpukan jerami." Nanta terkekeh.


"Iye, pelan-pelan kan gue carinya. Udah ya Baban, atu bobo." kata Larry meniru Richie.


"Iye." Nanta tertawakan sahabatnya lalu matikan sambungan telepon.


"Ichie, Baen. Ayo bobo." ajak Nanta pada kedua adiknya.


"Atu ndak nantuk tuh." jawab Richie.


"Ini sudah malam loh." Nanta ingatkan Richie.


"Talo malam haus bobo." Balen ingatkan Richie.


"Atu bobo teus tadi." Richie menolak. Masih mau main dikamar abangnya.


"Semuana bobo aja, bialin atu sendilian disini." kata Richie pada yang lain.


"Kalau kita bobo kamu ngapain?" tanya Dania pada Richie.


"Atu main bastet." jawab Richie tunjuk ring basket mini di sudut kamar Nanta.


"Mana bisa bobo dengar bola dilempar." kata Dania terkekeh.


"Sini Ichie Abang bacakan dongeng." panggil Nanta pada adiknya. Balen sudah lebih dulu berbaring disamping Dania.


"Atu dimana?" tanya Richie karena Balen sudah ambil posisi lebih dulu.


"Di sebelah Balen." kata Nanta pada adiknya. Richie segera naiki tempat tidur dengan susah payah lalu berbaring disamping Balen, Nanta pun ikut berbaring disamping Richie. Malam ini keduanya sudah bawa selimut minta tidur dikamar Abang.


"Kita mulai ya." kata Nanta pada adiknya.


"Ya." jawab keduanya.


"Dengarkan sambil pejamkan mata." tegas Nanta lagi. Keduanya mengikuti, mulailah Nanta bacakan dongeng yang ada dibuku milik Balen. Walaupun belum bisa membaca, Nona sering belikan Balen buku agar nantinya Balen hobby membaca.


Beberapa menit setelah membaca Nanta perhatikan kedua adiknya, mata mereka masih bergerak-gerak, Nanta lanjutkan aktifitasnya. Setelah habis satu cerita, Nanta kembali perhatikan keduanya, Balen tampak sudah tertidur pulas, mulutnya sudah menganga. Sementara Richie masih bergerak mengedipkan mata.


Nanta kembali lanjutkan cerita kedua.


"Tidak boleh buka mata, pejamkan sambil dengarkan." bisik Nanta lagi. Richie menganggukkan kepalanya, Nanta jadi tersenyum menahan tawa. Richie baru tertidur ketika Nanta selesaikan cerita ke tiga. Bukan hanya Richie yang tertidur, Dania juga sudah terdengar dengkuran halusnya. Nanta kembali tersenyum, ketiga kesayangannya sudah tidur pulas, tinggal Nanta yang pikirkan supaya bisa tidur, ia juga belum mengantuk.


Akhirnya setelah memaksakan diri pejamkan mata sambil berdoa didalam hati, Nanta pun ikut tertidur pulas. Nanta baru terbangun menjelang shubuh setelah Balen rusuh minta ditemani ke toilet karena mau buang air kecil. Dania bangun dan Tania Balen.


"Sudah mau shubuh, sudah tahajud?" tanya Dania pada suaminya yang sudah duduk di pinggir tempat tidur.


"Belum." jawab Nanta kemudian benarkan selimut Richie.


"Baru Balen yang terbangun ya? Richie bagaimana?" tanya Nanta pada istrinya, ia benar-benar pulas.


"Semalam Ichie ke toilet sendiri." jawab Dania terkekeh.


"Beneran?" tanya Nanta tidak berasa saat Richie terbangun.


"Iya kamu pulas sekali." jawab Dania.


"Baen bobo ladi apa ndak?" tanya Balen pada keduanya.


"Abang mau sholat tahajud, Balen mau sholat juga yuk amb wudhu." ajak Nanta pada adiknya.


"Sebenenna Baen nantuk." kata Balen pada Abangnya.


"Tanggung, setelah shubuh Balen latihan berenang kan?" Nanta ingatkan Balen.


"Oh iya." Balen menepuk jidatnya.


"Baen udu duu." katanya menuju kamar mandi lebih dulu, Nanta ikuti dari belakang.


"Baen ndak bawa mutena." kata Balen lagi.


"Sebentar Tania ambilkan." Dania segera beranjak keluar kamar ambilkan mukena Balen di kamarnya. Tak lama Dania muncul bawakan apa yang Balen butuhkan, sementara Nanta sudah mulai sholat lebih dulu.


"Baen satit peut." kata Balen lagi segera menuju kamar mandi. Dania ikuti adiknya sambil tertawa, mandiri juga rupanya Balen dan Richie, tadi saja Balen rusuh karena bingung harus lewat mana, tidak mungkin lewati Dania karena khawatir kena adek bayi, lewati Richie takut terinjak, makanya bangunkan Aban Dan Tania.