I Love You Too

I Love You Too
dokter



Kenan tiba dirumah dengan membawa beberapa kotak es krim kesukaan Nona. Langsung saja disambut wajah cengengesan mertuanya.


"Banyak sekali es krimnya." Baron tampak takjub ikut membongkar tentengan Kenan.


"Buat Nona." jawab Kenan sambil tersenyum pada istrinya.


"Papa mau ya?" ijin Baron pada Nona tidak berani langsung ambil mengingat Nona cepat sekali meledak, sedari tadi semua kena omelannya termasuk Mita dan Baron.


"Aku sisain." kata Nona takut kehabisan.


"Sebanyak ini tidak mungkin Papa habiskan." kata Baron kesal, satu box saja bisa isi dua belas, sementara Kenan membeli hampir sepuluh box. Nona masih saja cemberut memandang Papa, kenapa semua jadi dimusuhi, batin Baron.


"Rapat kamu sudah selesai?" tanya Baron sambil menikmati es krimnya, sesekali melirik pada Nona.


"Yang satu sudah, selanjutnya Raymond yang handel." jawab Kenan ikut memakan es krim, sebelumnya membukakan dulu untuk Nona, walaupun tidak berani duduk dekat istrinya. Mita pun ikut menikmati es krim bawaan Kenan.


"Mas, yang lain masukkan kulkas, nanti lumer." pinta Nona pada Kenan.


"Bi Wastiiii..." Baron ikut memanggilkan Bi Wasti karena tidak mau Kenan yang memasukkan es krim itu ke kulkas.


"Mas Kenan saja Pa." kata Nona sambil menggelengkan kepalanya.


"Sama saja, kan mau masuk kulkas juga." bantah Baron, Nona langsung memajukan mulutnya beberapa senti. Kemudian Baron menyerahkan semua es krim yang belum di buka pada Bi Wasti.


"Masukkan kulkas, Bi." kata Baron tanpa mempedulikan Nona.


"Mau kedokter jam berapa?" tanya Kenan pada Nona.


"Jam empat." jawab Nona melirik kesal pada Papa.


"Saya mandi dulu." kata Kenan pada Nona kemudian memandang Baron sambil tersenyum.


"Kamu siapkan bajunya, Non." perintah Baron dengan wajah sangar.


"Iya." jawab Nona menyusul Kenan ke kamar. Ia menyiapkan baju untuk suaminya dan ikut berganti pakaian sambil menunggu Kenan selesai mandi.


"Aku belikan Mas Kenan parfume, pakai ini saja ya." katanya pada Kenan begitu Kenan selesai memakan baju yang dipilihkan Nona.


"Seperti Mbak Mita." kata Kenan sambil mencium botol parfume sebelum disemprotkan kebadannya.


"Memang aku beli karena suka wangi Tante Mita." kata Nona, Kenan mengangguk saja kemudian menyemprotkan parfume tersebut ke badannya. Pikirnya Nona sudah bicara tanpa naik oktaf saja sudah bagus.


"Aku maunya Mas Kenan pakai baju santai begini setiap hari." kata Nona mendekat pada Kenan dan memeluknya.


"Iya nanti kita beli, kamu pilihkan saja." jawab Kenan mengusap rambut istrinya, sepertinya makan es krim pengaruh juga, moodnya jadi Bagus, pikir Kenan jadi senyum sendiri.


"Ayo keluar, Papa dan Mbak Mita kasihan tidak ditemani." kata Kenan kemudian menggandeng tangan istrinya yang sudah agak reda emosinya.


"Abang sama Mbak Mita sudah makan?" tanya Kenan pada mertuanya.


"Sudah, tadi Mita olah yang ada dikulkas. Kamu dan Nona yang belum makan." jawab Baron memandang Kenan yang sedang menggandeng tangan putrinya.


"Iya saya memang belum makan, tadi habis rapat, telepon kesini langsung pulang. Ayo temani saya makan." ajak Kenan pada Baron dan Mita. Semua beranjak ke meja makan, melanjutkan ngobrol sambil menemani Kenan.


"Kamu tidak makan?" tanya Kenan pada Nona.


"Malas." jawab Nona asal. Kenan tidak mendebat istrinya ia makan saja sendiri, sesekali menyuapi Nona tanpa banyak bicara. Nona menurut saja lagi, malah mulutnya terbuka lebar menyambut sendok berisi makanan dari Kenan.


"Sudah." kata Nona akhirnya setelah piring Kenan sudah kosong. Kenan terkekeh banyak juga makan Nona siang ini. Setelah Nona kenyang, baru Kenan kembali menyendoki nasi untuknya karena tadi fokus menyuapi Nona makan.


"Kamu ke dokter mana?" tanya Mita pada Kenan.


"Iya aku tadi hubungi kesana." jawab Nona memegangi perutnya yang kekenyangan, sesak sekali rasanya.


Menjelang pukul empat mereka menuju RSIA, Baron bersikeras ingin ikut, karena ingin tahu kondisi kehamilan Nona. Saat menunggu antrian pun Baron tidak mau jauh dari Nona, padahal tadi saat dirumah mereka terus saja adu mulut.


"Boleh masuk semua suster?" tanya Baron saat nama Nona dipersilahkan masuk.


"Hanya boleh satu orang Pak." jawab suster sopan. Baron kecewa bukan main. Karena kasihan Kenan mempersilahkan Baron mendampingin Nona.


"Nanti didalam saya akan bujuk dokter kandungan ya supaya kamu boleh masuk." kata Baron pada Kenan.


"Pa, mestinya Mas Kenan yang masuk bukan Papa." kata Nona menolak ditemani Baron didalam. Tapi seperti tadi dirumah Baron tidak mau dibantah.


"Kamu tenang saja, nanti juga Kenan boleh masuk." kata Baron tak mau menuruti keinginan Nona.


"Masuklah cepat setelah itu gantian." kata Kenan mendorong tubuh Baron yang masih saja ribut dengan Nona didepan pintu.


"Bapak suaminya?" tanya dokter tersenyum ramah saat melihat Baron yang baru saja masuk terdorong Kenan.


"Bukan, saya Papanya. Boleh saya panggil suaminya ya, tapi saya ikut disini." kata Baron membujuk dokter.


"Boleh, tapi tidak ada bangku bagaimana ya." dokter tampak bingung.


"Tidak apa-apa. Saya nanti berdiri saja." jawab Baron senang dan langsung melongok keluar memanggil Kenan. Tapi rupanya dokter berbaik hati menarik kursi yang lain agar semua bisa duduk.


"Bu Nona hari pertama haid terakhirnya kapan?" tanya dokter pada Nona.


"Saya lupa, tidak pernah catat." jawab Nona apa adanya.


"Kalau begitu kita usg ya." kata dokter segera berdiri mempersilahkan Nona tiduran.



Kenan tampak tegang saat memandang kearah layar usg dari jauh. Ternyata benar istrinya sedang mengandung. Pantas saja marah-marah terus, pikirnya.


"Usia kandungan memasuki tiga minggu ya. Bapak kenapa melamun, mau punya anak loh." dokter terkekeh melihat ekspresi wajah Kenan.


"Jadi bagaimana mengatasi istri, yang selalu sebal saja melihat suaminya disaat hamil?" tanya Kenan, ia tidak sanggup membayangkan selama sembilan bulan Nona akan uring-uringan.


"Itu wajar sih Pak, pengaruh hormon, tidak ada obatnya." kata dokter pada Kenan.


"Tapi sudah ada solusi kok dok, tadi parfumenya sudah saya ganti, warna baju pun saya yang pilihkan." jawab Nona seakan sudah bisa mengatasi emosinya saat ini.


"Tapi Ibu Nona juga harus lebih sabar ya, kalau mudah emosi akan berdampak pada janin. Apalagi tiga bulan pertama ini masih lemah." kata dokter lagi menjelaskan.


"Tuh apa Papa bilang, tidak boleh marah-marah, tidak boleh cengeng juga." Baron ikut-ikutan.


"Iya Papa." jawab Nona senang hati karena dirinya betul-betul hamil. Saat periksa lewat testpack tadi Nona belum yakin betul.


"Selamat ya Bapak dan Ibu, Opa juga selamat menyambut calon cucu." kata dokter lagi mengakhir pertemuan mereka, tentu saja setelah membekali Nona dengan obat dan vitamin.


"Dokter, apa boleh saya ikut keluar kota besok?" tanya Nona teringat besok suaminya akan dinas luar kota.


"Sebaiknya jangan terlalu capek dulu ya bu, khawatir akan timbul morning sick."


"Tapi saya tidak mual sih." jawab Nona memberi alasan.


"Kebanyakan begitu tahu hamil malah timbul mual dan keluhan lainnya. Semoga saja Ibu tidak merasakan hal itu."


"Baik dokter, terima kasih." kata Kenan akhirnya berdiri dan menggandeng tangan istrinya keluar dari ruangan periksa. Sementara Baron yang dibelakang mereka bersiul siul tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.