
"Kamu sudah dirumah?" tanya Nanta saat Dania menghubunginya.
"Sudah, baru saja sampai kamar bersih-bersih terus lihat handphone ada pesan dari Mas Nanta." jawab Dania sambil menyalakan Ac kemudian berbaring dikasurnya.
"Sudah baca pesan aku?" tanya Nanta pada Dania.
"Iya, kenapa minta nomor handphone aku, kan aku tidak kenal." kata Dania enggan terlibat lebih jauh dengan keluarga Papanya.
"Justru Tante Julia mau kenalan sama kamu kan." jawab Nanta sambil melirik Mike yang terus saja menempel pada Nanta.
"Tanya Papa saja lah Mas, kalau Papa setuju, kasih saja." jawab Dania menyerahkan keputusan pada Papanya.
"Papa belum jawab pesan aku, nanti kamu bantu tanya ya." pinta Nanta pada Dania.
"Mas Nanta, sudah di lokasi Training Camp?" tanya Dania.
"Sudah, ini lagi istirahat dulu, nanti malam pembukaan." Nanta menjelaskan.
"Sekarang lagi apa?" tanya Dania.
"Lihat wajahnya si Mike saja menunggu nomor handphone kamu dan Papa." Nanta terkekeh saat melihat Mike kesal namanya disebut.
"Salaam untuk Mike. Aku terserah Papa saja." kata Dania terkekeh.
"Dia sedang menguping." bisik Nanta tapi terdengar oleh Mike, Nanta sengaja menggoda sahabatnya itu.
"Daniaaa, untung saja pas di bandara Malang bukan kita yang bertemu." teriak Mike membuat Doni melemparkan bantal yang sedang dipeluknya. Sebenarnya Nanta tidak satu kamar kamar dengan Mike dan Doni, tapi oleh kedua sahabatnya itu ia ditarik untuk berkumpul dalam satu kamar, terpaksa ijin sebentar pada Larry teman sekamarnya.
Larry, usianya kurang lebih sama seperti Nanta. Larry ini Atlit serba bisa, selain basket ia juga menguasai cabang olahraga berenang, volly dan Tennis. Nanta tidak habis pikir bagaimana mungkin ia menguasai empat jenis cabang olah raga dengan sempurna,
"Sayang, sudah dulu ya. Doni dan Mike berisik sekali, aku tidak dengar." Nanta mematikan sambungan teleponnya.
"Belum bisa kasih ya, Papa Micko belum jawab pesan gue." kata Nanta tersenyum pada Mike.
"Oke." jawab Mike pasrah.
"Gue ke kamar dulu." pamit Nanta pada Mike dan Doni.
"Mau apa dikamar, disini sajalah." tahan Doni, tidak mau ditinggal Nanta.
"Iya disini saja." Mike ikut menahan Nanta.
"Tidak enak sama Larry, tadi pamitnya sebentar."
"Ajak Larry kesini kita main kartu." kata Mike penuh ide.
"Istirahat dulu ah, badan pegal-pegal nih." kata Nanta membuat Doni mencibir.
"Semalaman istri dihajar, bagaimana tidak pegal-pegal." kekeh Doni lagi.
"Apa sih, makanya Dona tidak ikut, tidak enak badan karena kebanyakan dihajar toh." Nanta menganggukkan kepalanya tanda mengerti, istri Doni namanya Dona, sering kali jadi bahan ledekan semua yang ada di Tim.
"Dona Doni, irit sekali kan, nanti anaknya namanya Dono." kata Mike mulai cari gara-gara.
"Ish sana Lu saja yang sekamar sama Larry, Nanta biar disini." Doni mendorong badan Mike.
"Main kasar." kata Mike membuat Doni terkikik geli.
"Sudah ya kalian selamat bermesraan, gue ke kamar dulu, nanti gue kabari Larry mau apa tidak. Mengingat nanti malam duduk lama diruangan mendengarkan pesan-pesan, baiknya kita tidur dulu sebentar." kata Nanta mengingat ia butuh istirahat, benar yang Doni bilang semalam ia dan Dania memang sibuk sampai menjelang shubuh. Lumayan tidur satu hingga dua jam kedepan.
Sementara dirumah Reza, Balen rusuh karena tidak diajak mengantar Nanta tadi. Sekarang gadis kecil itu merajuk, duduk diam dipojokan dengan air mata mengalir tanpa suara.
"Nangis." bisik Roma pada Nona sambil mengawasi Balen.
"Biarkan saja jangan dibujuk." pesan Nona pada yang lain, jika dibujuk nanti tambah seru nangisnya, lebih baik pura-pura tidak tahu.
"Oma..." panggil Raymond menunjuk Balen, ia tidak tega melihat Balen begitu, dari tadi ingin dipeluknya saja.
"Panggil." kata Oma pada Raymond.
"Nanti tambah nangis Ma." kata Nona yang tidak mau pusing mendengar suara Balen berteriak.
"Balen sini sama Oma." Oma menghampiri Balen, tidak tega melihatnya jadi tidak memperdulikan perkataan Nona.
"Sama Abang Lemon tuh." tunjuk Roma pada Balen.
"Ndak..." masih juga tidak mau dan masih berjongkok dipojokan.
"Abang mau naik pesawat loh." kata Raymond sambil tersenyum.
"Tempat Ban Anta?" tanya Balen mulai tertarik.
"Bukan, Ke Malang tempat Wulan." jawab Balen.
"Ndak..." kembali ditolak, karena Balen hanya mau Nanta saat ini, sementara keluarga tidak berani menghubungi Nanta, siapa tahu sedang berlatih atau di kelas. Jadi pada bingung harus bagaimana, Balen tidak mau dengan siapapun. Richi mondar-mandir saja melihat Kakaknya itu, kadang ia ikut berjongkok disebelah Balen, kalau capek atau bosan ia kembali berputar menuju tempat yang ia inginkan.
"Nanta ini kalau datang bunda jewer deh, anak Bunda jadi sedih ditinggal Abangnya." Omel Kiki pura-pura sambil melirik Balen.
"Janan Bunda." Langsung saja berlari panik mengejar Kiki.
"Kenapa, dia sudah bikin Balen sedih kok."
"Ndak Bunda, Aban ndak natal." menggelengkan kepalanya sambil berlinang air mata.
"Terus kenapa Balen menangis?"
"Papon natal, tindain Baen antay Aban." bisiknya takut terdengar Kenan.
"Kalau begitu Papon saja yang Bunda jewer?" Kiki ikut berbisik sambil tertawa dan menghapus air mata Balen. Diangkatnya Balen untuk duduk dipangkuannya.
"Janan..." masih dengan wajah sedih.
"Kenapa, kan Papon nakal tinggalkan Balen?"
"Baen upa bian Papon, Baen mau itut." Balen memonyongkan bibirnya.
"Berarti yang salah Balen?" tanya Kiki, Balen menganggukkan kepalanya.
"Jadi bagaimana dong Bunda maunya Balen tidak sedih?"
"Mau peuk Papon aja." rengeknya manja, rupanya dari tadi minta dibujuk Kenan.
"Oh... Kenan, anakmu ini minta dipeluk Papon." teriak Kiki pada Kenan yang asik bicara dengan Reza dan Opa Dwi.
"Sini sayang." Kenan merentangkan tangannya tanpa beranjak.
"Ndak..." Balen menggelengkan kepalanya gengsi.
"Papon jemput dong, bagaimana sih?" omel Kiki pada Kenan.
"Janan mawahin Papon, Bunda." kembali berbisik pada Kiki, sementara Kenan beranjak menghampiri Balen.
"Sini sayang..." kata Kenan ketika mendekati Balen dan Kiki. Diambilnya Balen dari pelukan Kiki.
"Kenapa menangis?" tanya Kenan yang sedari tadi tidak ngeh anaknya merajuk, sementara Balen sudah minta perhatian Papon.
"Maapin, Baen ndak itut tadi. Baen upa." kata Balen menyesal, semua jadi tertawa.
"Bagaimana sih Balen, kamu yang kesal kamu yang minta maaf." Roma menggelengkan kepalanya sambil cekikikan.
"Beda tipis untuk Balen antara kesal dan menyesal." sahut Raymond kemudian tertawa juga.
"Napa sih tawa?" tanya Balen kesal ditertawakan.
"Hei jangan tertawakan anakku." teriak Nona sambil senyum-senyum.
"Janan mawah Mamon." katanya kemudian sambil menyandarkan kepalanya dibahu Papon.
"Duh jadi harus diapakan ini Bang Ray sama Kak Roma?" tanya Nona pada Balen, tentu saja bercandai Balen.
"Ndak usah apa-apain, biain aja." katanya membuat yang lain senyam senyum.
"Balen kenapa sih?" tanya Roma jadi bingung sendiri.
"Tidak udah dipikirkan sudah aman sama Papon." kata Nona tertawa sendiri, Balen uring-uringan tapi bikin bingung.