
Saatnya pulang, acara pernikahan sudah selesai, Deni bingung harus bagaimana. Mau ke rumah Kenan atau tetap tinggal di rumah Mertua. Mau tanya Dini pun canggung, jadi serba salah.
"Mau ikut menginap dirumah Kenan?" tanya Deni akhirnya pada Dini, karena Baron dari tadi rewel mengajak pulang, bocah-bocah juga sudah rusuh, padahal perut sudah kenyang.
"Aku disini saja." jawab Dini, loh kok aku, jadi gue bagaimana? pikir Deni.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu ya." kata Deni akhirnya. Dini malah menganggukkan kepalanya tidak menahan Deni. Ya sudah lah nanti saja dipikirkan, sekarang pulang dulu saja.
"Ayo..." ajak Deni pada Baron yang sudah rewel.
"Kok Ayo?" tanya Baron bingung.
"Kata Papa mau pulang." Deni ikut bingung.
"Istrimu?" tanya Baron, masa Deni saja, Dini tidak diajak.
"Dini mau disini saja." jawab Deni jujur.
"Kamu kenapa pulang?" tanya Baron menoyor pelan kepala anaknya.
"Bajuku, buku, laptop, mobil masih di rumah Kenan." Deni mengusap pelan dahinya.
"Bilang dulu sama mertuamu." kata Baron pada anaknya. Deni menuruti perintah Papanya.
"Kemana Mas?" tanya Doni pada Iparnya.
"Papa dan Mama mana? Mas Deni mau ijin pulang." jawab Deni dengan mata berkeliling.
"Loh, tidak menginap disini?" tanya Doni lagi.
"Tidak, semua perlengkapan masih ada di rumah Nanta." jawab Deni, Nanta dan kedua sahabatnya menyimak percakapan saudara Ipar itu.
"Kak Dini ikut dong." tegas Doni.
"Sudah diajak, tapi Dini mau disini saja." jawab Deni, tapi kemudian menyesal seperti sedang mengadukan istrinya pada Doni.
"Mana bisa begitu, ayo kita ke Papa dan Mama. Mereka lagi bicara sama Om Kenan." ajak Doni menarik tangan Om Deni.
"Kami pulang dulu Den." kata Kenan begitu Deni mendekat.
"Om Deni juga ikut." sahut Nanta yang sudah berpamitan pada sahabatnya, ikut berjalan dibelakang Doni dan Deni sambil menggendong Balen.
"Loh Den, tidak tinggal disini?" tanya Pak Jonas.
"Baju dan semua barang-barang keperluan seminar saya masih dirumah Kenan, Pa." jawab Deni langsung saja panggil Jonas Papa tanpa disuruh.
"Kalau begitu ajak Dini." jawab si Mama, kemudian langsung saja berteriak memanggil anaknya.
"Iya ma..." Dini berlari pelan menghampiri Mama.
"Bereskan baju-baju kamu dan semua keperluan urusan pekerjaan kamu, sekarang kamu sudah tanggung jawab suami kamu." tegas Mama pada Dini.
"Maksud Mama?"
"Kamu ikut kemanapun suami kamu pergi." tegas Pak Jonas pada putrinya.
"Hah?"
"Hah... hah... sana cepat semua sudah mau pulang." kata Pak Jonas lagi membuat yang lain tertawa, Dini langsung kekamarnya mengikuti keinginan Papanya. Risih juga harus berkumpul dengan keluarga Deni, dengan Deni saja belum begitu kenal. Untungnya sudah kenal dengan Nanta dan adik kecilnya.
Dini berpamitan pada Mama, Papa dan Doni juga Dona. Tidak pakai tangis-tangisan, malah semua keluarga melepas Dini dengan ikhlas.
"Baik-baik sama suami, harus nurut. Kalau dikasih tahu jangan melawan." pesan Mamanya saat Dini pamit.
"Mama, memangnya aku begitu." sungut Dini.
"Tuh kamu jawab saja, tinggal bilang iya saja susah betul."
"Iya, tapi kan Dini tidak seperti itu." jawab Dini.
"Nah Den, yang seperti ini akan sering kamu temui." kata Mama pada Deni.
"Hehehe, iya Ma."
"Sabar-sabar ya jadi suami, Mama titip jaga Dini, jangan pernah di pukul, kalau kamu bosan atau sudah tidak suka sama istrimu, lebih baik kembalikan secara baik-baik pada Mama dan Papa." pesan Mama lagi.
"Oh awas saja kalau ada cerita Bosan atau sudah tidak suka, Deni berhadapan dengan saya." jiah Papa Baron malah membela Dini.
"Hahaha hati-hati kamu Den." tawa Baron dan Jonas meledak bersamaan.
"Hahaha jadi Balen tidak bisa tidur lagi ya?" Nanta terbahak dibuatnya.
"Iya, Papon maah deh sama Baen."
"Trus?"
"Ya udah Baen nanis aja."
"Kenapa menangis?"
"Abisna Baen tadet Paponna maah." adu Balen pada Nanta.
"Peluk saja yang kencang kalau Papon marah." bisik Nanta pada adiknya.
"Teus?"
"Disayang Paponnya bilang deh maaf ya Papon, Baen tidak nakal lagi." Nanta mengajari adiknya.
"Oang, Baen ndak natal, Semaam itu tadet aja, teus ndak mo bobo ladi, Papon suuh bobo, Baen ndak nantuk." Balen menceritakan kejadian semalam.
"Balen kasih tahu Papon dong kalau Balen kaget."
"Iya sih."
"Iya sih apa?"
"Baen natal ditit."
"Nakalnya bagaimana?"
"Banunin Ichi ajak main." Nanta terbahak, baru tahu apa yang sebabkan Papa bisa marah pada Balen, rupanya tidak bisa tidur cari teman dia.
"Ayo ini Abang adik Masih disini saja, yang lain sudah masuk bus tuh." Larry menepuk bahu Nanta, semua yang tinggal tertawakan Nanta, hampir saja mereka ditinggal kalau Dania tidak berteriak minta supir menunggu suaminya.
"Keasikan ngobrol kita." Nanta terbahak lalu berpamitan pada semuanya.
"Dadah singkong cantik." kata Larry mengecup pucuk kepala Balen.
"Tiss aban don." kata Balen yang mau mencium pipi Larry. Larry menyodorkan pipinya sambil mengambil tissue dimeja. Semua yang tahu jadi terbahak.
"Makasih ya Baen." kata Larry sambil mengelap pipinya yang basah kena air liur Balen.
"Heran ya, nih bocah tidak ngiler tapi kalau cium pasti banjir." komentar Mike sambil tertawa.
"Nanti saja dibahas ya." Nanta terbahak segera berlari menuju ke bus. Balen melambaikan tangannya pada semua yang ada.
"Balen..." panggil Dona yang belum mencium Balen, ia dari tadi ingin mengajak Balen ke kamar biar bisa istirahat, tapi Dania tidak mau diajak masuk, Dona tidak enak meninggalkan Dania sendiri, kasihan pikirnya jika tidak ada yang menemani.
"Yah... Tadona." teriak Balen melalui kaca jendela
"Katanya mau nginap sama Kak Dona." teriak Dona karena bunyi mesin bus lumayan menderu.
"Sini Tadona," ajak Balen sok tahu.
"Lain kali ya janji." kata Dona melongok dari pintu bus, ingin melihat posisi duduk masing-masing didalam Bus, eh sekalian Dona Kepo ingin tahu Kak Dini sudah duduk disebelah Om Deni atau bagaimana.
"Eh ternyata Kak Dini tidak duduk sama Om Deni." teriak Dona pada Anggota keluarganya.
"Waduh mana boleh begitu." langsung saja Pak Jonas melangkah menuju Bus, apa daya Dona sudah diminta turun oleh kenek bus, karena bus akan segera jalan mengantar keluarga Kenan.
"Mereka duduknya bagaimana?" tanya Jonas pada menantunya.
"Kak Dini sama Balen." jawab Dona.
"Mas Deni sama Nanta." lanjut Dona lagi.
"Jauh-jauhan?" tanya Pak Jonas lagi.
"Tidak sih, kursinya dekat-dekatan, kalau pegangan tangan masih bisa." jawab Dona terkekeh.
"Biar saja pisah bangku. Tapi pastikan mereka tidak pisah kamar." kata Ibu Jonas pada Doni.
"Ih Mama, mana mungkin pisah kamar." sahut Doni.
"Iya juga sih." Mana terkekeh, ia ingat novel yang pernah ia baca jadi khawatir sendiri.