I Love You Too

I Love You Too
Serba salah



Rencana Nanta membawa Balen bertemu Wulan pupus sudah, Balen tergoda ketika Oma menawarkannya bermain salju di Mal, tentu saja tawaran Oma lebih menarik.


"Kamu ke kantor Papa dulu ya sebelum ke rumah Mama." pinta Kenan via telepon saat Nanta akan berangkat ke rumah Mamanya. Nanta menyetujuinya, menggunakan Mobil Opa, Nanta berangkat kekantor Papa setelah sholat ashar. Balen sudah duluan bersama Oma, Mamon, Bunda dan Kak Roma. Ichi pun ikut bersama kedua pengasuh. Tinggal Nanta dan ART saja dirumah, sebelum Nanta berangkat.


Perjalanan ke kantor Papa tidak memakan waktu lama, jalanan tidak terlalu macet, beda dengan di Jakarta. Nanta juga sudah tidak perlu memperkenalkan diri di kantor itu, semua sudah tahu siapa Nanta, jadi ia bebas saja keluar masuk tanpa melapor.


Rupanya Papa masih ada diruang meeting, langsung saja Nanta menuju ruangan Papa dulu, yang sekarang menjadi ruangan Raymond. Sekretaris Raymond sibuk memerintahkan OB untuk menyiapkan minuman dan snack untuk Nanta. Tidak ada yang berubah diruangan ini, hanya saja sekarang sudah tidak ada foto Nanta lagi dimeja kerja, berganti foto Kak Roma dan Bang Raymond.


"Sudah lama?" tanya Raymond saat memasuki ruangannya.


"Baru lima menit, sudah selesai meetingnya Bang?" tanya Nanta pada Raymond, ia duduk disofa kini.


"Sudah, tapi masih pada ngobrol disana, sudah tahu kan kenapa kamu diminta kesini?" tanya Raymond terkekeh.


"Paling urusan Om Micko dan Dania kan?" tebak Nanta sambil mengangkat alisnya.


"Iyalah, apa lagi memangnya." Raymond terkekeh, Nanta pun ikut terkekeh. Entah apa yang akan ditanyakan Om Micko pada Nanta.


"Dek, jangan pernah bujuk Oma tinggal di Jakarta lagi loh ya." kata Raymond pada Nanta.


"Kenapa memangnya?" Nanta terkekeh.


"Kamu seperti tidak tahu Oma saja, dia pasti kepikiran ajakan kamu tuh, kalau Oma dan Opa pindah ke Jakarta repot aku, Roma bisa merengek minta pindah juga." Raymond memberikan alasannya.


"Hahaha iya. Aku kemarin hanya menawarkan, kadang aku juga suka kangen Oma, aku lupa kalaupun Oma dan Opa ke Jakarta, pasti aku tetap akan ke Malang karena Mama ada disini juga. Maaf ya membuat kerusuhan sesaat." kata Nanta terbahak.


"Apanya yang sesaat, semalaman Roma gelisah memikirkan itu. Selama hamil tidak pernah ada keluhan, malah ucapan kamu yang bikin dia tidak bisa tidur." gerutu Raymond membuat Nanta kembali terbahak.


"Hahaha maaf ya Abangku."


"Aku maafkan, tapi..."


"Ah tidak pakai tapi, Abang suka aneh-aneh aku tidak mau." Nanta langsung menolak sebelum Raymond memyampaikan syaratnya.


"Ih Kamu sejak pindah ke Jakarta berubah." dengus Raymond kesal.


"Bukan berubah, tapi aku sadar kalau selama ini Abang suka kerjai aku." Nanta ikut mendengus, kemudian mereka tertawa bersama.


"Ada apa ini seru sekali?" tanya Kenan yang baru masuk keruangan Raymond diikuti Micko di belakangnya, tidak tampak Opa Dwi dan Ayah Eja.


"Biasa Bang Raymond, mau kerjai aku." kata Nanta mengadu pada Papanya.


"Ayah dan Opa mana, Om?" tanya Raymond pada Kenan.


"Pulang."


"Tidak pamit ih." gerutu Raymond.


"Seperti apa saja pamit." Kenan terkekeh, Micko pun jadi ikut terkekeh.


"Apa kabar Boy?" tanya Micko menepuk bahu Nanta, kemudian duduk disofa tepat disebelah Nanta.


"Sudah bisa kenalan sama cewek dia sekarang." celutuk Raymond jahil.


"Apa sih?" Nanta langsung saja melotot, sementara Micko terbahak.


"Kebetulan sekali kamu bertemu Dania, apa kabar dia sekarang?" tanya Micko memiringkan badannya menghadap Nanta.


"Cantik." jawab Nanta membuat semuanya terbahak.


"Tuh kalau tidak cantik mana mungkin ikut sibuk dibandara." kata Raymond lagi.


"Ish aku belum lihat wajahnya ya waktu aku membantu Dania." kata Nanta membela diri.


"Masa sih?" Raymond menggoda Nanta.


"Betul, aku tuh baru lihat wajahnya saat Dania mau pinjam uang lagi buat ongkos taxi dan makan, baru aku tahu dia itu cantik." kata Nanta jujur.


"Jadinya kamu ajak makan?" tanya Kenan terkekeh.


"Bukan karena itu juga, Pak Atang kan masih kena macet di Tol, dari pada aku menunggu di pinggir jalan lebih baik aku ikut Dania makan." Nanta menarik nafas, mesti ya menjelaskan detail pada ketiga pria dewasa ini. Kenan masih saja tertawa.


"Papa tidak percaya?" tanya Nanta lagi melihat ekspresi Papa.


"Percaya, tapi kalau tidak cantik pasti kamu makan sendiri dimeja yang lain itu." kata Kenan terbahak, Nanta jadi ikut tertawa wajahnya memerah.


"Papamu seperti tidak pernah muda saja." kata Micko yang ikut terbahak.


"Tuh Papa mertua mendukung." celutuk Raymond, Nanta mengernyitkan hidungnya pada Raymond.


"Pa, jangan lupa pesanan Nenek dipaketkan." kata Nanta mengingatkan Papanya.


"Sudah ya, Sebelum kamu sampai ke Malang juga, Bunda sudah suruh aku belikan dan paketkan. Bilang apa?"


"Wah sigap sekali Bunda." Nanta terkekeh.


"Ayo bilang apa?" desak Raymond pada adiknya.


"Matatih Aban Lemon." kata Nanta mengikuti gaya Balen, Raymond jadi cengengesan mendengarnya.


"Nek Pur?" tanya Micko pada Nanta.


"Om kenal?"


"Kenal lah dulu Dania kecil dititipkan dirumah Nek Pur kalau kami ke kantor." jawab Micko mengenang masa lalu.


"Om Micko dulu tinggal di Puri?" tanya Nanta, Micko menganggukkan kepalanya.


"Kok aku tidak tahu ya Bang, kamu pernah menikah sebelum dengan Kak Lulu." kata Kenan pada Micko.


"Ya begitulah, masa lalu." Micko malas bercerita.


"Om kenapa tidak pernah menemui Dania? Dania suka iri kalau aku menyebut Papa." kata Nanta pada Micko.


"Mamanya tidak mengijinkan, Om mau sekali bertemu Dania."


"Om selingkuh sama Tante Lulu?" tanya Nanta polos, Micko dan Kenan langsung saja terbahak, sementara Raymond menggelengkan kepalanya, masih saja polos bertanya hal yang sensitif, padahal sudah kuliah harusnya bisa memilah-milah pertanyaan.


"Dania bilang begitu?" Micko malah balik bertanya.


"Dania hanya bilang Papanya hanya sibuk dengan keluarga baru." jawab Nanta membuat Micko menggelengkan kepalanya.


"Tidak seperti itu, tidak perlu Om ceritakan tapi tidak seperti yang Dania dan kamu kira." kata Micko tersenyum miris.


"Mau bantu Om?" tanya Micko mulai serius.


"Bertemu Dania?" tebak Nanta.


"Kalau Dania mau." kata Micko menganggukkan kepalanya.


"Kemarin sih bilangnya belum siap." jawab Nanta apa adanya.


"Memang Om penjahat ya, kenapa belum siap bertemu Om?" Micko mengernyitkan dahinya.


"Mungkin karena Om tidak pernah mencari Dania." jawab Nanta menduga-duga.


"Om pernah menyusul ke London, tapi hanya bertemu Mamanya, tidak boleh bertemu Dania." kata Micko akhirnya menjelaskan.


"Mungkin Dania tidak tahu itu." suara Micko terdengar lirih.


"Coba ajak Dania ke Malang, Nak. Besok melihat pertunjukan ice skating." Kenan meminta Nanta menghubungi Dania.


"Kalau dia mau ya, mungkin kalau Ando dan Wilma ikut, aku lebih mudah mengajaknya." kata Nanta pada Papa.


"Ajak saja mereka." kata Kenan pada Nanta.


"Kalau Wilma harus Papa atau Mamon yang menghubungi Mommy dan Daddynya." kata Nanta tertawa.


"Wah nanti dikira calon besan ingin mengikat anaknya loh. Kamu mau dijodohkan sama Wilma kan. Jangan bikin harapan palsu, sementara kamu maunya jadi menantu Om Micko." kata Raymond kembali menggoda Nanta.


"Bang, please deh." Nanta berdecak kesal.


"Betul juga Boy, kamu maunya sama Wilma atau Dania sih?" tanya Kenan ikut menggoda Nanta, sementara Micko cengengesan melihat Nanta.


"Duh jadinya bagaimana, aku kan tidak tahu kedepan jodohnya antara mereka berdua atau ada gadis lain lagi yang masih bersembunyi." Nanta mengerucutkan bibirnya.


"Ayah saja nanti yang menghubungi daddy Leo, jangan Om Kenan ah. Ame sangat berharap kamu jadi keluarga mereka." kata Raymond pada Nanta, ia tahu Nanta belum menentukan pilihan.


"Om juga setuju kalau kamu jadi menantu Om." sahut Micko terkekeh.


"Eh..." Nanta menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia jadi serba salah. Kenan tertawa saja anaknya bisa diterima banyak pihak.