
"Tokonya sepatu yang biasa ma?" tanya Reza sambil menekan tombol pada pintu lift di Plaza Indonesia. Nina menganggukan kepalanya sambil berbicara via telepon dengan sanak saudaranya yang lain. Sepertinya Nina mengundang semua sanak saudara yang dekat maupun jauh. Banyak sekali yang diteleponnya hari ini. Urusan hotel dan kebutuhan yang lainnya sudah dihandel Misha, jadi sudah aman.
Mereka baru saja sampai di mall di kawasan Thamrin itu. Suasana seperti biasa tak terlalu hiruk pikuk tapi lumayan ramai. Kali ini Reza tak berniat membiarkan Mama dan Kiki shopping berdua, ia akan menemani supaya bisa mengingatkan mama agar tak terlalu lelah.
"Kamu pakai heels dek?" Reza memperhatikan sepatu Kiki. Pikirannya ingin membelikan Kiki sandal, supaya kaki Kiki tak capek keliling mal nanti.
"Ga kak, aman." Kiki mengangkat kakinya menunjukan sepatunya pada Reza, seakan mengerti kekhawatiran Reza. Hari ini Kiki menggunakan sepatu sneakers boots berbahan kanvas yang terasa nyaman dan ringan dikakinya. Reza tersenyum lega melihatnya. Refleks pandangan Kiki mengarah ke kaki mama Nina, ingin tau mama menggunakan heels atau tidak. Mama menggunakan wedges dengan tali yang melilit pada pergelangan kakinya. Gaya Mama Nina terlihat elegan, tak beda jauh dengan mamanya. Selalu enak dilihat.
Reza dan Kiki memilih duduk dibangku berkaca saat Nina berbicara dengan pegawai ditoko. Nina kembali memilih setelah meminta ijin kepada manajer toko, nina menelepon Dwi melalui Video call dan memperlihatkan model sepatu yang ada agar dipilih oleh Dwi. Sebenarnya model yg dipilih tak berbeda jauh dengan yang dibeli Nina kemarin. Tapi sudahlah, demi menyenangkan hati suami Nina pun menukarnya.
"Kamu ga beli Ja?" tanya Nina pada Reza dijawab dengan gelengan kepala. Nina ikut duduk disebelah Reza sambil menunggu sepatu yang sedang disiapkan.
"Masih mau muter lagi ma? ada lagi yang mau dibeli?" tanya Reza.
"Pulang aja nak, ga boleh capek-capek, lusa sudah acara. Duh mestinya kalian dipingit ini ga boleh ketemu. Tapi sudahlah ya. Keadaannya begini."
"Mama sih terburu-buru, kaya orang kebelet aja."
"Ck.. ini juga supaya kamu ga bikin dosa, kelamaan berduaan."
Reza mencebikan bibirnya, tak membantah, memang iya sih baru berapa hari sudah banyak modusnya. Apalagi lihat Kiki semakin menggemaskan.
"Belum lagi Kenan yang perlu pengawasan juga. Punya anak perempuan sama laki sama aja, mesti dijaga benar supaya ga salah jalan. Tuh pelajaran buat kalian nanti." celoteh Nina sambil menarik nafas. Seakan ada beban dipundaknya.
"makasih ya mamaku sayang," Reza menggosok punggung mamanya sambil tersenyum memandang mama penuh kasih sayang. Ingin rasanya memeluk mama, tapi suasana tak memungkinkan.
"Ga usah makasih. Doakan mama papa biar sehat sehat panjang umur, jadi bisa lihat cucu saat menikah nanti."
"Aamiin." jawab Reza cepat.
"Dek siap siap mama udah minta cucu." katanya lagi tersenyum nakal. Kiki tersenyum samar.
"Ma punya anaknya boleh kalau Kiki lulus aja ya?" Kiki membujuk Nina.
"Terserah Allah aja mau dikasih kapan." jawab Reza mewakili mama.
"Iya kalau cepat Alhamdulillah, kalau belum dikasih ya Alhamdulillah juga. Tapi kalian ga boleh menunda." jawab Nina
"Nah tuh dek, ga boleh ditunda. Kalau sudah halal langsung bikin ya ma." Kata Reza lagi.
"Ish apaan sih kak Eja." Kiki memukul pundak Reza. Hahaha Nina tertawa melihat kelakuan anak dan calon mantunya. Bahagia sekali rasanya perjodohan segera menuju halal. Belum apa-apa sudah tampak mesra tanpa beban. Dengan cepat Nina merekam aksi keduanya yang sedang asik berdua, dikirimnya pada Ririn.
"Kirim ke Wedding Organizer nin, bagus buat dilayar nanti." pesan dari Ririn dibaca Nina lalu mengirimkan Ke WO sesuai permintaan Ririn.
"Done." balas Nina, lalu memasukan handphonenya kedalam tas karena Reza sudah berdiri memegang paperbag berisi sepatu papa. Karena sudah tak ada yang mau dibeli Reza mengajak Mama dan Kiki makan siang. Sudah hampir jam dua dan sebelum makan mampir ke mushola dulu menunaikan sholat dzuhur.
"Makan apa ma?" tanya Reza seusai sholat. Sambil memakai jam tangannya yang baru dikeluarkan dari kantong celana.
"Mama mau shabu yuk, kamu mau ga Ki? tanya Nina
"Mau ma, aku mau sayurnya." Kiki langsung semangat membayangkan kuah thomyam dengan sayuran dan daging, srrfff langsung menelan ludah seakan makanan sudah didepan mata.
"Ma beneran ga perlu ke toko perhiasan?" tanya Reza lagi.
"Sudah komplit, tapi kalau kamu mau belikan lagi, beli aja."
"Nanti deh ma, aku lihat yang mama beli dulu, jadi aku tau yang harus aku beli yang gimana. Tapi kamu ga pernah pakai perhiasan sih dek?" Reza memperhatikan leher dan tangan Kiki yang tampak polos tanpa ornamen.
"Memang Kiki ga suka, ribet." jawab Kiki.
"Jam tangan juga kamu ga pakai de?" Reza mendelik heran. Kiki menggeleng santai.
"Duh irit aku ma, dapat istri kaya gini." kata Reza sambil tertawa.
"Kasih uangnya aja kak. Nanti kutabung."
"Kalau sudah banyak tabungannya buat apa?"
"Ga tau, buat beli rumah kali."
"Sudah kubeli."
"Hmm buat apa ajalah belum kebayang, buat modal usaha kali ya." jawab Kiki masih meraba. Reza mengusap kepala Kiki gemas mendengarnya.
"Mau usaha apa?"
"Kalau buka boutique, bagus ga ma?" tanya Kiki meminta pendapat Nina.
"Bagus." jawab Nina singkat.
"Boutiquenya nanti bikin dekat Warung aja ya, jadi kerjanya ga jauh-jauh." kata Reza lagi.
"Bikin aja di cabang selatan yang lagi kalian bangun Ja, ada tanah mama kan dekat situ." jawab Nina semangat.
"Jangan pakai tanah mama." jawab Kiki tak ingin merepotkan.
"Ga papa daripada nganggur tanahnya." jawab Nina lagi.
"Iya nanti kita pikirin, nabung dulu kan ma, belum juga mulai kasih uang buat Kiki nabung." kata Reza.
"Iya pokoknya kalau sudah siap, pakai aja."
"Iya ma Kiki juga lagi nabung dari hasil endors, nanti kalau ga jadi lanjut s2, kiki buka boutique aja sama salon ya kak, sama bikin bengkel juga."
"Banyak bener dek. Nanti ngurus anaknya gimana?"
"Iya kan Kiki plaza kak, ada bengkel, salon sama boutique. Jadi cewek yang nemenin pacar atau suaminya kebengkel ga bete, tinggal belanja atau kesalon deh. Lagian aku ga urus sendiri, aku rekrut orang aja. Makanya mesti nabung biar modalnya cukup."
"Cukup itu ditanah mama ki, Nanti yang kebengkel mau makan juga tinggal nyebrang ke warung elite, Mama setuju. Semoga lancar ya nak."
"Aamiin." jawab Reza dan Kiki berbarengan. Mereka pun tiba direstauran jepang yang Nina inginkan, memilih bangku dan mulai memesan makanan. Baru terasa sangat lapar setelah duduk manis di restaurant.