I Love You Too

I Love You Too
Ilmu Wilma



"Bagaimana, sudah kenalan sama Mama Dania?" tanya Kenan saat mereka selesai makan malam di rumah.


"Sudah tadi di telepon, kami video call." jawab Nanta santai.


"Bagaimana, kesan-kesannya? kamu diterima?"


"Lucu." jawab Nanta dengan wajah datar.


"Lucu bagaimana?" tanya Nona penasaran.


"Ya, tadi ditanya aku sanggup apa tidak nafkahi Istriku nanti, mau tinggal dimana kalau sudah menikah? Mobil yang sedang naiki itu punya siapa? kuliahku dan kuliah Dania nantinya bagaimana? tabunganku ada apa tidak? punya hutang? punya penyakit bawaan? ya begitu deh hahahaha." Nanta terbahak.


"Apanya yang lucu sih, sudah jelas itu matre." dengus Nona kesal.


"Hahaha tapi dia janji tidak akan minta uangku, hanya memastikan Dania bisa hidup layak apa tidak jika sudah menikah dengan aku nanti." Nanta menjelaskan Dan Kenan menganggukkan kepalanya menyimak sambil berpikir.


"Kamu bilang apa?" tanya Nona lagi.


"Insyaa Allah aku mampu." jawab Nanta santai.


"Tapi aku minta sama Mamanya Dania kalau kami mengontrak rumah dulu, tidak bisa beli rumah karena tabunganku belum cukup." kata Nanta lagi.


"Siapa bilang kamu boleh mengontrak rumah, kamu tinggal disini bersama kami." tegas Nona pada Nanta.


"Kami kan harus mandiri." jawab Nanta.


"Itu nanti kalau kalian sudah lulus kuliah. Kapan lagi video call sama Mama Dania, kenalkan Mamon deh, biar dia tidak sembarangan melecehkan kamu." Nona emosi.


"Itu tidak dilecehkan, dia realistis." kata Kenan menengahi.


"Tapi tidak begitu caranya." dengus Nona.


"Sayang kalau tidak salah orang yang taaruf hal-hal seperti itu juga ditanyakan. Apalagi Maya tahu Dania sama Nanta baru kenal satu minggu, sama saja seperti taaruf." kata Kenan terkekeh.


"Saya kalau Balen besar mungkin juga begitu." Kenan kembali terkekeh.


"Tapi kamu tidak matre sayang."


"Iya, tapi saya akan memastikan anak gadis saya hidup dengan pria yang layak, bukankah akan jauh lebih baik jika tidak punya hutang Dan sehat walafiat." jawab Kenan tersenyum. Nona akhirnya menganggukkan kepalanya.


"Jadi kamu belum direstui?" tanya Kenan pada Nanta.


"Aku harus tunjukan dulu tempat tinggal yang layak untuk kami nanti." kata Nanta tersenyum simpul.


"Tunjukkan saja rumah ini, kalian nanti masih tinggal disini, kalau menikah dalam waktu dekat." kata Kenan pada Nanta.


"Kalau menikah setelah lulus?"


"Boleh pindah dari sini nanti Papa siapkan."


"Tidak usah aku akan siapkan sendiri nantinya."


"Sombong sekali." Kenan terbahak.


"Papa harusnya bilang Aamiin, supaya tercapai." Kenan kembali terbahak mendengar Nanta protes.


"Aamiin." katanya kemudian.


"Pa, memangnya aku mau dinikahkan dalam waktu dekat?" tanya Nanta pada Papa.


"Maunya Om Micko seperti itu." jawab Kenan.


"Aku sedang persiapan pertandingan see Asia Tenggara, tidak mungkin menikah dalam waktu dekat." kata Nanta pada pada.


"Kamu sudah siap menikah, Boy?" Kenan mencari tahu, ia tidak ingin Nanta terpaksa.


"Harus siap kan?"


"Papa tidak pernah memaksa kamu, kalau terlalu membebani untuk kamu menikah sekarang, Papa tidak keberatan jika kamu menolak." Kenan berkata setulus hati.


"Tidak apa, ikuti yang Om Micko katakan, jika menikah dalam waktu dekat kami pisah kamar dulu."


"Kamu sanggup Boy?"


"Tidak semudah itu pisah kamar dengan istri sendiri, apalagi bukan dalam waktu yang sebentar, kecuali kalian pisah kota." Kenan tertawa, bujangnya masih polos rupanya.


"Sampai begitu ya."


"Hahaha nanti kamu akan tahu sendiri." Kenan terbahak.


"Hahaha nanti deh aku pikirkan. Aku fokus basket dulu, yang penting sudah sampaikan pada Mama Dania kalau penghasilan Basketku cukup layak untuk seorang suami." Nanta terkekeh, pertama kalinya mengumbar penghasilan pada orang lain, calon mertua lagi. Sombong sedikit sama Tante Maya bolehlah, pikir Nanta.


"Pa, yang aku pikirkan jika aku menikah, Bagaimana Om Micko akan bertemu Tante Maya." kata Nanta berpikir keras.


"Sedang diupayakan Om Micko agar Maya tidak ke Indonesia dalam waktu setahun dua tahun ini." kata Kenan, entah bagaimana caranya itu urusan Micko.


"Semoga saja calon mertua kamu itu betul tidak memanfaatkan kamu nantinya, seperti dia memanfaatkan Micko sekarang." kata Nona sedikit khawatir.


"Doakan saja Mamon, kulihat tadi kesan pertama sih baik ya, hanya matrealistis dan dia apa adanya." kata Nanta menyampaikan penilaiannya.


"Mamon maunya keluarga besan itu seperti keluarga besar kita, bisa membuat." kata Nona.


"Kan sudah membaur dengan Tante Lulu Dan Om Micko." kata Nanta.


"Iya tapi Mama kandungnya begitu." kata Nona bergidik ngeri.


"Kalau tidak karena Bang Micko, aku tidak akan setuju Nanta menikah dengan Dania, ngeri punya mertua seperti itu."


"Ini kan dalam rangka mengamankan Dania, Mamon. Tenang saja, Om Micko pasti punya cara. Harapanku tidak ada yang tersakiti nantinya." kata Nanta tersenyum pada Mamon.


"Kamu tenang saja sayang, Maya pada dasarnya baik, dia hanya sedang diperalat keluarga Micko."


"Entahlah terlepas karena apa, aku khawatirkan Nanta."


"Sayang betul Mamon sama aku."


"Baru tahu ya kalau aku sayang sama kamu." dengus Nona kesal.


"Hahaha iya sudah tahu dari dulu Mamonku." Nanta terkekeh.


Nanta kembali ke kamar setelah bicara lama dengan Papa dan Mamon, laporan untuk keluarga besar Nanta serahkan pada Papa.


Setelah berganti pakaian tidur Nanta langsung saja mengambil posisi nyaman, ia harus istirahat karena besok harus kembali Ke kampus sampai sore, karena ada mata kuliah yang mulai sore hari. Baru saja hendak memejamkan mata handphone Nanta berdering. Rupanya Dania, sejak tadi rajin sekali menghubungi Nanta, menanyakan posisi dan keadaan Nanta. Dania menjalankan perannya sebagai calon istri, Nanta tertawa sendiri jadinya.


"Yess darling." Nanta menjawab sambungan teleponnya.


"Sudah sampai dirumah?" tanya Dania pada Nanta.


"Dari tadi setelah sholat Isha, terus ngobrol sama Papa."


"Pantas tidak hubungi aku." dengus Dania kesal.


"Harus ya tiap sebentar lapor?" tanya Nanta tertawa.


"Harus dong, aku kan calon istri kamu, kata Wilma harus saling memberi kabar, seperti Wilma dan Ando."


"Ya ampun, kamu meniru bocah tengil itu lagi?" Nanta terbahak.


"Jangan meledek loh, ilmu yang dia berikan itu bisa diterima." Dania membela Wilma.


"Ilmu yang mana yang dia kasih ke kamu?" tanya Nanta pada Dania.


"Itu loh, yang waktu aku eh..." hampir saja Dania keceplosan bilang saat dia pura-pura tidur.


"Waktu kamu apa?" tanya Nanta ingin tahu.


"Tidak tahu ah, lupakan saja."


"Tidak mau, ayo kasih tahu kenapa kamu begitu membanggakan ilmu dari Wilma?"


"Bahas yang lain saja ya Mas Nanta sayang." Eh malah bilang sayang, bikin Nanta nyengir lebar.


"Sebut sayang juga ilmu dari Wilma?" tanya Nanta lagi tertawa senang.


"Hu uh. Sudah dulu ya, aku mau bobo." Dania menutup sambungan teleponnya, dia jadi malu sendiri, kenapa bisa panggil sayang sih.