
"Singkong Rebus Abang..." teriak Nanta saat melihat wajah Balen di layar handphonenya. Ia dan Dania sudah berada di kamar hotel yang bersebelahan dan tersambung dengan kamar Raymond.
"Aban mana sih?" sungut Balen dengan rambutnya yang masih berantakan karena baru bangun tidur.
"Abang temani Bang Raymond sama Kak Roma dulu ya, kita bertemu hari rabu." kata Nanta pada adiknya.
"Temani temana?" tanya Balen masih belum tersenyum.
"Biangna senen, teus jadi wabu." omel Balen pada Abangnya.
"Iya maaf ya, Bang Raymond sih kemarin ajak Abang dan Kak Dania ke Bandung." Nanta menjelaskan.
"Huaaaa Baen itut." langsung saja menangis Balen mendengar kata Bandung. Raymond melempar Nanta dengan bantal karena membuat Balen menangis.
"Jangan nangis dong, Abang jadi sedih nih." Nanta membujuk adiknya.
"Baen itu aban don. Tan bianna senen bobo betida."
"Iya nanti rabu saja ya, Abang janji."
"Boon don namana, Aban bian tita nda boeh boon." mengomel disela tangisnya, Nanta langsung meringis dibuatnya, ia tidak menepati janjinya pada Balen, baru kali ini. Sebelumnya tidak pernah, Raymond terkekeh melihat ekspresi wajah Nanta.
"Balen ajak Papon susul Abang ya." kata Nanta akhirnya.
"Benel ya, Baen tepon Papon nih."
"Iya."
"Nantaaaaa..." teriak Nona membuat semua yang dikamar itu terbahak.
"Ampun Mamon." Nanta terbahak.
"Bikin PR saja kamu ya." omel Nona pada Nanta.
"Hahaha sini dong, aku cuma berempat nih." kata Nanta pada Mamon.
"Enak saja suruh Balen ajak Papon." Omel Nona lagi sementara Balen merengek pada Mamonnya agar menghubungi Papon dikantor.
"Balen sayang..." panggil Raymond pada Balen.
"Yah..." jawab Balen dengan air mata di pipinya.
"Mau adek bayinya berapa?" tanya Raymond pada Balen.
"Tida." jawab Balen dengan tiga jari di tangannya.
"Nah Bang Ray temani Bang Nanta bikin adek bayi dulu ya buat Balen. Jadi tunggu kita pulang hari rabu." kata Raymond cengar-cengir.
"Vulgar betul sih." protes Nanta tanpa suara.
"Tan ada dipeut Tata Yoma." kata Balen berpikir.
"Baru satu, nanti satu lagi diperut Kakak Dania." kata Raymond menyeringai pada Nanta.
"Benel ya, Wabu peut Tania dendut don." Balen tertawa sendiri.
"Belum kelihatan sih kalau rabu, tapi sebentar lagi gendut perutnya." gantian Nanta yang melempar Abangnya dengan bantal, Dania menutup wajahnya mendengar Raymond.
"Sudah ya jangan nangis lagi." kata Raymond pada Balen.
"Yah, mana abanna?" tanya Balen ingin bicara dengan Nanta.
"Lagi bikin adek bayi." jawab Raymond,
"Beluum." teriak Nanta cepat membuat semuanya terbahak.
"Aban, adena pempuan ya." pinta Balen pada Nanta.
"Seperti Balen?" tanya Nanta.
"Janan, bitinin wambutna titing, taya dini." Balen menunjukkan boneka yang dipegangnya.
"Waduh, kalau beda bagaimana?" Nanta jadi bingung sendiri, tidak berani janji pada Balen yang lumayan kritis.
"Huaaaa mauna ade taya dini." kembali menangis histeris.
"Balen, nanti Abang belikan boneka seperti itu ya." bujuk Nanta kelabakan.
"Tapan beina."
"Hari rabu, Abang janji kita ke mal hari rabu."
"Benel ya, janan boon ladi." tegas Balen pada Abangnya.
"Huaa iya, Abang kan selama ini tidak pernah bohong."
"Ini boon, tatana senen jadi wabu." diungkit lagi.
"Iya maaf, maaf ya. Jangan bilang Abang bohong dong. Abang kan sayang Balen, in syaa Allah Rabu ya. Doa kan tidak ada halangan." kata Nanta pada adiknya, benar-benar menyesal karena selama ini Nanta selalu menepati janjinya pada Balen.
"Yah..."
"Sayang Abang tidak?"
"Tayang."
"Kiss Abang dong."
"jauh."
"Dari handphone saja, Kiss me." Balen mendekatkan wajahnya pada layar hape seketika langsung layar terlihat buram.
"Duh basah deh handphone Opa." terdengar suara Oma terbahak.
"Oma I miss you." kata Nanta begitu mendengar suara Oma yang rupanya sedari tadi disebelah Balen.
"I miss you too sayang. Selamat bersenang-senang di Bandung ya." kata Oma selalu saja menyejukkan hati Nanta.
"Oma dan Opa sini dong."
"Ah Oma mau bertemu sahabat Oma, kita mau reuni." kata Oma menolak.
"Ah Oma katanya miss you too." dengus Nanta.
"Miss you bukan berarti susul you kan." Semua terbahak mendengarnya.
"Jitak you saja Oma." teriak Roma sambil terbahak.
"Kasih duit you saja." sahut Raymond ikut terbahak.
"Kamu ikut Oma Dek?" tanya Nanta.
"Yah, Itut Opa Juda." jawab Balen senang.
"Oke sayang, jagain Oma dan Opa ya."
"Yah." Balen terkikik.
"Aban..." panggilnya lagi
"Ya...?"
"Janan upa."
"Iya rabu."
"Butan..." Balen menggelengkan kepalanya.
"Apa?"
"Bitin adek yu." Balen memang peniru sejati dengan segala pikirannya.
Raymond masih saja terbahak sambil meringkuk dikasur begitu Nanta menutup sambungan teleponnya, mereka semua tertawa sampai sakit perut dengar ucapan Balen.
"Tuh anak kecil diajak bicara begitu." sungut Nanta sambil tersenyum, Raymond masih saja terbahak. Nanta jadi ikut tertawa geli, adiknya memang menggemaskan.
"Dikamar terus, kapan jalan-jalan you." kata Roma sambil tertawa, gara-gara Oma semua jadi terkontaminasi.
"Yuk, kita cari makan." kata Raymond, walaupun tadi sempat isi perut di rest area, tapi tetap mau makan lagi.
Nanta segera beranjak mengulurkan tangannya pada Dania yang sedari tadi duduk di kursi yang sudah disediakan hotel. Dania menuruti suaminya, menyambut uluran tangan Nanta dan segera berdiri sambil tersenyum. Pertama kalinya menginjakkan kaki di Kota Bandung. Sudah pasti senang karena kali ini travel bersama suaminya.
"Kapan Mas Nanta tidak sibuk kita travel ke sumatera ya." pintanya pada Nanta.
"Ah aku juga mau itu." kata Roma memandang Raymond.
"Iya nanti kita atur, kalau baby sudah bisa ditinggal." kata Raymond mengusap perut Roma.
"Jangan ditinggal, ajak saja." Nanta terkekeh memandang perut Dania.
"Kenapa lihat perut aku." protes Dania manja.
"Yah bisa saja kamu juga sebentar lagi hamil kan." kata Nanta merangkul istrinya berjalan lebih dulu keluar kamar.
"Iya sih, semoga seperti Kak Roma tanpa keluhan, jadi bisa travel saat hamil." Dania melilitkan sebelah tangannya kepinggang Nanta.
"Travel saja di otak kamu." Nanta terkekeh merapatkan kepala Dania kebahunya.
"Kan kita kenalnya dari mana?" tanya Dania terkekeh.
"Iya dari kamu pulang travel." Nanta ikut terkekeh. Raymond dan Roma mengikuti keduanya dari belakang, tidak kalah mesra pastinya.
Mereka menunggu antrian lift saat ini, karena kamar mereka berada di lantai sepuluh. Untung saja tidak lama.
"Kamu saja yang setir ya Dek." kata Raymond menyerahkan kunci mobilnya pada Nanta.
"Iya." Nanta menyambut kunci Mobil dengan senang hati, kasihan juga Bang Raymond capek menyetir jarak jauh.
"Makan dimana Bang?" tanya Nanta.
"Terserah." jawab Raymond malas berpikir.
"Kata Papa terserah itu kata keramat, jadi aku tidak mau jawaban itu." protes Nanta, Raymond tertawa mendengarnya.
"Jalan Riau saja, ada restaurant kesukaan Om Kenan disana." jawab Raymond jadi merindukan Om Kenan.
"Pasti rindu Papa, makan di restaurant pavoritenya, jangan bilang nanti Abang mau ajak aku ke tempat pavoritenya Papa kalau ke Bandung. Nanta terkekeh.
"Iya setelah makan kita kesana saja, ikuti saja ritual Papamu kalau kita ke Bandung." Raymond terbahak.
"Kenapa Boy?" tanya Kenan karena Nanta langsung menghubungi Papanya di kantor.
"Kita merindukan Papa disini." kata Nanta sambil menyerahkan handphonenya pada Raymond.
"Kalian bulan madu malah rindu Papa." Kenan terbahak.
"Ini mau ke restaurant pavoritenya Om Kenan." kata Raymond.
"Setelah itu Kalian ke bukit pavoritenya saya juga?" tanya Kenan.
"Hahaha iya rencananya begitu." jawab Raymond.
"Nanti anak kalian mirip saya." Kenan terbahak.
"Aku mau anakku mirip Papa." kata Nanta senang.
"Bikin dulu Boy." Kenan terbahak.
"Sama saja seperti Balen." Dengus Nanta.
"Kenapa Balen?" Nanta pun menceritakan percakapannya dengan Balen tadi. Kenan terbahak mendengarnya.
"Ya sudah Papa lagi meeting nih." kata Kenan kemudian.
"Huaa Papa bicara di forum?" tanya Nanta.
"Habis bagaimana, kamu telepon tidak lihat jam." kata Kenan lagi.
"Mestinya Papa bilang lagi meeting." protes Nanta malu.
"Tidak apa, hanya meeting Internal."
"Sama Om Micko juga?"
"Sama siapa lagi? hanya kami dan sekretaris juga beberapa staff terkait." jawab Kenan.
"Ya sudah salam saja, Assalamualaikum."
"Waalaikumusalaam."
"Nanta jangan lupa." teriak Micko.
"Iya Om?"
"Bikin cucu you." Micko terbahak.
"Huaa Papa loudspeaker ya?" Kenan dan semua diruangannya terbahak.
"Cucu on process, harap sabar you." sahut Raymond, kembali semuanya terbahak.