
"Sudah terlaksana ya." kata Ando menghubungi Nanta, mengikuti pesan Micko agar berkoordinasi dengan Nanta saja.
"Terima kasih Ndo, kamu langsung pulang atau istirahat dulu?" tanya Nanta.
"Langsung." jawab Ando.
"Makan dulu." kata Nanta pada sahabatnya.
"Ish perhatian sekali, jadi terharu." Ando terkekeh.
"Rese, itu kan perjalanan jauh." omel Nanta pada Ando.
"Iya, ini makan dijalan tadi dibekali makanan, dimobil sudah disiapkan." kata Ando memandangi kotak makan ditangannya.
"Selamat menikmati." Nanta terkekeh, tadi Nona menghubungi Bi Wasti agar menyiapkan makan, minum dan snack di Mobil untuk Ando.
"Ya sudah gue makan dulu, semua terlaksana dengan rapi, sampaikan pada Bos gue ya." kata Ando ingin mengakhiri sambungan teleponnya.
"Tunggu Ndo, besok mau makan siang atau setelah pulang kantor bertemunya?" tanya Nanta pada sahabatnya.
"Nanti tanya boss dulu, khawatir ada tugas dadakan lagi."
"Oke nanti gue tanya, masih pada kumpul disini kok." kata Nanta pada sahabatnya itu. Mereka akhirnya memutuskan sambungan teleponnya.
"Terlaksana." lapor Nanta pada On Micko dan semuanya.
"Oke saatnya istirahat." Micko terkekeh segera beranjak.
"Mau kemana?" tanya Kenan.
"Pulang." jawab Micko.
"Memang bawa Mobil?" Kenan menggoda Micko.
"Eh iya lupa gue, tadi sama elu ya kesini." Micko terbahak.
"Aku sama Dania yang antar." kata Nanta cepat, sekaligus jalan-jalan bersama pujaan hatinya.
"Menginap saja dirumah." Micko menawarkan.
"Enak saja." protes Kenan membuat semua terbahak. Baru satu malam dirumah Kenan sudah mau dibajak Micko lagi anak dan menantunya.
"Papamu posesif." Micko mencibir pada Kenan. Nanta tertawa jadinya.
"Lagi di Bandung saja, disuruh pulang cepat." Raymond ikut mentertawakan.
"Itu karena Nanta mau ke Amerika." Kenan membela diri.
"Biasanya tidak begitu, padahal Nanta juga sering bertanding diluar." Opa ikut saja mentertawakan Kenan.
"Sekarang beda, Nanta sudah menikah Dan waktunya harus terbagi." Kenan menggunakan dagunya menunjuk Micko.
"Sama saja kalian berdua." Oma mentertawakan Micko dan Kenan.
"Masih mending aku dong Tante, ketahuan sepuluh tahun pisah sama Dania. Lah Kenan kan tidak, malah Nanta berapa tahun ini tinggal sama Kenan disini."
"Masih kurang saja rasanya, tetap masih kurang." sahut Kenan mengingat Nanta cepat sekali menikah, diluar perkiraan Kenan.
"Nanti kalau urusan Om Peter sudah beres kami tinggal dirumah Opa, Om." Nanta memberitahukan rencananya.
"Tambah berkurang saja waktu kita bersama mereka." Micko menggelengkan kepalanya memandang Kenan.
"Nanti kan bisa saling menginap." Nanta menghibur Micko.
"Pindahnya kalau kalian selesai kuliah saja. Sementara tinggal dirumah Om." Micko membujuk Nanta.
"Papa ih, kita kan harus mandiri." Dania ikut protes.
"Kalian tuh masih anak-anak." kata Micko pada keduanya.
"Sudah tahu masih anak-anak dipaksa menikah cepat." Raymond terbahak.
"Ish Ray jangan provokasi, nanti ada yang panjang lebar mengoceh." Micko melirik Nona yang sempat ngomel karena Micko memaksa Nanta segera menikah. Nona terkikik geli.
"Sekarang tidak lagi Bang, mereka sendiri sudah enjoy." kata Nona pada Micko.
"Iya sih, aku ikut senang." Micko tersenyum bahagia.
"Sekarang saja? kapan Lucky mulai kursus?" tanya Micko pada Nona.
"Minggu depan, setelah urusan Nanta selesai." jawab Nona, Micko mengangguk setuju.
"Kalau begitu saya pamit ya, Om dan Tante, terima kasih bantuannya. Titip Kakek dan Nenek Dania." Micko menyalami Opa dan Oma.
"Kamu seperti sama siapa saja." Opa Dwi menepuk bahu Micko yang sudah seperti anaknya sendiri.
Aku antar Om Micko dulu." pamit Nanta mengambil kunci mobilnya. Dania pun ikut berpamitan.
"Jangan lama-lama Nanta, makan malam disini saja." kata Kenan pada Nanta.
"Baru mau kutahan sampai makan malam. Sudah dipesan saja suruh pulang cepat." Micko menggelengkan kepalanya.
"Sudah terbaca Bang, Nanti habis makan malam Abang ajak ngobrol sampai mengantuk kan, sudah terbaca akhirnya Abang paksa menginap di rumah." Micko terbahak, Kenan bisa menebak apa yang Micko pikirkan.
"Dasar posesif." omel Micko sebelum masuk ke Mobil Nanta. Semua terbahak melihat besan saling beradu mulut.
Nanta mengantarkan Micko sesuai arahan Papanya, turun sebentar menemui Oma Misha dan Tante Lulu. Winner dan Lucky belum pulang sekolah, padahal hari sudah sore, mereka belajar bersama dulu katanya.
Entahlah menurut Nanta belajar kelompok itu tidak efektif karena berdasarkan pengalamannya tidak jadi belajar yang ada rujakan atau nonton bersama, tidak ada yang dipelajari selain bercanda. Kecuali belajar bersama Ando, hanya berdua. Temannya yang pintar itu akan konsen sekali menjelaskan setiap materi yang dikuasainya pada Nanta.
"Aku langsung pulang ya Oma." pamit Nanta pada Oma Misha.
"Kenapa tidak menginap?" protes Oma Misha pada Nanta.
"Si Kenan masih rindu Nanta, efek Nanta menginap disini beberapa hari dan lanjut ke Bandung." Micko menjelaskan. Misha tertawa menepuk bahu Nanta.
"Kamu tuh memang selalu bikin kangen." kata Oma Misha pada Nanta.
"Masa sih Oma?" Nanta tertawa mendengarnya.
"Tanya saja Dania." Oma menggoda Dania.
"Kalau Dania sih iya pasti kangen terus." Nanta percaya diri. Dania dan Tante Lulu senyum saja mendengarnya.
"Tapi Oma juga suka kangen kamu Nanta, suka tanya sama Micko Nanta apa kabar." Oma menjelaskan.
"Iya betul itu, dulu sebelum kamu menikah dengan Dania, Oma itu selalu tanya kamu kalau Om pulang kerja." Micko tertawa.
"Om tidak cerita, kalau tahu aku sering main kunjungi Oma." Nanta tertawa.
"Sengaja tidak cerita takut kamu kegeeran di kangeni Oma-oma."
"Hahaha kan Oma ku juga." jawab Nanta membuat Oma Misha terkekeh.
"Iya Raymond dan Nanta sudah seperti cucu Oma juga." kata Oma Misha merangkul Nanta.
"Tapi Raymond tidak pernah ditanya." sindir Micko.
"Kalau Raymond Mama telpon langsung tanya kabarnya, Nanta kan Mama tidak punya nomornya." jawab Oma Misha.
"Sekarang kan sudah punya, Oma hubungi aku saja kalau kangen."
"Iya nanti kalau kamu di Amerika, siap-siap Oma hubungi kamu, pantau kamu." kata Oma terbahak.
"Cucu juga ditanya kabarnya dong jangan hanya Raymond dan Nanta saja." protes Lulu.
"Nih kamu lihat sendiri telepon Mama, bisa cek ya inboxnya." Oma menyodorkan handphonenya pada Lulu.
"Mama ini sih teror bukan perhatian." Lulu terkekeh.
"Kenapa sayang?" tanya Micko.
"Hampir setiap jam menghubungi Winner dan Lucky." Lulu menunjukkan handphone Oma Misha pada Micko.
"Hahaha Mama, sama Nanta jangan begitu nanti, dia sibuk latihan." pesan Micko pada Mamanya sambil tertawa.
"Mama juga tahu Micko, mana mungkin Mama ganggu Nanta latihan." Oma Misha membela diri.
"Lah ini, Winner sama Lucky belajar kelompok Mama telepon setiap jam." tunjuk Micko.
"Mereka tidak belajar, belajar apa itu yang perempuan cekikikan yang laki-laki rusuh menggoda." lapor Oma pada Micko.
"Lu, suruh mereka pulang sekarang." perintah Micko pada istrinya, langsung saja posesifnya muncul, sama saja seperti Kenan.