
Semua bertepuk tangan ketika Doni naik keatas panggung, setelah tiga lagu sebelumnya sudah dinyanyikan oleh Antra as friend. Beberapa teman TimNas Nanta yang lain juga ikut datang karena semalam Nanta sudah umumkan di group bahwa Doni akan tampil. Walaupun tidak semuanya bisa hadir.
"Wah kalian datang terlambat sih, tadi ada sesi foto dengan TimNas, kalau kalian datang pengunjung pasti bertambah senang." kata Nanta pada Eric salah satu rekannya.
"Tidak dikabari sih." jawab Eric.
"Itu juga diluar perkiraan. Tiba-tiba saja tanpa rencana." jawab Nanta apa adanya.
Rombongan itu kembali rusuh ketika melihat atraksi panggung Doni, tanpa disuruh beberapa pengunjung ikut maju berjoget dan bernyanyi. Nanta jadi tertawa, Mario dan Andi tampak puas sekali, sudah mereka perkirakan Doni
dan Antra's membuat suasana panggung hidup.
"Ini restaurant tapi kita jadi seperti Nonton Konser." Andi tersenyum lebar pada Mario. Cyla yang dampingi pimpinannya tidak lagi bisa komentar, Nanta ternyata bukan sekedar asal bicara, memang Antra as friend memiliki segmen pasar tersendiri, terbukti malam ini luar biasa, banyak pengunjung yang gagal hadir karena dari depan gerbang masuk sudah ada palang dengan tulisan penuh, tempat sudah tidak muat lagi menampung pendatang lainnya.
"Selamat ya Boy, kamu berhasil." kata Mario saat Nanta menghampirinya.
"Ini bukan aku, Pi." Nanta merasa tidak melakukan apapun.
"Kamu berhasil pertahankan Antra as friend untuk tetap tampil disini, setelah berapa hari kemarin Cyla minta pengisi acaranya di tukar dengan yang cabang Utama." jawab Mario tersenyum lebar.
"Tapi Papi sendiri kan sudah lihat video mereka yang aku Kirim ke Popo." jawab Nanta.
"Iya, tapi hampir saja kami ikuti kemauan Cyla." Mario terkekeh.
"Oh ya?" Nanta tertawa mendengarnya.
"Tidak jadi karena kamu bertahan dan Ayah Eja percaya kamu."
"Alhamdulillah." Nanta tersenyum lebar, kembali nikmati aksi panggung Doni.
"Dania mana?" tanya Andi pada Nanta, ia baru saja selesai koordinasi dengan Cyla.
"Itu lagi ngobrol sama yang lain." Nanta menunjuk Dania yang sedang ngobrol dengan Dona, Rumi dan Seiqa.
"Rumi punya teman perempuan juga akhirnya." Mario terkekeh.
"Biasanya?"
"Semua temannya laki-laki, tapi tidak punya pacar." jawab Mario terkekeh.
"Papa sudah bilang sama Cyla mulai senin kamu tidak disini lagi." kata Andi kemudian.
"Loh aku bukannya satu bulan disini?" tanya Nanta.
"Tidak perlu sudah ada Cyla disini, seminggu saja kamu sudah bisa buktikan pengunjung bertambah ramai." kata Andi ditengah hingar bingar suara musik.
"Jadi aku kemana?" tanya Nanta pasrah.
"Kita ke cabang Utama dulu boy, setelah itu kita datangi cabang-cabang yang sepi." jawab Mario. Nanta anggukan kepalanya.
"Tuh Doni sudah selesai, ajak Doni keruangan, Boy." kata Andi tinggalkan Nanta menuju ruangannya, Mario mengikuti Andi. Nanta segera hampiri Doni yang sibuk menerima ucapan selamat dari teman-temannya karena menjadi artis dadakan. Antra as friend kembali lanjutkan aksi panggungnya tanpa Doni.
"Don, dipanggil keruangan Bos." bisik Nanta pada Doni.
"Sebentar ya, gue ambil cek dulu." pamit Doni pada yang lain dengan gaya tengil.
"Traktiiiir." teriak segerembolan pria tampan rusuh.
"Tenang, mau makan apa lagi? pesan saja." jawab Doni.
"Rese, ini sih Nanta yang bayar." jawab Larry membuat semua terbahak. Nanta dan Doni pun tinggalkan semuanya menuju ruangan petinggi Warung Elite.
"Keren Don, senang sekali lihat pengunjung membaur tanpa malu-malu, tadi ada yang sampai ikut naik kepanggung rupanya." sambut Mario saat Nanta dan Doni sudah berada diruangan.
"Iya betul Pak." jawab Doni tertawa senang.
"Alhamdulillah." Doni langsung saja sumringah, untung saja ia bawa tas selempang kekinian jadi bisa langsung simpan uangnya di tas.
"Masih muat kan tasnya, nih dari saya." Eh Papi malah ikut-ikutan kasih amplop. Tambah senang saja Doni dibuatnya.
"Waduh mestinya ada Ayah dan Popo bisa dapat empat amplop, lu Don." kata Nanta pada sahabatnya.
"Ya tidak begitu juga Boy." jawab Andi membuat semuanya terbahak.
"Ini saja sudah sangat senang." kata Doni jujur.
"Alhamdulillah." Andi jadi ikut senang.
"Sudah dapat amplop saya pamit ya, besok kan mau ke S'pore." kata Doni melirik Nanta, sengaja betul menggoda sahabatnya yang minta ditemani sampai acara selesai.
"Hmm... awas saja." Nanta langsung saja bergaya akan meninju Doni dari jauh. Andi dan Mario terbahak.
"Papi ikut ke S'pore besok?" tanya Nanta pada Mario.
"Ikut dong, kan mau lihat Opa sekalian lihat cucu." jawab Mario sumringah. Orang tua, anak dan cucunya sudah menetap di S'pore tetap saja Mario tidak mau tinggalkan Indonesia.
"Papa Andi tidak mau lihat cucu kah?" tanya Nanta pada Andi.
"Papa juga ikut, Boy." jawab Andi terkekeh.
"Wah ramai dong besok kita rombongan." Nanta langsung saja senang.
"Tapi kami pesawat siang, kalian lebih dulu berangkat." kata Mario lagi.
"Kenapa tidak sekalian jalan?"
"Tidak muat pesawatnya, kami naik pesawat komersil." jawab Mario terkekeh.
"Private jet untuk bisnis, kami kan cuma senang-senang." Andi ikut terkekeh. Nanta dan Doni jadi cengar-cengir, besok bisa merasakan naik private jet milik Unagroup.
"Kami pamit keluar dulu, sepertinya Kuskus sudah closing acara." kata Nanta pada Andi dan Mario.
"Oke boy, Don terima kasih ya. Kamu hebat." Kembali Andi memuji Doni.
"Terima kasih Pak." jawab Doni tersenyum malu-malu.
"Panggil Papa Andi saja sama seperti Nanta." kata Andi tidak mau dipanggil Pak.
"Oke Papa Andi." jawab Doni menurut.
"Panggil saya juga Papi saja." tegas Mario tidak mau kalah.
"Hahaha Ok Papi." Doni tertawa senang.
"Sampaikan pada geng kwartet ya." kata Mario lagi.
"Hahaha kenapa pada tahu sih, itu kan hanya internal." Nanta jadi terbahak, bingung juga kenapa julukan kwartet itu sampai meluas, padahal hanya internal mereka saja yang tahu.
"Resiko karena kalian terlalu tampan, semua orang cari tahu tentang kalian." jawab Mario terkekeh.
"Ah Papi lebay." kata Nanta meringis. Doni cengengesan saja.
"Terima kasih ya Papa dan Papi, ini tas aku rasanya jadi berat sekali." kata Doni konyol, Nanta mendorong bahu sahabatnya yang sedang pamer karena dapat honor menyanyi itu. Mario dan Andi terbahak melihat keduanya.
"Mau makan dimana?" tanya Doni pada Nanta saat keluar ruangan.
"Besok malam saja kalau mau traktir." tantang Nanta jahil.
"Eh buset minta traktirnya pakai dollar loh." gantian Doni yang mendorong bahu Nanta, keduanya tertawa tanpa pedulikan orang-orang sekitar. Jangan tersinggung saja pengunjung, jangankan yang tidak kenal, sama yang kenal saja bisa abai kalau kwartet sudah kumpul. Hanya satu yang tidak bisa mereka abaikan siapa lagi kalau bukan Balen.