I Love You Too

I Love You Too
Main Monopoly



"Bagaimana di kantor, Boy?" sambut Kenan saat Nanta sampai dirumah.


"Mulai besok aku selama sebulan di Cabang Selatan, Pa." lapor Nanta pada Kenan. Ia sudah menuju meja makan saja setelah Sholat Isha tadi dimesjid.


"Kenapa begitu?"


"Papi mau lihat sepak terjang aku hehehe." cengengesan malas ceritakan soal Cyla pada Papa.


"Semangat Nanta." Nona menyemangati Nanta.


"Terima kasih Mamon." tersenyum pada Nona.


"Makan dong." katanya pada Dania.


"Semua juga belum makan, ayo." sahut Kenan merangkul Nanta yang sedang menggandeng istrinya.


"Kamu dan sahabatmu dapat tawaran untuk ikut menjadi model iklan temani Balen." kata Kenan pada Nanta.


"Masa?" Nanta terkekeh.


"Iya, tadi Aditia bilang begitu, mau kalian berempat ikut dampingi Balen. Bahkan Lucky dan Winner juga ikut." Kenan menjelaskan.


"Hmm... Papa yang tawarkan kami kah?" tanya Nanta curiga.


"Ish kurang kerjaan sekali Papa tawari kalian, Papa bukan management artis." Kenan terbahak.


"Ya kali, bisa kebetulan gitu maunya Balen terkabul." Nanta terbahak.


"Kalau bersedia Aditia minta dikabari untuk atur waktu kalian tanda tangan kontrak di Unagroup." kata Kenan lagi.


"Asik, kita ke S'pore." Dania tertawa senang, pikirannya jalan-jalan saja.


"Baen juda itut tan Papon?" tanya Balen pada Papon.


"Iya dong semua ikut kan karena temani Balen." jawab Kenan tersenyum pada Balen.


"Kapan sih syutingnya?" tanya Nona pada Kenan.


"Belum tahu, kalau sudah berkumpul di Unagroup baru kita bisa tanya." jawab Kenan pada Nona.


"Tapi saya sudah bilang agar waktu disesuaikan dengan para atlet yang waktunya sangat padat." lanjut Kenan lagi.


"Sesuaikan juga dengan waktu Papa kan." Nanta terkekeh.


"Oh iya dong, bintang Utama kan ikuti waktu Papa." Kenan tertawa memandang Balen yang nantinya jadi bintang Utama.


"Papon, Aban Leyi itut ya." semangat sekali kalau bahas Larry, langsung saja Nanta mencubit pipi adiknya.


"Leyi-Leyi, aban saja yang ikut." Nanta menggoda Balen.


"Aban talo masuk tipina beenang tan Aban Leyi haus pedanin Baen." Balen menjelaskan pada Nanta.


"Aban juga bisa pegangin Balen." Nanta menaikkan alisnya sambil tersenyum jahil.


"Beda tau, Aban Leyi tuh beenangna jado." banggakan Larry didepan keluarganya, memang begitu adanya, hasil didikan Larry dengan didikan Mike perkembangannya beda jauh.


"Iya-Iya Aban Leyi memang juara deh, Aban kalah." pura-pura merajuk dengan wajah bersungut.


"Aban juda jado tok, iya tan Tania." minta suaka sama Dania, semua senyum-senyum saja memandangi Balen.


Sambil nikmati makan malamnya mereka saling sampaikan aktifitas yang mereka lakukan seharian. Balen sibuk cerita tentang Anak Bayi yang ada di perut Dania.


"Anak Bayi tapan tualna nih." tidak sabar menunggu kehadiran Anak Abangnya.


"Anak Bayi lagi." Nanta tertawa.


"Habis apa don, tan butan adek Baen." benar juga maksudnya keponakan rupanya makanya dipanggilnya anak bayi. Kembali Kenan terkekeh mendengar ocehan Balen.


"Ichie sini matan, jaan jaan teus sih. Suuh duduk don Papon." memanggil Richi yang sibuk mondar-mandir tidak ikut bergabung dimeja makan.


"Ichie sini makan, Nak." panggil Kenan pada Richie.


"Udah matan." jawab Richie menunjuk piring yang dipegang Ncusss.


"Matan tuh duduk Ichie butan bedii." marahi Richie karena makannya tidak duduk. Richie hanya memandang Balen sambil memonyongkan bibirnya. Nanta tertawa melihat kedua adiknya.


"Nanti si unyil lahir lebih ramai lagi nih rumah Papa." Nanta tertawa sendiri.


"Sudah bisa Papa bayangkan rusuhnya seperti apa ini Om dan Tante cilik." Kenan ikut tertawa.


"Anak bayina beum tual sih. Jadi ndak itut masuk tipi deh." kata Balen memandangi perut Dania.


"Kan ikut temani Ante Baen syuting walaupun masih dalam perut." kata Dania pada Balen.


"Tapi tan ndak iat anakna."


"Lihat kok dia ngintip dikit-dikit." Nanta tersenyum pada adiknya sambil acak-acak rambut Balen.


"Ih Aban, usak nih ambut Baen." merapikan rambutnya kemudian lanjut menikmati makannya, kali ini tidak pakai sop, tapi pakai ayam suwir.


"Belum syuting kan." Nanta terkekeh dan mencium adiknya.


"Aban, tita tuh masuk tipina napain sih?" tanya Balen pada Nanta.


"Coba tanya Papon, konsepnya bagaimana, Pa?" Nanta tanyakan pada Kenan.


"Katanya sih berenang sama Larry seperti kemarin, Aditia sempat rekam saat Balen dan Larry melompat ke kolam lalu berenang kemarin." Kenan menjelaskan.


"Jadi sebenarnya Bintang Utama tuh Kamu sama Aban Leyi, dek." kata Nanta pada Balen.


"Papa tidak tahu nanti Larry bagaimana, kalau Balen sih iya." kata Kenan berdasarkan yang dia tahu.


"Harusnya sih iya Pa, karena kan kemarin Larry dan Balen yang mereka videokan. Kalau aku sama Doni cuma jadi penonton saja kemarin. Mike sama Ichie sibuk dikolam anak-anak." Nanta ceritakan aktifitas sabtu lalu.


"Nanti kalau kalian ke Unagroup akan tahu." jawab Kenan.


"Yah Baen mo Aban itut masuk tipina." langsung merengek mendengar Nanta mau mundur.


"Baen doakan Aban ya biar waktu syutingnya tidak mengganggu jam kuliah dan jam kerja Abang. Kalau Basket selama tiga bulan kedepan Aban agak santai." Nanta sampaikan pada Balen dan semua anggota keluarganya.


"Kamu hubungi sahabat kamu, jangan lupa. Aditia menunggu kabar setidaknya dalam dua hari ini." Kenan ingatkan Nanta.


"Iya nanti dikamar aku hubungi mereka." jawab Nanta yang sudah selesaikan makan malamnya.


"Tepon sekaang aja don, Aban." pinta Balen pada Nanta.


"Telepon siapa?" Nanta menggoda Balen.


"Aban Leyi." jawab Balen terkekeh.


"Huh centil mau dengar suara Aban Leyi tuh pasti."


"Tasih tau Aban Leyi temenin Baen masuk tipi." kata Balen pada Abangnya


"Kamu saja nih yang telepon Larry." Nanta sodorkan teleponnya pada Balen.


"Baen ndak tau yan mana, Baen tan beum tau." merengek karena belum bisa membaca jadi tidak bisa mencari kontak Larry. Nanta tertawa kembali mengacak anak rambut Balen.


"Aban Leyi..." panggilnya begitu wajah Larry muncul di layar handphone Nanta


"Baen, lagi apa?" tanya Larry tersenyum memandang Balen.


"Aban, temenin Baen masuk tipi ya." katanya pada Larry.


"Hahaha kapan Baen mau ditemani?" Larry tertawa pikirnya Balen minta didampingi saja.


"Kita ditawari juga Leyi. Kalau mau gue kabari Aditia nih."


"Oh boleh-boleh. Temani singkong cantik ok lah." Larry menyambut positif.


"Gue kabari Doni sama Mike dulu." kata Nanta pada Larry.


"Aban Leyi, janan matiin ya." minta Larry tidak matikan sambungan telepon.


"Conference Nan." kata Larry terkekeh.


"Hahaha oke tunggu." Nanta tertawa.


"Group apa nih?" tanya Mike seakan nyasar di komunitas asing.


"Mabok Seiqa lu." Larry menggoda sahabatnya.


"Eh jangan begitu dong, mana Doni belum tersambung." tanya Mike belum melihat Doni.


"Apa Maik." ikut memanggil Mike seperti Balen.


"Nah komplit ya. Balen mau bicara nih." Nanta serahkan pada Balen, ingin tahu adiknya mau bilang apa.


"Aban Doni, Aban Maik, mau tan temenin Baen masuk tipi. Tata Papon Aban boeh itut." singkong rebus sampaikan dengan bahasanya.


"Maksudnya bagaimana ini, kok gue rada bolot?" tanya Mike membuat sahabatnya tertawa.


"Emang bolot bukan rada." Larry terbahak.


"Leyi cium nih." kata Mike, kembali sahabatnya dan keluarga Nanta tertawa.


"Aban-aban dapat tawaran jadi model iklan juga. Aditia sampaikan pada Papa tadi." kata Nanta pada sahabatnya.


"Asiik, dibayarkan?" tanya Mike konyol.


"Kalau tidak dibayar itu berarti jadi penonton Mike." kata Larry pada Nanta.


"Masalah pembayaran nanti dibicarakan di Unagroup, gue pikir sih model utama nanti Balen sama Larry ya." Nanta sampaikan pemikirannya pada sahabatnya.


"Bayaran lu lebih gede dong Leyi." Mike menggoda Larry.


"Kenapa mau minta bagi dua ya." Larry tertawa.


"Aban Leyi, uangna nanti mo bei apa?" tanya Balen konyol.


"Beli apa ya? beliin Balen boneka deh." jawab Larry tertawa.


"Janan, boneta Baen udah banak." tolak Balen pada Larry.


"Jadi Balen mau Aban Leyi belikan apa dong?" tanya Larry pada Balen.


"Baen tan puna uang sendii." jawab Balen sombong padahal uang belum ditangan.


"Gitu ya, tapi kalau dibayar nanti Aban Leyi mau belikan Balen sesuatu deh. Apa ya selain boneka." Larry tampak berpikir.


"Beiin Baen Oten aja ya." pinta Balen pada Larry.


"Apaan tuh Nan? Balen minta dibelikan apa?" tanya Larry tidak mengerti.


"Minta belikan hotel." jawab Nanta.


"Oh minta ditraktir menginap di hotel ya?" tanya Mike.


"Butan, beiin otenna don." Balen menjelaskan.


"Buset... singkong rebus kira, kita lagi main monopoly apa ya?" Doni tertawa mendengar permintaan Balen, sementara Larry langsung saja menepuk jidatnya.


"Baen, Pacaran sama cewek matre saja belum ada yang minta Aban, belikan hotel." komentar Larry membuat semua terbahak.


All aku Ikutan kontes chat story "Dunia Balen." yang kangen Balen bisa mampir ya. Masih Balen kecil bukan yang dewasa.😍