
"Kamu sudah bilang Papamu?" tanya Femi tak sabar saat Larry datang menjemputnya sore hari. Larry gelengkan kepalanya.
"Kok belum bilang?" tanya Femi lagi sedikit kecewa.
"Papa masih sibuk, mesti cari waktu yang tepat untuk bicara dengan Papa." jawab Larry mulai lajukan kendaraannya menuju rumah Doni.
"Kamu serius tidak sih?" Femi jadi ragu, pikirnya sore ini bisa dapat kabar baik dari Larry.
"Sabar dong. Aku juga sudah minta waktu sama Ajudan Papa kok, biar bisa ngobrol banyak." jawab Larry.
"Masa sama anak sendiri mesti minta waktu juga." sungut Femi kesal, sesibuk apa sih sampai harus minta waktu sama Ajudan.
"Memang begitu adanya, Fem. Nanti kalau kamu sudah jadi bagian keluargaku juga bisa lihat sendiri." jawab Larry santai, Femi tidak tahu saja, kadang satu rumah pun mereka jarang bertemu, hanya bisa dengar suara saja.
"Aku tidak mau buang waktu dengan jalan tidak jelas begini." Femi menghela nafas panjang.
"Jalan tidak jelas???" Larry mengernyitkan keningnya.
"Yah, sudah habiskan waktu jalan sama kamu, ternyata Papa kamu tidak setuju, sementara perasaanku semakin berkembang." Femi ungkapkan apa yang dikhawatirkannya.
"Tahan dulu perasaannya, jangan biarkan berkembang kalau begitu." jawab Larry terkekeh.
"Kamu sih bisa begitu, aku mana bisa." gerutu Femi lagi.
"Oke, ini terakhir kita jalan berdua, sampai aku bilang jemput kamu ke rumah bertemu Papa dan Mamaku." jawab Larry santai sementara Femi menghela nafas panjang. Selanjutnya kembali berdiam diri, Femi sudah tidak tahu mau bicara apa, Larry juga sibuk dengan lamunannya sendiri.
"Apa kamu selalu sesantai ini ya?" tanya Femi akhirnya.
"Santai bagaimana?" malah balik bertanya.
"Aku bilang tidak mau buang waktu, kamu dengan santainya bilang ini terakhir kali kita bertemu." Femi tampak gusar
"Jadi mau kamu bagaimana? aku kan juga tidak mau bikin waktu kamu terbuang dengan percuma." jawab Larry pandangi Femi.
"Mestinya kamu usahakan biar cepat bertemu orangtua kamu."
"Femi, Papaku sibuk urus negara, pulang malam menjelang pagi bahkan kadang tidak pulang. Kami jarang bertemu, tapi Papa selalu punya orang untuk awasi kami anak-anaknya. Sebenarnya tanpa aku cerita juga Papa tahu sekarang aku lagi jalan sama siapa. Tapi untuk tahu kamu penilaian Papa lebih lanjut aku mesti tanya Papa."
"Ya tapi kapan dong, hari minggu?"
"Hari minggu aku mau ajak Balen Ke Mal." jawab Larry tersenyum.
"Aku diajak?" tanya Femi berharap.
"Tidak, ini berdua saja dengan Balen." jawab Larry apa adanya.
"Segitunya ke Mal berdua Balen." mendengus kesal.
"Salah satu syarat aban Leyi boleh punya istri." Larry terbahak.
"Balen padahal orang lain tapi kamu perlakukan dia istimewa."
"Kan aku sudah bilang Balen pelipur Lara, Jangan pikir dia orang lain ah, dia akan jadi bagian keluarga aku juga nantinya." Larry jelaskan pada Femi.
"Femi, Nanta, Mike dan Doni itu sahabat bahkan kami seperti keluarga, sama keluarganya juga begitu. Hanya saja mereka tidak bisa begitu ke Papa dan Mamaku, tapi Papa dan Mama senang aku berteman baik dengan mereka."
"Ya." hanya itu saja yang bisa Femi jawab.
"Kita kumpul mau senang-senang loh, sebentar lagi sampai rumah Doni tapi muka kamu seperti tidak bahagia." Larry ingatkan Femi.
"Aku orangnya memang begini, tidak bisa sembunyikan apa yang ada di hati. Kalau lagi kesal pasti terlihat, lagi happy pun pasti terlihat juga." jawab Femi pada Larry.
"Tidak bisa seperti Rumi kah? selalu terlihat happy padahal aku tahu dia sedang tidak karuan." tanya Larry pada Femi.
"Kenapa jadi bandingkan aku sama Rumi sih?" Femi jadi tambah kesal saja.
"Cuma tanya kalian kan cukup dekat akhir-akhir ini."
"Kalau kamu suka sama Rumi kenapa tidak perjuangkan Rumi sama orang tua kamu. Kenapa malah janjikan aku?" duh Femi seperti salah makan obat. Larry gelengkan kepalanya.
"Kita sudah sampai." katanya parkirkan kendaraannya tepat disebelah mobil Nanta yang ternyata sudah sampai lebih dulu.
"Aban Leyi..." Balen berjingkrakan diteras rumah Doni, tentu saja Larry jadi seperti mendapat kejutan, karena tadi Balen bilangnya tidak bisa ikut.
"Baen..." langsung hampiri Balen dan menggendongnya.
"Kok ikut?" tanya Larry ciumi pipi Balen gemas.
"Abisna Shakia ladi ada Oma monitna. Umah Ayah penuh, Baen sini aja deh." jawab Balen tersenyum dan lambaikan tangannya pada Femi.
"Kita ke Mal habis ini saja sama Kakak Femi?" tanya Larry sambil berbisik, Balen masih pandangi Femi.
"Tatana mo dua aja?" Balen balik berbisik, Larry terbahak dibuatnya.
"Hari minggu kalau begitu ya?"
"Yah, Baen tuun don." minta diturunkan.
"Femi, masuk." panggil Dona yang melihat Femi berdiri saja dibelakang Larry sementara yang lain sudah ambil posisi.
"Kamu masuk tuh sudah pada kumpul." kata Larry yang masih menggendong Balen.
"Om Diky sudah datang." Larry tertawa melihat Diky yang sudah ikut duduk manis bersama yang lain.
"Oh tepat waktu dong." jawab Diky bangga.
"Leyi Aku bikinkan manisan kolang-kaling nih." teriak Rumi pada Larry.
"Eh Baen suta itu." teriak Balen semangat.
"Aku juga suka tuh." Larry jadi nyengir lebar.
"Maaf ya aku tidak bawa apa-apa." kata Femi tidak enak hati.
"Tidak apa, ini sudah banyak betul." jawab Dona menepuk bahu Femi.
"Baen sini pangku Abang." Nanta panggil adiknya yang sekarang sedang dipangku Larry.
"Jangan." Larry menahan Balen yang hendak beranjak kepangkuan Abangnya.
"Ish si Leyi." Nanta mendengus kesal, sudah begini masih saja kalah pamor sama Larry.
"Baen, Leyi sudah mau punya istri, sini sama Abang." kata Mike pada Balen.
"Jangan." kata Larry lagi pada Balen. Semua terbahak tertawakan Larry yang kemarin sempat galau diabaikan Balen.
"Nanti dantian ya pantuna." jawab Balen pada Nanta dan Mike, sok artis betul bocah centil ini.
"Femi apa kabar?" tanya Deni yang baru saja bergabung.
"Dokter Deni." Femi nyengir lebar.
"Enak di Jakarta ya, dekat Larry." langsung saja menggoda Femi.
"Baru juga bertemu kemarin Om." Larry terkekeh.
"Masa? sudah lumayan lama di Jakarta loh Femi. Kalian pulang dari Cirebon itu seminggu kemudian Femi dan Fino pindah." Deni mengingat-ingat. Larry tersenyum saja pandangi Femi.
"Begitu deh Om, kalau tidak sengaja bertemu di pesta Mike juga aku tidak tahu dia dimana." Larry terkekeh.
"Kamu tidak pernah telepon, bagaimana sih." Deni tertawakan Larry.
"Telepon Balen terus sih dia, jadi lupa telepon aku." kata Femi membuat Larry tersenyum pandangi Balen.
"Femi tidak tahu saja Larry bahkan kusut kalau Balen tidak mau terima telepon Larry." kata Mike malah bikin Femi menghela nafas panjang, masa saingannya bocah umur empat tahun sih.