I Love You Too

I Love You Too
Papa



"Mas Larry..." seseorang hubungi Larry via telepon.


"Ya."


"Bapak siapkan waktu untuk Mas Larry besok jam satu siang di kantor, hanya satu jam." Zaki, Ajudan James Prawira hubungi Larry. Sesuai permintaan Larry kemarin yang ingin minta waktu Papa agar bisa bicara urusan pribadi, berhubung James Prawira masih sibuk, ia minta Zaki kosongkan waktunya satu jam untuk bertemu Larry.


"Tidak bisa dirumah saja, Mas Zaki sekalian sama Mama?" tanya Larry pada Zaki yang setia dampingi James Prawira kemanapun bertugas. Femi sudah keburu dilepas, Papa malah siapkan waktu lebih cepat dari perkiraan, meskipun bertemunya di kantor.


"Sampai minggu depan jadwal Bapak padat Mas Larry, saya sudah kosongkan besok jam satu siang sesuai arahan Bapak." jawab Zaki pada Larry.


"Mama bisa ikut ke kantor Papa?" tanya Larry.


"Maaf, Ibu bersama rombongan IAD ada acara besok dari pagi, jadi tidak bisa ikut temui Mas Larry." jawab Zaki bacakan jadwal kegiatan Mamanya. Rupanya Mama Larry ikut sibuk dengan segala kegiatannya.


"Ya sudah. Besok aku ke kantor Papa." jawab Larry ikuti jadwal yang sudah ditentukan Papanya. Malam ini sepertinya Papa dan Mama menginap di rumah dinas.


"Jangan terlambat Mas Larry, karena jam dua siang Bapak dan Ibu harus ke Bandara." Zaki ingatkan Larry.


"Iya." jawab Larry pasrah.


"Mas Larry berdua kan?" Zaki pastikan lagi Larry datang berdua, membuat Larry meringis.


"Sendiri, Mas Zaki." jawab Larry apa adanya. Kemarin memang bilang berdua, tapi tidak jadi, makanya besok hanya sendiri saja.


"Siap, saya sampaikan sama Bapak." jawab Zaki akhiri sambungan telepon dengan Larry.


Dan disinilah Larry sekarang, di salah satu ruangan, menunggu Papanya selesai Rapat. Larry memang datang lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Pikirnya bisa makan siang bersama Papa, Larry sudah bawakan makanan kesukaan Papa yang tadi dibelinya di restaurant langganan keluarga mereka, tapi ternyata Larry salah, jadi ia harus menunggu di ruangan kerja Papanya.


"Larry!" pintu ruangan terbuka, tampak Papa tersenyum melihat kehadiran Larry.


"Sudah selesai rapatnya?" tanya Larry pada Papa.


"Sudah, Papa sholat dulu." katanya segera masuki toilet diruangannya, tidak lama keluar dengan wajah lebih segar karena habis berwudhu.


"Kamu sudah sholat?" tanya sama Larry sambil bentangkan sajadahnya.


"Sudah." jawab Larry, lalu sabar menunggu Papa lakukan ibadah sholat Dzuhur.


"Aku bawakan makanan kesukaan Papa." kata Larry sajikan makanan yang dibawanya tadi.


"Papa kenyang, kasih Zaki saja." kata James pada putranya.


"Zaki sudah aku belikan juga, ada dimejanya." jawab Larry bersungut.


"Ya sudah ayo makan bersama, Papa sedikit saja." ajak James menuruti Larry, ikut makan apa yang dibawakan sulungnya.


"Mau bicara apa?" tanya James sambil melirik jam dipergelangan tangannya.


"Papa mau kemana nanti?" tanya Larry pada Papanya.


"Lombok, ada rapat disana." jawab James sambil nikmati makanan yang Larry bawa.


"Lama?"


"Seminggu." Larry anggukan kepalanya.


"Ada masalah?"


"Tidak."


"Apa yang mau kamu bicarakan?"


"Sahabatku semua sudah menikah." Larry menghela nafas.


"Kamu mau menikah juga? sudah siap?"


"Kalau ditanya siap tidak akan pernah siap, tapi kan kalau sudah mampu wajib disegerakan." jawab Larry pandangi Papa.


"Jangan karena ikut-ikutan jadi ingin menikah cepat." James ingatkan Larry.


"Aku tidak ikut-ikutan. Aku capek pacaran." jawab Larry letakkan sendok ditangannya, nafsu makannya hilang seketika.


"Sudah punya calonnya?" tersenyum pandangi Larry.


"Nama-nama yang pernah aku sebutkan pada Papa, tidak pernah Papa tanggapi." Larry menghela nafas panjang.


"Kamu juga tidak serius sama mereka." Larry jadi meringis, Papa malah tahu Larry tidak serius.


"Iya itu kan dulu, sekarang sudah tidak dekati public figure." jawab Larry.


"Bagaimana, adik Balenmu? sudah hebat berenangnya?" malah bahas Balen.


"Sudah, Balen mau aku daftarkan lomba berenang, kemarin Daniel kirim formulirnya." jawab Larry pada Papa. James terkekeh, kedua anaknya fokus pikirkan Balen. Bahkan Daniel yang sedang di asrama.


"Aku juga pernah bahas Rumi, Papa tidak respon." sekarang sebut nama Rumi. Beranikan diri sebut ulang nama Rumi.


"Oh keponakan Mario, yang ajak Daniel jadi model iklan juga ya, Mama sudah bertemu dengan dia waktu itu." Anggukan kepala kembali suapi makanan yang Larry bawa


"Iya, bagaimana menurut Papa? dia bukan publik figure." tersenyum pandangi Papa.


"Masih terapi atasi masalah kecanduan minuman kan?" benar kan Papa sudah tahu, tidak perlu Larry ceritakan lagi.


"Kalau dia selesai terapi dan tidak kecanduan lagi apa Papa setuju kalau Rumi aku seriusi?" tanya Larry pancing Papa, ingin tahu tanggapan Papanya.


"Dia salah pergaulan." jawab James menatap tajam Larry.


"Kan sedang perbaikan diri. Dia terlambat bertemu aku dan sahabatku." percaya diri kalau ia dan sahabatnya bukan teman yang salah.


"Kalau kuat Iman tidak akan salah pergaulan.Kalian beda keyakinan."


"Rumi muslim. Papi dan Mami memang Non Muslim." jawab Larry pada Papanya.


"Cek kesehatannya dulu, selalu ada efek jika sudah jadi pecandu, biasanya akan ada masalah pada organ tubuhnya, berapa lama dia jadi pecandu." seperti dokter saja malah bahas kesehatan Rumi.


"Maksud Papa?" Larry mengerutkan dahinya jadi bingung sendiri.


"Banyak kasus, pecandu minuman keras menderita penyakit yang sulit disembuhkan karena organ tubuhnya rusak." James pandangi Larry.


"Jadi Papa tidak setuju?"


"Papa cuma tidak mau kamu sedih dan repot sendiri." jawab James realistis.


"Kalau Rumi sehat?"


"Pastikan saja dulu, lagi pula bukannya dia sedang dekat dengan temanmu sendiri." malah sudah tahu Diky dekati Rumi. Larry menghela nafas panjang, Papa selalu saja tahu lebih dulu.


"Kok Papa tahu?" James tertawa mendengar pertanyaan Larry.


"Pakai ditanya lagi." menjentikkan telunjuknya ke dahi Larry. Langsung saja Larry meringis mengusap dahinya.


"Yang dokter Cirebon itu bagaimana? gagal?" James tertawa menggoda Larry. Ia juga sudah tahu tentang Femi


"Tahu dari mana gagal?" bersungut pandangi Papa. James terbahak dibuatnya.


"Ribet kan orangnya?" kembali terbahak puas sekali tertawakan Larry.


"Papa ih." Larry jadi merengut, untung saja hanya mereka berdua diruangan itu.


"Handphone aku Papa sadap terus." gerutu Larry pandangi Papanya, James kembali tertawa puas.


"Ya sudah minggu depan kita bahas lebih lanjut, Papa harus ke Bandara sepuluh menit lagi." James melirik jam dipergelangan tangannya.


"Mama belum datang."


"Mama langsung ke Bandara." jawab James pada Larry.


"Jatahku masih ada sepuluh menit kan?" tanya sama Papa.


"Tujuh menit." jawab James pada putranya.


"Apa aku akan dijodohkan?" tanya begitu ingat yang Nanta bilang.


"Kamu mau? Menteri xxxxxxxx sudah minta kamu jadi calon menantunya, Papa belum tanggapi."


"Siapa anaknya?" sedikit penasaran.


"Kamu tidak kenal, Sekolah di Toronto minggu depan akan ke Indonesia. Nanti Papa atur waktu biar kalian saling kenal."


"Aku pikirkan dulu." jawab Larry.


"Oke! sudah selesai kan? Papa harus pergi." peringati Larry jika waktunya bertemu Papa sudah habis.