
"Ciee mau jadi artis." Reza menggoda Kiki saat dalam perjalanan. Ia tak menyangka Kiki akan menerima tawaran menjadi model iklan yang akan tayang ditelevisi, ditambah lagi menyanyikan jingle iklannya.
"Ga kak, itu kebersamaan. Karena bertiga aja aku mau terima. Lagian bintang utamanya tetap Monik kok. Aku penggembira aja. Cuma tambahannya ngisi suara kan orang juga ga tau itu aku." Kiki sepertinya lupa kalau dia sudah punya beberapa fans fanatik walaupun hanya dimedsos.
"Masa.."
"Iya.. Sama kaya aku terima endors yang di medsos, itu juga karena awalnya bantu temannya Intan eh malah tambah banyak merembet ke temannya teman." jawab Kiki sambil tertawa, Reza ikut tertawa mendengarnya.
"Itu juga nanti bisa merembet dek, Ga papa yang penting positif." Reza mengacak anak rambut calon istrinya. Sebenarnya ada rasa khawatir, Reza tak ingin Kiki nantinya tak punya privasi. Tapi Reza juga tak mau melarang.
"Tapi nanti kalau sudah menikah, kalau ada tawaran kerja kita diskusikan dulu ya dek." Kata Reza lagi. Kiki menganggukan kepalanya. Kemudian hening tak ada pembahasan.
drrrrttt....drrrrt... Handphone Kiki berdering. Kiki melihat layat HP yang ada dipangkuannya. Ya ampun Kak Wina lupa telp balik, Pasti ngomel batin Kiki.
"Chat gue ga dibaca, telepon ga diangkat, ngapain sih sombong amat. Ga pengen liat calon ponakan apa?" Wina nyerocos begitu Kiki mengangkat teleponnya.
"Kak wina berisik, aku kemarin nemenin mama ke mall, tumbang aku sampai rumah langsung tidur, pagi tadi kesiangan kekampus, pulang kampus aku ada meeting, ini baru selesai." Kiki menjelaskan dengan sabar.
"Gaya ah meeting."
"Beneran kak, kok gaya sih."
"Meeting apaan? Menwa?" ledek Wina. Yang pasti tak mungkin Kiki ikut organisasi apapun dikampusnya.
"Ish, nanti deh liat hasilnya aja. Kenapa kakak chatnya banyak? aku belum baca. Ada berita apa?"
"Mas Herman nih kangen ama lu, aneh deh ngidamnya. Nih lu ngomong deh."
"Halooo mas herman."
"Kiiiii tega amat sih ga angkat telepon." suara herman melemah. Kiki sedikit kaget , herman tak pernah begitu. Manja sekali.
"Aku udah jelasin tadi mas, aku ketiduran dan kesiangan,trus meeting. Mas herman kenapa?"
"Pengen denger kamu nyanyi Ki, dari kemarin beneran deh."
Ish mas Herman apaan sih, aku lagi dijalan." Kiki menolak, lagi pula malu sama Reza.
"Tolongin Ki, kasihan nih gelisah. Gue yang nyanyiin dia ga mau. Kan kesal." teriak Wina, suaranya tampak menjauh
"Nanti aja kalau aku dikamar. Aku lagi sama Kak Eja."
"Sekarang aja, sudah nunggu dari kemarin. Ga mau denger mas Herman Rewel lagi gue. SEKARANG!!!" suara Wina menggelegar. Sungguh galaknya keluar.
Tak bisa menolak, Kiki pun mulai bernyanyi via telepon, Reza tersenyum geli karena tadi sempat mendengar saat Wina berteriak.
"Sudah?" tanya Kiki begitu selesai lagu pertama.
"Makasih Ki." Herman langsung menutup teleponnya. Reza terbahak melihat ekspresi Kiki yang sedang menarik nafas lega karena Herman hanya minta satu lagu.
"Kenapa dek?" Tanyanya masih tertawa.
"Mas Herman ngidamnya aneh, masa maunya dengerin aku nyanyi." Kiki menutup wajahnya malu. Reza tambah terbahak.
"Semoga aja kamu pas hamil nanti akunya ga ribet."
"Apaan sih kak Eja."
"Loh kan nanti."
"Udah ah jangan bahas itu aku takut." Kiki tampak resah. Reza menggenggam tangan Kiki berusaha menenangkan bikin jantung Kiki berdebar kencang.
"Bismillah ya" katanya sambil menatap Kiki sekilas, lanjut memandang kedepan fokus menyetir, genggaman tak dilepas. Kiki meleleh dibuatnya.
"Ga kebayang kak, masih kuliah harus nikah, trus nanti hamil. Aku masih belum kebayang." Kiki meringis ngeri sendiri.
"Ga usah dibayangin, jalanin aja." jawab Reza santai, masih juga menggenggam tangan Kiki. Jadi pengen peluk kan lihat wajah Kiki begitu, sayang lagi nyetir batin Reza. Dasar Reza modus juga seperti Kenan.
"Kak.." Kiki berusaha melepas tangan Reza, wajahnya memerah. Reza berlagak acuh tak mendengar.
"Berisik!!!" Reza fokus memandang lampu merah. Dengan kening sedikit berkerut.
"Tangan aku lepasin." Kiki merengek. Reza masih acuh, malah semakin mengencangkan genggamannya. Tak lama lampu hijau mulai menyala, Reza memainkan tangannya dan tangan Kiki di tuas transmisi mobilnya, kemudian menjalankan kendaraannya. Niat sekali Reza. Pikir Kiki kalau lampu hijau bakal dilepas, ternyata tidak. Kiki jadi salah tingkah sekarang. Wajahnya seperti kepiting rebus. Kiki menghela nafas pasrah, membiarkan nanti juga lepas sendiri.
"Muka kamu kenapa?" tanya Reza
"Kenapa?" Kiki balik bertanya sambil membalik sunvisor pada mobil Reza menggunakan tangan kirinya, lalu mulai becermin melihat mukanya yang tampak merah membara.
"Aliran darah aku ga lancar karena tangan aku ditahan." jawab Kiki mengalihkan rasa malunya. Takut ketahuan kalau jantungnya dag dig dug ser.
"Bisa gitu ya, kalau diginiin." Reza mencium tangan Kiki. Duh Kiki tambah panas dingin dibuatnya.
"Kak Eja !!!" Kiki mendelikkan matanya, bibirnya mengerucut seketika ditambah kening berkerut. Reza terbahak dan melepas genggaman tangannya sambil mengacak lagi anak rambut Kiki.
"Ya sudah tuh biar aliran darahnya kembali normal." Katanya masih tergelak. Ah Reza, ternyata modus juga.
"Aku ga mau ketemu Kak Eja kalau begini, Nanti aja pas nikah ketemunya." Kiki merajuk.
"Iya, memang mulai besok kita ga ketemu." jawab Reza santai.
"Loh Kak Eja mau kemana?" suara Kiki terdengar panik.
"Kan kamu ga mau ketemu."
"Iiih bukan begitu, maksud aku..."
"Iya tau hehehe maaf yaa." lagi lagi rambut Kiki diacaknya, Kiki segera merapikan anak rambutnya.
"Seminggu kedepan kan sibuk urus Jingle kamu dek, sama urus cabang selatan yang lagi dibangun. Kalau kamu kangen susul aja ya." Kata Reza yakin.
"berarti ga ketemunya cuma seminggu kan?" Kiki memastikan.
"Maunya?" Reza menggoda Kiki.
"Ah ga tau ah." Kiki merajuk. Serba salah ya tadi padahal bilang ga mau ketemu sampai hari pernikahan, sekarang dibilang ga ketemu seminggu, merajuk. Dasar Kiki, Reza menggelengkan kepalanya.
"Maunya gimana?" tanya Reza lembut
"Ga tau."
"Yang benar dong, maunya gimana? Ketemu tiap hari?" tanya Reza
"Ga gitu juga." Kiki salah tingkah
"Apa sih ga tau ga juga, ga ngerti ah." Reza pura pura kesal, lalu mendiamkan Kiki, kembali fokus menyetir. Tiga menit....Lima menit... tujuh menit.. tak ada suara. Reza melirik kesamping, tampak Kiki seperti ingin bicara tapi ragu. sembilan menit... Sep...
"Kak..Kak Eja."
"Hmmm....."
"Ketemu kaya biasa aja kalau Kak Eja pas lagi ga sibuk.Temui aku." Pinta Kiki
"Tapi nanti aku mau cium, mau peluk gimana?" Reza sok polos kembali modus.
"Iiih jangan dulu. Kak Eja sabar ya. Kan ga sampai sebulan lagi." bujuk Kiki
"Berarti kalau sudah menikah..???" Reza tersenyum nakal
"Hmm.." Kiki menaikan alisnya tanpa memandang Reza.
"Berarti ga boleh menolak hamil ya." Tegas Reza senang
"Hmmmm..." Kiki memandang Reza ragu.
"Rezeki dari Allah ga boleh ditolak." kata Reza tegas.
"iyaa aku tau." jawab Kiki sambil memainkan tali tas nya. Dasar Reza bisa-bisanya membuat Kiki salah tingkah.