I Love You Too

I Love You Too
Jangan kirim salam



Didampingi Kiki, Nina menghampiri meja pendaftaran. Menunjukan diri bahwa ia sudah tiba. Bagian pendaftaran melayani Nina dengan ramah, bahkan dengan akrab membahas apa yang terjadi di Klinik akhir-akhir ini. Sesekali mereka terbahak, entah mentertawakan siapa.


Reza hanya mengamati dari ruang tunggu. Tak perlu antri lama, Nina dan Kiki segera masuk ruang perawatan. Reza tak berminat ketika ditawari Nina untuk infus vitamin C. Menurutnya cukuplah mengkonsumsi buah dan sayur mayur, itu sudah mewakili.


Selama menunggu Reza disibukkan dengan menjawab telepon dari para sahabatnya. Mereka kewalahan menghadapi Ranti yang entah kenapa hari ini sangat menyebalkan.


"Kenapa sayang?" tanya Reza dengan nada yang dibuat-buat ketika Erwin menghubungi via telepon


"Dia cuma mau bahas masalah proyek sama lu, karena kemarin lu yang komplain."


"Masa sih tsayyy...Kan dia udah ngerti maunya gue apa."


"ish geli gue, hajar nih. Dia minta win win solution, jangan semua dia yang tanggung."


"Menurut kalian gimana? gue ngikut deh, yang penting memudahkan ruang gerak para koki. Yang salah kan dia, kalau tanya gue sih, dia harus tanggung jawablah. Apapun keputusan kalian gue ikut aja."


"Iya menurut gue juga begitu. Andi sama Mario agak lunak nih. Kasian katanya."


"Aih, suruh dia bikin gambar terbaru dulu. Masa ga ada usaha main minta win win solution aja. Sebenarnya dia tinggal pindahin posisi wastafel biar saat cuci perabotan ga adu pantat sama yang lagi masak, itu murah biayanya."


"Nah itu sih yang ditunggu, solusi dari kamu tsaayyy. Andi bilang sebenarnya lu udah punya solusi. Hahaha ok friend, enjoooiiii."


"Hei, kalian tim gue apa tim Ranti sih."


"Tim kamu dong mas Reza. Cuma kasian lihat dia udah mau nangis. Bye darling, muaach."


"Geloooo."


Reza menutup telepon sambil tertawa, geli mendengar kata penutup dari Erwin. Urusan Ranti sudah kelar, Reza menarik nafas lega, hari ini merasa seperti diteror, dihubungi tapi ga jelas mau bahas apa. Basa-basi tak karuan.


Sudah setengah jam Reza menunggu, lama juga ternyata, Reza membaca email yang masuk, ada beberapa pekerjaan dikantor papa yang harus Reza selesaikan. Selama Dwi di Cirebon, Reza diminta untuk membantu menyelesaikan pekerjaan Dwi di Jakarta. Reza tak sendiri, ada Asisten dan Sekretaris Dwi yang selalu berkoordinasi dengannya. Bila Dwi sedang tak dijakarta, maka Reza lah yang menandatangani berkas dimeja Dwi, sehingga semua pekerjaan tetap berjalan lancar.


Dwi memiliki usaha jasa pengiriman, melalui laut dan udara. Usaha yang lumayan besar, walaupun mungkin masih urutan kesekian ratus tapi sudah cukup membuat Dwi sangat sibuk terbang sana sini.


Reza menghubungi Misha Asisten Dwi. Ada email yang menyita perhatiannya. Komplain terkait pengiriman ke Canada yang sudah tiga bulan belum diterima. Harusnya dari bulan lalu sudah sampai. Kemana bagian komplain, kenapa emailnya bisa masuk ke email direksi, batin Reza.


"Tante misha, sudah terima email dari Burhan Company? Mereka kirim barang ke canada sudah tiga bulan belum diterima."


"Wah tante malah belum tahu Ja. Waduh perusahaan besar itu Ja, Jangan sampai kecewa. Coba forward emailnya, biar tante cek."


"Ok tante." Reza menutup sambungan telepon dan segera mengirim email ke alamat tante Misha." Reza mengingat Burhan Company kalau tak salah calon mertua Erwin hahaha itu juga kalau anaknya mau sama Erwin


Misha sudah puluhan tahun menjadi sekretaris Dwi. Sudah seperti keluarga. Bahkan Reza banyak belajar dari Misha. Walaupun sedikit judes tapi Misha sangat profesional dalam bekerja. Hubungan Misha dengan Nina juga sangat baik, karena Misha bukan golongan wanita penggoda. Banyak staff dikantor yang mengeluh soal Misha, boss yang sebenarnya itu Misha atau Dwi. Karena kalau ada yang tak beres Misha bisa lebih galak dibanding Dwi.


Ja, tante telusuri dulu sambil bikin surat permohonan maaf, kalau sudah beres suratnya tante kirim ke kamu.


Reza membaca pesan masuk dari Misha. Kemudian membalasnya.


Ok tante


"Nunggu siapa mas?" tiba-tiba saja Reza merasa ada yang duduk disebelahnya. Reza melihat sekeliling hanya dirinya yang duduk disitu selain yang menyapa. Reza segera menoleh kearah wanita yang duduk tak jauh darinya. Reza tak dapat mengenalinya, karena wanita tersebut menggunakan masker dan kacamata hitam yang menutupi wajahnya.


"Ngomong sama saya?" tanya Reza khawatir orang tersebut sedang bertelepon menggunakan bluetooth ditelinganya.


"Iya lah memang disini ada siapa lagi. Cuma kamu kan?"


"Oh iya, nunggu calon istri saya." jawab Reza jujur.


"Oh sudah mau menikah."


Reza hanya mengangguk tak lagi menjawab. Tak ada pembicaraan lagi, suasana kembali hening.


"Iya." Jawab Reza acuh tak acuh.


"Salam buat Erwin."


"Oh ya? kamu temannya Erwin?"


Sang gadis mengangguk. Reza mencari tahu si gadis teman Erwin dimana, bukannya semua teman Erwin, ia kenal.


"Siapa namanya?"


"Nama siapa?"


"Kamu lah, titip salam untuk Erwin saya harus bilang dari siapa?"


"Enji."


"Ok." Reza segera mengetik pesan pada Erwin.


"Ada salam dari Enji, friend.


Enji mana?


"Meneketehe, katanya temen lu."


"suruh telepon aja, ga usah titip salam." jawab Erwin konyol. Reza pun menyampaikan pada Enji pesan dari Erwin.


"Huh, bilang sama temanmu mas, Cowok lah yang telepon duluan. Sudah bagus aku kirim salam." Wiiih Enji tampak sewot merasa ditolak. Hahaha kocak, Reza tersenyum.


"Kalian teman dimana? Semua teman Erwin saya tahu. Tapi ga pernah tau Enji" tanya Reza kepo ingin tau. Secara penampilan Enji terlihat berkelas, kenapa Erwin tergila-gila sama Sheila. Hmm namanya juga cinta ya tak melulu soal fisik.


"Baru kenal kemarin." jawab Enji. Pikiran Reza segera berkelana. Kemarin Erwin ada di Warung Elite.


"Oh, kamu calonnya Erwin." kata Reza spontan. Bola mata Enji seketika membesar.


"Sembarangan, berteman saja baru mau dimulai." sungut Enji. Reza tertawa renyah. Eh tiba-tiba Reza teringat email yang ia terima dari Burhan company. Ingin membahas dengan Enji rasanya tak etis.


"Mbak Angela, kita mulai yuk." Tiba-tiba salah seorang staff disana menghampiri Enji. Enji pun segera beranjak dari tempat duduknya.


"Aku duluan, salam buat calon istrimu." Enji pun melangkah mengikuti staff yang menjemputnya dari belakang.


"Win, Salam yang lu tolak barusan itu dari calon istri lu." Reza segera memulai percakapan di chatgroup.


"Siapa calon istri gue?" *Erwin


"Enji." *Reza


"Angelina." *Andi


"Angela." *Mario


"Burhan." *Reza


"Lu ketemu dia Ja, salam balik Ja." *Erwin


"telepon aja, ga usah kirim salam." Reza membalikan pesan Erwin tadi.


"Rese!!!" *Erwin


Reza tertawa sendiri diruang tunggu. Senang sekali bisa menggoda Erwin hari ini.