I Love You Too

I Love You Too
Bobo bedua



Papa aku mau bicara.


Nanta mengirimkan pesan pada Papanya, ia khawatir Papa sudah dikamar bersama Mamon.


Papa masih di ruang keluarga sama Opa dan Bang Raymond.


Kenan menjawab pesan Nanta.


Nanta segera keluar kamar, menghampiri ketiganya, orang penting dalam hidupnya. Tapi sekarang Dania dan keluarganya juga termasuk penting dan harus Nanta lindungi.


"Kenapa Boy, bicara berdua Papa atau bagaimana?" tanya Kenan saat melihat Nanta mendekat.


"Berempat lebih baik. Tante Maya hubungi aku barusan, Om Peter marah karena Dania sudah bertemu Om Micko." lapor Nanta pada Papanya. Semua menyimak dan menunggu cerita lanjutan dari Nanta.


"Tante Maya pesan supaya keluarga aku menjaga Dania lebih ekstra selama aku tidak di Jakarta, aku titip Dania ya Pa." pinta Nanta pada Papanya.


"Jangan khawatir Boy, Dania anak Papa juga sekarang." jawaban Kenan menenangkan Nanta.


"Satu lagi Pa, Orang tua Tante Maya juga terancam. Posisinya ada di Sukabumi, Tante Maya minta aku sembunyikan Kakek dan Nenek Dania dari Om Peter." lanjut Nanta lagi.


"Seseram apa Peter itu Om?" tanya Raymond pada Kenan.


"Seseram dia bisa membuat Micko dan Maya bercerai lalu Micko kehilangan anaknya selama sepuluh tahun." jawab Kenan terkekeh.


"Mau-maunya Tante Maya mengikuti keinginan Peter selama ini." dengus Raymond kesal.


"Karena kebodohan Tante Maya di masa lalu." jawab Nanta.


"Kebodohan apa?" tanya Raymond.


"Aku tidak tanya detail." jawab Nanta terkekeh.


"Jadi bagaimana Kakek dan Nenek Dania, mau kamu sembunyikan dimana?" tanya Kenan pada Nanta. Nanta menatap Raymond penuh arti sedikit tersenyum simpul.


"Hmmm... mau dititipi di aku." Raymond menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


"Tolonglah Bang, aku tidak berdaya karena harus dikarantina." pinta Nanta setengah memohon.


"Iya sementara tinggal di Malang dulu saja, mereka bisa tinggal di paviliun, boleh kan Ken?" Opa ikut bersuara, tapi minta ijin Kenan soal Paviliun di Malang.


"Tentu saja boleh." jawab Kenan.


"Atau dirumah Kenan saja ada Bi Wasti dan suaminya." kata Kenan kemudian.


"Iya itu juga bisa." jawab Opa.


"Oke karena Bos besar sudah menyetujui, jadi aku siap menjaga Kakek dan Nenek istri kamu." jawab Raymond terkekeh.


"Ish dari tadi saja." Nanta sedikit bersungut.


"Besok kita ke Sukabumi ya Bang, jemput Kakek dan Nenek." pinta Nanta pada Raymond.


"Ajak Pak Atang saja kalian bertiga, kamu dan Raymond cukup lelah dari Bandung, belum lagi sabtu kamu sudah harus diasrama." kata Kenan pada putranya.


"Iya Pa." Nanta menuruti perintah Papanya.


"Ada lagi?" tanya Kenan pada Nanta.


"Tante Maya minta ini dirahasiakan dari Dania." kata Nanta lagi.


"Kalau kamu ke Sukabumi mau apa rahasiakan saja dulu, besok Dania dan Roma dirumah saja. Tapi begitu Kakek dan Neneknya datang pasti Dania harus tahu." jawab Kenan pada Nanta.


"Iya juga sih." Nanta terkekeh.


"Pa, perlu lapor Om Micko tidak?" tanya Nanta.


"Perlu sekali Boy, hubungi saja mertuamu sekarang.


"Sudah malam." kata Nanta melihat jam dinding di tembok sudah menjelang pukul dua belas malam.


"Ini masih mengirim pesan pada Papa." Kenan memperlihatkan barisan pesan dari Micko dilayar handphonenya, Micko menanyakan keadaan Nanta dan Dania yang malam ini menginap dirumah Kenan.


"Seperti anak kecil saja aku dan Dania dipantau." Nanta terkekeh.


"Namanya juga anak dan menantu." Kenan ikut terkekeh.


"Opa terima kasih." Nanta memeluk Opanya.


"Buat cucu Opa, kaki jadi kepala, kepala jadi kaki." jawab Opa Dwi membuat Nanta dan Raymond terharu.


"Duh Opa Ray jadi mau nangis." kata Raymond apa adanya, Kenan terkekeh melihat keduanya melankolis.


"Nanta ada apa Nak?" tanya Micko begitu Nanta menghubunginya. Nanta menceritakan percakapannya dengan Maya ditelepon tadi.


"Seperti yang Om bilang, Peter itu banyak akal, kamu mau Om temani ke Sukabumi?" tanya Micko pada Nanta.


"Berdua saja?"


"Sama Pak Atang juga."


"Jangan Pak Atang, sama supir kantor saja yang bisa bela diri, lebih aman jika dijalan ada gangguan." kata Micko pada Nanta.


"Ada Bang Ray, bisa bela diri juga." jawab Nanta.


"Semakin banyak yang bisa bela diri semakin Bagus Nan." jawab Micko lagi.


"Iya Om." Nanta menurut.


"Kamu dan Raymond besok Om tunggu di helicity pancoran ya." kata Micko pada Nanta.


"Naik heli Om?" Nanta mengerutkan dahinya.


"Untuk mempersingkat waktu Nanta, ini riskan sekali." Micko menjelaskan.


"Ok Om, tapi Kakek Nenek apa bisa naik heli." tanya Nanta khawatir.


"Kasih obat tidur saja." kata Micko terbahak.


"Jangan macam-macam, Bang, kalau kenapa-napa Nanta dan Raymond yang kena." teriak Kenan pada Micko, Micko langsung saja terbahak.


"Kamu loudspeaker ya?" tanya Micko.


"Hehehe iya Om, kan kita lagi rapat."


"Jadi bagaimana? apa mau disiapkan Mobil dari Sukabumi ke Jakarta, lumayan makan waktu?"


"Siapkan saja dulu, nanti tanya sama mantan mertua Abang, sanggup tidak naik heli." kata Kenan pada Micko.


"Gue kan tidak ikut Kenaaan." Micko sedikit kesal, Kenan terbahak.


"Memang tidak pernah komunikasi?" tanya Kenan sok polos.


"Elu sama bokap nyokapnya Tari akur sih ya?" sindir Micko membuat Kenan tambah terbahak.


"Bagaimana Pa?" Kenan minta pendapat Papanya.


"Naik Heli saja, mempersingkat waktu juga." jawab Opa Dwi sedikit berpikir.


"Nanta, kamu bisa jelaskan pada orang tua Maya pelan-pelan keadaan yang terjadi dan mereka harus siap diajak naik heli. Ini darurat dan cucu mereka menunggu." kata Opa Dwi pada Nanta


"Iya Opa."


"Kusut juga masalah Nanta, nih. Kalau menikah dengan Wilma lain lagi kusutnya." Raymond merangkul Nanta sambil menepuk bahu adiknya.


"Ih kenapa jadi Wilma sih?"


"Kemarin itu kan sempat mau dijodohkan dengan Wilma." kata Raymond mengingatkan.


"Oh hahaha." Nanta terbahak.


"Masing-masing punya masalah sendiri." kata Kenan pada Raymond.


"Iya, tapi Om Micko seperti roller coaster." jawab Raymond.


"Iya ada harga yang harus dibayar, mungkin itu untuk harga puluhan mobil yang berjejer di garasi rumahnya." kata Kenan dan semuanya terbahak.


"Aku mending naik mobilku sekarang deh, dari pada dikasih Mobil Bugatti tapi otakku kusut." kata Raymond menggelengkan kepalanya.


"Hahaha aku juga Bang." jawab Nanta.


"Hahaha kamu sih sudah kebagian kusutnya Dek, bolehlah satu Lamborghini." Raymond terkekeh.


"Ish masa harus punya masalah besar dulu baru punya Mobil super mewah sih." protes Nanta pada Abangnya.


"Iya kan ada harga yang harus dibayar." kata Raymond lagi, Opa dan Kenan tertawa melihat keduanya kesayangannya.


"Itu semua rahasia Allah kita tidak tahu, berdoa terus, berzikir terus, sholat jangan ditinggalkan. Insyaa Allah semua kesulitan terlewati." kata Opa Dwi pada kedua cucunya.


"In syaa Allah Opa." jawab Raymond dan Nanta bersamaan. Jawaban andalan kalau Opa memberikan tausiah singkat.


"Aban..." Balen berjalan sambil menangis menghampiri Nanta yang sedang asik bicara di ruang keluarganya.


"Loh Balen kenapa bangun?" tanya Nanta segera menggendong Balen yang berjalan menahan kantuk mencari Abangnya.


"Tata aban bobo betida, tadi Baen bedua Tania aja huaaa..." tangis Balen meledak.


"Maaf, Abang ada perlu sama Papa, Opa dan Bang Ray. Kita Bobo lagi ya." Nanta melambaikan tangannya meninggalkan Papa, Opa dan Bang Raymond yang terkekeh karena Balen protes ditinggal Abangnya keluar kamar.