I Love You Too

I Love You Too
Was was



Hari yang ditunggu pun tiba, Raymond sudah standby di Bandara menjemput adiknya tersayang, meskipun harus memadatkan jadwal pertemuan dari dua hari yang lalu. Efek mengerjai Nanta karena Oma merajuk, jadilah Raymond harus sibuk meluangkan waktu untuk Nanta, Dania dan Oma Misha.


Nanta sudah memberitahu keluarganya di Malang, jika ia datang bersama Dania dan Oma Misha. Oma Nina tambah semangat saja karena teman ngobrolnya bertambah, Opa Dwi boleh menarik nafas lega, jika Oma Nina ada teman ngobrol, Opa bisa istirahat bicara, mengingat sebenarnya Opa lebih suka diam dan menyimak. Hanya bicara jika harus bicara, tapi bersama istrinya ia harus banyak bicara mengimbangi Oma Nina yang selalu ada saja yang dibahasnya.


Nanta langsung nyengir lebar melihat Raymond saat keluar dari pintu Bandara. Senang dia, Abangnya menepati janji untuk menjemputnya.


"Aku kira Bang Ray kirim orang untuk jemput kita, kata Papa hari ini jadwal Bang Ray padat." kata Nanta saat sudah mendekati Raymond dan memeluknya.


"Sudah tahu masih saja minta aku yang jemput." omel Raymond pada adiknya, Nanta tertawa geli.


"Padahal kita bisa naik taxi loh Ray, tidak harus dijemput juga." kata Oma Misha saat mereka berjalan keparkiran.


"Memang dia sengaja kerjai Ray, Oma." jawab Raymond membuat Oma Misha terbahak dan menepuk bahu Raymond. Selain itu Oma Nina juga sudah pesan supaya Ray langsung yang menjemput tamu agungnya.


"Oma tidak bawa apa-apa loh, kata Dania, Roma tidak mau apapun, hanya mau kue bikinan Maminya, jadi cuma bawa yang dari Monik saja." kata Oma Misha pada Raymond, mereka sudah dimobil saat ini.


"Oma datang saja sudah senang, tidak usah bawa apapun, banyak makanan di Malang." jawab Raymond yang menyetir sendiri ke Bandara.


"Ini pertama kali Oma ke Malang?" tanya Dania pada Oma.


"Puluhan tahun lalu saat masih kerja dulu sering ya. Sejak pensiun baru kali ini." jawab Oma Misha pada cucunya.


"Oma ini dulu yang pegang perusahaan Opa Dwi." kata Raymond pada Dania.


"Oh Oma juga bekerja di perusahaan ini. Pantas saja dekat sekali dengan Opa dan Oma." jawab Dania yang rupanya baru sadar jika kedekatan dua keluarga ini sudah sejak jaman Oma dan Opa.


"Bukannya Oma sudah pernah cerita ya?" Oma Misha mengernyitkan dahinya.


"Lupa aku Oma." jawab Dania terkekeh.


"Masih muda sudah pelupa, bagaimana sih." keluh Oma sambil menggelengkan kepalanya.


"Iya, kemarin itu kan banyak yang dipikirkan, otakku kadang terasa penuh, makanya aku suka sekali travel." jawab Dania pada Oma Misha.


"Apa sih yang dipikirkan, masalah serahkan sama Allah saja semua, kita tinggal jalankan, ibadah, berbuat baik, usaha maksimal." Oma mulai ceramah.


"Iya Oma, sekarang sih sudah tidak, aku serahkan pada Allah dan juga serahkan sama Mas Nanta." jawab Dania membuat seisi mobil tertawa.


"Pantas Nanta yang kusut sekarang." celutuk Raymond memandang Nanta yang duduk disebelahnya sekilas.


"Kusut apa? semalam aku sudah cukur rambut loh, rapi kan?" katanya sambil becermin pada kaca spion, Raymond kembali tertawa.


"Pikiranmu yang kusut." jawab Raymond.


"Masa sih, aku serba santai Bang, cuma memang beberapa bulan kemarin aku sedikit lebih sibuk, ditambah persiapan menikah mendadak itu kan." kata Nanta tersenyum.


"Agak limbung juga Nanta hadapi keluarga Oma yang kusut ya." jawab Oma tertawa.


"Itu sedikit saja Oma, tidak terlalu aku pikirkan. Tapi memang aku agak was-was kalau Dania berjalan sendiri ke Mal atau kemanapun." Nanta menjelaskan.


"Nah iya itu kan menambah beban pikiranmu." Oma Misha menepuk bahu Nanta.


"Iya sih Oma. Om Peter yang masih aku pikirkan, aku tidak tahu dia sejahat apa, tapi mendengar cerita saja membuat aku kepikiran."


"Menurut Oma dia tidak akan menyerang secara fisik. Kalau mau sudah sejak dulu dia serang Oma dan Papa Micko. Buktinya kami masih hidup sampai sekarang."


"Tapi aku takut dia jahati Mama Maya, sampai sekarang Dania kesulitan jika mau bicara di telepon dengan Mama Maya." Nanta menghela nafas.


"Kita hadapi bersama Peter itu, Oma juga bingung dia tuh kenapa? Apa Papanya masih meminta dia mengganggu Oma ya?" Oma jadi menebak-nebak.


"Nanta, Raymond, kalian mau temani Oma menemui Kripto, Papanya Peter?" tanya Oma Misha pada kedua pria tampan didepan.


"Mau Oma." jawab mereka berbarengan.


"Aku Oma?" tanya Dania.


"Kamu tidak usah sayang, cukup Oma dan suamimu saja, Raymond perwakilan dari perusahaan." jawab Oma Misha pada cucunya.


"Bawa perusahaan Oma?" tanya Raymond.


"Iya itu perlu." jawab Oma membuat Dania bertanya-tanya apa rencana Oma Misha.


"Saya sudah di Malang, kapan kita bisa bertemu?" tanya Oma Misha pada lawan bicaranya.


"Oke saya akan kesana besok pagi." jawab Oma Misha menutup sambungan teleponnya.


"Siapa Oma?" tanya Nanta pada Oma Misha.


"Kakek Kripto." jawab Oma Misha menghela nafas panjang.


"Dia ada di Malang?"


"Iya sudah dua minggu ini bersama Peter, mereka mencari keberadaan Orang tua Maya."


"Kenapa carinya ke Malang?"


"Entahlah, mungkin semua Kota yang berhubungan dengan keluarga kita mereka datangi, mereka tahu kerabat kita siapa saja." jawab Oma Misha.


"Duh kasihan Kakek dan Nenek." Nanta jadi khawatir.


"Tenang saja sudah dua minggu ini Kakek dan Nenek tidak keluar rumah. Bahkan diteras pun tidak." jawab Oma Misha tersenyum.


"Papa tahu Oma?" tanya Dania.


"Sepertinya tidak." jawab Oma Misha terkekeh.


"Untung juga Abang kerjai aku ya, jadi aku berangkat juga kesini." Nanta menepuk bahu Abangnya.


"Aku gitu loh." jawab Raymond bangga


"Jadi besok kita bertiga kesana ya Oma." kata Raymond kemudian. Ia cengar-cengir mau menjalankan mission Impossible lagi.


"Iya temani ya Ray, kamu tidak ada acara kan?"


"Tenang saja Oma semua bisa kuatur." jawab Raymond tersenyum ramah.


"Nanta are you ready?" tanya Raymond.


"I'm ready." jawab Nanta sambil menghembuskan telunjuknya seakan sebuah pistol, mereka tertawa bersama.


"Apa sih Mas Nanta dan Bang Ray, bikin aku debar-debar takut." kata Dania memegang dadanya.


"Begitu saja takut." Nanta terkekeh, tapi mulai khawatir saat melihat Dania pucat, berkeringat sibuk mengatur nafasnya.


"Sayang, istighfar dong, santai." Nanta langsung saja menenangkan istrinya ia takut serangan panik Dania kambuh.


"Jangan pakai pistol." Dania hampir saja menangis, duh istrinya mulai halu, itu tadi hanya telunjuk, bisa bikin Dania ketakutan.


"Oma, peluk Dania deh, aku takut dia kumat." kata Nanta pada Oma Misha. Oma berusaha tersenyum santai sambil menepuk bahu Dania, kemudian dipeluknya cucu tersayangnya itu.


"Jangan takut, semua akan baik-baik saja." kata Oma pada Dania yang nafasnya sudah mulai terdengar cepat.


"Ayo istighfar sayang, jangan lupa tersenyum, semua baik-baik saja." Oma Misha terus saja berbisik sambil mengusap bahu cucunya.


Oma melepaskan pelukannya agar Dania lebih leluas bernafas. Dania mengikuti Oma untuk beristighfar lalu tersenyum memandang Oma, ia juga tersenyum pada Nanta yang terus saja melihat kebelakang. Nanta balas tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Dania, digenggapnya jemari istrinya.


"Tadi hanya bercanda, besok itu pertemuannya kita akan bawa wartawan yang meliput secara diam-diam." kata Nanta lagi pada istrinya. Dania menganggukkan kepalanya.


Nanta menarik nafas lega setelah dirasa semuanya aman, Dania sudah tampak santai dan sesekali meneguk air mineral. Ia tampak berusaha menenangkan dirinya sendiri.


"Besok aku boleh ikut bertemu Kakek Kripto?" tanya Dania pada Oma Misha setelah berhasil melewati serangan paniknya.


"Mau apa sayang? nanti kamu kambuh seperti barusan." Oma menggelengkan kepalanya.


"Aku mau peluk Kakek Kripto, bagaimanapun dia kakekku juga kan Oma." kata Dania membuat Oma Misha terenyuh, bagaimana mungkin Dania mau memeluk orang yang selama ini membuatnya tersiksa. Tapi semoga ini jadi jalan terbaik yang bisa melepaskan mereka dari dendam yang tak berkesudahan.


"Oma terserah suamimu saja." jawab Oma menyerahkan pada Nanta.


"Boleh." jawab Nanta tersenyum pada Oma dan Dania.