I Love You Too

I Love You Too
Es Krim



Sekitar setengah jam Deni dan Fino berada didalam ruang kerjanya, mereka membahas materi yang akan Deni bawakan senin besok, Fino yang membuat materinya, tentu saja Deni harus pelajari lebih dulu. Ada beberapa hal yang perlu ia bahas bersama Fino terkait materi presentasi. Setelah mengerti alurnya barulah mereka akhiri pembahasan mereka.


"Kamu sama Femi?" tanya Deni setelah mereka bisa bicara santai, Deni matikan laptopnya


"Iya, lagi pergi sama Larry dia." Fino tunjukkan pesan yang dikirim Femi.


"Oh biarkan saja, kamu santai dulu disini. Eh ada cewek single yang mau saya kenalkan sama kamu juga tuh diluar."


"Hehehe, dokter alih profesi jadi biro jodoh kah?" Fino tertawa.


"Kebetulan tadi keponakan saya bilang, kalau ada dokter single boleh kenalkan sama Rumi." Deni tersenyum.


"Kenalan saja kan, boleh."


"Lumayan tambah teman." Deni yang sudah beranjak dari bangkunya, menepuk bahu Fino.


"Siapa tahu berguna saat kembali Ke Jakarta." kata Deni lagi, Fino nyengir saja.


"Yuk." ajak Deni untuk keluar ruangan bergabung dengan yang lain. Saat keluar dari ruang kerja tampak Nanta, Mike dan Doni sedang asik ngobrol, diantara mereka ada Rumi, Dona dan Dania.


"Nanti malam kamu bantu saya temani mereka makan malam ya Fin, saya harus temani rombongan Ipar saya." perintah Deni pada Fino.


"Oh..." menggantung tidak mengiyakan dan tidak menolak juga.


"Ajak Femi juga. Femi sudah kenal sama Larry dan Mike." kata Deni lagi.


"Rima?"


"Tidak usah, kalian berdua saja." jawab Deni, Fino anggukan kepalanya.


"Kalian tidak ada acara kan malam minggu?" baru tanya setelah kasih perintah.


"Tidak." jawab Fino, entah Femi tapi jawab saja tidak, daripada harus temani sendirian, tidak kenal pasti canggung.


"Siapa dokter jaga malam ini?" tanya Deni lagi.


"Kusno sama Rima." jawab Fino, Deni anggukan kepalanya.


"Kenalkan ini Fino, calon dokter bedah." kata Deni begitu mendekati Nanta dan rombongannya.


"Siap-siap dibedah, Rum." langsung saja Mike menggoda Rumi, siapa yang tidak tertawa mendengarnya, meskipun hati agak pilu karena Larry sedang bersama Femi, tetap saja Mike dan yang lainnya sangat menghibur.


"Hai Fino." sapa Rumi ramah.


"Halo." Fino lambaikan tangannya.


"Nanti malam, Fino yang akan temani kalian makan malam ya, saya temani Papanya Nanta dan rombongan." kata Deni pada semuanya, Dini sedang sibuk bersama Seiqa, entah apa yang mereka bahas.


"Wah terima kasih ya dokter Fino mau temani kita." kata Doni pada Fino.


"Panggil Fino saja." jawabnya tersenyum.


"Ini Ipar saya, Fin. Adiknya Dini, namanya Doni. Yang ini keponakan saya Namanya Nanta, ini temannya Mike, ini istri Nanta namanya Dania, ini istri Doni namanya Dona. Nah yang ini Rumi masih available." Om Deni lincah sekali kenalkan semuanya pada Fino.


"Fino juga masih available, Rum." kata Deni lagi, Rumi nyengir lebar.


"Kita agak rusuh, Fin. Jangan shock nanti." kata Mike pada Fino.


"Kelihatan." jawab Fino tersenyum.


"Kita? Mike saja Fin. Kita tidak rusuh." jawab Doni membuat semuanya tertawa.


"Nanti malam akan terbukti Fin, gue yakin mereka tidak tahan jaga image lebih dari lima belas menit." kata Mike meyakinkan.


"Hahaha percaya kok." Fino terbahak.


"Kalau Fino sepertinya kalem kan." Deni menepuk bahu Fino.


"Orangnya asik juga kok, cuma lama panasnya." kata Deni lagi memandang Rumi.


"Kok bilang asiknya ke Rumi, Om?" tanya Dania, semua kembali tertawa.


"Boleh ya Fin, kita berteman. Saya kurang teman yang asik nih." kata Rumi tertawa.


Sementara itu Larry bersama Femi sedang berada di supermarket yang lumayan besar di Kota Cirebon. Larry ajak Femi cari es krim, awalnya Femi ajak ke Minimarket terdekat, tapi Larry menolak, yakin kalau es krim yang dicarinya itu tidak ada disana.


"Kamu cari es krim apa?" tanya Femi. Larry menyebutkan salah satu merk yang biasa dibelinya untuk Balen.


"Harus merk itu kah?" tanya Femi.


"Iya, untuk Balen. Merk lain dia tidak mau." Larry terkekeh.


"Memangnya Balen ikutnke Cirebon?" tanya Femi.


"Ikut sekeluarga, tapi beda rombongan." jawab Larry. Larry ingat saat pulang dari S'pore Balen merajuk karena tidak dikasih Jus, sekarang sebelum merajuk, Larry siapkan es krim untuk di hotel.


Mereka sudah tiba di counter es krim yang Larry inginkan. Larry ambil beberapa kotak masukkan kedalam keranjang.


"Banyak sekali." Femi gelengkan kepalanya, Larry tertawa saja.


"Mas mau yang rasa blueberry tidak." pegawai serahkan sekotak es krim rasa blueberry pada Larry.


"Oh ini sudah banyak." Larry menolak.


"Ini untuk Mas, gratis." kata pegawai itu lagi.


"Semua?" Larry agak terkejut.


"Iya, kita lagi promo rasa baru." katanya sambil tersenyum.


"Oh terima kasih ya." Larry ikut tersenyum menerima sekotak es krim rasa baru dari pegawai.


"Kamu ada yang mau dibeli?" tanya Larry setelah dirasa cukup dan tinggal ke kasir. Femi gelengkan kepalanya. Larry pun segera menuju ke kasir, sedang Femi ikuti dari belakang.


"Aku tunggu disana." kata Femi pada Larry menunjuk bangku di dekat kasir, sudah di luar area counter.


"Iya." jawab Larry tersenyum. Sambil menunggu antrian, Larry pandangi Femi yang duduk manis menunggunya. Tampak seorang Ibu dan anaknya menyapa Femi, mereka pun kemudian asik bicara. Lumayan, jadi tidak suntuk menunggu Larry antri.


"Sudah." kata Larry saat mendekati Femi dan teman ngobrolnya.


"Ok ya bu, Femi duluan. Jangan lupa Ibu kontrol hari senin, supaya terdeteksi keluhan yang Ibu sampaikan tadi." kata Femi pada Ibu tersebut.


"Makasih dokter Femi. Ini pacarnya dokter Femi ya?" langsung tebak saja si Ibu. Larry tertawa saja sambil menganggukkan kepalanya sopan. Bukan untuk menjawab iya, tapi tanda hormat pada si Ibu.


"Mama ini kan Larry yang pemain basket." kata anaknya lagi.


"Oh kamu terkenal ya." Ibu langsung cekikikan menepuk bahu Larry.


"Ih Ibu, main tepuk saja." Femi jadi tertawa.


"Boleh minta foto Kak?" pinta si anak.


"Oh boleh." Larry pun mendekat saat bocah lelaki seumuran Redi mengajaknya foto selfie dengan gaya yang sok metal gitu. Dasar Larry main pegang kepala bocah itu dengan gaya yang tidak kalah konyol, tentu saja bocah tersebut senang sekali karena difoto mereka seperti sangat akrab.


"Terima kasih Kak, aku juga main basket, tapi disekolah saja." katanya pada Larry.


"Rajin berlatih ya, banyak yang hanya dari sekolah akhirnya ditarik ke club Dan berakhir pelatnas." kata Larry semangati anak si Ibu.


"Tuh dengar, jangan suka bolos latihannya." pesan Ibu pada anaknya yang menganggukkan kepalanya dengan wajah berbinar-binar.


"Oke ya bu, kami duluan. Kamu semangat loh ya." Larry pun ambil alih, ia menepuk bahu remaja tersebut.


"Terima kasih Nak Larry, dokter Femi. Kalau menikah jangan lupa undang Ibu." kata si Ibu bikin Femi salah tingkah, sementara Larry tertawa saja mendengarnya, main menikah saja katanya, jalan berdua juga baru kali ini, itu pun karena temannya rusuh ingin menguping, tapi tidak mau bergabung.