I Love You Too

I Love You Too
Jakarta



"Oma, anakku lahir nanti ke Jakarta kan?" tanya Nanta pada Oma saat akan berangkat ke Bandara.


"Iya dong." Oma tersenyum menangkup kedua tangannya sesaat di pipi Nanta walau harus berjinjit.


"Di Jakarta yang lama ya, satu bulan." pinta Nanta pada Oma sambil memandang Opa.


"Iya." jawab Opa terkekeh. Ikuti kemauan cucunya. Kalau Raymond komplen tawarkan saja untuk sementara berkantor di Jakarta dulu, toh ada Fero wakilnya.


"Asik, janji loh." Nanta memastikan.


"Iya, memang Opa pernah bohong?" tanya Opa, Nanta menggelengkan kepalanya sambil terkekeh. Langsung saja memeluk Opa.


"Makasih Opa." katanya kemudian, Opa mengacak anak rambut cucunya ini.


"Cucu malah mengharapkan kita, anak sepertinya biasa saja." sindir Oma pada Kenan.


"Aih Mama ini. Kenan pikirkan Raymond, Ma." Kenan menjelaskan. Oma tertawa senang bisa menggoda bungsunya.


"Ya sudah kalian hati-hati di jalan, kabari kalau sudah sampai." kata Opa akhirnya, mengingatkan khawatir terlambat sampai di Bandara.


"Baen naik sawat duu ya Opa, Oma." pamit Balen.


"Atu juda. Oma ndak mo itut sih." Richie tidak mau ketinggalan.


"Nanti ya kalau dedek diperut Tania lahir." janji Oma pada Richie.


"Benel loh janan boon."


"Oma ndak penah boon tau." Balen membela Oma. Oma Nina dan Opa Dwi jadi terkekeh.


"Oke ya Ma, kami jalan dulu." ijin Nona mulai salami Mama Nina, yang lain mengikuti. Lalu segera berangkat ke Bandara di antar supir Opa.


"Te Malan sebental aja sih?" protes Richie pada Papanya saat di pesawat.


"Iya kan Abang Kerja." kata Kenan pada bungsunya.


"O ditu." sok maklum setelah komplen.


"Papa liat deh, awanna." tunjuk Richie pada gumpalan awan yang terlihat di jendela.


"Iya seperti kapas ya." Kenan tertawa ladeni Richie.


"Papa jendelana bisa lepas ndak sih? atu mo ambil awanna bawa pulang." tanya Richie lagi, bawel sekali. Kenan kembali tertawa.


"Jangan dong, tidak bisa dibawa pulang awannya." jawab Kenan mengacak anak rambut Richie.


"Padahan awanna banak ya Ichie, hausna boeh bawa pulan." Balen ikut kecewa.


"Awan untuk apaan banak-banak Papon?" tanya Balen pada Kenan.


"Supaya Balen dan kita semua tidak kepanasan, kalau tidak ada awan kita tidak bisa menahan radiasi matahari." Kenan menjelaskan pada Balen.


"Awanna geak geak Papon." kata Balen lagi.


"Iya, kita jadi tahu kemana arah angin bergerak dan seberapa kecepatannya." jawab Kenan lagi.


"Bian ndak masut anin, Baen." celutuk Richie membuat Kenan dan Nanta yang duduk dibelakangnya tertawa.


"Matasih awan." kata Balen memandangi awan.


"Terima kasih kenapa?" tanya Nanta.


"Baenna ndak panasan, ndak masut anin ada awan." jawab Balen. Nanta jadi terkekeh, benar juga harus ucapkan terimakasih, puji syukur pada Allah.


Begitu tiba di Bandara Halim, Nanta dan Kenan langsung berpisah dengan keluarganya, mereka menuju kantor masing-masing di jemput Pak Atang, sedangkan Nona dan Dania dijemput Tomson untuk diantar pulang kerumah.


"Ayah cuti seminggu?" tanya Kenan pada Nanta.


"Iya. Pasti Ayah ingin lebih lama deh bisa kumpul sama Bang Ray, Kak Roma dan Shakira." kata Nanta pada Papanya.


"Iya, kemarin Papa sudah bilang sih sama Ayah pindahkan saja Raymond ke Jakarta, biarkan di Malang Fero yang handel." kata Kenan pada Nanta.


"Mau Bang Ray, Pa?" tanya Nanta semangat, bisa ada didekat Bang Ray dan Kak Roma pasti sangat menyenangkan.


"Belum tahu, kan belum ditanya." jawab Kenan tersenyum.


"Aku senang kalau mereka di Jakarta." Nanta senyum-senyum sendiri.


"Kalian pasti akan sibuk masing-masing." kata Kenan.


"Paling tidak kalau mau bertemu banyak cara." jawab Nanta, Kenan anggukan kepalanya.


"Papa Micko akan fokus di Suryadi Corporate, Kakek Suryadi sudah beberapa kali memintanya." Kenan menjelaskan.


"Ando dan Tomson?" tanya Nanta lagi.


"Ikut Papa Micko, makanya Papa perlu Raymond. Cabang Malang sudah bisa diserahkan pada Fero."


"Asik." Nanta jadi senang sendiri.


"Kamu kuliah yang benar Boy. Setelah Lulus langsung lanjut S2." kata Kenan pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta tersenyum, mesti sungguh-sungguh kalau Papa berharap Nanta selesaikan kuliah sampai jenjang S2. Nanta pejamkan matanya berharap semua berjalan lancar.


"Aku baru selesai dua tahun lagi, lanjut S2 di Jakarta atau bagaimana?" tanya Nanta pada Papa. Siapa tahu Nanta disuruh lanjutkan keluar negeri.


"Jakarta saja, Boy. Kamu kan ada tanggung jawab lainnya, anak istri mungkin bisa dibawa, tapi basketmu bagaimana?


"Hehehe pindah club." jawab Nanta terkekeh, bisa saja pindah club Basket karena banyak yang menawari Nanta.


"Jangan berpikir pindah club, Boy. Lanjutkan S2 mu di Jakarta saja, Warung Elite dan Syahputra menunggu kamu." tegas Kenan pada Nanta.


"Aku fokus di Warung Elite saja, Pa. Syahputra sudah ada Bang Ray." kata Nanta pada Papa, di Warung Elite Nanta masih bisa jalani Basket, kalau sudah di Syahputra sudah pasti total tinggalkan Basket, mengingat jika di Syahputra Nanta akan sering ke luar kota, itupun jarang sekali sehari dua hari.


"Masih berat di Basket kah?" Kenan terkekeh.


"Iya, aku mau berhenti kalau sudah usia maksimal." jawab Nanta.


"Baiklah, selama Papa sehat, Papa tidak akan memaksa kamu untuk aktif di Syahputra." Kenan tersenyum.


"Semoga Papa dan kita semua sehat selalu." jawab Nanta balas tersenyum.


"Aamiin."


Tidak terasa mereka sudah sampai di Syahputra group, Kenan turun di Lobby selanjutnya Pak Atang mengantarkan Nanta ke Warung Elite, terpaksa tidak masuk kuliah karena Ayah sedang cuti, sementara ada pekerjaan Ayah yang harus Nanta handel. Popo Erwin hari ini mengantar Ame Enji control ke rumah sakit, jadi tidak mungkin Reza serahkan pekerjaan pada kedua sahabatnya.


"Bagaimana Malang, Mas?" tanya Pak Atang pada Nanta.


"Eh baru keluar suaranya, tadi kok diam saja?" Nanta menggoda Pak Atang, yang tidak banyak bicara jika ada Kenan. Pak Atang tertawa sudah biasa di goda Nanta begitu.


"Malang ya begitu Pak Atang, rindu kota Malang kah?" tanya Nanta.


"Pasti Rindu kampung halaman." jawab Pak Atang.


"Tiap lebaran pulang kampung kok masih rindu." Nanta terkekeh.


"Rindu Mak saya, Mas Nanta." jawab Pak Atang.


"Mau pulang kampung? ijin saja sama Papa." Nanta menawarkan.


"Kalau pulang kampung harus sekeluarga, berat diongkos Mas." jawab Pak Atang.


"Kalau begitu, Mak nya Pak Atang saja yang ke Jakarta." Nanta memberi saran.


"Mau tidur dimana?" sungut Pak Atang.


"Tidur dirumah belakang lah, tempat Pak Atang dan keluarga." jawab Nanta.


"Boleh?"


"Boleh."


"Tidak enak sama Bapak dan Ibu."


"Nanti aku yang bilang, kapan Mak mau disuruh ke Jakarta?" tanya Nanta.


"Kalau ada ijin, langsung berangkat naik kereta." jawab Pak Atang.


"Eh, lama loh itu. Malang Jakarta naik kereta orang tua bisa sakit pinggangnya. Naik pesawat saja banyak yang murah kok, cari yang promo." kata Nanta pada Pak Atang.


"Budget saya hanya kereta ekonomi, Mas. Mending uangnya untuk jajan disini." Pak Atang menimbang-nimbang.


"Tanya dulu deh, Mak nya mau naik kereta apa pesawat. Nanti aku tambahin kurangnya."


"Beneran?" langsung senang saja Pak Atang.


"Ck... Iya."


"Cium juga nih." Eh Pak Atang membuat Nanta langsung menutup wajah dengan tas ranselnya. Keduanya tertawa bersama, dasar Pak Atang.