I Love You Too

I Love You Too
Jatata



"Ante Baeeen, Shakiranya pindah Jakarta nih bulan depan." Setelah kabari seluruh keluarga besar, Roma sekarang bicara dengan si Ante.


"Yeaaayyy, bobona umah Baen tan?" pikirnya Shakira akan menginap dirumahnya.


"Tidak dong, Shakira tinggal di rumahnya sendiri." jawab Roma terkekeh.


"Umah Ayah?" bingung tidak tahu rumah Shakira dimana karena selama ini Kak Roma dan Bang Ray tinggal di Malang.


"Didekat rumah Ayah." jawab Roma.


"Detet umah Baen juda don. Umahna yan mana sih?" berpikir keras tidak pernah diberitahu.


"Nanti kalau sudah bersih Baen datang ya ke rumah Shakira."


"Yah, Baen ninap deh." janji akan menginap di rumah Shakira.


"Asik, Senang deh Shakira ada Ante Baen di rumahnya."


"Tapi Baen ndak bisa mandiin Sakia woh."


"Kak Roma tidak suruh Balen mandikan Shakira kok." tertawa ingin mencubit pipi Balen.


"Shakia, nanti tita setoahna sama-sama deh." langsung menghayal berangkat sekolah bersama.


"Ante Baen duluan yang sekolah, adek Shakiranya masih lama."


"Shakia janan iwi ya, Ante duuan setoahna."


"Tidak dong Ante, masa iri sih." tertawa semakin gemas mendengar celotehan dari Balen.


"Balen, Abang bicara sama Abang Nanta dong." pinta Raymond pada Balen.


"Udahan nomon ama Baenna?" kecewa karena masih mau ngobrol.


"Balen masih mau bicara?" tanya Raymond.


"Aban Lemon ndak mo nomon ama Baen? Tanain don Baen sekaang pinten apa."


"Oh iya, Balen sekarang sudah pintar apa?"


"Pinten mandi sendii." bangga diri.


"Keren, mandiin adek Shakira nanti ya."


"Ban Lemon ndak denein nih, Baen tan udah biang, Baen ndak bisa mandiin Sakia."


"Sudah bilang ya tadi?" berbisik pada Roma sambil tertawa.


"Iya sudah." jawab Roma ikut tertawa.


"Abang tidak dengar, maaf deh."


"Ndak usah minta maap." cemberut.


"Itu kenapa cemberut, matikan sajalah, malu sama Shakira, Ante Baen suka merajuk."


"Iih Aban, sapa yan majuk sih."


"Itu cemberut."


"Abisna Ban Lemon ndak mo nomon ama Baen."


"Loh barusan kan kita ngomong terus."


"Bau sebentan aja."


"Kamu maunya lama? nanti saja di Jakarta ya."


"Benen ya, tao Jatata Ban Lemon nomonna ama Baen aja. Abaaan..." panggil Nanta yang sedang bercandai Richie.


"Ya?" menoleh pada Balen.


"Abanna nih tepon. Mo Jatata dia." laporan seperti orang besar.


"Bang Ray, beneran mau ke Jakarta?" senang sekali mendengarnya.


"Iya bulan depan, rumah Abang mulai besok ada tukang, bantu awasi ya."


"Oke. Mandor dapat transferan dong." menggoda Abang yang suka sekali transfer ke adiknya walau tidak minta.


"Masih kurang memangnya, sampai mau jadi mandor?" tertawakan Nanta.


"Hahaha sudah tumpah malah." Nanta terbahak.


"Perlu di stop kalau begitu, jatahnya untuk Shakira saja."


"Iya untuk Shakira saja, Nanti malah aku tambah untuk Shakira."


"Terima kasih Daddy." teriak Roma membuat Nanta membelalak.


"Kenapa jadi Daddy?" tanya Nanta tertawa.


"Panggil Daddy saja ah jangan Om, kan mau dikasih uang jajan Shakiranya." jawab Roma membuat Nanta dan yang mendengarnya tertawa.


"Dek, Abang kasih nomor telepon kontraktornya ya." kata Raymond kemudian.


"Abang renovasi total?" tanya Nanta ingin tahu.


"Hanya bikin kamar untuk Shakira dan pengasuhnya." jawab Raymond.


"Ok bang, aku perlu laporan setiap hari tidak?"


"Perlu lah, biar tahu detailnya. Abang sekalian cross check sama laporan tim nya Pak Reka."


"Ok Abang sayang."


"Ish sok mesra."


"Nanti kalau Dania melahirkan bisa temani aku dong." Nanta menggoda Raymond.


"Maksud Lo?" Raymond terbahak.


"Rasanya mau pingsan disana, asal tahu saja, jantung serasa mau meledak." Raymond gambarkan apa yang dirasanya saat itu.


"Oh semacam euforia ya, anggap saja aku mau pertandingan tingkat international nanti, pasti ada rasa gugup." Nanta bayangkan yang lain.


"Bagus deh kalau bisa begitu." jawab Raymond.


"Tidak apa gugup yang penting tidak pipis di celana." kata Roma konyol. Nanta terbahak lagi dibuatnya.


"Kak Roma terima kasih sudah diingatkan, nanti aku pakai Pampers, pantas dekat Bang Ray bau pesing waktu itu." Nanta masih saja terbahak.


"Hei, belum saja rasakan diposisiku. Pakai Pampers double jangan lupa." kata Raymond membuat mereka kembali terbahak.


"Udah dedek masa nompol." celutuk Richie.


"Enak saja siapa yang ngompol, awas saja kalau Abang sudah di Jakarta ya."


"Mo napain?' tanya Richie.


"Abang kelitiki kamu." ancam Raymond, belum apa-apa Richie sudah berteriak kegelian.


"Lebay deh, belum juga dikelitiki." Nona mencubit pipi Richie gemas.


"Aban janan telititi don, tasian Sakia tedelian." protes Balen.


"Shakira senang kok." jawab Raymond asal.


"Ya udah talo ditu nanti Jatata Baen telititi deh Sakiana."


"Eeh jangan Baeeen." Roma langsung saja panik, Nanta kembali tertawakan Abangnya yang memulai.


"Papa terima kasih." langsung peluk Kenan setelah sambungan telepon dari Abangnya dimatikan.


"Kenapa nih?" tanya Kenan bingung, sudah siap dengan pakaian kerjanya


"Papa berhasil tarik Bang Ray ke Jakarta, aku senang semua kumpul disini." Nanta langsung berjingkrak.


"Senang betul ada Abangnya." Kenan dan Nona tertawa.


"Mamon, kita bisa seru-seruan lagi." langsung ingat dulu selalu temani Nona dan Roma jika Papa dan Bang Ray tugas ke luar kota.


"Hahaha Balen sama Richie kita ungsikan dulu ya." Nona langsung saja senang.


"Enak saja diungsikan, di ajaklah." protes Kenan pada Nona.


"Mana seru Papa."


"Roma juga ajak Shakira, Nanta diwakilkan Dania dan anaknya." Kenan langsung mendelegasikan tugas untuk seru-seruan.


"Ah Papa tidak seru." Nona protes keras.


"Nanta sibuk mana sempat temani kalian senang-senang. Sudah lupa ya kalian sudah punya tanggung jawab masing-masing." Kenan gelengkan kepala, Nanta bukan lagi anak SMA yang bisa diajak kesana kemari.


"Hahahah iya ya Nanta, ternyata sudah pada berbuntut semua." Nona tertawa memandang Nanta.


"Seru-seruannya sekarang seperti kemarin kita ke Cirebon Mamon. Kalau keluar kota member kita jadi bertambah lagi." kata Nanta pada Nona.


"Aduh Baen beum bei otenna ladi Papon." langsung pikirkan hotel yang mau dibeli.


"Kan uang Balen belum cukup." Kenan ingatkan Balen.


"Tapi tamuna udah datan duuan, dimana don Papon, Umah tita ndak muat."


"Tamunya hanya Oma, Opa, Bang Ray sekeluarga. Tidak harus beli hotel kalau begitu. Bang Ray ada rumahnya juga, Oma dan Opa bisa dimanapun mereka mau." Nona ikut menjelaskan.


"Tan Baen mona tasih meka ninap Oten Papon."


"Sewa saja kamar hotelnya." kata Kenan pada Balen.


"Mahan Papon, talo tita puna sendii tan ndak usah bayan." semua jadi tertawa.


"Mo beli otel juda bayal Baen, tamu tila ada yang tasih tamu otel jadi tamu ndak pelu bayal." langsung saja Richie mengocehi Kakaknya.


"Tan puna Baen otenna, Lebih muwah daipada sewa puna oang."


"Ndak nelti nelti talo dibilanin." gelengkan kepala menunjuk Balen sambil melihat Kenan.