
"Kami berangkat besok pagi saja." kata Ando pada Nanta, mereka sedang melakukan sambungan video bersama.
"Wilma sekolah." Nanta mengingatkan Ando, sementara Wilma seperti biasa seolah tidak peduli.
"Kata Bang Ando tidak apa bolos sehari, Nan." jawab Wilma pada Nanta.
"Nan??? Bang Ando??? padahal baru sekali diantar jemput Ando loh kamu." Nanta terkekeh.
"Calon menantu nyokap gue kan, Nan." Ando ikut terkekeh. Nanta dan Wilma tertawa sementara Dania hanya tersenyum.
"Dania kamu bisa berangkat besok pagi?" tanya Nanta pada Dania yang sedari tadi hanya menyimak.
"Boleh berangkat siang? aku harus menyerahkan tugas dulu ke kampus. Ando dan Wilma berangkat saja duluan." jawab Dania ia tidak masalah jika harus berangkat sendiri.
"Siang saja bagaimana?" Nanta menanyakan pada Wilma dan Ando.
"Ok, Kita bertemu dibandara atau aku jemput Dan?" tanya Ando pada Dania.
"Langsung bertemu dibandara saja, irit waktu." jawab Dania.
"Wilma tunggu dirumah saja, nanti Abang jemput ya" kata Ando pada Wilma.
"Iya Abang sayang." jawab Wilma terkekeh. Nanta menggelengkan kepalanya, baru ditinggal sehari keduanya begini.
"Kalian pacaran?" tanya Nanta tidak sabar ingin tahu.
"Mana boleh pacaran kalau belum lulus sekolah." jawab Wilma terkekeh.
"Tapi terlihat mesra." kata Dania ikut penasaran dengan senyum diwajahnya.
"Calon istri, bukan pacar." jawab Ando mantap, Nanta terbahak, sementara Wilma hanya nyengir tanpa beban, entah apa yang ada dipikiran gadis itu.
"Kamu sudah ijin sama Mommy dan Daddy?" tanya Nanta pada Wilma.
"Sudah, aku hanya bilang Ame, aku mau menyusul Bang Nanta ke Malang, langsung diijinkan sama Mommy dan Daddy." kata Wilma santai, Nanta membelalakkan matanya karena Wilma menggunakan Ame Enji.
"Kalau tidak pakai Ame, mana mungkin diijinkan." kata Wilma terkekeh.
"Waduh posisi Abang terancam." kata Ando membuat Nanta terbahak. Wilma hanya mencibir sambil tersenyum, sementara Dania cengengesan tidak peduli.
"Kalian sudah saling kenal belum sih? Wilma, Dania?" tanya Nanta baru sadar.
"Belum, salam kenal Dania." jawab Wilma nyengir melambaikan tangannya.
"Hai Wilma." Dania ikut melambaikan tangannya.
"Yang akur ya kalian." kata Ando pada keduanya.
"Harus akur lah, memangnya kenapa?" tanya Wilma.
"Ya akur saja karena aku dan Nanta bersahabat, kalian akan jadi sahabat juga nantinya." kata Ando menyeringai.
"Iyalah aku harus akur sama calon istri Kakak Ando." Dania terbahak.
"Iya kamu kan juga calon istri..." Ando menggantung kalimatnya, nyengir lebar. Maksud hati ingin menggoda Nanta yang pura-pura tidak peduli.
"Calon istri suami aku." sahut Dania.
"Calon suami sudah didepan mata." kata Ando, Dania terkekeh, sementara Nanta tidak menanggapi ucapan Ando, ia tidak mau Ando keterusan, khawatir Dania tersinggung nantinya.
"Jangan lupa Kirim data malam ini ya, nanti tiket aku Kirim ke kalian. Mau menginap di hotel atau dirumahku?" tanya Nanta kembali pada topik utama.
"Dirumah kamu dong Bang Nanta, banyak makanannya, kalau di hotel nanti makannya bagaimana?" kata Wilma membuat Nanta tertawa.
"Mau Dan, dirumah aku?" tanya Nanta, ia tidak bertanya pada Ando karena sudah tahu Ando tidak masalah menginap dimanapun.
"Enak tidak ya sama keluarga kamu?" Dania tampak ragu.
"Enak!!!" jawab Ando dan Wilma bersamaan. Dania tertawa akhirnya ia mengikuti keinginan yang lain. Memang lebih enak di rumah Nanta pikir Ando dan Wilma, kalau dihotel seperti terkurung saja rasanya.
"Oke, dirumah Papaku saja ya. Dekat rumah Oma dan Bang Raymond. Kalau dirumah Mama sepi." kata Nanta menarik nafas lega karena lebih enak kalau ada Papa saat Dania bertemu Om Micko nanti. Nanta agak khawatir kalau di hotel, bisa saja Dania lari begitu melihat Om Micko, itu hanya pikiran Nanta. Entahlah menurut Nanta jika ada Papanya lebih menenangkan untuk semuanya.
Nanta segera mengirimkan data yang diterimanya pada Om Micko, ia juga memberitahu Micko jika mereka akan menginap dirumah Papanya. Masalah penjemputan pun sudah diurus juga, Micko sudah menyiapkan satu mobil untuk Nanta dan teman-temannya, padahal tidak perlu karena banyak Mobil rumah yang bisa dipakai, tapi Micko ingin memberikan pelayanan terbaik untuk putrinya.
"Sibuk sekali dari tadi." tegur Tari pada Nanta.
"Wulan sampai ketiduran menunggu kamu selesai telepon." kata Bagus pada Nanta.
"Kasihan, tidur dikamar aku kan? aku sudah janji mau tidur sama Wulan." Nanta bertanya pada Mama dan Om Bagus.
"Nanti kamu angkat saja, masih dikamarnya." jawab Tari terkekeh.
"Om sudah tahu kan kalau mereka aku undang dengan alasan tamu vip ada yang tidak bisa datang?" tanya Nanta pada Bagus memastikan.
"Iya Om sudah diceritakan Papa kamu tadi." kata Bagus tersenyum lebar.
"Jadi dua gadis idaman kamu besok kenalkan sama kami ya." kata Tari menggoda Nanta.
"Kok gadis idaman aku sih, temanku ma. Lagipula Ando cinta mati sama Wilma." kata Nanta pada Mamanya.
"Kamu mengalah?" tanya Bagus kepo.
"Wilma bukan milikku Om. Bebas kan dia mau didekati dan mendekati siapa." kata Nanta pada Bagus.
"Kalian kan sudah dijodohkan." kata Tari terkekeh.
"Memangnya jaman Siti Nurbaya dijodohkan." Nanta tertawa menanggapi ucapan Mamanya.
"Jaman sekarang juga banyak Nan." Bagus menimpali.
"Mama dan Om Bagus juga dijodohkan." kata Tari terkekeh.
"Sama Papa ya hahaha." Nanta terbahak, Bagus dan Tari pun ikut terbahak.
"Itu sih dikenalkan bukan dijodohkan." kata Nanta lagi ingat pertemuan Mama dan Om Bagus saat ada kerjasama perusahaan Papa dengan Organisasi yang Om Bagus pimpin.
"Iya tapi kalau bukan karena Papa kamu, Om tidak berani mendekati Mama tuh, Judes." kata Bagus membuat Tari mencubit perut suaminya.
"Suka menyiksa lagi." tambah Bagus membuat semuanya tertawa, Tari pun langsung mengusap perut Bagus yang tadi dicubitnya, jadi tidak tega sendiri.
"Besok rencana kamu apa saja?" tanya Bagus pada Nanta.
"Aku mau ajak teman-teman ke Batu, musium angkut dan sekitarnya paling." kata Nanta pada Bagus, rasanya tidak mungkin ke Bromo pasti akan sangat melelahkan dan Nanta harus mengurus pertemuan Dania dengan Om Micko juga.
"Mau ikut makan malam dengan tamu-tamu dari New Zealand?" Bagus menawarkan.
"Bersama tamu Vip yang lain?" tanya Nanta dengan wajah berbinar-binar.
"Ya." Bagus menganggukkan kepalanya.
"Ada Mas Kevin juga ya? aku kangen." tanya Nanta tulus, bagaimanapun Kevin sudah berjasa memberikan ilmu basketnya pada Nanta dulu.
"Ada, kamu belum bertemu Kevin lagi ya? anaknya lucu loh." kata Tari pada Nanta.
"Seumuran Wulan?"
"Iya beda berapa bulan saja, mungkin lebih muda sedikit dari Balen." Tari terkikik entah apa yang diingatnya.
"Kenapa?" tanya Bagus pada istrinya.
"Hampir saja aku mau bilang Wulan nanti jodohkan saja sama Putra, eh aku ingat Wulan lebih tua." senyum Tari masih menghiasi wajahnya.
"Mama ketularan Oma. Masih bayi loh mereka mau dijodohkan saja." protes Nanta pada Mamanya.
"Iya kan tidak jadi." Tari membela diri.
"Kamu saja yang dijodohkan, sudah kuliah kan." kata Tari kemudian.
"Duh ampun deh Mama, aku masih mau kuliah dan berteman. Please jangan dijodohkan." kata Nanta khawatir Mamanya serius.
"Memang mau kamu jodohkan dengan siapa?" tanya Bagus ingin tahu.
"Sama anaknya Bang Micko lah, yang Nanta mau direpotkan oleh gadis itu dari awal kenal sampai sekarang, bahkan Wulan saja dari tadi diabaikan." Tari melirik Nanta menaikkan alisnya pada Bagus.
"Mama, aku lagi bantu Om Micko, bikin aku merasa bersalah sama Wulan nih Mama." kata Nanta segera meninggalkan Mama dan Om Bagus menghampiri Wulan yang sudah tertidur pulas kemudian memindahkan kekamarnya.
Benar kata Mama dari tadi Nanta belum sempat bermain dengan Wulan karena begitu datang teleponnya berdering tidak berhenti, entah dari Papa, Bang Ray, Om Micko dan ketiga temannya, bergantian saja.
"Maafkan Masanta adek sayang." Nanta meletakkan Wulan dikasurnya kemudian mencium dahi adiknya itu. Sementara Tari dan Bagus masih saja mentertawakan Nanta diluar, sengaja sekali Mama mengerjai Nanta.