I Love You Too

I Love You Too
Malan



"Cantik betul sih, mau kemana?" tanya Nanta pada Balen saat gadis kecil tersebut sudah tampak rapi pagi hari, sesuai rencana mereka akan ke Malang hari ini.


"Itut Aban." jawab Balen dengan wajah bahagia.


"Mau kemana kita?" tanya Nanta menyambut Balen yang menghambur kepelukannya.


"Malan." jawab Balen terkekeh.


"Naik apa?" tanya Nanta


"Sawat."


"Sama siapa?" tanya Nanta lagi cerewet sekali bertanya terus pada Balen.


"Aban." jawab Balen sabar. Yang penting ikut Abang, tidak mau lepas dari gendongan Nanta.


"Jalan ya, Abang capek." kata Nanta mencium pipi Balen. Balen menggelengkan kepalanya.


"Sudah siap semua?" tanya Kenan pada Pak Atang yang akan mengantar mereka ke Bandara.


"Siap Pak." jawabnya. Langsung saja mereka menuju kendaraan yang akan membawa mereka ke bandara. Tidak banyak koper yang mereka bawa, hanya keperluan duo bocil dan koper pengasuh mereka, sementara Kenan, Nona dan Nanta hanya membawa tas selempang karena baju mereka banyak di Malang.


Hari ini Nona bebas tugas, karena kedua anaknya tidak ada yang minta di gendong Nona. Balen bersama Nanta dan Richi bersama Kenan. Kedua pengasuh hanya standby jika dibutuhkan.


Mereka tiba di Kota Malang dengan selamat tepat pukul sepuluh pagi, sengaja mengambil penerbangan pagi hari supaya banyak waktu di Malang. Kenan jadi teringat saat pertama kali diterima kuliah di Kota ini, tidak disangka kota ini menjadi kota keduanya setelah Jakarta, Lebih sering pulang ke Malang dibanding ke Kampung Mama di sumatera sana.


"Alhamdulillah sampai juga di Malang, nanti Balen ketemu Opa ya sama Oma." kata Nona pada Balen yang tetap berada dalam gendongan Nanta.


"Yah." Balen menganggukkan kepalanya senang.


"Capek, Nan? letakkan di stroller saja." Kata Nona pada Nanta.


"Ndak au." jawab Balen cepat sebelum Nanta memutuskan. Nanta dan Kenan terkekeh, sementara kedua pengasuh terlihat masih oleng efek pertama kali naik pesawat.


"Kenapa Ncusss nya itu Balen?" tanya Nanta pada Balen.


"Oyeng." jawab Balen terkekeh, ia mendengar perkataan Nanta tadi saat mentertawakan Ncusss yang wajahnya pucat saat berada di udara. Kalau mau jujur Nanta juga takut meskipun bolak balik naik pesawat, tapi dijalankan saja sambil berdoa. Malah bagus di Pesawat mereka tak henti berzikir dan berdoa memohon keselamatan.


"Oyeng, sok tahu betul sih." gemas Nanta mencium perut adiknya hingga tertawa geli.


Kenan dan Nona tertawa, sementara Richi yang melihat kakak dan Abangnya heboh berdua, jadi ikut melonjak-lonjak dalam gendongan Kenan. Membuat Kenan tertawa dan ikut membercandai Richi. Bersama Bocil memang merupakan keasikan tersendiri bagi Kenan dan Nanta.


"Baleeen." teriak Roma yang semangat menjemput Kenan sekeluarga. Mereka menggunakan dua Mobil ke Bandara karena rombongan sirkus pasti tak tertampung jika hanya menggunakan satu mobil.


"Tata Iyom." tunjuk Balen pada Roma. Nanta terkekeh mendengarnya, sudah pasti Roma kesal mendengar panggilan Balen kepadanya, sudah berapa kali protes tetap saja dipanggil Tata Iyom.


"Ro-Ma." Nanta membantu Balen mengeja.


"Yo-Ma." Balen mengikuti Nanta.


"Ka-kak Ro-ma." kata Nanta pada Balen.


"Tata Iyom." Nanta terbahak mendengar kejahilan adiknya.


Roma memeluk Nona saat mereka bertemu, Raymond cengengesan saja melihat Om Kenan dan Nanta menggendong keponakan kecilnya.


"Sini sama Bang Ray." Raymond mengulurkan tangannya pada Richi. Langsung saja Richi menyambut uluran tangan Raymond.


"Eh kamu sama Bang Ray mau, sama Abang tidak mau." Nanta terkekeh menjawil pipi Richi.


"Iya kah Nan? sama kamu tidak mau?" tanya Raymond bangga.


"Terang saja tidak mau, Bang Nanta dikuasai Tuan Putri." kata Nona pada Raymond.


"Ih Tuan Putri ya kamu?" tanya Nanta pada Balen.


"Butan." jawab Balen menggelengkan kepalanya.


"Jadi siapa?" pancing Nanta.


"Ngkong ebus Aban." jawabnya membuat semua tertawa.


"Ish kesal sekali, ini anak sama Nanta mau saja dibilang Singkong Rebus." dengus Nona membuat yang lain kembali tertawa.


"Aaah Selamat ya kalian, kita rayakan." kata Nona semangat sekali mendengarnya.


"Eh selamat Boy, ayah dan Oma tidak cerita sih?" Raymond sedikit protes pada Raymond.


"Baru tahu kemaren, Om. Kata Ayah, aku saja yang langsung kasih tahu Om Kenan."


Persiapkan dirimu boy." kata Kenan pada Raymond.


"Hahaha ada pengalaman buruk kah Om?" Raymond terbahak, Richi ikut pula tertawa.


"Om Kenan aku dengar, aku tidak meminta Raymond dan semua orang ganti parfume kok." Roma membela diri. Kenan terbahak dibuatnya sementara Nona mengernyitkan hidungnya menatap Kenan.


"Balen, diperut Kakak Roma ada adeknya loh. Mau adek lagi tidak?" tanya Nona pada Balen.


"Serius Mamon mau kasih adek lagi?" tanya Nanta pada Nona


"Iya dari Roma, Nanta. Memangnya kamu mau ngasuh banyak bocil." Nona terkekeh.


"Tidak, Singkong rebus saja sudah bikin aku tidak bisa menggendong Richi." kata Nanta tertawa.


"Ban Lemon, mau Ban Lemon aja." tiba-tiba Balen merajuk minta digendong Raymond.


"Ini Richi bagaimana?" tanya Raymond bingung. Nona langsung mengambil Richi dari gendongan Raymond.


"Sini." kata Raymond, sementara mereka sudah tiba di parkiran, Nanta menerima kunci mobil dari Raymond dan Balen digendong Raymond saat ini. Kenan memerintahkan pengasuh Richi dan Balen naik kemobil yang satunya berikut barang-barang bawaan mereka semua.


"Masih kecil sudah bisa merajuk." Nanta menjawil pipi Balen sebelum masuk kedalam mobil. Balen membuang mukanya tidak mau melihat Nanta.


"Terlalu kasar apa aku barusan ya?" tanya Nanta kepikiran, baru kali ini Balen merajuk pada Nanta.


"Musuhan sama Abang ya?" tanya Kenan pada Balen.


"Yah." jawab Balen cepat.


"Ya sudah Abangnya kita tinggal di Malang saja ya, kalau kita pulang ke Jakarta nanti." kata Kenan pada putrinya. Balen terdiam, tidak mau menjawab.


"Ichi?" tanya Balen kemudian.


"Ya tinggal juga lah, kan Ichi sayang Abang." sahut Nanta. Mereka sudah dalam perjalanan ke rumah Raymond, di mana Opa dan Oma sedang menunggu.


"Baen juda tayang." jawab Balen tidak mau kalah.


"Sayang siapa?" tanya Nanta mengintip Balen dari kaca spion. Sementara Mobil yang membawa barang-barang dan Ncusss terlihat mengikuti dari belakang.


"Tayang Ban Lemon." jawab Balen membuat semua terbahak.


"Nanti tidur sama Kak Roma dan Bang Raymond ya?" kata Roma pada Balen.


"Yah." jawab Balen cepat.


"Tidur sama siapa?" pancing Nanta pada Balen.


"Tata." jawab Balen tersenyum pada Roma.


"Tata siapa?" tanya Nanta lagi.


"Tata Yoma." jawab Balen tersenyum lebar pada Nanta, mendekati kursi Nanta kemudian berbisik.


"Tata Iyom." seketika Nanta terbahak dibuatnya.


"Kenapa?" tanya Nona pada Nanta.


"Mamonnn." panggil Balen sambil menggerakkan jari telunjuknya. Memberi kode agar Mamon tidak bertanya pada Nanta.


"Tadi bisik apa Mamon mau tahu?" tanya Nona.


"Papon, Mamon psssstttt." kata Balen pada Kenan sambil meletakkan telunjuk kebibirnya.


"Mamon suruh diam saja?" tanya Kenan yang duduk didepan, disamping Nanta yang sedang fokus menyetir sambil mentertawakan Balen.


"Yah." jawab Balen cepat. Semua tertawa, lucu sekali Balen, membuat Raymond gemas ingin mencubit pipinya, karena tidak tega hanya giginya saja yang gemeretak.