I Love You Too

I Love You Too
Tis mi



"Mas Nanta tadi tidak ajak aku." Dania sama saja seperti Balen, komplen karena tidak diajak, mereka dalam perjalanan pulang kerumah saat ini.


"Situasinya tidak memungkinkan." Nanta tersenyum menanggapi komplenan istrinya.


"Naik heli lagi, aku kan belum pernah." sungut Dania membuat Nanta tambah tersenyum.


"Iya nanti kalau aku sudah selesai urusannya kita naik Heli." janji Nanta pada Dania.


"Kemana?" tanya Dania.


"Terserah mau kemana, liburan ke Bali atau cuma putar-putar diatas lihat pemandangan kota Jakarta?"


"Sudah pernah ke Bali." Dania menolak.


"Ini mau naik helinya saja berarti." Nanta terkekeh.


"Iya ajak Wilma dan Kakak Ando, pasti seru." kata Dania senang.


"Iya terserah kamu saja." Nanta fokus menyetir.


"Mas Nanta capek?" tanya Dania.


"Lumayan." jawab Nanta memandang sekilas pada Dania.


"Mau aku gantikan setir?"


"Kamu bisa?"


"Bisa." jawab Dania pasti.


"Lain kali saja." jawab Nanta menggenggam jemari istrinya.


"Ada yang mau dibeli sebelum sampai rumah?" tanya Nanta kemudian.


"Apa ya? Es krim saja untuk Balen." kata Dania kemudian.


"Jangan, nanti Balen batuk." tolak Nanta karena Balen alergi es.


"Sedikit kan tidak apa." Dania memaksa


"Tidak untuk Balen dia alergi, beli saja untuk kamu dan yang lain tapi jangan terlihat Balen." kata Nanta lagi.


"Ah kasihan Balen kalau begitu."


"Jadi mau beli apa?"


"Tidak usah, aku cuma terpikir es krim tidak yang lain." kata Dania pada suaminya.


"Kamu mau es krim? kita mampir ke Ragusa?" Nanta menawarkan.


"Tidak, kasihan Papa menunggu kita makan malam dirumah." kata Dania melihat jam dipergelangan tangannya.


"Tapi kamu tahu Ragusa itu apa?" tanya Nanta pada istrinya.


"Yang jual es krim dari dulu kan, jaman belanda kalau tidak salah. Dulu waktu kecil pernah diajak Papa kesana." jawab Dania.


"Iya es krim Italy. Aku baru coba beberapa kali sama teman-teman basket." Nanta terkekeh.


"Mas Nanta suka?"


"Lumayan."


"Ish lumayan terus, capek lumayan, es krim lumayan." Dania terkekeh.


"Kamu maunya aku jawab apa?"


"Tidak ada, aku juga bingung." Dania tertawa.


"Nah itu protes terus. Miss komplen ya kamu rupanya." Nanta tertawa.


"Ih iya aku komplen lagi nih, sabtu Mas Nanta sudah ke asrama." Wajah Dania berubah sendu.


"Iya, tidak bertemu satu setengah bulan." kata Nanta tersenyum miris, rasanya kok berat sekali ya, biasanya mau jalan berapa lama bahagia saja tanpa beban.


"Lama sekali perginya." keluh Dania.


"Kecepatan kita menikah ya?" Nanta terkekeh.


"Kenapa begitu?"


"Karena berdekatan dengan jadwal keberangkatan aku, jadi rasanya malas sekali mau pergi." Nanta bicara apa adanya.


"sama dong, masa beda. Tapi bagaimana ya ini harus dijalani. Sudah resiko kita." kata Nanta pada istrinya.


"Iya dan akan terus begini karena akan ada pertandingan demi pertandingan, aku harus terbiasa." kata Dania menyemangati dirinya sendiri.


"Sekali waktu kamu bisa ikut aku saat bertanding di luar negeri." Nanta menawarkan.


"Boleh?"


"Boleh saja, tapi mungkin aku tidak bisa menemani kamu disana."


"Untuk apa aku ikut?" Dania langsung saja malas.


"Menonton suamimu lah, menyemangati. Mau aku disemangati oleh cheerleader terus?" Nanta menggoda Dania, bikin cemburu saja.


"Ah kan sebut itu, bikin aku tidak nyaman tahu. Pikirannya jadi aneh-aneh." sungut Dania tidak terlihat oleh Nanta. Nanta terkekeh.


"Ayo bangun, sudah mau sampai." Nanta menggerakkan bahunya, Dania segera merapikan posisi duduknya, sudah memasuki komplek perumahan.


"Kiss me, Mas Nanta." pinta Dania saat Nanta sudah memarkirkan kendaraannya di basement rumah. Hanya mereka berdua, Mobil lain sudah berjejer rapi, berarti tidak ada lagi yang akan masuk ke garasi. Pagar dan pintu garasi juga sudah tertutup rapi. Nanta mengikuti keinginan istrinya mengecup kening, Kedua mata, kedua pipi dan bibir Dania cepat.


"Yuk." Nanta mengajak Dania turun, Dania menggelengkan kepalanya, ciumannya masih kurang rupanya, Nanta kembali mengecup bibir Dania lalu **********, selama mungkin sesuai keinginan istrinya. Dania pun menikmatinya.


"Sudah ya, nanti melebar." Nanta terkekeh setelah melepaskan ciumannya, ia segera turun dari Mobil, jadi ingat saat diparkiran hotel di Bandung, sudah berpikir aneh dan ingin beraksi di Mobil.


"Nanti saja kalau rumah sendiri, kita beraksi dimobil." bisik Nanta pada istrinya saat Dania sudah berdiri disebelahnya. Dania tertawa sudah mengerti arah pembicaraan suaminya, ia menepuk bahu suaminya pelan, pikirannya langsung berkelana memikirkan harus bagaimana nanti saat bekerja dimobil seperti rencana mereka.


"Aban, pedi ndak biang Baen nih " protes Balen saat Abangnya masuk kerumah.


"Tadi Balen kemana, Abang cari tidak ada?" Nanta mencari alasan karena jika tidak Balen bisa terus merengek karena kesal ditinggal Nanta.


"Tamal Tata Yoma betai aja, Aban tindalin Baen." keluh Balen karena tidak diajak mengantar Om Micko.


"Malam ini kita bobo bertiga lagi kan?" bujuk Nanta,


"Ndak." tolak Balen cepat.


"Kenapa?" tanya Nanta.


"Tania satit, tadi te dotel." Balen menjelaskan alasannya kenapa tidak mau tidur dikamar Nanta.


"Jadi Balen nanti tidur dimana?" tanya Nanta pada adiknya.


"Tamal Tata Yoma aja, janan nanis ya." pesannya pada Nanta dan Dania. Nanta tertawa mendengarnya.


"Senang ya malah tertawa." Raymond ikut tertawa geli.


"Balen tidur dikamarku juga aku senang kok, Bang Ray tuh yang nangis malam ini." kata Nanta mencibir pada Raymond.


"Rese." Raymond terbahak.


"Semoga Roma tidak kubikin bengkak seperti Dania tadi pagi." Raymond terbahak, sementara wajah Dania jadi merah menahan malu.


"Sudah kubilang jangan dibahas." bisik Nanta pada Abangnya, Kenan terkekeh melihatnya.


"Iya nih Raymond." Roma ikut terkekeh, seakan membela Nanta dan Dania yang ada malah ikut tertawa.


"Mau makan sekarang atau bagaimana?" tanya Nanta kemudian memandang Papa dan Mamon.


"Makan sekarang dong Nanta, kita tinggal menunggu kamu tahu, lapar ini anakku." Roma menunjuk perutnya.


"Kenapa tidak makan duluan?" tanya Nanta kasihan pada Roma.


"Makan duluan sih sudah, tapi kan kalau hamil mau makan terus." Roma tertawa geli.


"Ayo Pa, kasihan anaknya Bang Ray." kata Nanta pada Papa, Opa dan Oma sudah lebih dulu ke meja makan.


Kenan dan Nona segera beranjak, sementara Balen menggandeng tangan Abangnya dan Kakak Dania, ia sedang menghibur keduanya agar tidak kecewa karena malam ini Balen tidak menemani keduanya.


"Aban ndak mawah tan?" tanya Balen ketika Nanta mendudukkan Balen dikursi andalannya.


"Marah kenapa?" tanya Nanta.


"Itu, Baen ndak bobo sama Aban." Balen menghela nafas, takut sekali mengecewakan Abangnya, tapi Kasihan sama Dania juga karena lagi sakit tidak bisa tidur sempit kata Mamon tadi.


"Tidak masa marah sih sama singkong Rebus Abang." Nanta terkekeh membelai rambut Balen.


"Talo ditu, tis mi don Aban." katanya menunjuk pipinya. Sama saja kan seperti Dania tadi minta di kiss sama kesayangannya, langsung saja Nanta mencium pipi lalu perut Balen sampai adiknya terkekeh kegelian sementara Dania ikut tertawa geli melihat pemandangan didepannya ini.


*dua lagi ya😀😀