
"Mama..." Nanta langsung menghambur kepelukan Tari saat memasuki ruangan Tari.
"Sayang mama, anak Jakarta, kenapa tidak langsung pulang?" tanya Tari setelah melepaskan pelukannya pada Nanta.
"Aku mau lihat perut Mama." Nanta terkekeh menunduk melihat perut Tari.
"Belum kelihatan, baru juga beberapa minggu." kata Tari menepuk bahu Nanta.
"Aku kira sudah besar." kata Nanta lalu duduk dihadapan Tari. Mulai bercerita pengalamannya selama beberapa minggu di Jakarta. Banyak hal yang mereka bahas untuk saling melepas rindu. Sementara Kenan langsung keruangannya melanjutkan pekerjaan. yang tertunda, juga mulai mendelegasikan pekerjaannya pada Raymond secara bertahap.
"Saya akan pindah ke Jakarta bulan depan." Kata Kenan ketika Tari dan Nanta ikut masuk keruangannya. Sementara mereka bertiga berdiskusi soal pekerjaan, Nanta merebahkan badannya di sofa.
"Saya juga sudah meminta Barjo mulai urus kepindahan Nanta ke Jakarta." kata Kenan kemudian menyebut nama salah satu orang suruhannya.
"Jadi kalian menjauh dari aku ya." Tari menggoda keduanya.
"Tante jagain aku." jawab Raymond terkekeh.
"Kita saling menjaga Ray." jawab Tari disambut anggukan Raymond.
Sementara para suami sibuk membahas pekerjaan, para istri memanjakan diri dengan berbagai treatment, creambath, meni pedi dan luluran di Salon langganan Nona. Ngobrol sana sini dengan pegawai salon, sibuk hahahihi seperti yang dikatakan Baron saat membujuk Nona berhenti bekerja.
Setelah aktifitas di salon selesai mereka lanjut makan bakso President, mengikuti arahan Nanta, Roma memilih duduk diluar dipinggiran rel kereta.
"Didalam saja, debu." kata Nona pada Roma.
"Diluar saja, seperti yang Nanta bilang." jawab Roma bersikeras. Mau tidak mau Nona mengikuti. Mereka menunggu pesanan makanan datang sambil ngobrol santai. Tapi obrolan terhenti ketika kereta api lewat, meja bergetar bahkan getaran sampai ke dada. Roma, Nona dan pengunjung lain sibuk menutup hidung karena debu beterbangan, setelah kereta berlalu semua menghela nafas kemudian terbahak, rupanya itu sensasi yang Nanta katakan.
"Aduuuh..." Roma mengusap dadanya sedikit lemas.
"Jantung ya hahaha." Nona terbahak ikut mengusap dada.
"Mau pindah kedalam?" ajak Nona pada Roma.
"Tidak usah, tanggung." jawab Roma keras kepala, Nona menurutinya sambil terkekeh.
Selesai makan, pesanan Nanta sudah dibawakan, Nona membeli agak banyak untuk dimakan bersama dikantor suaminya nanti. Kemudian mereka bersama Pak Atang menuju kantor, tepat pukul empat seperti yang sudah di perintahkan Kenan, Roma dan Nona sudah sampai dan duduk manis diruangan Raymond, sesuai arahan Raymond pada Roma, karena semua masih sibuk dan sangat serius didalam ruangan Kenan.
"Bagaimana rasanya makan disana?" tanya Nanta terkekeh memasuki ruangan Raymond.
"Jantung bergetar." jawab Roma terbahak.
"Benar sensasional, kamu harus coba sayang." kata Roma pada Raymond yang berdiri dibelakang Nanta.
"Sama seperti di Jakarta, Soto Gebrak. Kamu juga sport jantung kan makan disana." jawab Raymond tertawa.
"Ini beda lagi. Lucu sih semua langsung menghela nafas begitu kereta sudah lewat." Semua tertawa mendengarnya.
"Aku keruangan Mas Kenan dulu ya." pamit Nona begitu membaca pesan dari suaminya yang memintanya masuk keruangan.
"Aku disini ya Kak." kata Roma pada Nona.
"Aku mau pulang sama Mama." kata Nanta pada Nona.
"Loh kita tidak pulang sama-sama?" tanya Nona pada Nanta.
"Tidak, Om Bagus sudah datang menjemput. Sampai ketemu lagi Kak." Kata Nanta menyalami tangan Nona santun sekali.
"Sate pesanan kamu nih. Hati-hati." Nona menepuk bahu Nanta yang tingginya sudah melebihi badan Nona. Nanta menerimanya dengan senang hati.
"Terimakasih Kak." katanya menatap Nona dan Roma dengan wajah penuh senyuman.
"Sama-sama sis." kata Roma, membuat Nanta memajukan mulutnya beberapa senti.
"Ok lah gan." kata Nanta kemudian pada Roma. membuat semuanya terbahak.
"Mbak Tari hati-hati." kata Nona memeluk Tari dan cium pipi kanan kiri.
"Oke, selamat sibuk pindahan." jawab Tari terkekeh. Nona pun ikut terkekeh. Setelah Tari dan Nanta menghilang dari pandangan, Nona menghampiri Kenan yang masih membaca berkas dimejanya.
"Masih sibuk?" tanya Nona berdiri disamping suaminya ikut membaca berkas, Walaupun tidak mengerti.
"Aku keruangannya Ray saja." Nona membalikkan badannya tapi Kenan menarik tangan Nona agar tidak pergi kemana-mana.
"Disini saja temani Saya." kata Kenan menoleh pada Nona sesaat dan kembali sibuk membaca berkasnya.
"Aku tunggu disofa ya." kata Nona pada akhirnya hingga Kenan melepaskan tangannya membiarkan Nona berjalan menuju Sofa. Setelah sepuluh menit sibuk dengan berkasnya, Kenan kemudian menghampiri Nona yang sibuk dengan handphonenya disofa.
"Wangi sekali." bisik Kenan menciumi rambut Nona yang habis creambath. Dengan jahil Nona mengibas-ngibaskan rambutnya kekiri dan kekanan.
"Sayang... Tajam sekali kena muka kalau begitu " keluh Kenan sambil terkekeh menangkap Nona dan menahan pipinya dengan kedua tangannya. Nona tertawa menatap suaminya dan memajukan mulutnya membuat Kenan terbahak tidak jadi mencium Nona.
"Banyak gaya." kata Kenan sambil terbahak mencium pipi Nona gemas. Lagi asik mesra-mesraan handphone Kenan berdering, video call dari Mama Nina.
"Assalamualaikum ma." kata Kenan mengarahkan camera sehingga terlihat dirinya dan Nona.
"Kalian langsung kekantor, belum pulang ya." kata Mama Nina tersenyum bahagia melihat anak dan menantunya.
"Belum, biar cepat beres semuanya." jawab Kenan pada Mama.
"Syukurlah biar cepat pindah, rumah sudah dapat ya. Di perumahan dekat Reza hanya beda cluster, kalian bersebelahan." kata Mama menjelaskan.
"Oh cepat sekali." kata Kenan tersenyum, abangnya memang selalu gerak cepat.
"Tim design nanti akan menghubungi kamu dan Nona, jadi perabot bisa diisi atas keinginan kalian." kata Mama lagi.
"Bukannya kami tinggal masuk." Kenan terkekeh menggoda Mama.
"Enak saja, memangnya yang mau tinggal disana siapa. Kami hanya memfasilitasi kalian tetap sumbang saran. Supaya betah dirumah kalau sesuai selera kalian."
"Makasih Ma." kata Nona semangat, ia ingin menghias kamarnya seperti di rumah Papa. Selera Tante Mita sangat cocok dengan Nona.
"Iya sayang, dapurnya juga luas loh, nanti Mama Kirim video rumahnya ya. Mama suka deh. Oh iya nanti kamar Mama biar Mama yang tentukan designya." kata Mama langsung saja memilih kamar untuknya menginap di rumah baru Kenan.
"Siap Ibu Ratu." jawab Kenan terkekeh, senang saja melihat Mama dan istrinya bersemangat.
"Kalian kapan ke Jakarta?" tanya Mama Nina tidak sabar.
"Hahaha Mama, masih satu bulan lagi." Kenan terbahak mendengarnya.
"Lama sekali ya. Kalau rumah sudah beres Mama dan Papa mau ke Malang, kasihan Raymond kalau kalian ke Jakarta." masih saja memikirkan cucu yang bukan lagi bocah.
"Kemalang saja sekarang. Kenapa menunggu rumah beres, kan ada Tim." kata Kenan pada Mama.
"Begitu ya, nanti siapa yang kontrol?" tanya Mama setengah hati.
"Sudah Mama dan Papa ke Malang saja. Kita nikmati sebulan ini di Malang bersama." kata Nona membujuk Mama.
"Bisa dipantau Bang Eja, Ma. Ada Bang Micko juga kan bisa minta tolong. Banyak yang bisa bantu disana, Mama jangan pusing-pusing." kata Kenan ikut membujuk Mama.
"Ya sudah nanti Mama bilang abangmu dulu." kata Mama senyumnya melebar, tidak mau jauh dari cucu rupanya.
"Kapan Mama ke Malang?" tanya Kenan gantian tidak sabar.
"Kangen sekali sama Mama ya. Nanti Mama kabari." kata Mama jual mahal, Kenan dan Nona jadi tertawa geli.
"Mama tidak betah di Jakarta?" tanya Kiki ikutan nimbrung disebelah Mama.
"Bukan begitu, cucu semuanya di Malang. Mama kesepian." kata Mama pada Kiki.
"Nah nanti bagaimana kalau Nanta di Jakarta, Mama mau dekat Raymond apa Nanta?" tanya Kiki pada Mama, Kenan dan Nona tertawa mendengarnya.
"Duh bagaimana ya, Mama jadi bingung." kata Mama, lagi-lagi yang lain tertawa mendengar Oma yang lagi labil. Kemarin saja rencana travelnya belum terlaksana karena fokus pada Nanta.
"Mama travelnya sama Mama Ririn tidak jadi?" tanya Kiki mengingatkan.
"Oh iya Mama kan mau travel. Sorry ya Non, Mama tidak jadi ke Malang dulu. Kalian urus sendiri semuanya ya. Mama mau telepon Mama Ririn dulu. Bye sayang." langsung saja Mama menutup sambungan teleponnya, Kenan dan Nona terbahak dibuatnya. Punya Oma gaul, banyak rencana, ya begitulah jadinya.
Hai baca juga novelku "Dear Angela." senang sekali lihat cover baru dari Noveltoon. Terima kasih untuk semua dukungannya.