
Makan malam sudah selesai, Rumi mengajak Nanta dan rombongan anak muda ke Clark Quay tempat nongkrong dipinggir sungai sambil nikmati musik dimalam hari. Sementara yang lain sudah pulang lebih dulu biarkan anak muda di jamu oleh Rumi.
"Aku skip deh, Dania kasihan nanti kelelahan." kata Nanta pada Rumi, ia khawatirkan Dania yang dari tadi hanya duduk saja belum sempat meluruskan badan dikasur, walaupun istrinya tidak rewel.
"Gue juga nih, Dona harus istirahat." kata Doni merangkul Dona. Kalau Doni ada maksud biarkan kedua jomblo sahabatnya bersenang-senang.
"Ah bagaimana sih tidak seru, kasihan Mike sama Larry kalau harus kembali Ke kamar." kata Rumi menunjuk kedua jomblo dihadapannya yang menganggukkan kepalanya setuju, tidak mau cepat-cepat masuk kamar.
"Kalian saja yang pergi, double date kan asik." celutuk Aditia jahil sambil terkekeh, istri dan anaknya sudah menunggu di kamar hotel, tidak ikut makan malam bersama tadi. Aditia juga tidak mau karena ini kerabat dari petinggi, ia sungkan sendiri.
"Nah itu betul sekali, kalian saja double date." jawab Nanta tersenyum jahil. Doni ikut tersenyum tidak kalah jahil.
"Semoga berhasil." bisiknya pada Mike dan Larry kemudian berjalan lebih dulu menarik istrinya dan juga Nanta, sudah pasti Dania ikut ditarik Nanta jadinya.
"Hei kalian ikut Mobil kita saja, kami antar ke hotel." teriak Rumi karena yang lain sudah jalan lebih dulu.
"Oh begitu kah?" terpaksa mereka melambatkan langkah tidak jadi tinggalkan kedua pasang itu. Lupa kalau sudah ditinggal sama yang lain.
"Ikut saya saja, biarkan mereka langsung kencan." bisik Aditia mendekati Doni dan Nanta.
"Oke, kita duluan ya. Kalian langsung saja." Nanta lambaikan tangan kepada kedua pasang yang akan double date diluar rencana itu.
"Hei...!!!" teriakan Rumi diabaikan oleh semuanya. Niat sekali kasih kesempatan untuk pedekate. Malah mereka berjalan lebih cepat dari yang tadi sambil tertawakan pasangan yang belum jadian dibelakang mereka.
"Bagaimana kira-kira, si Mike bakal nembak Seiqa tidak." tanya Doni pada Nanta.
"Tidak tahu, awas saja kalau tidak gunakan kesempatan." kata Nanta gemas sendiri kalau Mike tidak sampaikan niatnya untuk seriusi Seiqa.
"Coba Kirim pesan sama Mike. Dia mau nikah cepat atau hanya pacaran sih?" tanya Dona pada Doni.
"Katanya sih mau nikah cepat, waktu itu goda Larry bilang nanti jomblo sendiri." lapor Doni pada istrinya.
"Seiqa tidak mau pacaran loh." Dona ingatkan Doni.
"Masa?" Doni malah menggoda istrinya.
"Enak menikah dong sayang bebas." jawab Dona cengengesan.
"Bebas apa?" tanya Dania polos, pikirnya mana bebas yang ada tetap saja dilarang ini itu sama Nanta.
"Bebas lah kalau mau peluk begini, halal." jawab Nanta terkekeh.
"Ish kalau itu sih iya." jawab Dania jadi malu sendiri, sementara yang lain tertawakan Dania yang mukanya merah merona.
"Eh sudah lama nih tidak besuk dedek." bisik Nanta membuat Dania tambah merona saja khawatir didengar yang lain, kembali cubiti pinggang suaminya. Nanta jadi tertawa merangkul Dania dan cium pipinya. Tidak lagi menggoda khawatir kalau pipinya terlalu merah malah jadi gosong.
"Anak dan istri Mas Aditia di hotel?" tanya Nanta pada Aditia.
"Iya, makanya saya mau cepat sampai di hotel." jawab Aditia tersenyum.
"Kasihan, kenapa tidak ajak bergabung?" tanya Doni.
"Ini urusan pekerjaan, mana enak ajak keluarga." jawab Aditia, sebenarnya tadi ia juga tidak mau ikut makan bersama, tapi tiba-tiba harus rubah restaurant, mau tidak mau ikut urusi semuanya.
"Bedalah, kalian kan kerjanya bukan kantoran." jawab Aditia, entah dimana bedanya, Nanta dan Doni tidak begitu mengerti. Pikirnya biasa saja dulu Papa juga sering ajak Mamon keluar kota, sekarang saja karena ada duo bocah yang belum bisa ditinggal.
Sesampainya di hotel, Aditia langsung ke Lobby memastikan Kenan dan Micko beserta keluarga sudah mengambil kunci kamarnya, lalu meminta kunci untuk Nanta dan Doni. Sementara keempat orang yang Aditia asuh sedang duduk santai menunggu kunci kamar yang sedang diurus Aditia.
"Kita dilantai tiga, nanti Mas Larry sama Mas Mike, Rumi yang urus." kata Aditia pada Nanta. Mereka pun menuju lift lantai tiga bersama.
"Clark Quay sebenarnya enak buat nongkrong mas, tapi kita sudah pada lelah ya." kata Aditia pada Nanta dan Doni.
"Aku sih tidak, tapi Istri dan calon anakku nih." kata Nanta memandang perut istrinya yang sudah membesar.
"Nikmati jadi suami siaga, Mas." Aditya terkekeh.
"Makanya aku ajak terus deh kemanapun kalau keluar Jakarta." jawab Nanta ikut terkekeh. Dania senyum saja mendengarnya.
"Bagaimana itu kabarnya yang lagi double date." kata Dona teringat kedua pasang yang sedang jalan-jalan itu.
"Pasti lagi senang-senang." kata Doni pada istrinya.
"Eh saya lupa ingatkan teman Mas Nanta, Rumi itu suka minum alkohol kalau tidak ada yang awasi." kata Aditia tiba-tiba khawatir.
"Temanku tidak minum alkohol." jawab Nanta.
"Sepupuku juga tidak minum alkohol." jawab Doni.
"Rumi kalau lagi kusut tidak peduli disebelahnya lagi minum air mineral, dia pasti pilih alkohol. Kalau ada saya tidak berani Karena akan sampai ke Bos besar. Bisa hubungi yang lain Mas supaya ingatkan Rumi." Aditia jadi cemas sendiri, kalau Rumi mabok tentu Aditia yang ikut kena semprot Opa Santoso.
"Memang lagi kusut?" tanya Nanta, dilihatnya Rumi santai saja tanpa beban, hanya kalau ada Mario kadang Rumi jadi sedikit kaku.
"Yah namanya orang hidup ya, pasti ada saja masalahnya." kata Aditia terkekeh tanpa menjelaskan apa masalah Rumi.
"Kita sih tidak ada yang minum alkohol, tapi ini Larry dan Mike tidak ada yang angkat telepon, Seiqa juga." kata Doni tunjukkan handphonenya.
"Mungkin sudah sampai disana, tidak dengar kalau ada musik." kata Nanta pada Aditia.
"In syaa Allah aman. Larry dan Mike bisa atasi Rumi." kata Nanta tenangkan Aditia.
"Yakin Mas? saya mesti susul ke Clark Quay kalau tidak, bisa habis saya besok." kata Aditia pada keduanya, lift sudah tiba dilantai tiga.
"Aman, tenang saja." Nanta penuh percaya diri.
"Oke, selamat istirahat." kata Aditia saat akan masuki kamarnya yang dilewati Nanta dan Doni.
"Selamat istirahat Mas Aditia, saya coba hubungi terus mereka." janji Doni pada Aditia.
"Makasih Mas." jawab Aditia, setelah Aditia menghilang Doni Dan Nanta saling pandang, mereka bingung sendiri bagaimana kalau Rumi beneran mabok, malah Larry dan Mike nanti yang ikut kena semprot.
"Tidak mungkin Rumi minum alkohol ya, secara dia lagi menjamu tamu perusahaan." kata Nanta menenangkan diri.
"Iya tidak mungkin." jawab Doni ikut menenangkan diri.