I Love You Too

I Love You Too
Jemput Abang



"Sudah sehat sayang?" tanya Nanta pada Dania via telepon, ia sudah di Bandara saat ini bersiap menuju Jakarta.


"Sudah, tapi masih sedikit lemas." jawab Dania dengan suara mengantuk.


"Kamu tidak usah jemput aku ya, biar Pak Atang saja yang jemput." kata Nanta mengingat Dania sedang kurang enak badan, lebih baik menunggu dirumah.


"Balen juga mau jemput katanya." lapor Dania pada Nanta.


"Kalau Balen ikut, berarti yang jemput Papa dan Mamon." kata Nanta terkekeh.


"Nanti pulang kemana?" tanya Dania.


"Kerumah Istriku dong." jawab Nanta membuat Dania tersenyum senang.


"Kalau mau ke rumah Papon, aku minta Tomson antar aku kesana." kata Dania lagi.


"Tapi kamu lagi tidak fit. Jangan keluar rumah dulu." kata Nanta lagi, Dania pun menurutinya.


"Sayang, bilang Mamon ajak Ichi ya. Aku kangen." pinta Dania pada Nanta.


"Iya." jawab Nanta, kemudian mereka mengakhiri sambungan teleponnya. Tumben Dania minta Richi untuk ikut, mungkin karena sudah berapa hari ini Dania tidak mampir ke rumah Mamon. Kalau Balen tiap hari pasti menghubungi Dania, menanyakan keadaan Kakaknya ini.


"Kenapa Dania?" tanya Mike pada Nanta.


"Berapa hari ini kurang enak badan, tapi sudah lebih baik dari sebelumnya." jawab Nanta menghela nafas.


"Minta perhatian karena suami mau pulang tuh." komentar Doni terkekeh.


"Seperti Dona waktu suami mau berangkat ya." Nanta terbahak.


"Syukurnya sekarang dia sehat, tahu suami belanja banyak." kata Doni ikut terbahak.


"Nan, boneka Balen gue tukar warna." lapor Larry pada Nanta, ia sedang mengunci kopernya, jadi boneka Balen justru mereka dapat saat di Bandara.


"Kenapa ditukar?" tanya Nanta.


"Gue suka lihat yang warna pink, lu malah beli kuning lagi." cerocos Larry membuat Nanta terkekeh, sudah seperti adiknya saja Larry memperlakukan Balen. Boneka juga Larry yang bayar, karena mau kasih oleh-oleh untuk Balen.


"Itu tidak terlalu kuning, Balen tidak mau yang blonde." kata Nanta pada Larry.


"Beli dua-duanya saja?" tanya Larry bingung.


"Mubazir." kata Nanta serius.



ini pilihan Nanta.



ini pilihan Larry.


"Coba telepon Balen, mau yang mana?" kata Larry pada Nanta.


"Ini lucu loh bajunya." gerutu Larry lagi.


"Tapi rambutnya agak pirang." Nanta ingat Balen minta jangan yang blonde.


"Ish ribut saja bisanya, beli saja satu lagi." kata Mike menarik Larry ke toko boneka tadi.


"Hei mubazir." teriak Nanta, tapi keduanya tidak mendengarkan.


"Yang ini biar gue yang bayar." kata Mike tersenyum pada Larry.


"Biar bisa ajari Balen berenang ya? bujuk pakai boneka." goda Larry, langsung saja Mike tertawa. Memang itu maksudnya, mengambil hati Balen. Enak saja Bocah tiga tahun menolak tawaran baik Mike.


Keesokan harinya Balen sudah bersiap memakai baju Bagus hanya kaos dan celana jeans, tapi kalau bukan pakai baju rumahan selalu saja Balen bilang baju bagus. Hari ini ia mau menjemput Abangnya, yang menurut rencana pukul Lima sore akan tiba Bandara Soekarno Hatta. Richi juga sudah pakai baju bagus, sama seperti Balen memakai celana jeans biru dan kaos warna merah.


"Papon, tata Aban Baen dibeiin boneta titing." lapor Balen ingat kemarin Abangnya bilang begitu.


"Kamu ini habiskan uang Abang saja." kata Kenan bercandai Balen.


"Butan pate uan aban tok." Balen tersenyum bangga.


"Uang siapa dong?" tanya Nona.


"Aban Leyi sama Aban Maik." jawab Balen senang.


"Yah Ichi ndak dibeiin boneta loh. Ndak apa ya?" kemudian Balen membujuk Richi supaya tidak iri.


"Ichi tidak main boneka, kan." Kenan juga ikut bicara pada Richi. Richi mengangguk saja, entah mengerti entah tidak. Sepertinya ia tidak perduli, yang penting bisa jalan-jalan sama Papon dan Mamon. Selama ini Richi jarang sekali diajak, lebih sering ditinggal dirumah. Yah nasib jadi bayi deh, kalau di bawa Nona takut virus. Nona menjaga sekali kedua anaknya, kalau bisa mereka jangan sering-sering masuk Mal. Dirumah saja, nanti kalau sudah sedikit besar, baru bisa diajak.


"Ayo Papon." ajak Balen tidak sabaran.


"Sebentar lagi ya, mau apa lama-lama di Bandara?" tanya Kenan pada Balen.


"Mau temu Aban." jawab Balen ingin cepat masuk ke Mobil.


"Sabar ya, Papon ke Mesjid dulu, setelah sholat ashar kita berangkat." jawab Kenan kemudian beranjak bersiap ke Mesjid.


"Lontong sayur Nanta jangan lupa, untuk dia makan di mobil." pesan Kenan pada asisten rumah tangga. Kemarin Nanta bilang rindu lontong sayur, jadi tadi pagi langsung saja Nona beli, dimasukkan ke kulkas dulu, sore ini baru mereka panasi, jadi Nanta bisa menikmati lontong sayurnya saat perjalanan pulang. Mike malah pesan gado-gado. Larry dan Doni tidak pesan apapun, padahal Nona siap saja kalau mereka minta. Kasihan lama di negara orang suka rindu makanan negara sendiri


"Aban..." teriak Balen melompat-lompat saat melihat Nanta keluar sambil mendorong trolly. Nanta tersenyum tak kalah senang. Dibelakangnya Mike Dan Larry terkekeh melihat gaya Balen,emang menggemaskan singkong rebus Nanta ini.


"Balen..." teriak Larry tidak tahan ingin menyapa Balen, biasanya hanya bicara via telepon saja.


"Aban Leyi..." gantian sekarang nama Larry yang diteriaki Balen. Masih melompat kesenangan.


"Aban Maik..." panggil Balen lagi, ingat dia Mike juga belikan Balen boneka, jadi harus disapa juga. Mike langsung saja bangga, belum dipanggil Balen sudah menyapa duluan.


"Tahu saja Bocah Abang Mike bawakan boneka." Mike tertawa senang, semuanya tertawa.


"Balen, Abang Doni tidak disapa." Doni mendekati Balen dan menggodanya.


"Aban Doni tan ada Tata Dona." jawab Balen terkekeh, ia pernah videocall sama Doni dan Dona juga, karena Doni mau pamer Balen pada istrinya. Balen jadi hiburan mereka saat di Amerika.


"Tuh Tata Dona." tunjuk Balen pada Dona yang sedang bicara dengan Mamon. Tadi Balen yang kenalkan Mamon dengan Dona. Karena begitu sampai Balen langsung mengenali Dona dan menyapanya.


Oh iya, Bang Doni kesana ya." Doni mengacak anak rambut Balen gemas. Singkong Rebus sudah duduk di atas koper Nanta. Ikut senang didorong Nanta.


"Aban Leyi, tapan beenangna?" tagih Balen pada Larry.


"Hari minggu, mau?" tanya Larry sambil menoleh pada Nanta.


"Mau." jawab Balen, tapi Larry menunggu jawaban Nanta, mengingat Dania sedang kurang fit.


"Bagaimana, Dania kan sedang tidak fit?" tanya Larry pada Nanta.


"Berenang dirumah saja ya? Elu kerumah gue, ya."


"Oke, demi Balen ok deh." jawab Larry terkekeh.


"Jam berapa?" tanya Mike ingin ikut.


"Pagi bangun jam berapa nih bocah? bangun tidur saja." jawab Larry.


"Dia sih bangun pagi, Jam delapan saja dirumah ya, gue tunggu hari minggu." kata Nanta.


"Ote." jawab Balen langsung Oke saja mendului Larry dan Mike.