I Love You Too

I Love You Too
Makan terus



Setelah kemarin Mama Nina dan Mama Ririn berikut Papa pastinya tiba di Jakarta, mereka langsung menginap di rumah Reza dan Kiki. Dua kamar besar untuk mereka sudah disiapkan Reza sedari awal untuk orang tua dan mertuanya.


Hari ini mereka semua akan bersiap menuju Hotel A, dimana akad nikah Andi dan Pipit akan dilaksanakan. Ya Hotel A tempat yang sama saat Reza dan Kiki melaksanakan akad nikah. Karena sudah berada di Jakarta, Papa Gilang mengundang Papa Dwi dan Papa Ryan untuk hadir diacara pernikahan anaknya.


"SAH..." teriak para tamu undangan yang hadir saat akad selesai dilaksanakan. Tampak Andi tersenyum lega dan segera berdiri menyambut kedatangan mempelai wanita yang sedang diapit oleh kedua tantenya.


Kiki tampak terharu dan menitikkan air mata. Semenjak hamil Kiki gampang sekali menangis. Bertambah-tambah saja cengengnya. "Kenapa menangis? kasihan anak kita kalau kamu sedikit-sedikit menangis." Bisik Reza sambil memeluk Kiki dari belakang.


"Aku terharu." Kata Kiki sambil menghapus air matanya.


"Masih mual?" tanya Regina yang berdiri disebelah Kiki.


"Tidak, kalau terasa aku langsung minum obat mualnya, menolong sekali. Kamu tak merasakan apapun?" Kiki balik bertanya.


"Mario yang sedikit rewel, sepertinya Mario yang ngidam, bukan aku." jawab Regina memeluk suaminya.


"Iyakah?" tanya Reza tak percaya.


"Iya setiap pagi gue muntah, tapi masih bisa diatasi." jawab Mario terkekeh.


"Wah seperti Mas Herman saja. Sangat merepotkan kalau suami yang ngidam." kata Kiki teringat Mas Herman. Mario dan Reza tertawa dibuatnya.


Saatnya mereka menyalami kedua pengantin baru. "Pipit cantik." kata Intan melihat kearah Pipit. "Selamat pengantin baru." teriak Intan saat tiba dihadapan Pipit dan Andi.


"Selamat juga kalian calon mama." jawab Pipit yang sudah mendengar dari Erwin kalau mereka berlima hamil secara bersamaan.


"Kamu akan segera menyusul." jawab Kiki tersenyum bahagia.


"I Will Survive." jawab Pipit membuat Andi terbatuk-batuk, teringat pertama kali bertemu Cindy dan mendengarkan Cindy menyanyikan lagu itu.


"Sudah lewat, Friend." bisik Reza sambil menyalami Andi. Ia pun teringat Cindy saat Pipit mengucapkan kalimat itu. Andi tertawa menjawab bisikan Reza.


Setelah saling mengucapkan selamat dan berfoto bersama, para suami mempersilahkan sang istri yang sedang hamil, lalu mereka sibuk mondar-mandir memgambilkan makan untuk sang istri.


"Kamu mau makan apa, sayang?" tanya Reza pada Kiki.


"Mau semua." jawab Kiki menatap Reza penuh harap. Reza membelai mesra rambut istrinya, "Aku ambilkan." katanya kemudian meninggalkan Kiki yang duduk dibangku bersama teman-temannya.


"Duduk saja, Ja, Nanti ada yang akan mengantarkan makanan untuk kita." kata Erwin menghentikan langkah Reza.


"Beneran?" tanya Reza memastikan, tak mau anaknya ngences saat lahir nanti.


"Iya." Jawab Enji dan Erwin bersamaan.


Benar saja tak lama tampak pegawai hotel membawakan berbagai macam jenis makanan yang siap disantap oleh kelima pasang calon orang tua. Setelah tersaji mereka menyantap makanan bersama.


"Private Gala Dinner jadinya nanti malam, Friend." kata Mario pada Andi yang baru saja bergabung.


"Oh ya, cepat sekali. Dimana?" tanya Andi tampak atunsias. Acara memang sengaja dipercepat begitu tahu istri mereka semua Hamil. Kalau harus menunggu dua minggu lagi khawatir yang mengidam akan semakin bertambah dan acara akan menjadi kacau.


"Di Sini, kita semua sudah booking kamar menginap disini. Biar Ibu Hamil tak terlalu lelah." kata Alex menjelaskan, karena Alex salah satu penggagas acara.


"Tunda dulu malam pertamanya atau kalau mau dipercepat setelah acara ini." kata Reza menggoda sahabatnya.


"Ck, gue sih sabar, tak tahu Pipit bisa sabar tidak?" jawab Andi sambil melirik istrinya. Pipit pura-pura tidak mendengar saja.


"Pipit mana bisa sabar, lihat saja nanti." Erwin menggoda adiknya. Pipit membulatkan bola matanya malas.


"Kamu mau istirahat, Bunch?" tanya Andi pada Pipit yang baru beberapa jam menjadi istrinya.


"Nanti saja Bunch, kalau yang lain ke kamar baru kita ke kamar." jawab Pipit yang tak mau kehilangan waktu kebersamaan dengan club barunya.


"Kamu sudah kita Invite di group chat ya, Pit." kata Enji pada iparnya.


"Oh iya handphone ku di kamar mama."


"Tak apa, hanya memberitahu." kata Enji sambil tersenyum.


"Scahtz, kamu dari tadi makan terus." tegur Erwin melihat Enji yang tak berhenti mengunyah sedari tadi.


"Yang makan bukan aku sendiri, schatz. Anakmu ikut makan." jawab Enji santai.


"Tapi Kiki sudah berhenti makan dari tadi." kata Erwin lagi.


"Kiki hanya anaknya yang makan, Kiki tidak. Kalau aku berhenti makan kamu mau anakmu nanti ileran, karena kamu larang untuk makan." jawab enji sambil menyeringai.


"Makanlah. Aku tak mau anakku ileran." kata Erwin membelai perut istrinya. Reza terkekeh melihat kekhawatiran sahabatnya. Sementara Monik, Intan, Kiki dan Regina memang sudah berhenti makan, menunggu Enji menikmati makanannya.


Mama Nina dan Mama Ririn memghampiri Reza dan rombongannya. Dihampirinya Andi terlebih dulu. "Selamat ya Andi dan Pipit, semoga kalian selalu berbahagia." kata Mama Nina pada keduanya.


"Terima kasih, Tante." Andi dan Pipit berdiri menyalami Mama Nina dan Mama Ririn.


"Ja, mama pulang duluan. Kalian menginap jangan terlalu lama." pesan Mama Nina pada Reza.


"Hanya satu malam, ma. Besok siang sudah dirumah lagi." jawab Reza pada Mamanya.


"Kamu sudah bawa obat, Ki. Ingat jangan terlalu lelah, sebaiknya setelah ini segera ke kamar." gantian Mama Ririn yang memberikan pesan pada anaknya.


"Iya, Ma." jawab Kiki sambil memeluk mamanya.


"Masih manja dia, Ja. Sudah mau jadi ibu padahal." gerutu Mama Ririn pada Reza.


"Bertambah manja, Ma. Tak apa aku suka Kiki seperti ini." jawab Reza ingin menggantikan posisi Mama Ririn.


"Ya sudah kalian selamat bersenang-senang ya. Ingat ibu hamil jangan begadang." kata Mama Nina sebelum meninggalkan Reza dan rombongannya.


"Aku antar Mama dan Papa ke lobby, kamu disini saja bersama yang lain." bisik Reza pada istrinya, Kiki yang sedikit lemas mengangguk saja.


"Benar kata Mama, setelah ini sebaiknya kita dikamar saja tidur. Nanti malah baru bersenang-senang." kata Erwin pada teman-temannya.


"Nanti sore mau dikirim cemilan apa ke kamar kalian?" tanya Andi yang ingin melayani tamunya sebaik mungkin.


"Aku mau cemilan berat yang gurih dan manis." jawab Kiki cepat. Kiki selalu banyak maunya tapi hanya dimakan sedikit dan Rezalah yang harus menghabiskannya.


"Samakan saja dengan Kiki, kurasa apa yang Kiki mau sudah mewakili ada gurih ada manis." kata Enji


"Aku kentang goreng dan saos sambal." jawab Monik.


"Apa dihotel ini ada tauge goreng? aku mau dibikinkan tauge goreng dengan oncom." kata Intan kemudian menatap suaminya, sungguh ia tak mau merepotkan Andi.


"Tenang saja, kalau tak ada. Nanti kusulap menjadi ada. Kamu tak perlu repot, Ndi" jawab Anto tersenyum pada Andi.


"Ya kalau di Hotel tak ada, bisa pesan ojek online." bisik Anto pada Andi tak mau didengar Intan, khawatir selera makannya menurun.