
Andi mengendarai mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata, menyalip kanan dan kiri. Reza yang duduk dengan santai disebelahnya, tidak berkomentar. Suasana jalan siang itu ramai lancar. Hanya karena mengejar waktu dan perut sudah mulai berbunyi, Andi memilih mempercepat laju mobilnya.
"Lapar friend, makan dirumah lu aja ya." kata Andi pada Reza sambil fokus menyetir.
"Iya gue juga nih udah ga enak perut"
"Tadi diajak Ranti makan lu ga mau."
"Malas gue, dia mau melimpahkan tanggung jawabnya ke kita, pasti nego lagi kalau makan siang bareng."
"Iya sih, kasian juga mereka rugi banyak ga tuh?"
"Kita yang rugi kalau dibiarin. Lagian kalau dia pintar, bisa diakalin dengan layout baru. Sebenarnya gue udah ada solusi, tapi biarin mereka mikir dulu deh. Biar ga seenaknya main rubah design ga konfirmasi. Ga beres kalau begitu."
"Iya makanya gue ajak lu kemarin, Kan gue sama Mario ga gitu detail soal ini. Kalau musik serahin ke kita deh, hahaha." Mereka tertawa bersama. Tak lama mereka sampai di rumah Reza.
"Makan dulu, mama sudah masak." teriak Nina menyambut kepulangan kedua anak muda yang tetap terlihat rapi walau perut sudah berbunyi. Tadi Reza sudah mengirim pesan pada mamanya, ia dan Andi mau makan dirumah.
"Ayo friend." ajak Reza. Andi pun menurut turun dari mobilnya.
"Kenan sudah berangkat ma?" tanya Reza sambil membuka tudung saji dimeja makan. Andi duduk disebelah Reza.
"Sudah, tadi jam sebelas, Kenan berangkat, Kiki juga berangkat." Nina sibuk menyiapkan piring dan sendok tak lupa air putih pendamping makanan.
"Makan yang banyak Ndi."
"Iya tante, memang sudah lapar sangat nih."
"Kenapa bisa telat makan, kalian selalu menganggap remeh organ tubuh."
"Tadi banyak yang harus dibenerin ma, jadi lupa waktu." jawab Reza membela diri.
"Tetap saja waktunya makan ya makan. Sudah sholat dzuhur?"
"Alhamdulillah sudah. Kenan sudah sampai mana ma?" tanya Reza memikirkan adiknya yang menyetir sendiri, pasti suntuk menyetir sejauh itu.
"Mama belum telepon lagi, tadi sih papa bilang sudah mau masuk cirebon. Ya sudah kalian makanlah, mama mau telepon Kenan dulu." Nina meninggalkan Reza dan andi dimeja makan, masuk kedalam kamarnya mengambil handphone dikepala tempat tidur.
"Waalaikumusalaam... Sudah dimana nak?"
"Sudah sama Papa ma. Sudah aman hehe."
"Alhamdulillah. Mana papa?"
"Iya sayang, kenapa?" terdengar suara Dwi dari seberang
"Pikirkan yang aku bilang tadi mas, aku butuh jawaban cepat."
"Iya, aku setuju. Kamu aturlah sama Ririn."
"Ok."
Nina menutup telepon dan kembali bergabung dimeja makan. Tampak Reza dan Andi asik melahap makanannya tanpa bersuara. Tak ingin mengganggu, Ninapun duduk disofa ruang keluarga menyalakan TV.
"Mama ga pergi? biasanya banyak acara." tanya Reza yang sudah selesai makan, sambil mengambil kunci mobilnya.
"Ada yang harus mama urus, besok baru temani Kiki perawatan. Mama mau pernikahan kalian dipercepat."
Reza terbelalak, begitu juga Andi yang berdiri disebelahnya. Nina tak sungkan lagi bicara didekat Andi, karena ketiga sahabat Reza sudah dianggap seperti anaknya sendiri.
"Kenapa dipercepat, nanti orang mengira aku menghamili Kiki."
"Hush ngomong jangan sembarangan. Mama mau dampingi Kenan dimalang, kalau kalian sudah menikah mama tenang bolak balik jakarta malang."
"Kenan sudah besar ma."
"Kamu juga sudah besar, tapi mama dampingi terus sampai sekarang."
"Mama masih menunggu jawaban Papa Ryan."
"Iya. Aku kekantor dulu ma, nanti langsung jemput Kiki."
"Andi juga ya tante, makasih makanan hari ini, langsung naik berat badan Andi nih tante, hehehe." Nina tertawa mendengar ocehan Andi.
"Sering seringlah makan disini Ndi, biar ramai. Salaam buat mamamu ya. Bilang tante kangen."
"Iya tante, Assalamualaikum.."
"Walaikumusalaam. Hati hati ya kalian."
"Iya ma. Mama juga hati-hati, jangan terlalu banyak mikir ma."
"Iya sayang, anak mama semua pasti mama pikirin."
"I love you mama." Reza memeluk Nina sebelum masuk kemobilnya.
"I love you too nak." Nina memeluk erat putra sulungnya. Membuat Andi terharu melihat dari mobilnya. Hubungan dengan mamanya tidak seerat itu. Mama andi menunjukkan sayangnya dengan versi yang berbeda.
Andi melajukan kendaraannya, disusul reza yang mengeluarkan mobil dari garasinya, lalu melaju menyusul Andi. Bi par membantu menutupkan pagar. Reza belum tau kenapa mama terburu buru ingin menemani Kenan di Malang. Padahal setahun lagi Kenan akan lulus kuliahnya. Apa karena Kenan akan mulai bekerja dikantor papa. Nanti malam Reza berniat akan bertanya lebih detail pada mamanya. Pasti ada sesuatu yang dipikirkan mama.
Tak lama Reza tiba di Warung Elite, tampak Andi sudah keluar dari mobilnya, menunggu Reza yang sedang memarkir kendaraannya. Merekapun masuk bersama, tampak Erwin sedang berkoordinasi dengan beberapa pegawai disana, serius sekali, mungkin ada sesuatu. Suasana di warung cukup ramai, walaupun waktu menunjukkan pukul empat sore, tapi setengah meja terisi penuh. Lumayan ramai untuk ukuran jam segitu, bukan jam makan.
"Kenapa win?" tanya Andi ketika Erwin datang menghampiri mereka.
"Ada customer komplain friend, ngamuk-ngamuk."
"Haiisssh, bahasa lu ngamuk ngamuk bikin gue merinding." kata Andi mengangkat tangan kanannya seakan ingin menunjukkan bulu tangannya yang meremang.
"Kenapa bisa ngamuk?" tanya Reza ingin tau.
"Orang kita sih yang salah, menu habis ga konfirm ke customer."
"Tuh Ndi, urusan menu aja ga konfirm bisa ngamuk, ga salah kan gue tadi."
"Iya hahaha yuk masuk, ada Mario ga?" tanya Andi pada Erwin.
"Ada didalam lagi lihat cctv, pengen tahu sebenarnya gimana."
"Ya sudah kita bahas didalam, customernya masih ada?" tanya Reza sambil mendorong pintu kantornya.
"Masih, sudah kita redam emosinya." Erwin dan Andi mengikuti Reza dari belakang. Mereka pun menghampiri Mario, bergabung menonton cctv. Erwin memang cocok menangani customer komplain. Cepat sekali kemarahan si Ibu yang memuncak ketika Erwin menghampiri, memohon maaf pada customer dan segera membujuk si Ibu dengan menu lainnya yang tak kalah enaknya. Tak lupa memberi bonus tambahan keripik nasi andalan Warung Elite yang menggugah selera disaat makan.
"Sekali lagi saya mohon maaf, untuk ketidak nyamanan yang ibu dan keluarga rasakan." kata Erwin dengan senyum ramah. permohonan maaf setulus hati. Dan cepat menyerahkan menu pengganti yang diinginkan si ibu. Ga pakai lama. Keripik nasi sebagai compliment membuat mereka makan bertambah lahap. Ga salah mereka meletakkan Erwin pada posisi pelayanan restaurant.
"Mas ganteng sepertinya masih muda, mau jadi menantu ibu." kata si ibu setelah emosinya mereda.
"Hahaha ibu bisa aja, memang ibu punya anak gadis?"
"Ada. mau ya ibu kenalkan. Cantik kok."
"Boleh bu, berteman dulu. Kalau cocok baru dilanjutkan. Kapan kapan ajak kesini ya bu."
"Sebentar lagi menyusul kesini kok, nanti ibu kenalin ya."
Mereka berempat tertawa melihat rekaman cctv. Tuh doanya dikabulkan win, kalau ditolak Sheila mau minta dijodohkan.
"Datang tuh jodoh lu win," kata mario masih memandang cctv yang mengarah ke meja Ibu dan keluarganya. Tampak gadis cantik seumuran Kiki, membuat mata Erwin berbinar, tak sabar ingin menghampiri dan segera berkenalan.
"Kalau yang kaya gitu, gue juga mau win." celutuk Andi sambil terus memandang Cctv.
"Jangan macam-macam Ndi, fans lu udah banyak. Jangan muncul dulu sampai gue aman ya." pinta Erwin konyol. Membuat yang lain tertawa. Bisa aja Erwin.