
"Assalamualaikum, sudah selesai pembahasannya ya?" sapa Andi saat masuki ruangan VIP, menyalami semua yang ada disana.
"Waalaikumusalaam..." jawab semuanya.
"Baru penjelasan konsep, soal angka belum dibahas." jawab Mario pada Sahabatnya.
"Ayo kita bahas dikantor." ajak Erwin, mengingat Reza dan Erwin masih belum selesaikan pekerjaannya. Mario memberi kode pada Nanta dan ketiga sahabatnya agar ikuti Andi ke kantor.
"Rumi kamu jangan pulang dulu." pesan Mario pada Rumi sebelum tinggalkan ruangan.
"Iya, Pak." jawab Rumi menurut.
"Mbak Rumi, kenalkan ini Istriku." Nanta kenalkan Rumi pada Dania.
"Panggil Rumi saja, Boy. Kalian seumuran." kata Mario yang masih menunggu Nanta.
"Iya Pi." Nanta terkekeh, sementara Rumi dan Dania saling bersalaman.
"Kalian ngobrol ya, kita tinggal dulu sebentar." kata Nanta pada semuanya. Mereka anggukan kepalanya.
"Oke." jawab Rumi santai, pada dasarnya memang Rumi pembawaannya santai, ia hanya tegang jika ada didekat Mario.
"Sini Mbak Rumi." Dania tersenyum menepuk bangku disebelahnya persilahkan Rumi duduk.
"Aku pesan makanan dulu deh, lihat kamu makan jadi mau juga." kata Rumi keluar ruangan panggil pegawai restaurant dan segera memesan menu yang ia inginkan.
"Kalian berdua kenapa masih disini, tidak ikut Mama pulang?" tanya Rumi pada Lucky dan Winner.
"Aku kangen kakakku." jawab Lucky menunjuk Dania.
"Oh jadi istri Nanta Kakak kalian?" tanya Rumi memastikan.
"Iya." jawab Dania tersenyum manis.
"Mbak Rumi seumuran suamiku, bekerja sambil kuliah kah?" tanya Dania pada Rumi.
"Aku sudah selesai kuliah." Rumi tersenyum.
"Loh cepat sekali, masih muda sudah selesai kuliah." Winner langsung saja kagum.
"Kebetulan waktu sekolah dasar aku lompat kelas dari kelas tiga langsung ke kelas enam." Rumi tersenyum sambil mengangkat bahunya malu sendiri.
"Jadi baru lulus kuliah?" tanya Dania. Rumi menggelengkan kepalanya.
"Baru lulus S2." jawab Rumi terkekeh
"Kok bisa?" tanya Lucky.
"Kebetulan lagi saat kuliah S1, aku ambil S2 juga." jawab Rumi tersenyum lebar.
"Kakak, kamu jenius." Winner langsung saja terpana.
"Boleh aku wawancara untuk majalah sekolahku?" tanya Winner lagi.
"Apa cocok aku masuk majalah sekolahmu? Aku tidak pintar" Rumi beritahu Winner.
"Tidak pintar bagaimana, kakak?" Winner segera pindah duduk disebelah Rumi.
"Kak Rumi makan dulu, Win." Dania mengingatkan.
"Boleh kan sambil makan, aku mulai foto ya?" Winner minta ijin Rumi.
"Boleh." jawab Rumi terkekeh. Makanan yang dipesannya datang, ia pun segera makan dengan santai sambil Winner menanyakan banyak hal pada Rumi.
"Tidak harus pintar, hanya perlu strategy sih menurut aku." jawab Rumi memberikan tips pada Winner.
"Aku mau seperti Kak Rumi." kata Winner cepat.
"Tadi kamu bilang mau seperti Abang dan sahabatnya, sekarang mau seperti Kak Rumi." Lucky gelengkan kepalanya.
"Meniru orang-orang hebat seperti mereka kan boleh." sungut Winner pada Lucky.
"Kalau mau bisa S1 sambil S2, nilainya harus bagus ya?" tanya Dania.
"Iya, kebetulan nilaiku mencukupi dan di kampus juga ada program akselarasi." jawab Rumi.
"Management waktu Kak Rumi pasti sangat bagus sekali." Dania bayangkan kesibukan Rumi saat kuliah dulu.
"Iya, karena aku harus atur semua supaya bisa selesai tepat waktu." jawab Rumi sambil menyantap makanannya. Mereka ngobrol seru tanpa terasa Nanta dan rombongannya sudah kembali bergabung. Itupun mereka abaikan karena obrolan mereka jauh lebih asik.
"Sepertinya aku perlu belajar management waktu seperti Kak Rumi supaya bisa selesai kuliah sambil mengasuh anak." kata Dania tertawa.
"Kamu harus susun strategy dari sekarang." kata Rumi pada Dania.
"Semua harus pakai strategy?" tanya Winner.
"Tentu saja." Rumi terkekeh, mulai bagikan strategy yang ia lakukan saat itu. Winner menggelengkan kepalanya berdecak kagum.
"Ada ya orang seperti Kak Rumi." katanya lagi.
"Kenalkan." kata Rumi membenarkan kerah kemejanya. Mereka berempat tertawa.
"Ish mereka bicara apa sih? kita diabaikan." kata Mike kepo, diacuhkan oleh sepupunya.
"Hello kalian, tidak sadar kami sudah disini dari tadi ya?" tanya Mike sedikit kesal.
"Sadar." jawab Lucky tersenyum.
"Terus kenapa kita tidak diajak ngobrol?" tanya Mike lagi.
"Aku sedang wawancara Kak Rumi untuk majalah sekolahku." jawab Winner mohon pengertian Mike.
"Oke Winner, lanjutkan." kata Nanta tertawa, banyak sekali yang mau diwawancarai Winner hari ini.
"Rumi sehebat apa sampai diwawancarai?" tanya Mike lagi.
"Seumuran Bang Nanta sudah selesai S2." jawab Winner kalem.
"Wow..." langsung saja Larry berkomentar kagum.
"Biasa saja dong, nanti jatuh cinta lagi." kata Mike tengil. Larry tertawakan Mike jadinya sambil gelengkan kepalanya. Asli setelah dulu sempat dua minggu sekali ganti pacar, kali ini Larry tidak lagi seperti dulu. Ia santai saja tidak grabak grubuk harus punya pacar seperti dulu.
"Leyi, mantan pacar lu jadi finalis Putri Kecantikan nih." Doni memberikan informasi saat membaca berita di handphonenya.
"Biar saja." jawab Larry santai.
"Duh depan Rumi dia sok acuh." kata Mike lagi.
"Masa lalu sudah lewat nyong, sekarang fokus ke masa depan." jawab Larry menatap Rumi.
"Dia masa depan lu?" bisik Mike bawel.
"Mana gue tahu." kata Larry terkekeh.
"Kalau dia mau, elu mau?" tanya Mike lagi.
"Ya mana gue tahu." kata Larry lagi, Mike langsung meringis, apa-apaan jawabnya selalu mana gue tahu.
"Lu harus tahu lah." sungut Mike menoyor kepala Larry.
"Kasar, Sis." kata Larry mengusap kepalanya. Mereka berempat terbahak jadinya.
"Rumi, dipanggil Papi keruangan." kata Nanta setelah membaca pesan singkat di handphonenya.
"Sudah datang ya Papanya Balen?" tanya Rumi pada Nanta.
"Iya, Papaku sudah datang." jawab Nanta tersenyum.
"Tahu ruangannya tidak?" tanya Mike pada Rumi.
"Tahu." jawab Rumi tersenyum.
"Baru saja Larry mau antarkan." kata Mike lagi disambut tawa sahabatnya.
"Memang searah juga sih keruangan Papi." celutuk Nanta tertawa.
"Searah apa?" tanya Rumi tertawa gelengkan kepalanya.
"Nanti saja pulangnya, jangan lupa Mas Larry antar saya." kata Rumi ingatkan Larry.
"Hahaha tenang saja." Larry tertawa memandangi Rumi.
"Sudah mulai naksir, hei?" tanya Doni menepuk jidat Larry yang pandangi Rumi keluar ruangan.
"Menurut gue sih sudah." Nanta terkekeh.
"Menurut gue juga sudah." Mike ikut terkekeh.
"Sok tahu." Larry menyangkal.
"Kalau benar naksir, kita latihan satu jam nonstop, bagaimana?" tantang Nanta pada Larry.
"Siapa takut." jawab Larry santai.
"Satu jam nonstop bagaimana Nan?" tanya Mike tidak mengerti maksud Nanta.
"Tidak pakai istirahat, keluar lapangan hanya minum saja." jawab Nanta mengangkat alisnya.
"Waduh..." Mike langsung garuk kepala.
"Kenapa lu yang panik?" tanya Doni tertawa.
"Karena Leyi pasti naksir dan gue bayangkan kita latihan satu jam nonstop." jawab Mike dengan wajah serius.
"Sok tahu lu." jawab Larry lagi tertawa melihat Mike.
"Dia yang jatuh cinta, gue yang keram karena latihan." kata Mike lagi tertawakan Larry.
"Gue mau satu jam Non Stop deh demi Leyi dan demi Indonesia." kata Nanta pada ketiga sahabatnya.
"Eh iya ya, kalau kita latihan terbaik, bermain terbaik juga nama Indonesia yang harum ya." Mike akhirnya anggukan kepala setuju.
"Oke Leyi, demi elu dan demi negara, latihan satu jam nonstop. Besok bagaimana?" tantang Mike pada Sahabatnya.
"Kan dia belum ngaku kalau dia naksir nyong." kata Doni lagi menoyor kepala Mike, mereka semua kembali terbahak.