I Love You Too

I Love You Too
Babyku



"Tambah tampan saja sejak punya istri, ya." sambut Micko pada Kenan sambil melebarkan kedua tangannya. Ingin sekali memeluk Kenan.


"Terlihat nyata kah?" tanya Kenan sedikit narsis. Tanpa menghampiri Micko malah duduk di sofa ruang kerja Reza. Reza menggelengkan kepalanya melihat keduanya yang selalu saja saling menggoda.


"Bagaimana calon presdir kita nih, Ja? Santai sekali baru muncul hari ini." Micko mulai memprovokasi, Reza terkekeh.


"Bang Micko sajalah yang jadi Presdir, gue wakilnya bagaimana?" Kenan menaikkan alisnya, menggoda Micko.


"Mau diambil alih sama gerombolan si berat perusahaan ini ya? seperti tidak tahu masalah keluarga gue." Micko menggelengkan kepalanya.


"Loh mereka kan tahu ini bukan punya Bang Micko."


"Tapi kalau gue yang jadi Presdir mereka kira gue juga punya saham disini. Jangan cari gara-gara lah, mafia semua itu."kata Micko lagi membahas masalah keluarganya.


"Repot sekali jadi orang kaya." dengus Kenan mentertawakan Micko yang banyak diberikan aset dari kakeknya tapi tidak bisa bergerak bebas. Micko mencebikkan bibirnya.


"Mick, nanti makan siang sama seluruh management ya, Lulu suruh kesini, Kiki sama Nona juga nanti datang biar sekalian perkenalan." kata Reza pada Micko.


"Lulu lagi menemani Mama berobat." kata Micko pada Reza.


"Sakit apa Tante Misha?" tanya Reza.


"Kontrol saja, namanya juga orang tua." jawab Micko santai.


"Di Penang?" tanya Kenan pada Micko.


"Hu uh." jawab Micko mengangguk sambil duduk disebelah Kenan.


Siang hari sesuai keinginan Reza, Kiki dan Nona sudah sampai dikantor suami mereka. Kiki langsung saja masuk ke dalam ruangan Reza diikuti Nona dari belakang. Sementara Micko, Kenan dan Reza yang lagi sibuk membahas pekerjaan pun terhenti aktifitasnya.



Kenan terpana melihat penampilan Nona. Disuruh dandan cantik tapi tidak seperti ini juga. Kenan sampai lupa mengenalkan Nona pada Micko yang sedang duduk dihadapannya. Ia kemudian menghela nafas sambil menghampiri Nona yang memang tampak cantik juga trendy, tapi seharusnya tidak memakai rok sependek itu. Apalagi Nona belum terlihat hamil, bisa-bisa satu kantor mengira Nona anak kuliahan jika tidak cepat dikenalkan sebagai istri Kenan.



"Kenapa pakai rok pendek?" protes Kenan pada Nona.


"Cuma ada baju ini, yang lain sudah dibawa kerumah baru." kata Nona tanpa dosa.


"Ini sepatu saja aku pakai yang ada di mobil." kata Nona lagi memandang wajah suaminya yang terlihat resah. Micko tertawa saja melihat reaksi Kenan.


"Lain kali kalau ke kantor pakai celana palazzo saja." kata Kenan pada Nona.


"Tidak boleh pakai rok?" tanya Nona polos.


"Boleh, dibawah dengkul." jawab Kenan lagi. Kiki jadi ikut tertawa mendengar percakapan suami istri dihadapannya.


"Bang Micko kenalkan ini Nona, istri gue." kata Kenan pada Micko.


"Wow istri, gue kira adiknya Kiki." Micko terkekeh menggoda Kenan.


"Memang adiknya Kiki, adik Ipar." sahut Kenan cepat.


"Iya gue kira masih single, baru mau gue..."


"Jangan cari gara-gara." dengus Kenan membuat Micko terbahak.


"Bercanda ya Non, biasa saya sama Kenan begini." kata Micko mengulurkan tangannya pada Nona.


Acara perkenalan dan makan siang dengan tim management berlangsung dengan lancar, hangat dan santai. Tidak membahas pekerjaan, lebih ke acara menyambut Kenan sebagai pimpinan baru di kantor tersebut. Juga Kenan memperkenalkan istrinya kepada semua yang ada disana.


Yang Nona tidak suka tatapan sinis dari sekretaris Reza pada Nona. Saat berbicara pada Kenan menganggap Nona tidak ada, bikin Nona kesal saja.


"Tika, nanti yang dibantu Pak Kenan dan Bu Nona bukan saya dan Pak Reza lagi." kata Kiki pada Tika sekretaris suaminya yang sebentar lagi menjadi sekretaris Kenan.


"Iya Bu." jawabnya tersenyum ramah pada Kiki. Lah, sama Kak Kiki bisa ramah sama gue kenapa seperti musuh, batin Nona tidak terima.


"Pak Kenan, nanti meja Tika pindah kedalam atau bagaimana?" tanya Tika konyol.


"Tetap saja disitu, kenapa harus pindah?" tanya Kenan heran.


"Pasti Pak Kenan banyak pertanyaan, dari pada Tika mondar-mandir." jawabnya membuat Nona mengumpat dalam hati.


"Ooh santai saja, semua sama seperti beberapa bulan yang lalu toh, lagi pula ada weekly report dan juga morning briefing. Saya bisa tanya saat itu." kata Kenan mulai terganggu.


"Bang, sekretaris gue, minta yang laki-laki saja ya." katanya pada Reza dan Micko, ketika Kiki dan Nona sibuk berbicara dengan staff yang lain.


"Kenapa Tika?" tanya Micko terkekeh, ia tahu Tika tertarik pada Kenan sejak lama, hanya saja Kenan hanya sebentar setiap Ke Jakarta, itu pun sibuk dengan Reza dan Micko. Dipikir Tika, Kenan masih single, ia sedikit kecewa begitu Kenan mengenalkan Nona sebagai istrinya didepan forum tadi.


"Talk to much." jawab Kenan mencebik, kemudian menghampiri Nona yang sekarang tampak menyendiri, sebelum dihampiri oleh staff yang lain, kebanyakan dari tadi yang menghampiri Nona staff laki-laki, masih pada muda pula, bikin Kenan tidak bisa bicara santai dengan yang lain. Ups di Kantor sendiri saja sudah seperti ini, pikir Kenan.


"Sayang, jangan terlalu lama berdiri." kata Kenan ketika mendekati Nona.


"Kenapa memangnya? kan aku pakai sepatu kets." jawab Nona dengan mulut sibuk mengunyah keripik.


"Babyku nanti lelah." kata Kenan mengusap perut Nona.


"Babyku juga kan." Nona jadi terkekeh.


"Mas, Tika itu siapa? menyebalkan." bisik Nona mengungkapkan isi hatinya.


"Sekretaris Bang Eja." jawab Kenan apa adanya dengan suara berbisik pula.


"Nanti jadi Sekretaris Mas Kenan?" tanya Nona memberengut, Kenan menggelengkan kepalanya.


"Sekretaris saya laki-laki." jawab Kenan tersenyum masih dengan suara pelan.


"Tapi kamu jangan genit." pesan Kenan lagi pada Nona.


"Genit bagaimana?" tanya Nona bingung.


"Jangan terlalu ramah, bicara seperlunya saja."


"Dari tadi juga begitu, kalau ada yang tanya baru aku jawab." Nona membela diri.


"Tapi pakai senyum-senyum, itu terlalu ramah." kata Kenan posesif membuat Nona terbahak melihat ekspresi suaminya.


"Mas Kenan cemburu?" tanya Nona kembali tertawa.


"Kamu cemburu cuma sama Tika, saya cemburu sama semua staff laki-laki yang dari tadi ajak kamu ngobrol." dengus Kenan. Walau bisik-bisik tetap saja keduanya mengundang perhatian seluruh yang hadir disana, karena memang mereka bintangnya hari ini.


"Yah habisnya minta pindah meja kedalam ruangan Mas Kenan, percaya diri sekali. Terus dari tadi aku dianggap mahluk tak terlihat, dia berasa berdua saja sama Mas Kenan." Nona menggelengkan kepalanya, emosinya naik, untung saja masih bisa menekan volume suara hingga hanya Kenan saja yang dapat mendengarnya. Tanpa sadar beberapa pasang mata memperhatikan keduanya.


"Hehehe makanya saya minta tukar sekretaris, kamu tenang saja sayangku." Kenan terkekeh merangkul istrinya dan mengusap bahu Nona dengan mesranya. Tidak perduli dengan mereka yang terus memperhatikan Kenan dan wanita kesayangannya.