I Love You Too

I Love You Too
Kereta Api



Balen melambaikan tangannya memanggil Larry dan Mike yang celingukan mencari keberadaan Nanta dan keluarganya di stasiun Gambir. Rencananya hari ini mereka akan ke Semarang mengikuti pertandingan Basket antar club seperti yang sudah Nanta sampaikan sebelumnya.


"Aban..." teriak Balen melompat senang, Richie pun ikut melompat kesenangan melihat kehadiran Mike guru berenangnya.


"Ketemu lagi deh, tapi bukan di kolam." kata Mike mencubit pipi Richie gemas. Kemudian menyalami Kenan dan Nona, Larry pun mengikuti setelah menggendong Balen, karena singkong rebus langsung saja melompat minta digendong Larry.


"Gue kira kereta sudah datang." kata Larry melihat jam dipergelangan tangannya. Masih pukul enam lewat tiga puluh menit.


"Setengah jam lagi." jawab Nanta, mencubiti bahu Balen gemas.


"Aban, janan." teriaknya karena cubitan Nanta lumayan perih.


"Hanya cubit sedikit." jawab Nanta terkekeh.


"Satit Aban." jawab Balen sambil meringis.


"Hahaha sini gendong Abang." Nanta tertawa dan mengulurkan tangannya pada Balen.


"Ndak usah dendong." Balen menepis tangan Abangnya dan memeluk Larry erat. Larry tertawa melihat Balen lebih memilih dirinya dibanding Nanta.


"Ish kesal sekali, lihat deh Pa." adu Nanta pada Papanya menunjuk Balen.


"Balen, Abang Larry capek tuh harus gendong Balen terus." kata Kenan pada Balen.


"Eman iya tapek?" tanya Balen pada Larry.


"Tidak." jawab Larry tersenyum membuat siapapun yang melihatnya akan terpesona.


"Aban Leyi, catep ih." kata Balen membelai pipi Larry. Mike terbahak melihatnya, Kenan menggelengkan kepalanya, centil sekali si Balen ini.


"Mamon, ya ampun, Balen mirip siap sih genit betul." sungut Nanta semua tertawa dibuatnya.


"Cakep mana sama Abang Nanta?" tanya Larry terkekeh.


"Sama sih catep duanya." kata Balen membuat Nanta akhirnya tertawa.


"Abang Mike cakep tidak?" tanya Mike mau uji ganteng.


"Iya catep juda." jawab Balen tapi tetap Larry dan Nanta yang juara dimata Balen.


"Balen kalau sudah besar jangan suka lihat cowok cakep ya, lihat Abang bertiga saja." pesan Larry pada Balen.


"Yah." jawab Balen main iya saja.


Kereta yang mereka tunggu pun tiba, Balen senang sekali pertama kali naik kereta api, setelah beberapa minggu lalu naik kapal laut. Sebenarnya Kenan sudah mengajak Abangnya, tapi Reza dan Kiki berencana ke Malang kangen sama keluarga disana.


"Papa Micko tidak diajak?" tanya Mike pada Dania.


"Mereka naik pesawat." jawab Dania, memang Papa dan keluarganya ikut ke semarang naik pesawat, kasihan Oma kalau naik kereta api terlalu lama dijalan.


"Mas Doni kok tidak ada?" tanya Dania pada suaminya.


"Doni sudah dari kemarin pagi bawa mobil, mampir dulu ke Cirebon." jawab Nanta pada istrinya. Nanta yang duduk bersama Dania, sementara Mamon bersama Papa memangku Richie, padahal Richie sudah dipesankan bangku sendiri, tapi terserah dia saja lagi mau duduk dimana.


"Ichie mau duduk sama siapa?" tanya Nanta pada adiknya. Ia menepuk-nepuk bahu Papanya.


"Sama Abang Mike mau?" tanya Mike, Ichie menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah Mamon sama Dania saja biar aku sama Mike." kata Nanta pada Nona sementara Balen sudah ambil posisi duduk bersama Larry.


"Balen sini sama Mamon." kata Nona pada Balen.


"Ndak." tolak Balen pasti tidak mau pisah dari Larry.


"Bikin jatuh pasaran Larry saja." kata Nona tertawakan Larry.


"Biar Tante, mereka harus terima aku apa adanya. Cowok tampan dengan anak umur tiga tahun." jawab Larry membuat semuanya terbahak. Kehadiran Nanta dan sahabatnya didalam gerbong tentu saja menjadi perhatian seisi gerbong, Badan atletis dengan tampang tampan rupawan membuat mereka enak dilihat. Walaupun mungkin mereka tidak mengenal Nanta, Mike ataupun Larry tapi tetap menyita perhatian.


Nona akhirnya duduk bersama Dania karena kedua anaknya tidak ada yang memilih duduk bersama Nona. Nanta bersama Mike sederetan dengan Larry dan Balen, hingga mereka gampang untuk saling ngobrol.


"Aban, ketana badus ya taya naik sawat." komentar Balen mengagumi kereta yang mereka naiki.


"Iya Bagus dan nyaman." jawab Larry.


"Mana mungkin bosan, bocah lucu begini." kata Larry pada sahabatnya.


"Ya kali mau bahas gadis-gadis jadi tidak bisa karena Balen." kata Nanta membuat Larry terbahak.


"Bahas-bahas saja, paling singkong cantik ini menguping." kata Larry mengacak anak rambut Balen.


"Aban, temen Aban tuh yan diumah Om Deni mana, yan bisa beenang." tanya Balen teringat Femi.


"Oh Femi ya?" tanya Larry, Balen menganggukkan kepalanya.


"Tidak tahu ya dimana." jawab Larry terkekeh. Selama pulang dari Cirebon hanya sekali hubungi Femi, itu pun dia sibuk ada pasien, sementara yang rajin hubungi Larry malah Rima.


"Kamu kenapa tanya Femi?" tanya Larry terkekeh.


"Tan umahnya di Jatata, tok ndak te umah Baen, beenang." kata Balen membuat Larry tertawa.


"Kemarin kan kolamnya ramai ada Abang Winner dan Abang Lucky." kata Nanta pada adiknya.


"Iya lati semuana, ndak ada pempuan." jawab Balen menggelengkan kepalanya.


"Kan ada Kak Dania." jawab Larry.


"Ndak beenang tapina." Balen mengedikkan bahunya, sok tua betul gayanya.


Makanan datang, di kereta priority semua penumpang dapat makan, Balen langsung saja sumringah karena dibelikan minuman kotak dan juga puding.


"Tanya Papon dulu boleh diminum tidak." Larry mengingatkan karena Kenan menganut pola makan sehat dan tidak minum jus kemasan.


"Papon... boeh minum ini ndak?" tanya Balen pada Papanya.


"Pudingnya saja ya Nak, minumnya air putih saja."


"Betul saja dugaan Larry, Balen tidak diijinkan minum jus kotakan itu.


"Balen makan ya Aban suapi." kata Larry pada Balen seperti perlakuan Balen sebagai adiknya sendiri.


"Baen matan sendii aja." katanya pada Larry.


"Habis tidak segini banyak?" tanya Larry.


"Badi dua sama Aban ya." jawabnya memandang Larry.


"Ada yang mau tampung setengah porsi Balen?" tanya Larry pada sahabatnya.


"Aku mau." jawab Dania membuat Nanta terbelalak.


"Maklum Ibu hamil." kata Nona tertawa.


"Aku suka masakannya." jawab Dania padahal hanya telor balado, Bihun sambal dan ayam goreng. Tapi rasanya membuat Dania semangat makan. Larry dibantu Nanta bagikan makanan Balen pada Dania, setelahnya Balen makan sendiri dengan lahap dan tidak berantakan. Pintar sekali singkong rebus sudah bisa makan sendiri, jadi Larry bisa makan dengan konsen dan lahap juga.


"Tenyan." kata Balen ketika makanannya sudah habis.


"Pintarnya anak Mamon makannya habis." kata Nona memuji Balen karena makan tanpa sop seperti dirumah tapi habis, tidak rewel minta sop. Memang dirumah sudah dipesan kalau di kereta tidak ada sop. Lagi pula Nona mau melatih Balen agar bisa makan menu lainnya agar variatif.


"Mamon matanna abis ndak?" tanya Balen pada Nona.


"Habis tuh." tunjuk Nona pada piringnya.


"Pintai Mamonna Baen." gantian Balen yang memuji Nona membuat Larry tertawa dan menciumnya gemas.


"Besok kalau berenang aban ajak adik aban deh biar kenal sama Balen." kata Larry pada Balen.


"Adiklu yang suka tawuran itu?" tanya Mike membuat Nanta tertawa.


"Sekarang tidak tawuran lagi, mau gue stop yang jajannya." kata Larry terkekeh.


"Lati juda adikna?" tanya Balen pada Larry.


"Iya."


"Catep ndak?" eh malah tanya cakep apa tidak, dasar Singkong Rebus.