
Pagi ini Reza dan Kiki sudah tiba di bandara Soekarno Hatta, masih mencari keberadaan yang lainnya. Tadi via telepon, Mario dan Regina sudah berada dibandara setengah jam yang lalu, Intan belum bisa dihubungi sedangkan Monik posisi masih di tol, perkiraan sepuluh menit lagi sampai.
"Dimana sih, gue sudah di depan gate 4." Reza kembali menghubungi Mario.
"Gue lagi di toilet, Regina lagi ke atm. Lu tunggu aja disitu, cari bangku." jawab Mario. Pantas saja dari tadi sudah berputar mereka tak ditemukan.
Tak lama tampak Mario berjalan dengan santainya, disusul Regina dibelakangnya.
"Ish kak Mario bukannya digandeng istrinya." Kiki tampak protes karena Mario jalan didepan Regina.
"Mario ga tau itu Regina dibelakangnya." tebak Reza.
"Sok tau kamu kak. Kenapa bisa ga tau?"
"Coba aja nanti kamu tanya." jawab Reza senyam senyum melihat kearah sahabatnya.
"Kenapa cengengesan?" tanya Mario dengan wajah acuhnya.
"Istri lu mana?"
"ke toilet kan sudah gue bilang."
"Ki, baru sampai kah?" tanya Regina melihat Kiki yang sudah berdiri menunggunya. Sementara Mario menarik nafas panjang melihat Regina tepat dibelakangnya.
"Lima menit. Aku bawa koper kosong Re, kamu?" Kiki menunjukkan kelima jarinya kemudian mengangkat kopernya yang sangat enteng karena hanya berisi pakaian dalam dan kosmetik saja.
"Aih kenapa kosong? Aku bawa baju sedikit."
Regina dan Kiki asik ngobrol sementara Mario menggelengkan kepalanya kesal karena Regina yang sedari tadi berjalan dibelakangnya, tak berusaha mengiringi langkahnya.
"Kenapa muka lu asem?" tanya Reza pura-pura tak tau.
"Kenapa dia ga nyolek gue ya kalau malas ngomong." Mario sungguh tak mengerti apa yang Regina pikirkan.
"Dia jalannya nunduk friend, ga lihat lu didepannya."
"Masa ga hafal parfume gue sih."
"Lu ganti parfume kan hari ini." Reza mendekat berusaha mencium aroma parfume Mario.
"Ish Reze, nanti dikira maho kita." Mario tertawa menjauhi Reza sambil menepuk pundaknya kencang.
"Gue cuma mau mastiin friend, bener ga yang gue bilang."
"Gue ga pernah ganti parfume nyong." jawab Mario masih terbahak bersama Reza. Kiki dan Regina yang asik ngobrol sampai menghentikan pembicaraannya ingin tahu apa yang membuat suami mereka tertawa bahagia.
"Ada apa sih seru banget?" tanya Kiki ingin tahu.
"Kepo." jawab Reza membuat Kiki cemberut. Segera dirangkulnya bahu istrinya yang mungil.
"Ada apa Yo?" tanya Regina yang juga ingin tahu.
"Tadi kamu jalan dibelakang aku kenapa ga panggil? kalau malas ngomong bisa colek kan?" protes Mario pada istrinya.
"Kamu ga hafal wangi parfume ku?" Mario memastikan. Regina menggeleng sambil tersenyum, membuat rasa kesal Mario luntur.
"Mulai besok hafalkan ya jadi walaupun kamu ga lihat aku, kamu tahu aku ada didekat kamu." Mario berbisik sambil merangkul Regina tak mau kalah dengan Reza. Bukan, sebenarnya bukan tak mau kalah, tapi Mario sudah mulai membuka hati dan mulai tertarik dengan Regina, selalu ingin dekat saja.
Monik sudah turun dari Mobil yang mengantarnya, jika Kiki membawa koper kosong maka Monik hanya membawa tas ranselnya, menggunakan celana pendek dan blouse lengan pendek juga topi dikepalanya. Alex pun hanya membawa tas Ransel dengan celana selutut serta kaos oblong berbalut cardigan.
"Ga bawa koper?" tanya Kiki.
"Beli aja jika dibutuhkan." jawab Monik santai.
"Dipesawat dingin Nik, pagi begini lu pakai celana pendek gitu." Kiki memperingati.
"Ini di tas gue udah bawa selimut, tipis tapi hangat. Kalau kurang hangat tinggal peluk mas Alex" jawab Monik sambil terkekeh jahil. Alex menggelengkan kepalanya sambil tersenyum dengan garis melengkung menghiasi bibirnya.
"Anto kesiangan, kerja keras mereka kayanya. Kita Check in duluan aja." ajak Alex sambil terkekeh, yang lain pun tertawa dan melangkah mengikuti Alex yang sudah berjalan didepan.
"Nanti sementara bangku kita pisah sama suami ya, kita yang kerja bertiga bikin video di economi dulu, saat penumpang lain sudah turun kita numpang foto di Bussines dan first class, travel sudah ijin sama pihak maskapai. Temen gue yang punya travel nanti sambut kita di ngurah rai." kata Monik menjelaskan seperti team leader.
"Mestinya mereka yang urus check in dari Jakarta dong sayang." Alex menggerutu ketika selesai Checkin dan membagikan boarding pass pada yang lain. Ia tak pernah sibuk mengurus krimik timik seperti ini. Selalu ada yang membantunya.
"Tadi aku udah bilang Kamu duduk manis aja sayang, biar aku yang kerjain. Kebetulan dia masih di bali, kalau balik ke Jakarta jemput kita kasihan mahal." jawab Monik membujuk suaminya.
"Sama aja, lihat kamu antri masa aku diam aja." tanpa menjawab Monik menggandeng lengan suaminya. Tak ingin dimarahi lagi, niatnya membantu temannya sekalian honeymoon sepertinya salah, membuat sang suami yang terbiasa dilayani menjadi sedikit repot.
"Nanti hotelnya nyaman ga?" tanya Alex memastikan, dari kemarin ia mengajak Monik untuk menginap di villa keluarganya.
"Nyaman kok sayang, waktu shooting FTV tahun lalu semua crew dan pemain menginap disana."
"Kalau ga nyaman kita pindah ya."
"Iya Suamiku, dibawa enjoy dong sekali kali merakyat begini, yang penting kamu selalu dekat denganku." Monik merayu suaminya.
"Hmmm kurang romantis lu Nik." Anto yang dari tadi berlari mengejar Monik dan rombongannya, sudah berdiri dibelakang sepupunya.
"Kirain bakal beda jam keberangkatan ternyata ga telat-telat amat."
"Sebenarnya tadi kita sudah jalan, eh si Anto dasar ya berangkat lupa salim sama nyokapnya. Jadi dijalan nyokap ngomel kan nelpon, daripada dikutuk jadi batu mending kita balik lagi dong salim." Intan menjelaskan kelakuan suaminya.
"Siapa tadi si Anto?" Anto mencubit Pipi Intan gemas dan sedikit kesal.
"Kan lagi cerita sayang. Masa sebutnya si sayang sih." Semua tertawa mendengar ocehan dan melihat interaksi Intan dan Anto yang masih saja seperti Tom and Jerry.
"Ok mulai kerja ya To, lu videoin kita ya semua aktifitas kita lu videoin dari sekarang sampai ngurah rai." Monik mulai meminta bantuan Anto, lebih tepatnya memerintah teman sejawatnya. Tak seperti Alex yang banyak protes, Anto senang saja melakukan apa yang diarahkan Monik dan Intan.
"Re, sebentar ya, nanti baru kita ngobrol senang-senang." kata Monik pada Regina yang lebih banyak diamnya. Untung saja ada Mario yang selalu menggandeng tangannya. Alex ditemani Reza sibuk membahas masalah diseputaran bisnis, sesekali Mario menimpali, lumayan seru pembahasan mereka. Rupanya Alex kenal dengan paman Regina, beberapa kali mereka pernah bekerja sama. Tapi Alex tak tau jika perusahaan yang dikelola paman Regina masih milik Papi Mario.
Mereka pun membahas masalah Ranti yang mulai senin besok kembali menjalani terapi, atas permintaan Seno, Alex membantu menghubungi dokter yang merawat Ranti, karena bagaimanapun Seno merasa bersalah. Tentu saja tanpa sepengetahuan Mocca, rupanya selain wajahnya mirip dengan Kiki, Mocca pun sama cemburuan akut apalagi jika ada sangkut pautnya dengan mantan Seno terutama Ranti.
"Nanti di Bali gue kenalin kalian sama Seno dan istrinya. Kita kerumahnya ya, biar dia tau ada korbannya Ranti nih." Alex terkekeh memandang Reza.
"Bisa aja mas Alex, Kiki tuh korban utama." Reza menunjuk istrinya yang tampak sibuk bersama kedua sahabatnya, tetap gaya belatung nangka mereka tak terhindarkan. Mungkin itu daya tarik ketiganya kalau sudah bersama.