I Love You Too

I Love You Too
Titipan Nenek



Nanta memarkirkan kendaraannya didepan rumah Nek Pur, ia dan Ando ikut turun, sekaligus Nanta ingin mengucapkan terima kasih secara langsung pada Nek Pur atas kiriman makanannya.


"Nenek dimana?" teriak Dania setelah mempersilahkan Nanta dan Ando masuk dan duduk diruang tamu.


"Iya sayang, kenapa teriak?" tanya Nenek menghampiri Dania yang sudah berada di ruang keluarga Nenek.


"Ada Kakak Ando, Nenek ingat tidak anaknya Mama Enny." kata Dania pada Nek Pur.


"Ya ampun mana dia." Nenek langsung saja berjalan cepat keruang tamu meninggalkan Dania.


"Jalannya pelan-pelan Nek." teriak Dania, sebelum Nenek muncul Ando pun berdiri berjalan menghampiri Nenek.


"Ya ampun Ando kamu sudah setinggi ini." Nenek memeluk Ando, tampak sekali kangennya. Dulu Ando dan Dania selalu makan siang dirumah Nek Pur, karena orang tua mereka bekerja.


"Nenek apa kabar, terlihat awet muda." kata Ando apa adanya.


"Yah seperti ini lah sakit tua." jawabNenek terkekeh.


"Kakek apa kabar Nek?" tanya Ando lagi.


"Sudah berpulang setahun lalu. Untung sekarang Dania disini, Nenek jadi ada temannya. Bisa bantu Nenek urus kos-kosan juga." kata Nek Pur tersenyum pada Dania yang sudah berdiri disebelahnya.


"Eh ini Nanta ya?" tanya Nenek menunjuk Nanta. Nanta menganggukkan kepalanya sopan, ia juga ikut berdiri dari duduknya menyalami Nenek.


"Aslinya jauh lebih ganteng." kata Nenek lagi membuat Dania terperangah, segitu terkenalnya Nanta sampai Nenek komentar begitu. Nanta dan Ando terkekeh.


"Dania bingung tuh Nek." kata Ando lagi.


"Hahaha dia memang tidak pernah nonton tv." kata Nenek tertawa.


"Nenek tidak mengira kalau yang menolong Dania itu kamu loh." kata Nenek lagi, ia sudah duduk di kursi tamu yang lain pun mengikuti.


"Makasih loh Nek kirimannya. Bundaku suka sekali." kata Nanta pada Nek Pur.


"Alhamdulillah kalau suka." jawab Nenek tertawa senang.


"Apa Nenek terima pesanan?" tanya Nanta pada Nenek.


"Iya Nenek produksi untuk restaurant di hotel A." jawab Nenek bangga.


"Berarti kalau mau beli ada dihotel A ya Nek." tanya Nanta.


"Untuk apa beli, kalau kamu mau tinggal bilang sama Dania langsung Nenek siapkan." jawab Nenek tertawa.


"Soalnya teman Ayah ada yang mau pesan, Nek." jawab Nanta polos.


"Hahaha nanti Nenek siapkan." jawab Nenek memanggil asisten rumah tangganya agar menyiapkan pesanan Nanta.


"Jadi berapa, Nek?" tanya Nanta siap membayar.


"Apanya yang berapa, untuk kamu dan Ando itu selalu gratis.


"Ini untuk teman Ayah." kata Nanta lagi.


"Tidak apa, biar kebagian berkahnya." jawab Nenek tertawa.


"Mana boleh begitu Nek."


"Kata siapa tidak boleh, yang produksi pegawai Nenek, yang punya Nenek terserah Nenek mau kasih siapa." Nanta dan Ando jadi terbahak mendengarnya, Nenek memang tak terbantahkan.


"Aku besok mau ke Malang, Nenek mau apa?" Nanta menawarkan.


"Nanta Nenek titip bla..bla..bla.." mulai Nenek merinci apa saja yang diinginkannya.


"Kemarin kan sudah Nek." protes Dania pada Nek Pur.


"Masih ada yang belum kebagian." jawab Nenek, Nanta kembali terkekeh.


"Catat saja Dan, takut lupa." kata Nanta pada Dania. Dania mulai mencatat apa yang Nenek mau.


"Awas overload." Dania mengingatkan. Nanta tertawa saja, mana mungkin overload, karena pesanan Nenek ini akan dikirimnya lewat kantor Papa.


"Sekaligus alamat sini ya." kata Nanta pada Dania.


"Kenapa pakai alamat?" tanya Dania.


"Takut nyasar." jawab Nanta tertawa.


Setelah urusan titipan Nenek selesai dan Asisten Rumah Tangga sudah meletakkan paket dari Nenek untuk Nanta dan Ando di meja. Maka Nanta pun pamit pulang.


"Untuk teman Ayah dan Keluarga kamu di Malang." kata Nenek menepuk bahu Nanta.


"Eh Dania, coba foto Nenek sama Nanta dan Ando." kata Nenek kemudian. Dania pun tertawa dan mengikuti perintah Nenek.


"Salam buat Mama dan Papa ya Ando." kata Nek Pur pada Ando.


"Iya Nek nanti aku sampaikan." jawab Ando kembali memeluk Nenek.


Nanta sudah tiba dirumah Ayah, ia menyerahkan kembali titipan Nenek pada Bunda.


"Ada yang untuk Papa Andi juga, Bunda." kata Nanta pada Bunda Kiki.


"Kok ada Pepes?" tanya Kiki.


"Ini Pepes di bagi tiga saja untuk kita, Papa Andi dan Popo." kata Nanta, saat mengantar Ando, Mama Ando sudah menyiapkan pesanan Nanta karena Dari pagi Ando sudah Kirim pesan pada Mama.


"Papi Mario juga dong, kasihan tidak kebagian." Bunda Kiki tertawa.


"Ya sudah, Bunda atur sajalah." Nanta ikut tertawa.


"Kamu bisa juga dititipi makanan ya." Bunda merangkul Nanta yang sudah digendongnya sedari bayi.


"Hahaha asal Bunda tahu, Nenek titip banyak makanan dari Malang." Nanta menunjukkan daftar pesanan Nenek. Kiki langsung saja terbahak.


"Menantu idaman sekali kamu." kata Bunda disela tawanya.


"Bunda, Dania itu ternyata anaknya Om Micko." kata Nanta pada Kiki, ia hanya berdua saja karena Ayah Eja masih di kantor menggantikan Papa.


"Yang benar kamu, anaknya siapa?" tanya Kiki dengan herannya, bukan bermaksud menggosipkan Micko tapi ini memang mengejutkan untuk Kiki.


"Mana Nanta tahu, yang kenal Om Micko dari dulu kan Ayah sama Bunda." kata Nanta tertawa melihat ekspresi Bunda Kiki.


"Tapi Bunda tidak mengikuti kisah asmaranya Micko." Kiki jadi ikut tertawa.


"Ini anak istri beneran atau bukan ya." kata Kiki lagi.


"Ih Bunda, memangnya Om Micko itu play boy."


"Tidak tahu." Kiki mengedikkan bahunya


"Nanti tanya Ayah saja." kata Nanta pada Bundanya.


"Iya, Bunda rasa Ayah juga tidak begitu tahu ya. Entah kalau Ayah tidak cerita sama Bunda." kata Kiki lagi.


"Mau aku ajak bertemu Om Micko, Danianya. Tapi Dania belum siap." kata Nanta lagi.


"Mereka tidak ada komunikasi ya?"


"Tidak, sudah sepuluh tahun tidak bertemu." jawab Nanta. Kiki menganggukkan kepalanya iya mengingat-ingat kapan hadir ke acara pernikahan Micko saat itu.


"Jadi kamu pilih Dania atau Wilma?" tanya Bunda terkekeh. Nanta langsung saja mengembang hidungnya.


"Bunda kenapa jadi tanya kesitu sih " Nanta terbahak.


"Kalau kamu tidak jadi sama Wilma, Ame Enji patah hati loh." kata Bunda Kiki lagi.


"Yang penting Wilma dan aku tidak patah hati Bunda." jawab Nanta terbahak.


"Jadi nih sama Wilma?" pancing Kiki lagi.


"Ish apa sih Bunda." Nanta berjalan menjauhi Kiki.


"Ih menghindar lagi, jawab dulu pertanyaan Bunda."


"Bunda maunya Nanta sama siapa?" tanyanya konyol.


"Kenalkan dulu Bunda sama Dania, baru Bunda bisa tentukan pilihan untuk kamu." jawab Kiki tertawa.


"Nanti saja kenalannya, sekalian kita pertemukan dengan Om Micko." kata Nanta memberikan idenya.


"Itu mesti pembahasan panjang Nanta, Bunda tidak tahu kisahnya, takut kesalahan. Kamu tahu keluarga Om Micko itu kusut. Sebenarnya Bunda kasihan sama Oma Misha dan Om Micko, bergelimang harta tapi tidak bisa bergerak bebas."


"Kita besyukur ya Bunda."


"Alhamdulillah, sangat bersyukur." jawab Kiki tersenyum menatap Nanta, jadi teringat Raymond, mereka berdua sangat mirip.