I Love You Too

I Love You Too
Otak Keriting



Selesai sarapan pagi Nanta dan rombongan putuskan untuk kembali ke Jakarta, agar bisa jalan santai, mengingat ada Dania yang hamil, sudah pasti kecepatan laju kendaraan standard saja dan banyak mampirnya juga karena tiap sebentar minta makan dan mau ke toilet.


Nanta dan rombongannya sudah beritahu Deni dan Dini sebelumnya, jika mereka akan pulang ke Jakarta setelah sarapan pagi ini. Barang-barang pun sudah dibawa dimobil, oleh-oleh untuk Papa dan rombongan sudah tertata rapi juga dimobil Mike dan Larry. Lebih berat dan lebih penuh dari sebelumnya yang pasti. Nanta juga sudah hubungi Papa jika ia akan kembali Ke Jakarta pagi ini.


"Terima kasih ya sudah sempatkan diri temani kita." kata Nanta pada Fino dan Femi yang dari kemarin hingga pagi ini mendapat tugas dari Deni dampingi Nanta, Dania juga sahabatnya.


"Sama-sama, kami juga terima kasih, kalian kalau ke Cirebon lagi jangan sungkan hubungi kami." kata Fino ramah.


"Kamu jangan lupa hubungi Rumi." celutuk Mike to the point. Semua tertawa, Rumi nyengir lebar.


"Kalau tidak ada yang ajak, aku tidak sampai ke Cirebon loh." Rumi tertawa.


"Nanti diajak Fino kok." jawab Mike konyol semua langsung rusuh sorak-sorak menggoda Rumi dan Fino.


"Bulan depan kita kembali tugas di Jakarta." Fino beritahu yang lain.


"Cie tambah dekat saja." Kembali Mike menggoda keduanya lalu semua ikutan bercie-cie. Fino dekati Larry lalu,


"Terus pepet Femi." bisik Fino pada Larry yang langsung terbahak mendengarnya.


"Ikuti alur saja, jodoh tidak kemana." Larry ikut berbisik. Ia tidak pernah memaksakan kehendak, prinsipnya kalau jodoh tidak kemana yang penting sudah usaha.


"Apa sih kalian bisik-bisik?" tanya Rumi pada keduanya.


"Fino minta restu Larry dekati kamu." Doni mengarang bebas, semua kembali tertawa.


"Ya ampun Fino bikin aku terharu." Rumi malah menggoda Fino yang gelengkan kepala melihat kejahilan tamu-tamu bosnya ini.


"Berkabarlah kalau di Jakarta, siapa tahu bisa reuni." kata Larry menepuk bahu Fino.


"Reuninya ajak Femi." celutuk Mike membuat Larry terkekeh.


"Berdua saja tidak perlu ada Fino kalau begitu." jawab Larry tertawa.


"Double date lah kalian." kata Nanta nyengir.


"Iya nanti kita atur double date ya." jawab Fino tertawa.


"Hati-hati dijalan ya, kalian terlalu banyak bercanda, jangan hilang konsentrasi." Fino mengingat.


"Siap Pak Dokter." Mike bergaya hormat ala prajurit.


"Harap maklum kita memang begini." Doni terkekeh.


"Kan gue sudah bilang jangan shock Fin." kata Mike lagi.


"Lumayan, tidak sangka atlet nasional kelakuan lawak sekali." kata Fino jujur.


"Mike saja sih yang lawak, kita tidak." jawab Doni.


"Dusta, gue malah ketularan mereka." kata Mike jujur.


"Gue malah susah cari pacar sejak dekat dengan mereka, hilang konsentrasi." kata Larry lagi membuat ketiga temannya kompak kelitiki Larry.


"Beginilah mereka." kata Dania pada Femi dan Fino, lalu tariki suaminya supaya hentikan kerusuhan yang mereka buat, Dona dan Seiqa pun lakukan hal yang sama, hingga Larry terselamatkan.


"Hilang wibawa gue kalau dekat mereka." kata Larry benarkan bajunya yang berantakan, semuanya tertawa.


"Ok hati-hati dijalan." kata Femi tersenyum pada semuanya lalu memandang Larry sesaat begitu bertemu pandang langsung menunduk lagi.


"Berkabar kalau sudah di Jakarta." kata Larry menepuk bahu Femi, lalu segera naiki kendaraannya.


"Sepi lagi deh." kata Femi pada Fino begitu semua sudah masuki kendaraannya.


"Jangan terlalu jual mahal, aku tidak suka waktu semalam kamu bilang lebih baik tidak menikah." Fino kembali menoyor jidat sepupunya lalu berjalan tinggalkan Femi menuju mobilnya. Femi mengusap dahinya sambil ikuti langkah Fino. Larry dan yang lain lihat kelakuan kedua dokter itu langsung tertawa.


"Aku mau dimobil Bang Mike dong." pinta Daniel pada Abangnya.


"Disini saja, ribet deh." Larry omeli adiknya.


"Mereka seru." kata Daniel lagi.


"Bilang saja mau dekati Nanta kan?" tebak Larry.


"Aku kan harus akrab dengan keluarga Balen." jawabnya jujur, Doni tertawa dibuatnya.


"Eh jatuh cinta sama anak empat tahun yang benar saja." Doni gelengkan kepalanya.


"Siapa tahu jodoh, harus jodoh." kata Daniel semangat, Larry lajukan kendaraannya, abaikan keinginan Daniel.


"Dengar ya, sampai Ohio iris kuping gue deh kalau elu tidak jatuh cinta sama teman kampus. Bahkan mungkin sekarang disekolah juga." kata Larry pada adiknya.


"Gue Tek Balen." kata Daniel.


"Balen untuk Redi." jawab Larry.


"Eh, lihat nanti saja jangan ributkan dari sekarang." kata Doni tenangkan keduanya.


"Iya, aneh deh kalian berdua." Dona terkikik geli.


"Gue berpikir logis." jawab Larry.


"Aku juga logis, banyak kok yang jatuh cinta dari bayi, bahkan jatuh cinta sama benda mati. Gue rasa normal gue mau tunggu Balen sampai besar." Daniel memandang Abangnya.


"Kelamaan di asrama lu, jadi aneh." Larry menoyor kepala adiknya.


"I'm serious Leyi, nanti gue bilang sama Papa." kata Daniel pada Abangnya.


"Sakit nih adek gue." Larry terbahak, Daniel mengerucut bibirnya, kenapa tidak percaya sih.


"Biar saja Leyi, kita sama-sama lihat. Lagipula Balen tidak dirugikan Daniel juga." kata Doni pada sahabatnya.


"Iya gaya-gayaan mau tunggu Balen besar dia kira bisa tunggu lima belas tahun mungkin lebih." Larry terbahak.


"Kenapa Redi boleh gue tidak boleh?" tanya Daniel.


"Redi masih masuk akal Daniel, mereka hanya beda usia delapan tahun. Begitu Redi mapan dia bisa langsung lamar Balen." kata Larry pada Daniel.


"Kalau gue bisa mapan dan menunggu Balen, kalian mau kasih apa?" tantang Daniel pada Larry dan Doni.


"Waduh mengajak taruhan." Doni terbahak.


"Jangan gila deh, Balen dijadikan taruhan." omel Larry.


"Bukan Balen yang gue jadikan taruhan tapi keseriusan gue. Kalau gue bisa kalian kasih apa?" tanya Daniel pada Abangnya.


"Ya kasih Balen." jawab Larry terbahak.


"Betul ya, kasih Balen sama gue, meskipun Balen minta jadi istri lu." kata Daniel lagi, Larry menepuk jidat adiknya.


"Minta disembur nih adek gue." kata Larry gelengkan kepalanya.


"Nanti ada lah yang gue kasih, tapi gue tidak berani janji, tiga belas tahun ke depan kan kita tidak tahu jadinya seperti apa." kata Doni pada Daniel.


"Elu bisa selama tiga belas tahun tidak punya pacar?" tanya Larry menyeringai, pikirnya mana bisa begitu, Larry saja Lima bulan sudah rekor.


"Gue bukan elu kan." Daniel terkekeh.


"Buktikan saja." kata Larry lagi.


"Redi bagaimana?" tanya Daniel.


"Redi kan dari awal tidak mau, malah kesal sama Balen." jawab Larry tertawa.


"Kita lihat ya Don, gegayaan bilang mau tunggu tiga belas tahun." kata Larry pada Doni.


"Kalau elu gagal, elu kasih kita apa?" tanya Doni tertawa jahil.


"Apa ya?" Daniel bingung sendiri.


"Harus ada dong, jangan cuma kita saja yang diminta." kata Doni lagi.


"Gue tidak akan gagal." jawabnya tersenyum mantap.


"Nyesal gue ajak dia ketemu Balen." kata Larry pada Doni.


"Biarkan saja kita sama-sama lihat." Doni terkekeh.


"Kak Dona, saksi ya." Daniel memandang Dona.


"Duh berat pembahasan hari ini, semalam gue melihat kerumitan, hari ini kok otak gue berasa keriting." kata Dona gelengkan kepalanya.


"Kak Dona juga ragu?" tanya Daniel. Dona bengong saja bingung mau jawab apa.


"Aku cuma beda dua belas tahun sama Balen." gumam Daniel menghela nafas, bikin Larry ikut menghela nafas.