
"Sayang, Oma kangen sekali loh." peluk Oma pada Balen yang begitu turun dari mobil langsung berlari menghampiri Oma.
"Oma tok disini?" tanya Balen heran.
"Memang Oma disini." jawab Oma Nina terkekeh.
"Temalen dilumah Ayah, sekalang tok di Malan." celoteh Balen sambil tertawa menutup mulutnya, mungkin pikirnya lucu bisa bertemu Oma disini.
"Oma Juda naik sawat, sama Opa?" tanya Balen lagi.
"Iya. Memangnya Balen saja yang naik pesawat, Opa juga dong." sahut Opa yang baru saja keluar dari kamar membawa mainan untuk Balen.
"Nanti naik sawat ladi ya sama Baen." kata Balen terus berceloteh. Semakin gemas saja Raymond dibuatnya.
"Anak kita cerewet begini tidak ya?" kata Raymond pada Roma yang dari tadi terkikik geli melihat ulah Balen. Ia benar-benar merajuk pada Nanta dan membiarkan Nanta bermain bersama Richi.
"Pasti, kan mengikuti bapaknya." sahut Nanta tertawa, Richi membeo seakan mengerti perkataan Nanta ikut terkekeh.
"Balen ini kan duplikat Papa." sambung Nanta lagi.
"Sok tahu kamu." kata Raymond.
"Ih Oma bilang begitu, Kenan versi cewek, iya kan Oma?" Nanta memandang Oma sambil tiduran di sebelah Richi. Kenan tertawa saja saat melihat Oma menganggukkan kepalanya.
"Padahal aku yang hamil sembilan bulan loh." kata Nona setengah protes.
"Ada miripnya juga kok sama Mamon." hibur Nanta tak ingin Nona kecewa.
"Apanya?" tanya Nona ingin tahu.
"Ekspresinya, ajak saja dia bicara pasti ada mimik wajahnya yang seperti Mamon." kata Nanta terkekeh.
"Iya betul." jawab Oma menyetujui, sementara Balen sedang duduk di pangkuan Opa, kalau sedang tidak merajuk mana mau lepas dari Nanta.
"Kerumah Mama jam berapa, Boy?" tanya Kenan pada bujangnya.
"Antarin ya Pa." pintanya manja.
"Kan bisa setir sendiri." sungut Raymond menoyor kepala Nanta yang sok manja.
"Hehehe aku kepikiran kalau bawa mobil dari sini, rencananya mau kebandara nanti pas pulang dari rumah Mama saja." kata Nanta yang ingin menghabiskan weekend ya bersama Mama dan keluarganya.
"Kamu tidak menginap disini dong, tidak seru ah." protes Roma pada Nanta.
"Aduh bagaimana ya, aku jadi bingung." Nanta menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Menginap disini semalam, besok pagi sampai minggu malam dirumah Mama." kata Oma buka suara.
"Tuh mau durhaka sama Oma?" tanya Raymond terkekeh.
"Hahaha mana berani aku mengecewakan Oma. Mestinya biar adil kalau begini Papa sewa Villa di Batu, ajak Mama dan Om Bagus juga. Kita semua menginap di satu tempat, jadi aku kan tidak bingung seperti sekarang." kata Nanta mengeluarkan isi kepalanya.
"Ray, pesan tempat dong." perintah Kenan pada Raymond.
"Aku ajak Papa dan Tante Mita juga ya." kata Nona semangat, benar juga apa yang Nanta bilang, jadi mereka tidak pusing harus kesana kemari dengan waktu liburan yang mepet begini.
"Ya sudah tuh hubungi dulu deh Tante Tari dan Opa Baron, tempat sudah ready tinggal minta dirapikan." kata Raymond pada Nanta dan Nona. Ketiganya langsung sibuk dengan handphonenya, dan berisik sekali saat mereka berbicara masing-masing dengan lawan bicaranya
"Villa ready." kata Raymond menutup sambungan teleponnya.
"Satu rumah kan Ray, jangan hotel." kata Nona lagi.
"Iya, Om Kenan juga tahu." jawab Raymond.
"Bilang Papa ditempat biasa di Batu. Mama kasih tahu ya Boy, yang biasa acara kantor kita." kata Kenan menghampiri Richi dan mengajaknya bercanda. Richi melonjak-lonjak kegirangan dihampiri Papanya.
"Cucu Mama baru kepikiran. Makanan tinggal pesan saja gampang." jawab Kenan menepuk bahu Nanta.
"Aku suka sekali lihat gaya Richi disini." kata Nanta menunjuk foto Richi yang terpasang di lemari dinding Roma.
"Iya aku juga suka, makanya aku pajang." kata Roma ikut melihat.
"Seperti Abang ya Dek, main basket." kata Nanta pada Richi. Si Unyil ha ho ha ho saja sambil berdiri memegang bahu Nanta. Sudah mulai bisa jalan beberapa langkah tapi masih oleng.
"Nanti umur empat tahun Abang latih basket kamu, Dek." kata Nanti lagi memegangi Richi yang melangkah mengelilingi Nanta.
"Tanya Mamanya dulu dong, boleh apa tidak." kata Roma melirik Nona sambil tersenyum.
"Boleh dong kalau abangnya yang mau." jawab Nona terkekeh, saat mainan Richi dirumah selalu berhubungan dengan basket saja Nona pasrah. Tapi memang lucu jadinya, Nanta membelikan Richi Ring Basket, Bola Basket, Topi basket, bahkan pernah Richi memakai kaos basket juga dibelikan Nanta.
"Memangnya empat tahun sudah bisa diajak main basket?" tanya Raymond pada Nanta.
"Bisa dong Bang Ray, umur empat tahun saja ada yang sudah diajarkan hitung dollar, itu juga bisa kan?" jawab Nanta terkekeh, teringat cerita Ayah saat Raymond kecil mendapat THR dollar dari Papi Mario, tampak bingung karena berbeda dengan THR dari yang lain.
"Hahaha apanya yang bisa, dollarnya ada yang tukar waktu itu." jawab Raymond terbahak.
"Kamu tidak ikhlas, Boy? itu sudah puluhan tahun lalu loh." Kenan ikut terbahak.
"Aku ikhlas Om, karena waktu itu belum tahu kalau Papi kasih aku lima lembar uang seratus USD." jawab Raymond tertawa ingat Om Kenan menukar uang dollarnya dengan uang seratus ribuan lima lembar.
"Sama-sama lima lembar kan? Ayahmu juga tidak marah tuh." jawab Kenan terkekeh.
"Hahaha iya Oma juga ingat itu." Oma Nina ikut terbahak.
"Menang banyak dong Papa." kata Nanta pada Papanya.
"Apanya yang menang banyak, Ayah Eja langsung potong gaji Papa setelah itu." jawab Kenan kembali terbahak, mereka semua tertawa ingat kejadian itu.
"Apa sih pada tawa?" tanya Balen yang tidak mengerti pembicaraan orang dewasa, ia mendekat pada Nanta.
"Kita mau menginap di Villa, dingin loh Balen nanti pakai jacket ya." kata Nona pada putrinya.
"Yah." jawab Balen kembali sibuk dengan mainannya yang tadi Opa berikan.
"Masih musuhan sama Abang tidak nih Singkongnya Abang?" tanya Nanta memeluk Balen, tidak rela rasanya melihat Balen lama merajuk.
"Ndak." jawabnya tanpa melihat Nanta.
"Beneran, kita baikan ya." kata Nanta lagi.
"Yah." jawab Balen terkekeh.
"Kiss dulu Abang." Nanta kembali menunjuk pipinya. Balen mengikuti mencium Pipi Kiri Nanta, kembali Nanta menunjuk pipinya yang kanan. Balen pun mengikuti mencium pipi kanan Nanta dengan susah payah karena posisinya cukup jauh.
"Balen sayang Abang tidak?" tanya Nanta kemudian.
"Tayang Aban don." kata Balen lagi sambil terkikik.
"Abang siapa? nanti seperti dimobil lagi." dengus Nanta menciumi pipi Balen gemas.
"Tayang Aban Lemon." jawab Balen terbahak berlari meninggalkan Nanta memeluk Opa. Semua tertawa melihat Balen mengerjai abangnya.
"Tuh kalau lagi tengil begini mirip Mamon kan?" kata Nanta menatap Nona disela tawanya.
"Aku tidak jahil begitu Nanta." Nona terbahak hingga air matanya keluar.
"Jahilnya seperti Papa dan Bang Ray, tengilnya seperti Mamon." jawab Nanta, sementara Kenan masih tertawa geli sambil menggelengkan kepalanya. Tidak percaya bocilnya bisa sejahil ini.