
"Mas Seno aku rasa kamu perlu menyelasaikan masalahmu dengan Ranti, mungkin masih ada ganjalan. Temuilah dia, aku ga mau masalah ini berlarut-larut." kata Mocca tiba-tiba membuat semua yang mendengarnya terpana.
"Kamu yakin?" tanya Seno tak percaya.
"Ya, aku ga suka bahasanya di chat yang memojokkan aku, seakan aku benar seorang pengganggu. Coba kamu luruskan supaya ga ada chat aneh seperti ini. Aku ga mau ganti nomor lagi karena aku bukan penjahat."
"Kalau aku ketemu Ranti, aku mau kamu menemani." kata Seno tak mau menambah masalah. Khawatir terjadi fitnah jika ia menemui Ranti begitu saja. Urusannya dengan Ranti sudah selesai, tapi Seno juga tak mau Mocca menjadi tertuduh.
"Ga mungkin aku ajak baby yang baru dua minggu naik pesawat, kalaupun dokter mengijinkan aku ga tega. Biar Mas Alex sama Mas Anto yang menemani, aku juga ga mau kamu ketemu Ranti tanpa ada saksi. Pergilah, maksimal dua hari jangan lebih."
"Baiklah kalau mau mu begitu, ku usahakan satu hari." Seno menyanggupi permintaan istrinya. Meluruskan masalah yang ada, menjelaskan pada Ranti bahwa Mocca tak pernah merebut Seno darinya, mereka sudah berpisah sebelum Seno dan Mocca menikah. Kesalahannya Mocca hamil ketika Seno dan Ranti masih bersama. Tapi Mocca menolak ketika Seno ingin bertanggung jawab. Mocca bersikeras membesarkan anaknya sendiri dan membiarkan Seno menjalankan rencananya menikah dengan Ranti, sampai akhirnya Seno memergoki Ranti bermesraan dengan Chandra sahabat Anto.
"Jumat pagi aku ke Jakarta, kosongkan jadwal kalian ya." pinta Seno pada Alex dan Anto.
"Kamis aja bro kenapa jumat, sabtu jadwal gue full dirumah mertua." Anto menyampaikan keberatannya. Memang sabtu besok keluarga besar Intan akan berkumpul dan makan siang bersama, sekalian ada arisan keluarga sambil mengenalkan Anto pada keluarga yang tak sempat datang sewaktu acara pernikahan.
"Gue balik hari bro, jumat pagi gue sudah di Jakarta, sore jam empat gue sudah harus di Bali."
"Kenapa begitu? mana keburu mas, habis Sholat jumat kamu sudah dibandara lagi." Mocca menghitung waktu yang dibutuhkan suaminya.
"Ga seharian juga kan aku ketemu Ranti."
"Tapi ga terburu-buru juga. Kamu kan ga tau bisa apa tidak langsung ketemu Ranti, kamu juga harus menemui Chandra mas. Ada apa antara dia dengan Ranti waktu itu."
"Duh males banget ya, sebenarnya bukan urusan gue kan masalah Ranti sama Chandra." sungut Seno tak mau terlibat lebih jauh.
"Kalau bisa meluruskan masalah yang ada, ga ada salahnya ketemu dan ngobrol dengan Chandra. Nanti jumat pagi gue undang dia ke kantor. Gue atur jadwal meeting kita jam sembilan ya. Setelah itu baru kita menemui Ranti."
"Lu mau ikut ketemu Ranti, Ja?" tanya Anto, dengan cepat Reza menggelengkan kepalanya.
"Mungkin ada yang mau lu jelaskan." kata Alex lagi.
"Apa yang mau dijelaskan Mas, aku ketemu Ranti cuma satu kali, itu pun urusan pekerjaan. Anggap aja aku ga pernah kenal Ranti mas, sudah ku blokir juga nomor handphonenya. Kerjasama kami pun sudah berakhir." jawab Reza dengan tegas menolak bertemu dengan Ranti. Bukannya menyelesaikan masalah, tapi akan menambah masalah pikirnya.
"Sabar ya Ki, kamu jadi korban karena wajah kita mirip." Mocca tersenyum memandang wajah adik sepupunya. Kiki balas tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Beda sekali kamu sama Wina, Ki. Wina tuh ngoceh terus, kamu banyakan diamnya. Setiap aku kerumah ga pernah ketemu kamu, dikamar aja ya kerjamu, ada tamupun ga keluar kamar." kata Mocca lagi mengingat saat beberapa kali ia datang ke rumah Ririn tak melihat Kiki disana.
"Teman Kak Wina yang perempuan biasanya langsung masuk ke kamar kalau datang, mungkin kak Koka juga begitu. Makanya kita ga pernah ketemu."
"Iya, kalau datang pasti begitu, kita curhat dikamar, papa mama ngobrol diruang keluarga." Mocca terkekeh mengingat masa remajanya.
"Kiki jangan suruh ngobrol Ka, suruh nyanyi aja suaranya bagus." Anto mempromosikan sahabat istrinya.
"Lu orbitin lah Lex." sahut Seno yang belum pernah melihat aksi panggung Kiki di media sosial.
"Sama kan mas Alex juga ga ijinin Monik lanjutin karirnya." sahut reza terkekeh, Alex pun ikut terkekeh.
"Iya lah istri mau ngapain sih sibuk diluar, nanti suami pulang yang sambut cuma ART, sampai rumah ribut, sudah capek duit ga seberapa , pahala juga ga dapat." Mario ikut bersuara menyampaikan apa yang ada dipikirannya.
"Hmm pasti Regina juga diminta jadi Ibu Rumah Tangga juga ya Kak?" tanya Monik pada Mario, Mario pun menggelengkan kepalanya.
"Boleh kok Rere buka usaha, tapi gue maunya dia sudah dirumah duluan, perginya juga belakangan. Pokoknya urus gue dulu baru aktifitas, nah silahkan berfikir mau aktifitas apa kalau begitu." Mario tersenyum memandang istrinya.
"Ya Shopping, arisan paling gampang itu sih Re, Gue rasa Mario rela uangnya lu puter kesitu." Mocca memprovokasi sambil tertawa.
"Itu sih bukan diputer sayang, tapi dihabiskan." Seno terbahak mendengar saran istrinya.
Suasana yang hangat dan akrab membuat mereka tak sadar waktu sudah menjelang sore, setelah ngobrol kesana kemari dan menyelipkan pembahasan bisnis sedikit, mereka pun pamit pulang.
"Jangan lupa ya pikirkan Warung Elite buka cabang disini, gue siap bantu." Seno kembali mengingatkan ketika mereka akan menaiki mobil.
"Nanti kita bahas sama Erwin dan Andi dulu mas, nanti kita kabarin." jawab Mari, Reza pun mengiyakan. Meskipun sudah tau jawabannya bahwa mereka tak mau ada campur tangan pihak lain dalam bisnis mereka berempat, meskipun Seno iparnya sendiri.
"Market di Bali sih oke, tapi banyak yang harus kita pertimbangkan, karena pangsa pasar disini turis ya, sementara kita pangsa pasarnya anak muda yang suka ke club tapi ga suka minuman keras." kata Reza dalam perjalanan dari rumah Seno.
"Iya lagian ga kepegang juga kalau luar kota, kita kan juga bakal urus kerjaan bokap friend." Mario mengingatkan, sementara Alex dan Anto menjadi pendengar yang baik tak mau ikut campur urusan bisnis.
Kiki, Monik, Intan dan Regina sibuk dengan pembahasan mereka sendiri. Apa saja yang mereka lihat dijalan jadi bahan obrolan. Tak terlihat beban pada mereka karena dilarang suami melanjutkan pekerjaan yang mereka tekuni saat ini. Apalagi ATM suami sudah ditangan mereka, meskipun lebih enak punya uang sendiri tapi menuruti keinginan suami bukankah lebih besar pahalanya.
"Re enak banget sudah selesai kuliahnya, kamu ambil jurusan apa kemarin itu?"
"Fashion design." jawab Regina singkat.
"Wah kamu bisa realisasikan design kamu Re, bikin brand sendiri, nanti kita bertiga bantu deh. Ga usah endors kan sudah ga boleh, tapi bantu teman pasti boleh." Monik memberi ide dengan semangat.
"Nah bisa dong bikin model yang sesuai dengan bentuk badan kita." Intan tak kalah semangat.
"Asik buka butik aja Re." Kiki ikut memberi ide. Memang dasar mereka bertiga ada saja idenya, para suami yang tak sengaja mendengar mau tak mau menghentikan pembicaraan mereka dan mulai menyimak pembahasan para Istri.
"Bisa kan begitu, pasti kak Rio setuju, iya kan kak?" tanya Kiki polos.
"Nanti waktu kerja kan bisa Rere atur." kata Monik lagi.
Regina menatap Mario meminta persetujuan.
"Iya minggu depan kita cari tempat." jawab Mario akhirnya menyetujui.
"Yeaayyyy." teriak keempat Nyonya Boss memekikkan telinga, Mario menggelengkan kepalanya, Regina sudah mulai ketularan para belatung nangka.