
Cuaca cerah mendukung aktifitas endors rasa liburan mereka. Semula Monik sudah menyarankan agar para suami hari ini boleh memiliki acaranya sendiri, karena khawatir suami mereka merasa diabaikan karena hari ini mereka akan sibuk dengan video endors, tentu saja Monik meminta Regina bergabung dengannya. Tapi posesifer, si para suami tak mau melepaskan istri mereka begitu saja, dengan suka rela dan tanpa ragu mereka ikut naik kedalam mobil hi ace yang sudah menjemput mereka.
Tentu saja dengan perjanjian tak boleh mengeluh, karena dari pagi Monik sudah pusing dengan keluhan Alex yang maunya serba lux, padahal pangsa pasar dari Travel yang dijual ini adalah paket liburan ekonomis.
"Teti ga ikut jemput mas?" tanya Monik pada supir merangkap guide.
"Bu Teti menunggu di Restaurant bu. kebetulan ada tamu yang lain juga pagi ini, jadi nanti mulai makan siang dan seterusnya baru bisa menemani" jawab pak supir sopan.
"Pak tapi kita sudah lapar nih, mau sarapan udah lewat ya, makan siang juga belum waktunya. Cariin tempat jajan enak aja pak."
"Maaf bu saya lupa di bangku belakang sudah ada makanan kecil titipan Bu Teti. Bisa dimakan dulu sambil menuju tempat yang Ibu minta." kata pak Supir
"Ooh ini buat kita pak, dari tadi gue liatin aja nunggu ditawarin." Mario terkekeh mengambil snackbox dan mulai mendistribusikannya.
"Ada telur rebus juga nih di kotak, kalau ada yang mau bilang ya. Tapi jangan buang angin dimobil bisa ga. Kebayang aromanya kaya gimana kan?" kata Anto sambil mengangkat sekotak telur rebus yang sudah disediakan. Semua tertawa dibuatnya.
"Makan telur rebus aja sekarang, nanti langsung cari pom bensin ya pak biar pada bebas buang angin ditoilet." sahut Intan serius memberi ide. Semua tertawa dan Alex serta yang lain pun mulai memakan telur rebus langsung dua butir.
"Langsung ke destinasi pertama aja pak, kayanya sudah pada kenyang ini kalau nyemil lagi ga makan siang nanti." kata Alex mengarahkan pak Supir, yang lain mengiyakan.
Destinasi pertama sesuai perjanjian mereka menuju Kintamani dan akan makan siang disana. Perjalanan menuju Kintamani memakan waktu satu jam, sambil menunggu waktu makan siang guide mengajak mereka mampir ke taman ngurah rai berpose disana, lalu mampir sebentar di pantai sanur kembali berpose, kemudian mampir lagi ke big garden corner pastinya untuk berpose barulah fokus menuju Kintamani. Karena banyak turunnya tentu Kiki tak sampai tertidur di mobil apalagi interaksi Intan dan Anto selalu mengundang tawa seisi mobil.
Drrrtttt....drrrtttf.. handphone Kiki berdering, ups Kiki minta dikutuk jadi batu, ia lupa mengabarkan Mama kalau sudah tiba di bali.
"Assalamualaikum sayang sudah sampai Bali?" tanya mama Ririn pada anaknya.
"Waalaikumusalaam sudah ma, aku menuju Kintamani, maaf mau ngabarin Mama dari tadi sibuk bikin video." Kiki beralasan, padahal sempat saja kalau ia mau meluangkan waktunya sebentar.
"Alhamdulillah, mama lupa kasih tau kamu, anaknya Om Tio ada yang tinggal dibali loh, suaminya punya usaha disana. Kamu kalau sempat mampirlah kerumahnya. Kenalan dengan kakakmu. Kebetulan Om Tio lagi mengantar tante berobat di S'Pore. Dia pesan kamu harus mengunjungi kakakmu dan keponakanmu yang lucu-lucu. Kakakmu sedang menunggu kabar dari kamu ya nak. Mama kirim nomor handphonenya." Mama Ririn menutup sambungan teleponnya. Om Tio sepupu mama yang tinggal di Surabaya. Kiki ingat kalau tugas ke Jakarta Om Tio selalu mengabarkan dan menyempatkan diri untuk ketemu Mama dan Papa walaupun sekedar bertemu di lobby hotel.
Kiki menarik nafas panjang. Harus berkenalan dengan kakak sepupunya bukan hal yang mudah untuk Kiki yang selalu bingung untuk memulai suatu percakapan. Tak lama pesan dari mama Ririn diterima. Kontak Koka berikut nomor teleponnya.
"Kenapa dek?" tanya Reza ingin tahu.
"Ternyata ada anaknya om Tio sepupu mama yang tinggal disini. Kita disuruh mampir kenalan. Ini nomor handphonenya. Aku disuruh hubungi. Gimana kak?" tanya Kiki bingung.
"Kirim pesan aja, perkenalkan diri dan kasih tau kamu lagi dibali. Nanti kalau dia suruh mampir dan kasih alamat, kalau sempat kita mampir sebentar. Mas Alex juga mau ajak kita kerumah temannya. Jadi mas?"
"Jadi Ja, gue sudah hubungi besok kita makan siang dirumahnya, setelah dari rumah seno aja ke rumah saudara Kiki." Alex menyarankan.
"Honeymoon rasa lebaran ini ya, silahturahmi kita." celutuk Intan membuat semua terbahak.
Kiki segera menghubungi kakak sepupunya, kalau tak sigap bisa di sidak mama lagi. Walaupun sudah jadi istri tetap tak berkutik dengan mamanya.
"Assalamualaikum kak Koka aku Kiki anaknya mama Ririn, disuruh om Tio hubungi kak Koka." begitulah cara Kiki memperkenalkan diri.
"Waalaikumusalaam Ki, sudah di Bali ya. Kapan mau mampir?"
"Aku berdelapan sama suami dan temanku kak."
"Oh iya ga papa, kabari mau mampir kapan nanti aku siapkan makan siang. Mau makan malam juga boleh."
"Ga usah repot kak."
"Ga repot Ki yang masak bukan aku. Tenang aja."
"Ok. Jl. xxxx blok xx nomor x. Ditunggu ya."
"Iya kak, Makasih."
Kiki mengakhiri percapannya dengan Koka kemudian memberikan handphonenya untuk dibaca Reza.
"Alamatnya disini mas." Reza menunjukkan handphonenya pada Alex yang membacanya sekilas kemudian menganggukan kepalanya.
"Dekat rumah Seno itu. Bilang sepupumu ga usah masak, Seno akan menyiapkan kita makan siang besok. Ga mungkin kita makan malam dirumah sepupumu Ki, rumah mereka berdekatan."
"Eh lucu kalau ternyata Koka dan Mocca orang yang sama." Mario terkekeh.
"Ish bukan kak Rio, namanya aja yang mirip."
"Hahaha gue cuma membayangkan. Kata mas Alex dan Anto kan kalian mirip mungkin aja sepupuan."
"Coba lihat alamatnya." Alex mulai tertarik, seperti membenarkan ucapan Mario. Reza memberikan handphone Kiki yang masih ditangannya untuk dibaca Alex.
Alex menghubungi Seno, tak lama,
..............................
"Lagi flu bro?"
..............................
"Lu tau alamat Jl.xxx blok xx no x bro, habis dari rumah lu kita mau ke sana."
............................
"Hahahaha Koka tuh siapanya mocca bro?"
............................
"Bro bilangin mocca, sepupunya lagi sama gue. Besok gue antar kerumah ya."
Alex menutup sambungan teleponnya, tanpa diceritakan yang lain pun tertawa. Benar saja hayalan Mario.
"Pantas aja mirip ya, saudaranya ternyata." celutuk Anto masih terkekeh.
"Kasihan Ranti, Rivalnya sepupuan ternyata. Bisa-bisanya Ranti naksir Reza dan ketemu Kiki. Nasib amat ya." Intan seakan prihatin menimpali celutukan suaminya.
"Ga sanggup jadi Ranti." Monik mulai drama.
"Apaan sih sebut-sebut Ranti, keselek anak orang nanti." gerutu Kiki merasa terganggu.
"Yang ga sanggup ketemu Ranti kamu ya Ki. Dia serang kamu begitu." Regina ikut bersuara
"Kalau kamu yang temani Kiki waktu itu kamu apakan Ranti?" tanya Mario iseng, karena belum pernah melihat Regina emosi.
"Mungkin aku ajak Kiki keluar cepat-cepat. Orang seperti itu menakutkan." jawab Regina mengedikkan bahunya.