I Love You Too

I Love You Too
Menjaga Dania



"Morning..." sapa Nanta saat melihat Dania membuka matanya. Mereka berempat tidur dalam satu kamar, karena Wilma tidak mau ditinggal, ia khawatir Dania tengah malam akan pingsan lagi. Sementara sekarang gadis tengil itu tertidur pulas diatas sajadah dengan mukena menutupi tubuhnya.


"Morning, Mas Nanta sudah mandi?" tanya Dania, rupanya hanya Dania yang bangun kesiangan. Efek lelah semalam dan obat yang diberikan dokter padanya.


"Sudah dong, kan tadi kemesjid." jawab Nanta terkekeh.


"Oh ya? sholat shubuh ke mesjid sama siapa?"


"Sama Ando, Om Bagus dan Om Micko." jawab Nanta tersenyum dengan manisnya.


"Papa dimana?" tanya Dania mencari Papanya.


"Dikamarnya, mau kupanggil?"


"Tidak usah, aku mau mandi dulu." jawab Dania tersenyum manis meskipun rambutnya awut-awutan tetap saja terlihat cantik, apalagi sisa makeup semalam belum dibersihkan.


"Sudah bisa berjalan normal? masih lemas tidak?" Nanta tampak khawatir. Dania mencoba berdiri perlahan, setelah dirasa aman ia pun mulai berjalan menuju kamar mandi.


"Kalian tidur di karpet, bubar jam berapa semalam?" tanya Dania, ia benar-benar pulas hingga tidak tahu Papa dan Om Kenan keluar kamar semalam. Tidak sadar juga jika Nanta dan Ando ikut menemani dikamar.


"Hu uh. Jam satu malam baru pada pulang" Jawab Ando yang sudah wangi juga, dia sudah mandi.


"Aku saja yang sholat shubuhnya terlambat." Dania memonyongkan bibirnya.


"Masih bisa kok, ayo cepat mandi." kata Nanta pada Dania, hari masih pukul 5.30 wib.


"Sudah bisa ditinggal kan? kami kekamar ya, nanti kalau sudah mau turun sarapan kabari saja." kata Nanta pada Dania, mereka bertukar kamar karena Dania sudah tidur pulas.


"Mas Nanta, koper aku masih dikamar ya."


"Sudah kubawa semalam sama koper cintaku juga." sahut Ando membuat Nanta dan Dania terkikik. Gaya sekali Ando sudah bisa bilang cintaku. Sementara yang dipanggil cintaku itu sedang tidur dalam kondisi menganga mulutnya, saking pulasnya.


"Makasih Kakak Ando." Dania tersenyum manis.


"Sama-sama Nia. Eh calon istri gue tidurnya gitu amat ya." Ando terkekeh melihat ekspresi wajah Wilma yang sangat pulas dan tidak beraturan.


"Tutup mulutnya pakai tisu biar tidak ileran." kata Nanta membuat yang lainnya terbahak.


"Ah bercanda terus, aku mandi ya. Nanti tinggal saja." Dania menuju kamar mandi sambil tertawa. Nanta dan Ando pun keluar kamar para gadis, menuju kekamar mereka. Butuh kasur untuk meluruskan badan, walau tidur di karpet empuk tetap saja kasur sudah paling juara.


"Nan, Om Micko dan Papon kenapa mengijinkan kita tidur dikamar para gadis, padahal kan itu bahaya." kata Ando begitu mereka sudah merebahkan badan dikasur kamar.


"Karena kita harus menjaga Dania kan? lagi pula kita kan tidak macam-macam." jawab Nanta santai.


"Kalau Bokap gue pasti tidak akan mengijinkan." kata Ando tertawa.


"Soalnya Bokap lu tahu, elu otaknya mesum." jawab Nanta terbahak.


"Sue, gue dibilang mesum, eh tapi betul juga lihat Wilma tidur tadi gemas sekali." Ando jadi teringat Wilma.


"Makanya gue ajak pindah kamar lu." Nanta kembali tertawa, walaupun pintar dan rajin belajar, Ando kocak juga. Ada saja kelakuannya yang membuat Nanta tertawa.


"Mau sarapan jam berapa?" tanya Ando pada Nanta.


"Baru jam enam kurang Om, belum buka restaurantnya." jawab Nanta menguap.


"Elu ngantuk, Nan?"


"Hu uh, semalam tidak bisa tidur." jawab Nanta jujur.


"Gue kok pulas ya." Ando terkekeh.


"Samanya elu sama Wilma, asal nempel dimana saja bisa langsung molor." jawab Nanta tertawa.


"Ya sudah kita tidur dulu lah jam delapan saja sarapannya." kata Ando, Nanta pun menganggukkan kepalanya, tidurlah mereka sesuai rencana.


Sebelum tidur Nanta berkirim pesan pada Mama dan Dania jika ia ingin tidur dulu sampai jam delapan, Nanta minta Mama membangunkannya, karena ia ingin sarapan bersama Mama dan Om Bagus juga Wulan. Tari pun mengiyakan, ia tahu Nanta semalamam diminta Micko menjaga Dania, tadi Om Bagus pun sudah melihat wajah mengantuk Nanta saat ke mesjid bersama.


Tepat pukul delapan kamar Nanta dan Ando diketuk, Mama nih, pikir Nanta. Dengan sempoyongan karena baru bangun dan buru-buru menuju ke pintu, Nanta membuka pintu kamar.


"Duh cantik betul sih." kata Nanta spontan saat melihat Dania berdiri di hadapannya.


"Gue bertahun-tahun kenal tidak pernah dibilang cantik, bang." protes Wilma yang berdiri dibelakang Dania.


"Ayo makan." ajak Dania mengabaikan pujian pada Nanta, padahal ia sangat salah tingkah.


"Ando masih tidur." jawab Nanta.


"Eh sudah bangun, aku cuci muka dan sikat gigi dulu." kata Nanta.


"Kalian duluan saja, aku menyusul." sambungnya lagi. Dania menggelengkan kepalanya.


"Kenapa? kalau mau tunggu, masuk saja." kata Nanta akhirnya.


"Takut bertemu Papa dan keluarganya. Aku canggung kalau tidak ada Mas Nanta." jawab Dania khawatir.


"Oh nanti ada Om Bagus dan Mamaku juga kok." jawab Nanta, ia pun masuk meninggalkan Dania dan Wilma yang berdiri didepan pintu, segera menutup pintu kamar mandi.


"Cintaku sini dong." teriak Ando yang masih bermalas-malasan dikasur.


"Kamu bangun dong, masa dikasur terus." Wilma melempar bantal ke badan Ando.


"Ih kasar sekali." Ando terkekeh.


"Kakak Ando ayo siap-siap." Dania merengek pada Ando, manja juga rupanya.


"Sabar ya, kan toiletnya lagi dipakai Nanta." kata Ando terkekeh.


"Ya bangunlah jangan tidur begitu." protes Wilma sambil duduk disofa kamar.


"Iya sayang." Ando pun menurut, bangun dari tidurnya dan duduk dipinggiran kasur.


"Ndo, memangnya tadi tidur gue bagaimana? kata Dania kalian tertawakan aku." tanya Wilma pada Ando.


"Kamu hanya menganga." jawab Ando sambil memeragakan gaya tidur Wilma.


"Ish jelek betul sih." Wilma bergidik ngeri.


"Memang begitu." jawab Ando tertawa, berdiri dan duduk disamping Wilma.


"Ih jangan dekat-dekat belum mandi." Wilma menutup hidungnya.


"Enak saja, tadi kan kamu lihat sendiri aku mandi sebelum sholat shubuh."


"Hihi iya aku bercanda. Tapi tidurku seperti tadi kamu tidak masalah kan?"


"Masalah kenapa?" tanya Ando bingung.


"Takut kamu berubah pikiran, tidak jadi menjadikan aku istri." kata Wilma konyol, Dania terbahak mendengarnya.


"Ih itu sih cita-cita Bang Ando dari dulu menikah denganmu. Tidur kamu tadi menggemaskan tahu?"


"Menggemaskan apanya?" Dania terkekeh.


"Ingin cium bibirnya." jawab Ando membuat Wilma memukulkan bantalan kursi pada bahu Ando.


"Itu sih modus." sahut Nanta yang baru keluar dari kamar mandi.


"Sana cepat siap-siap." Nanta mendorong tubuh sahabatnya.


"Tadi dia cepat kuajak pindah kamar, karena terus saja memandang wajah cintanya." 'Nanta tertawa pada Dania dan Wilma.


"Cintanya tuh gue kan?" Wilma tersenyum penuh percaya diri.


"Ih masih kecil sudah cinta-cinta." Nanta bergidik menggoda Wilma.


"Ish iri bilang Bang." Wilma menjulurkan lidahnya pada Nanta.


"Nanti kalau Daddy tahu bagaimana?" tanya Nanta tertawa.


"Eh kan gue bilang ke Malang mau pedekate sama nyokap elu, Bang." jawab Wilma terbahak.


"Eh sembarangan, kamu bilang begitu?" tanya Nanta membesarkan bola matanya.


"Iya." jawab Wilma masih tertawa puas. Dania menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya Wilma bilang begitu, padahal selama Wilma dekat Ando, Dania hanya mendengarkan mereka berkata-kata mesra.


"Tenang, Dan. Nanti gue bilang Bang Nanta keburu diambil orang, gue telat."


"Siapa orangnya?" tanya Dania.


"Ya elu lah, siapa lagi, cuma elu yang bisa jadi barang bukti." jawab Wilma membuat Nanta kembali mendorong jidat Wilma dengan telunjuknya.