I Love You Too

I Love You Too
Kampungan



"Besok makan di Sari Rasa dong." pinta salah seorang teman Nanta, menyebut Nama restaurant Indonesia yang lain di Abu Dhabi.


"Ada menu apa disana?" tanya Nanta penasaran, kalau sudah sebut restaurant Indonesia di negara orang rasanya langsung ingin melompat kesana sekarang saja.


"Ada Pempek, Batagor, gado-gado, Sate ayam banyak. Dekat sini juga kok." jawab teman Nanta yang lain, sudah seperti brand ambassador restaurant tersebut saja.


'Kamu mau?" tanya Nanta pada istrinya, Nanta mau tapi ia tanya dulu sama Dania, siapa tahu Dania maunya kesini lagi.


"Batagor mau." jawab Dania, duh masih besok ya, tapi jadi pengen makan batagor sekarang Dania tuh, langsung saja ia menelan air liurnya.


"Sudah ngiler saja bayangkan batagor." Nanta tertawa pandangi wajah istrinya.


"Besok acara bebas kah?" tanya Doni pada Pak Jaya.


"Bebas bertanggung jawab." jawab Pak Jaya tertawa, masih ada acara lain yang belum ia sebutkan pada anak-anaknya ini.


"Mau kepantai Corniche? dipinggiran kota Abu Dhabi." Larry menawarkan sahabatnya dan temannya yang lain.


"Dijakarta juga ada pantai, buat apa cari pantai di sini." jawab Mike malas, sudah kotanya panas masa harus ke pantai sih pikir Mike dalam hati.


"Boleh saja kalau mau ke pantai, tapi lihat sunset." jawab Dania mengajukan syarat, Deni mengangguk saja. Ikuti saja maunya keponakan yang satu ini, lagi hamil mood dan fisiknya Bagus saja Deni sudah senang. Selain ada Dini yang membuatnya lebih senang lagi.


"Ibu hamil ini banyak maunya ya." celutuk Mike membuat Dania tersenyum pada sepupunya.


"Panas kalau siang, Bang." jawab Dania pada Mike lalu memandang suaminya mencari suaka.


"Iya sore saja. Besok sore boleh acara bebas kan Pak?" tanya Nanta lagi, pastikan dulu pada penanggung jawab, jangan sampai Nanta dapat teguran dari Federasi Basket Indonesia.


"Ajak semua dong, kenapa minta acara bebas terus sih?" sungut Pak Jaya membuat yang lainnya bersorak. Duh ini restaurant jadi rusuh karena kehadiran mereka.


"Oke Coach siap" jawab Nanta semangat. Pak Jaya jadi tertawa, Nanta seperti anak kecil yang minta dicubit.


"Begini nih kalau keluarganya ikut, maunya sama keluarga saja. Lain kali khusus Nanta tidak boleh bawa keluargalah kalau pikirannya mau acara bebas terus." kata Pak Jaya lagi bercanda, Nanta jadi menunduk senyam-senyum.


"Iya maaf." jawab Mike mewakili Nanta sambil cengar-cengir.


"Kenapa kamu yang minta maaf?" tanya Pak Jaya.


"Karena ada sepupu aku kan disini." jawabnya terkekeh, merasa membawa keluarga. Nanta jadi ikut tertawa dan mereka berdua saling tos, kompak sekali.


"Besok pagi ada konferensi pers, Nanta dan Larry dampingi Coach Martin." perintah Pak Jaya sebelum mereka kembali Ke hotel, satu persatu sudah masuk kedalam bus.


"Siap!" jawab Larry bergaya ala patriot, beda dengan Nanta yang pasrah menganggukkan kepalanya saja, walau ia tidak begitu suka berhadapan dengan kamera, tetap harus ikut perintah, lagi pula tadi juga sudah diwawancarai bersama Istrinya, bukan bermaksud ingin terkenal, harapan Nanta supaya bisa melindungi Dania dari orang yang ingin mengganggunya termasuk Om Peter.


"Aku naik bus ya Dan, sampai jumpa di hotel." Nanta mengerlingkan matanya pada Dania, genit sekali seperti sedang menggoda.


"Iya." jawab Dania senyum lebar, baru kali ini melihat suaminya begitu.


"Kita mau ke Mal dulu." kata Dini pada Nanta.


"Wah mau belanja ya, kasihan nanti Istriku kelelahan, antarkan ke hotel dulu saja baru yang lain ke Mal, kalau Dania mau belanja bisa titip kan." kata Nanta memohon pada Om Deni dan Kak Dini.


"Kamu betul kasihan khawatir Dania kelelehan atau mau dekat-dekat berduaan dengan Dania terus?" Deni menatap Nanta curiga sekaligus menggoda keponakannya ini.


"Hehehe Om Deni, kan sudah selesai bertandingnya, sudah boleh dekat-dekat istri dong." Nanta cengengesan. Deni langsung saja tertawa dibuatnya.


"Ya sudah kembali ke hotel dulu, nanti kita baru jalan berdua saja." kata Deni pada Dini dan yang lain, kasihan juga Nanta beberapa hari ini sibuk terus dan berjauhan dengan istrinya meskipun mereka berada di hotel yang sama. Apalagi Pak Jaya pesan Nanta dan Doni tidak boleh bertukar kamar dengan istri mereka, entah jahil entah peraturannya memang begitu.


"Ih curang itu, mereka mau sayang-sayangan berdua." sungut Mike menatap iri pada Nanta dan Doni.


"Kami yang jomblo ikutlah Om ke Mal." kata Larry pada Deni.


"Hahaha sampai juga julukan itu ke sini." Nanta terbahak padahal sudah disimpan-simpan biar teman di TimNas saja yang tahu.


"Ayolah kita temani para jomblo ini cari jodoh di Mal Mas, siapa tahu ada yang jual." kata Dini pada Deni.


"Kak Dini mentang-mentang sudah menikah bisa bully kita." sungut Larry, Deni jadi tertawa.


"Kalau ada yang jual jodoh juga sudah aku borong dari kemarin-kemarin Kak." Mike juga ikut bersungut, yang lain tertawakan mereka.


"Nanti kalian main ke Cirebon, banyak dokter muda yang masih single, Om kenalkan deh." Deni menawarkan keduanya.


"Tidak mau, Om Deni saja cari ke Jakarta, kenapa waktu itu mereka bukan sama Om Deni?" tanya Mike.


"Karena Om harus menjemput Jodoh Om di Jakarta." jawab Deni membuat Dini terbahak tanpa disaring, apa adanya betul, tidak jaga image dan sok manis. Tapi tetap saja sangat Manis dimata Deni.


"Pulang dari Abu Dhabi kita ke Cirebon kah?" tanya Larry pada Nanta, semangat betul mau dikenalkan dengan dokter disana.


"Mau apa?" tanya Nanta cengar-cengir.


"Antar pengantin baru pulang." sahut Doni yang sudah diminta Dini untuk ikut mengantarnya pindah ke Cirebon nanti.


"Ayo sekalian kuliner disana." ajak Deni, Larry masih saja cengengesan.


"Hey, kalian mau naik super taxi lagi kah? lama betul ngobrolnya." teriak Pak Jaya pada geng kuartet. Tidak mengeluarkan suara lagi, keempatnya langsung saja berlari menuju Bus, tinggal mereka saja yang belum naik bus, daripada ditinggal rombongan lebih baik ambil langkah seribu.


"Sampai tidak pamit." Dona terkekeh melihat suaminya yang berlari paling duluan dibanding yang lain.


"Nanti bertemu dihotel kan." Dini mengingatkan Iparnya. Dona menganggukkan kepalanya kemudian ikuti yang lain masuk kedalam Mobil yang sudah menunggu dari tadi.


"Mau kemana lagi, bro?" tanya sang guide sok asik. Ia sudah kenyang juga karena tadi ikut makan.


"Antar ke hotel dulu Pak, setelah itu antar kita ke Mal." jawab Deni.


"Enaknya yang mau nge Mal." Dona merengut, ingin ikut tapi Doni belum membahas, sudah pasti harus tanya Doni dulu.


"Nanti ikut saja." ajak Dini.


"Mana muat mobilnya, Larry sama Mike juga mau ikut."


"Mereka naik Super Taxi saja." celutuk Dania.


"Hahaha tidak jadi belanja, sibuk bayar taxi mewah saja mereka disini."


"Kenapa juga naik Taxi mewah, kan ada yang biasa." kata Dona lagi tertawakan kuartet.


"Mumpung disini, dengan naik super taxi jadi bisa ikut merasakan mobil sekelas Bugatti dan Lamborghini." Deni terkekeh.


"Kita juga coba dong Mas, aku mau naik Bugatti." pinta Dini pada suaminya.


"Boleh, nanti saat pulang dari Mal, kita naik taxi saja." kata Deni setuju. Biar saja dibilang kampungan, memang di Jakarta tidak ada sih, kapan lagi mumpung di sini.


"Om, kalau sempat kita ke Dubai dong, aku mau lihat deretan Mobil mewah dijalan." pinta Dania pada Deni.


"Iya aku juga mau ke ATM emas batangan." kata Dona cepat.


"Kamu mau beli emas disini Don?"


"Hahaha mau coba saja bagaimana rasanya beli emas batangan pakai mesin, di Jakarta kan beli minuman pakai mesin saja aku belum pernah coba." jawab Dona tertawa geli, kampungan sekali tapi biar saja.