I Love You Too

I Love You Too
Belatung Nangka



Waktu ashar sudah tiba, para pria pun beranjak ke mesjid kecuali Mario yang non muslim.


"Kalian ga mau ke kamar, gue kekamar duluan ya?" Kata Mario kepada para wanita, kemudian beranjak menuju kamar yang ditempati Erwin dan Andi. Tepat disebelah kamar Reza dan Kiki.


"Yuk ke kamar. Kalau masih mau rumpi kita lanjut dikamar aja." ajak Monik. Yang lain segera beranjak menyusul Mario yang masih berdiri didepan lift.


"Kalian dilantai berapa?" tanya Mario ketika sudah didalam lift hendak menekan tombol lantai yang dituju.


"Tiga!!!" jawab mereka berbarengan.


"Wah satu lantai semua ya kita."


"Asiiik, dikamar gue dulu aja ya, kita tadi pesan yang Family Room. Ah kalau tau mending tadi pada dikamar gue semua, ga usah buka kamar lu Cin." kata Monik karena senang bisa berkumpul bersama.


"Mario hanya tersenyum mendengar celotehan para wanita. Tak mau ikut-ikutan. Ia juga tak bersikap mesra pada Regina, walaupun minggu depan mereka akan menjadi sepasang suami istri.


"Kak mario sebelahan kamarnya sama aku." kata Kiki.


"Jangan berisik ya ntar malam." goda Mario lagi.


"Apaan sih kak, yang ada kalian bertiga nanti yang berisik."


Merekapun tiba dilantai yang dituju. Cindy menuju kamarnya yang tepat diseberang kamar Mario, berniat meletakkan koper dikamarnya, baru kekamar Monik.


"Yo, aku ga bawa baju ganti." kata Regina bermaksud meminta ijin pada Mario untuk kembali ke apartement terlebih dulu.


"Beli aja, disebelah ada Mal bisa lewat basement atau lewat lantai 8." kata Kiki. Regina terpaku karena tak mempunyai uang. Ia tak membawa sepeser uangpun ke Jakarta. Seperti tau keresahan Regina mario menyerahkan seluruh uang lembaran merah yang ada didompetnya pada Regina.


"Beli semua yang kamu butuhkan." katanya lalu segera meninggalkan Regina menuju kekamarnya.


"Pssst dikasih berapa?" tanya Intan konyol ketika Mario sudah masuk kedalam kamar, membuat Monik dan Cindy terbahak. Cindy segera masuk kekamarnya meletakkan koper dan kembali berkumpul didepan pintu kamar. Regina hanya menggeleng dan mengangkat bahunya, karena belum menghitung uang yang diberikan Mario.


"Sepertinya tiga setengah juta." kata Monik menebak sambil berbisik jahil. Kiki kembali terkikik. Cindy menggelengkan kepalanya, tak habis habis kejahilan rombongan ini.


"Rupiah banyak sekali ya." kata Regina sambil menunjuk uang ditangannya.


"Tadi mestinya minta atm card, tipis tuh Re." sahut Intan asal. Kembali semua tergelak.


"Masih belum masuk kamar juga?" tiba-tiba Mario muncul dari balik pintu kamarnya. Membuat yang lain terkejut karena lagi membahas uang yang ditangan Regina.


"Kalian berisik tau ga, bisa mengganggu tamu yang lain kalau cekikikan disitu. Masukan uangnya kedalam tas, ga enak dilihat orang." kata Mario pada Regina lalu kembali masuk menutup pintu kamarnya. Masih cekikikan mereka pun segera masuk kedalam kamar Monik. Benar saja kamar yang dipesan Monik terlalu besar jika hanya diisi oleh dua orang.


"Pada tidur disini aja." ajak Monik pada Cindy dan Regina.


"Ah enak banget nih kalau kalian kumpul berempat. Ikuuttt..."Kiki mulai iri.


"Berduaan sama yang halal nanti juga lupa sama kita." Goda intan nakal. Langsung saja kiki menggelitiki Intan karena tak bisa membalas dengan kata-kata.


drrrtttt...drrrttt... handphone Kiki berdering


"Assalamualaikum dimana dek?" terdengar suara Reza.


"Waalaikumusalaam... Dikamar Monik, kak Eja dimana?"


"Dikamar Erwin, pantas getokin pintu kamar ga ada yang buka. Ya udah kamu disitu dulu aja. Aku mau ngobrol dulu sebentar. Nanti kalau udah selesai aku telepon."


"Ok"


"Re, pesta disemarang atau cuma pemberkatan aja?" tanya Kiki.


"Belum tau, tadi yang ngobrol Mario, dia belum bahas detail."


Kiki menganggukkan kepala dan kini matanya beralih ke Cindy.


"Mau ga sama kak Andi?"


"Baru juga kenal Ki, belum ngobrol. Belum dapat feelnya."


"Sudah lihat aksi panggungnya?" tanya Intan. Cindy menggelengkan kepalanya.


"Ga ikutin medsosnya?" tanya Intan lagi. Kembali Cindy menggelengkan kepalanya.


"Dijamin naksir lu, kalo udah liat dia dipanggung." Intan mulai berpromosi.


"Sok tau ah, lu doang yang begitu, gue sama Kiki ga." sahut Monik.


"Lu udah ada Alex, Kiki juga dipepet Reza terus ya ga fokus lah. Kalau gue kan fokus. Jadi gitu deh."


"Kenapa lu lebih dukung Erwin sama Enji daripada Sheila?" tiba-tiba Intan membahas Erwin. Dasar ya wanita kalau sudah kumpul ada aja yang dibahas.


"Enji kocak gue ketawa terus dekat dia, ceplas ceplos gitu. Ga jaim padahal kita baru kenal. Kak Erwin juga lu tau kan, kocak juga. Kemarin pas lihat mereka berdua tuh gue suka aja, kelihatan serasi. Kak Sheila baik sih, tapi ga sekocak Enji. Hilang selera humor kak Erwin kalau dekat kak Sheila. Kaya jaim mereka kalau lagi bareng. Ga lepas." celoteh Kiki.


"Lu juga jaim Ki kalau dekat Reza." kata Intan mencibirkan bibirnya.


"Ih gue mah emang rada kaku. tanya aja Cindy. Ketemu lu berdua aja urat malu gue mulai hilang." jawab Kiki


"Hahahha iya Kiki tuh dulu temannya cuma gue aja, ga cocok sama yang lain, pemalu banget." Cindy jadi tertawa melihat Kiki yang sekarang tampak berbeda.


"Kaya lu ga aja Cin, lu ama gue 11-12 makanya kita akur." kata Kiki lagi sambil tertawa kecil. Cindy mengangguk ikut tertawa.


"Eh padahal adiknya kak Erwin juga teman kita, tapi mental." kata Kiki kemudian.


"Siapa adik kak Erwin?" tanya Monik.


"Namanya Pipit, tadi datang sama nyokapnya." jawab Kiki. Monik yang tak memperhatikan hanya mengangguk tak bertanya lebih jauh.


"Pipit adiknya Erwin?" tanya Cindy tak percaya. Kiki mengangguk sambil tersenyum. Banyak sekali yang mereka bahas. Intan dan Monikpun mulai curhat soal pasangannya.


"Gimana ya mas Alex ngajak nikah terus. Kalau gue cuekin ujungnya berantem." keluh Monik.


"Nikah lah Nik, cewek lain nangis-nangis minta dinikahi pacarnya, lu malah nolak terus." kata Intan ikut membujuk Monik agar segera menikah.


"Lu komentar aja bisa, lu aja diajak nikah diam aja ga jawab." Monik menjewer pelan telinga intan.


"Ih gue sih mau kalau dia serius datangin keluarga gue. Anto kan bahasnya becanda melulu, gue mana tau dia serius apa becanda."


"Beneran Tan lu mau?" tanya Monik memastikan.


"Iya mau." jawab Intan yakin.


"Oke Tan, udah gue rekam dan gue kirim ke Anto."


"Niiiik siaul lu jebak gue?" Intan segera berdiri dan bersiap menjatuhkan badannya kearah Monik. Intan mulai main smackdown. "Dasar belatung nangka." teriak Monik berusaha melepaskan diri. Semua tertawa dibuatnya sambil mencari tempat yang aman agak tak kena tiban badan kedua belatung nangka itu.