I Love You Too

I Love You Too
Denit



Setelah meletakkan koper dikamar dan melaksanakan sholat, Nanta beserta Dania juga sahabatnya segera ke Mal sebelah untuk makan siang. Banyak pilihan disana, apa saja yang mereka mau ada. Sungguh aman bagi Ibu hamil, Dania jadi tidak rewel, sama halnya seperti dikereta tadi, banyak makanan.


"Gue ajak Dania putar kota Semarang dulu deh ya." kata Nanta pada sahabatnya. Ia mau menawarkan sahabatnya bergabung, khawatir mereka bosan karena sudah pernah ke Semarang beberapa kali.


"Ikut ya, gue." kata Mike yang bosan jika harus di kamar saja.


"Gue juga, mau apa dikamar pasti bosan." jawab Larry semangat.


"Cuma mau ketempat yang gue sebut tadi, kalian kan sudah pernah." kata Nanta pada sahabatnya. Sengaja sebutkan tempat tujuan, khawatir sahabatnya tidak mau kalau tahu Nanta dan Dania mau kemana.


"Sama Dania kan belum pernah." jawab Mike santai, Dania tertawa mendengar ucapan sepupunya. Iya langsung saja mengajak Mike Tos, sudah akrab rupanya kedua sepupu ini.


"Oke, ayo." jawab Nanta senang saja jika sahabatnya ikut. Saat menuju lobby Mal untuk menunggu supir yang standby, handphone Nanta berdering, rupanya Doni yang menghubunginya.


"Dimana?" tanya Doni pada Nanta. Nanta beritahukan posisinya pada Doni. Rupanya Doni sedang dalam perjalanan ke hotel bersama Dona.


"Kita mau keliling semarang dulu Don, Dania belum pernah. Tapi nanti jam setengah lima sudah kembali Ke Hotel karena Larry dan Mike mau berenang sama bocah." Nanta menjelaskan pada Doni.


"Ayo sama gue saja. Kalian tunggu di lobby, gue jemput." kata Doni pada sahabatnya.


"Oke." Nanta buru-buru hubungi supir yang tadi menjemput mereka, sampaikan kalau mereka tidak jadi memakai kendaraan yang ada Karena sudah ada yang menjemput.


"Don, dari mana?" tanya Mike saat mereka sudah masuk ke Mobil Doni. Kuat juga Doni menyetir dari Jakarta menuju semarang hanya berdua Dona saja rupanya, Nanta kira sama Om dan Tante Jonas.


"Habis makan dekat alun-alun, sekalian Dona beli bandeng, disana ada restaurantnya." jawab Doni menunjuk ke bagasi, Mike mengintip dan tertawa. Banyak juga Doni membeli bandeng.


"Kenapa tidak besok saja?" tanya Nanta pada sahabatnya.


"Besok ya besok lagi saja." jawab Dona membuat semuanya kembali tertawa, suka sekali Dona habiskan uang suaminya, apa saja di beli.


"Itu untuk siapa saja?" tanya Larry pada Dona.


"Untuk Kak Dini, dia kemarin pesan." jawab Dona.


"Semuanya?" tanya Mike. Doni menganggukkan kepalanya.


"Aih Kak Dini mau buka restaurant kah di Cirebon." komentar Mike menggelengkan kepalanya.


"Besok ke Cirebon lagi?" tanya Nanta pada Doni yang sedang fokus menyetir.


"Iya lah, pesanan Tante kamu itu banyak sekali." keluh Doni yang tidak bisa menolak permintaan Kakaknya, Nanta terkekeh jadinya.


Doni antarkan Dania ketempat yang diinginkannya. Puas sekali Dania dan Dona foto sana-sini. Dania yang biasanya jadi photographer yang memotret keindahan alam, karena bersama Dona, ia harus rela menjadi obyek foto, karena Dona lebih suka menjadi model.


Sementara Nanta lebih senang di foto beramai-ramai dengan gaya lucu-lucuan bersama istri dan sahabatnya. Setelah puas berkeliling ke tiga tempat, ya hanya ke Lawang Sewu, Sam Pho Kong dan kota tua, tidak sempat ke tempat lainnya karena jam empat sore Balen sudah ribut menghubungi Abangnya.


"Tunggu ya, Balen siap-siap saja." kata Nanta pada adiknya.


"Eman Aban dimana sih? tan Baen mo beenang." Balen khawatir tidak jadi berenang.


"Setengah jam lagi bertemu di kolam berenang ya." kata Nanta, mengingat perjalanan ke hotel paling hanya sepuluh menit, sisanya untuk mereka bersiap.


"Janan ama ama don, Baen udah pate baju beenang bau nih." katanya pamer pada Abang.


"Kok pakai baju berenang baru? yang lama kan masih ada." tanya Nanta heran.


"Mamon ndak bawa baju beenang Baen tau." adunya pada Nanta.


"Pakai piyama saja berenangnya." Nanta menggoda Balen.


"Enak aja, di Tipi talo omba beenang ndak pate piama Aban." protesnya membuat Nanta terbahak.


"Ya sudah tutup teleponnya, Abang sebentar lagi sampai." kata Nanta pada Balen.


"Baen te tolam sekaang ya?" tanyanya pada Nanta.


"Iya boleh, Balen pemanasan dulu ya. Sudah tahu kan caranya?" kata Nanta pada adiknya.


"Yah." jawab Balen menurut, langsung matikan sambungan telepon lalu buru-buru mengajak Papon dan Mamon turun ke kolam berenang.


"Tapi Baen mo panasan duu Mamon." katanya tidak sabar mau cepat sampai di kolam dan pemanasan.


"Kalau kamu pemanasan duluan, nanti mesti tunggu Abang Mike dan Abang Larry pemanasan, jangan rewel minta mereka buru-buru ya?" Nona ingatkan Balen yang tidak sabaran, Kenan tersenyum saja, sambil lewat mengacak anak rambut Balen, ia sedang siapkan baju ganti Balen dan Richie nanti setelah selesai berenang, lengkap dengan minyak telon supaya keduanya tidak masuk angin nanti.


"Tuh dengar Abang sama temannya baru datang, dengar suaranya tidak?" tanya Nona mendengar Nanta sedang tertawa bersama sahabatnya. Entah mereka bahas apa.


"Baen mo te Aban." katanya berlari menuju pintu, tapi begitu mengintip ternyata tidak terlihat siapapun disana.


"Ndak ada Abanna." protesnya pada Nona dengan kening berkerut.


"Mungkin sudah masuk kamar." jawab Nona tertawa. Setelah semuanya rapi barulah ia dan Kenan mengajak kedua anaknya menuju ke Kolam, cuaca hari ini cerah, rejeki Balen dan Richie bisa berenang di hotel, kalau hujan, Kenan pasti tidak ijinkan kedua anaknya berenang.


"Papon beenang ndak?" tanya Balen pada Papanya begitu keluar kamar.


"Tidak, temani Balen saja." jawab Kenan pada Balen.


"Dendong Papon." pintanya pada Kenan.


"Ini sekalian pemanasan, jalan saja." kata Kenan pada Balen.


"Ih Papon ndak sayan." Balen protes pada Papon.


"Sayang dong. Kamu bisa sebut berenang, kenapa Abang jadi Aban, sayang jadi sayan? coba bilang Abang yang benar." Kenan mengalihkan permintaan Balen sekaligus melatih anaknya untuk lancar bicara.


"Aban Sayan." jawabnya bangga sambil berjoget.


"Abang." Kenan membenarkan, tertawakan Balen yang joget-joget centil.


"Aban." tetap pada pendiriannya.


"Berenan." Nona menggoda Balen.


"Beenang." Balen membenarkan, Kenan tertawa, mau seenaknya saja singkong rebus Nanta ini.


"Nah itu bisa bilang berenang, Sayan." kembali Nona menggoda Balen.


"Tau ah." jawab Balen yang tahu Mamon menggodanya.


"Diajarkan yang benar tidak mau. Tapi sudah bisa lihat cowok cakep." Nona menggelengkan kepalanya.


"Aban Leyi catep ya." katanya langsung ingat Larry.


"Tau ah." balas Nona melengos.


"Catep Mamon, nanti liat deh." katanya pada Nona.


"Mau apa lihat Larry, Papon lebih cakep." jawab Nona pada anaknya, Kenan terkekeh keduanya selalu saja beradu mulut.


"Papon tan catepna Mamon. Aban Leyi catepna Baen." jawab Balen membuat Nona terperangah. Apa-apaan si unyil ini.


"Genit betul anak kamu, Mas." keluhnya pada Kenan yang sedang menggandeng Richie.


"Meniru kamu juga, kalau saya kan tidak pernah genit." jawab Kenan terkekeh.


"Kenapa jadi meniru aku?" protes Nona tidak terima.


"Ingat tidak dulu kamu bilang mau saja jadi istri Samuel, tapi Samuelnya tidak mau Lamar kamu?' Kenan menaikkan alisnya, Nona memonyongkan mulutnya langsung menggandeng mesra suaminya.


"Itu kan karena belum bertemu Mas Kenan." katanya senyum-senyum.


"Nah jadi sudah tahu kan Balen meniru siapa?" Kenan terbahak sementara Nona tidak lagi protes malah ikut tertawa.


"Baen taya Mamon tan denitna?" tanya Balen terkekeh.


"Tau ah." jawab Nona membuat Kenan terkekeh.