
Nanta terbangun ketika suara orang mengaji sudah terdengar sayup-sayup, gawat Nanta kesiangan, langsung saja ia beranjak dari tidurnya, segera mandi membersihkan diri, sebentar lagi adzan shubuh. Masa gara-gara praktek tutorial tidak sholat shubuh di Mesjid.
"Dan... Dania bangun, Sholat shubuh, aku ke Mesjid dulu." seperti biasa membangunkan istrinya, Nanta menepuk pelan pipi Dania. Ia sudah rapi dan bersiap berangkat ke Mesjid.
"Mas Nanta sudah mandi?" tanya Dania dengan mata setengah terpejam.
"Sudah, aku jalan dulu ya, sebentar lagi Adzan, aku langsung ke GBK ya." pamit Nanta sambil mengecup pipi Dania lalu segera berlari keluar kamar tanpa menunggu jawaban istrinya, jangan sampai terlambat, bisa malu sama keluarga mertua, ups malu sama Allah pasti.
"Om kira kamu tidak ke Mesjid." kata Micko menyeringai. Ia menduga-duga Nanta kesiangan dan Dania tidak turun mengantar Nanta seperti kemarin.
"Kesiangan aku, Naik Mobil ku saja Om." katanya jujur pada Micko.
"Kamu mau langsung ke GBK?" tanya Micko, Lucky dan Winner menyimak.
"Iya nanti setelah drop Om dan adik-adik aku langsung berangkat." kata Nanta.
"Jalan kaki dulu saja kalau begitu, untuk apa bawa Mobil, belum terlambat juga." Micko terkekeh karena Nanta tampak terburu-buru.
"Oh ya sudah." jawab Nanta pasrah. Akhirnya seperti kemarin mereka berjalan kaki menuju Mesjid.
"Aku mau ikut Abang, boleh?" tanya Winner sepulang mereka dari mesjid.
"Nanti kamu bosan." kata Nanta pada adik iparnya.
"Tidak, kalau bosan aku ke Mal." jawab Winner terkekeh.
"Ayo." ajak Nanta.
"Eh tanya Papa dulu." kata Lucky mengingatkan Winner.
"Ok Bang." kata Winner menggoda Lucky yang suka mengaku jadi Abang. Lucky tertawa mendengarnya.
"Kamu mau ikut juga?" Nanta menawarkan Lucky.
"Tidak, aku ada urusan." jawab Lucky terkekeh.
"Dia harus berlatih piano yang kemarin Mamon ajarkan." kata Winner terkekeh.
"Pa, aku ikut Bang Nanta." kata Winner pada Micko yang sebenarnya dari tadi mendengarkan percakapan ketiganya.
"Apa tidak mengganggu, Nan?" tanya Micko.
"kalau laki-laki yang datang tidak akan terganggu, kecuali perempuan Om, konsentrasi teman-teman pasti terganggu." kata Nanta tertawa.
"Tidak ada yang membawa pasangan saat berlatih?" tanya Micko.
"Tidak ada, kalau dijemput pasangannya sih ada." jawab Nanta lagi, Micko menganggukkan kepalanya.
"Ya sudah, mau ijin dulu sama Dania?" tanya Micko.
"Tadi sudah Om." jawab Nanta tersenyum, ia dan Winner pun segera berjalan menuju Mobil.
"Kamu bawa celana renang?" tanya Nanta.
"Aku tidak mau berenang, hanya mau melihat aktifitas Abang seperti apa, boleh kan?" tanya Winner.
"Mata-matai aku?" Nanta terkekeh.
"Tidak begitu juga, aku hanya ingin tahu kesibukan atlet itu seperti apa." kata Winner.
"Oh hari ini kita janjian berenang di hotel dekat GBK, nanti setelah itu baru bahas persiapan training camp. Mulai senin santai sampai sabtu masuk asrama." jawab Nanta menjelaskan.
"Ada santainya juga." Winner terkekeh.
"Pasti ada, masa sibuk terus." Nanta tertawa sambil fokus menyetir.
"Kamu mau jadi atlet kah?" tanya Nanta kemudian.
"Atlet apa, aku tidak menguasai satupun cabang olah raga." Winner tertawa.
"Pelajari saja, belum terlambat kan, memang bagusnya sih dari kecil. Disekolah apa yang kamu kuasai?" Nanta berusaha menggali minat Winner.
"Sebenarnya aku suka menulis." jawab Winner.
"Oh ya? sudah pernah coba bikin satu tulisan?" tanya Nanta.
"Sering, sudah banyak tulisan aku yang masuk ke majalah sekolah." jawab Winner.
"Bagus dong." Nanta tersenyum.
"Aku ikut ini juga untuk itu, aku mau menulis tentang kegiatan seorang Nanta, sehari bersama Nanta Surya Putra, untuk majalah sekolahku, boleh kan?" Winner tertawa jahil.
"Wow jadi kamu wartawan sekolah?" Nanta terbahak.
"Apa itu bisa dibilang wartawan, aku hanya suka saja menulis tentang orang-orang berprestasi." jawab Winner.
"Siapa saja yang pernah kamu liput?" tanya Nanta.
"Semua yang berprestasi disekolahku, kalau orang luar baru Bang Nanta, tenang saja status pernikahan tidak akan kutulis." kata Winner.
"Kenapa begitu?" tanya Nanta.
"Ya kan yang mau aku bahas soal pencapaian bukan masalah pribadi yang bisa menjadi bahan gosip." Winner memandang Abang Iparnya. Dari dulu Ia sudah mengagumi Nanta, eh malah sekarang menjadi Iparnya.
"Dari tadi juga aku sudah mulai." Winner terkekeh.
"Tidak kamu foto?" tanya Nanta.
"Sudah, mulai dari sholat dimesjid." jawab Winner lagi membuat mereka berdua terbahak.
"Sudah mulai sebelum ijin rupanya." Nanta tertawa sambil menghentikan kendaraannya di lobby hotel.
"Valley saja." katanya pada Winner, padahal masih sepi, parkiran pasti kosong pikir Winner.
"Aku takut terlambat, khawatir semua sudah berkumpul." kata Nanta menjelaskan pada Winner tanpa diminta.
"Oh, sepagi ini?" Winner tidak percaya.
"Iya sepagi ini, nanti kamu lihat saja." Nanta terkekeh. Benar saja beberapa teman Nanta sudah berkumpul di ruang tunggu.
"Ah datang juga pengantin baru." Doni menyambut Nanta sambil tertawa.
"Kenalkan adikku." kata Nanta pada Doni menunjuk Winner.
"Wow bawa pengawal." Doni tertawa menepuk bahu Winner.
"Dia wartawan sekolah, mau wawancara para atlet." kata Nanta tersenyum pada Winner. Memberikan peluang agar semakin banyak materi tulisan Winner nantinya.
"Oh boleh, sekolah dimana?" tanya Doni ramah. Winner menyebut salah satu nama sekolah swasta terkenal.
"Saya juga alumni disana, kepala sekolahnya Bapak Sarmudji, masih?" tanya Doni.
"Sudah ganti, sekarang Bapak Warsono." jawab Winner, mereka asik membicarakan semua yang berkaitan dengan sekolah dari guru hingga pedagang didepan sekolah tempat siswa biasa jajan atau membolos.
"Kamu adik dari mana?" tanya Doni menunjuk Nanta.
"Aku adik istrinya Bang Nanta." jawab Winner jujur.
"Oh adik ipar." Doni terkekeh.
"Sebelum jadi adik ipar, aku sudah jadi adiknya Bang Nanta." kata Winner lagi.
"Kami kenal dari kecil." Nanta menjelaskan.
"Kamu juga di Malang?" tanya Doni.
"Tidak, aku dari lahir di Jakarta." jawab Winner.
"Nenek kami bersahabat." Nanta menjelaskan.
"Dijodohkan oleh Nenek rupanya Abangmu ini."
"Tidak. Mereka kenal dibandara, kakakku besar di London." Winner menjelaskan.
"Ish kamu kan harusnya yang mewawancarai kami, kenapa kamu yang diwawancarai Doni sih?" protes Nanta pada Winner.
"Iya, sebenarnya yang wartawan aku atau Bang Doni." keluh Winner tertawa.
"Hahaha kamu tanya saja aku, pasti aku jawab." kata Doni terbahak.
"Tapi dari tadi Bang Doni terus yang tanya." protes Winner pada Doni."
"Aku hanya penasaran, tumben sekali Nanta bawa adik." kata Doni.
"Kan tadi sudah aku bilang dia mau wawancara para Atlit, kamu saja terlalu banyak bertanya." Nanta terkekeh.
"Sebenarnya cita-citaku jadi Wartawan, tapi malah dari sekolah terkenal jago basket." kata Doni.
"Oh iya aku baru ingat, Doni Mahmud alumni sekolahku yang jago basket itu Abang rupanya." Winner tampak semangat.
"Dari tadi kan aku sudah bilang aku alumni disana, memangnya guru disana tidak pernah membahas aku ya, kamu benar wartawan sekolah apa bukan sih?" Omel Doni membuat Nanta terbahak.
"Seniormu marah." kata pada Winner yang ikut tertawa.
"Ampun suhu." katanya menyalami Doni Dan mencium tangannya.
"Ayo nanti kesiangan." ajak Doni pada Nanta dan yang lain setelah semua yang ikut berenang sudah berkumpul. Tidak semua ikut berenang, hanya yang mau saja.
"Nanta datang kan, gue menang. Ayo yang kalah setoran sama gue." kata Doni pada yang lain.
"Sue gue dijadikan taruhan." Nanta terbahak melihat ulah teman-temannya yang mengeluarkan dompet menyerahkan sejumlah uang pada Doni.
"Harom, harom." teriak Nanta terkekeh.
"Eh ini untuk bayar makan siang kita, semua ikhlas kan?" tanya Doni memastikan.
"Ikhlas." jawab mereka tertawa, walau kalah taruhan wajah tetap bahagia.
"Halal." Doni mengibaskan uangnya kebahu Nanta, konyol sekali, Winner tertawa sedang Nanta hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.
"Jangan ditiru, taruhan itu tidak boleh." pesan Doni pada Winner yang masih saja tertawa.
"Jangan dijadikan headline text juga." pesan Nanta terbahak.