
"Kenapa, Mas?" tanya Nona begitu Kenan menutup sambungan teleponnya.
"Saya diminta Bang Eja pindah ke Jakarta, Bang Eja mau fokus dengan usahanya sendiri." jawab Kenan menghela nafas.
"Kebetulan sekali, Nanta juga minta pindah Ke Jakarta." Nona terkekeh.
"Bukan kebetulan, memang sudah direncanakan Bang Eja." sungut Kenan kesal.
"Kamu mau pindah ke Jakarta?" tanya Nona pada suaminya.
"Jumat pagi kita ke Jakarta. Saya dan Raymond langsung ke kantor membahas ini bersama Bang Eja, kamu ke rumah Mama sama Roma ya." kata Kenan mengatur rencana.
"Kamu keberatan kalau kita pindah, sayang?" tanya Kenan kembali merebahkan badannya dan memeluk Nona. Ia ingin meminta persetujuan istrinya.
"Aku bagaimana baiknya saja. Kan aku juga sudah resign, Kevin sudah dibantu Mas Bagus. Aku tinggal pantau saja terima hasil." kata Nona tampak tak keberatan.
"Papa bagaimana ya?" Kenan tampak sedikit bingung karena akan mengajak Nona menjauh dari Baron.
"Papa pasti setuju saja. Kenapa memangnya?"
"Khawatir keberatan, jauh dari kamu. lagipula bukannya sudah mau pensiun?"
"Aku juga biasanya di Cirebon lebih lama, Ada orang kepercayaan Papa juga kan? Paling Mas Kenan diminta bantu pantau dan sekali-kali mampir ke Kantor nantinya." kata Nona menenangkan suaminya.
"Sama saja kamu seperti Bang Eja, dianggap gampang semuanya." Kenan terkekeh mencubit gemas pipi Nona.
"Memang gampang karena sudah berjalan, kecuali kalau ada masalah baru Mas Kenan turun tangan." jawab Nona santai saja, mulai menciumi Kenan hingga ******* bibir suaminya, Kenan yang awalnya pasrah saja jadi terbuai dan mulai mengikuti arus. Entah bagaimana sekarang baju mereka sudah berserakan dilantai dan mereka melanjutkan kegiatan yang menguras energi, namun menyenangkan.
Entah selesai jam berapa aktifitas mereka, yang pasti pagi ini Nona terbangun dengan badan seperti habis olah raga berat, tapi ia harus mandi karena tidak seperti biasanya aktifitas semalam dilakukan berulang kali hingga Kenan tidak memaksa Nona untuk langsung mandi setelahnya.
"Sayang, sudah mau shubuh." kata Nona pada Kenan, kembali mencium pipi dan menepuk-nepuk bahu suaminya.
"Hmmm..." Kenan masih bergelung selimut, matanya masih sangat berat, tetapi suara orang mengaji dari mesjid dekat rumah sudah terdengar.
"Mandi sekarang? aku siapkan air hangat." tanya Nona pada Kenan, mengingat udara sangat dingin tak perlu lagi menggunakan ac.
"Hu uh." Suara Kenan masih sangat mengantuk, Nona segera menyiapkan segala keperluan suaminya untuk mandi, setelahnya kembali membangunkan Kenan. Tak perlu waktu lama, Kenan pun bangun dari tidurnya yang baru sekitar satu jam lebih. Mestinya semalam langsung mandi saja, jadi tidak terburu-buru seperti sekarang, keluh Kenan dalam hati.
"Sayang, Kamu mandi juga, sudah mau shubuh." Kenan menarik tangan Nona masuk ke kamar mandi. Benar-benar mandi bersama tidak lebih, karena Kenan tidak pernah mau melakukan itu disana. Padahal Nona beberapa kali pernah memancing suaminya, yang ada malah diangkat pindah kekasur.
Sekarang Kenan dan Nona sudah rapi, Kenan bersiap kemesjid, setelah melihat jam masih ada waktu untuk Sholat tahajud, Kenan pun melakukan ritualnya hingga salawat nabi mulai terdengar dimesjid dekat rumahnya, menandakan sebentar lagi adzan shubuh, Kenan menghubungi Raymond untuk ke Mesjid bersama.
"Om, sudah rapi? aku jalan keluar." kata Raymond via telepon.
"Iya, Om juga keluar." kata Kenan sambil mengecup dahi istrinya, berjalan keluar sendiri tanpa meminta Nona mengantarnya kepintu, masih gelap ia bisa mengunci pintu sendiri dan membiarkan istrinya beribadah dikamar menunggu waktu Shubuh.
"Om telepon Ayah semalam?" tanya Raymond begitu mendekat pada Kenan yang sedang mengunci pagarnya.
"Iya, Ayah cerita?" tanya Kenan pada Raymond.
"Aku sih sudah tahu dari awal rencana Ayah, kebetulan Nanta lolos seleksi basket, jadi Ayah tambah lancar saja usahanya." Raymond tertawa memandang Om Kenan yang memajukan beberapa senti mulutnya.
"Pantas saja kamu bilang sebentar lagi akan menggantikan posisi Om sama Melly ya." Kenan langsung mengingat perkataan Raymond minggu lalu.
"Kamu tidak apa-apa Om tinggal, Boy? Kok Om jadi tidak tega ya." Kenan terkekeh sedikit sedih harus meninggalkan Raymond sendiri di Malang.
"Ya ampun, Om. Aku sudah besar kan. Ada Om Bagus, Tante Tari, Kevin, Oma, Opa, kerabat Papi Alex. Santai saja Om, semua dijalanin dengan bahagia."
"Syukurlah kalau begitu." Kenan menarik nafas lega.
"Roma bagaimana?" Kenan memikirkan Roma.
"Sudah mulai main dengan anak Pak Gubernur. Sudah tidak usah dikhawatirkan, kami bisa kok. Memang sedikit sedih, satu saja yang kuminta Om. Bi Wasti dan semua pekerja di rumah Om, bantu rumah aku juga ya. Mereka pindahkan semua saja kerumahku."
"Kamu atur saja, atau biarkan mereka tetap dirumah Om, tapi membantu kamu dan Roma juga."
"Nah itu juga boleh." begitulah percakapan menuju ke mesjid antara mereka berdua, Kenan tertawa geli sendiri mengingat rencana Abangnya yang ternyata sudah sejak lama ingin menyerahkan pekerjaannya pada Raymond, dipermudah Allah dengan berangkatnya Nanta ke Jakarta.
Sore hari sepulang kantor Kenan mengajak Nona menginap dirumah Baron, ia harus berbicara santai dengan mertuanya. Nona menyiapkan baju untuk dua malam, Walaupun rencana menginap hanya semalam, tapi kadang suka berubah pikiran karena ditahan Papa Baron yang selalu ada saja bahan bicara dengan Kenan. Kadang Nona berpikir Papa itu kangennya sama Kenan bukan sama Nona.
Seperti malam ini setelah makan malam, Papa sibuk berbicara dengan Kenan, walau kadang mereka seperti orang yang sedang adu mulut, tapi kemudian saling mentertawakan satu sama lain.
"Bang, Saya mungkin akan pindah ke Jakarta, Bang Eja ingin fokus dengan usahanya." kata Kenan pada akhirnya mendapat kesempatan menyampaikan. maksud dan tujuannya.
"Nona? tinggal disini saja kalau begitu." kata Baron dengan santainya.
"Enak saja, Nona saya ajak pindah lah. Bagaimana sih." sungut Kenan pada mertuanya.
"Kamu lama di Jakarta." masih belum nyambung rupanya.
"Pindah bang, menetap di Jakarta, saya belum tahu kapan. Tapi mungkin dalam waktu dekat ini. Jumat kami ke Jakarta membahas lebih lanjut sekalian menonton pertandingan Nanta. Mungkin sekaligus saya cari rumah untuk tempat tinggal kami."
"Pindah maksud kamu, kamu mau menjauhkan saya dari anak kesayangan saya?" Baron membesarkan kedua matanya.
"Jangan drama, selama ini juga Nona di Cirebon. Abang tidak pusing." sungut Kenan.
"Tapi kan ini kamu pindah, Ken. Saya sama siapa?" Ketahuan yang dikhawatirkannya jauh dari Kenan.
"Ish sedih juga ditinggal saya rupanya." Kenan terkekeh dibuatnya.
"Padahal saya kalau pensiun mau minta kamu urus perusahaan disini." Baron tampak kecewa.
"Sudah saya bahas semalam dengan Nona, kata Nona ada orang kepercayaan Abang, bisa saya bantu pantau sekali waktu, lagi pula Jakarta-Malang hanya satu jam." kata Kenan menenangkan Baron.
"Ya sudah kalau memang bisa begitu, tapi sedih juga kalau kamu jauh dari saya." wajah Baron tampak benar-benar sedih, sekarang bukan sedang drama.
"Kan saya juga akan sering ke Malang, kemarin tiga bulan saya di Jakarta juga Abang santai. Nanti gantian Abang dan Mbak Mita yang mengunjungi kami."
"Nanta bagaimana, kamu akan jauh dari dia."
"Nanta ikut saya, eh bukan saya yang ikut Nanta ke Jakarta." kekeh Kenan pada Baron. Baron ikut terkekeh ketika Kenan menceritakan semuanya.
"Syukurlah kalau kalian bersama. Saya titip Nona ya, jangan sakiti anak saya."
"Iya pasti, mana mungkin saya sakiti Nona, sama saja saya sakiti Abang dan Nanta." kata Kenan membuat Baron kembali terkekeh.