
Nanta tertidur pulas dipangkuan Oma, sementara keluarganya yang lain masih asik ngobrol dan bercanda diruang keluarga, ada saja yang diceritakan dan selalu saja seru. Oma membelai rambut Nanta perlahan, bertambah pulas saja Nanta. Balen juga tertidur dipangkuan Opa. Oma terkekeh melihat kedua cucunya tertidur pulas.
"Besok pesawat jam berapa Om?" tanya Raymond pada Kenan.
"Malam, biasa dari Juanda."
"Ayah juga ya, satu pesawat semuanya?" tanya Raymond.
"Iya." jawab Reza tersenyum.
"Aku mau ikut Ayah." rengek Roma pada Ayah Eja.
"Wah Raymond ditinggal dong." Reza terkekeh memandang Raymond.
"Gayanya saja itu, Ayah. Nanti sampai Jakarta tidak ada aku, merengek lagi minta pulang ke Malang." jawab Raymond tertawa memandang Roma.
"Hu uh. Yang penting kan naik sawat." Roma terkikik menirukan gaya Balen.
"Pulas betul mereka berdua." tunjuk Roma pada Nanta dan Balen.
"Abang adek, kelakuannya hampir sama ya, senangnya manja-manja sama Oma dan Opa." Komentar Kenan pada kedua anaknya.
"Capek betul Nanta, Om." kata Raymond memandang Kenan.
"Semalam begadang dia, urus Micko sama Dania." Kenan terkekeh.
"Belum lagi setelah itu ada ide yang menyita energi anakku." sungut Kenan lagi, Kenan sedikit menyesal membuat Nanta marah, sebenarnya ia sudah bilang Nanta tidak mau dijodohkan sekarang, nanti saja tapi akhirnya Kenan terpengaruh karena dorongan banyak pihak.
"Tapi Tari setuju." Mama Nina terus saja membelai rambut cucunya. Tidur saja tetap tampan, jadi senyum sendiri memandang Nanta, ingat Opa waktu muda.
"Pa, Nanta mirip Papa waktu muda loh." kata Oma takjub memandangi wajah Nanta.
"Memang, masa baru sadar sih." jawab Opa terkekeh.
"Mama baru perhatikan jelas begini." jawab Mama Nina senang.
"Ya mirip aku juga kan." sahut Kenan tidak mau kalah.
"Gantengan Nanta loh Ken." Mama terkikik memandang Kenan yang tersenyum mendengarnya. Mau tidak terima yang dibilang lebih ganteng anak sendiri hahaha.
"Haha iyalah, semua aku kasih ke Nanta." jawab Kenan terbahak.
"Masih ada Ichi loh, Mas." Nona mengingatkan.
"Ichi ada lagi bagiannya." jawab Kenan terbahak.
"Ichi mirip Papa juga tidak?" tanya Opa Dwi pada Mama Nina.
"Belum ketemu tuh Pa, baru lihat wajah Kenan dan Nona di wajah Ichi." jawab Mama Nina menghentikan belaian tangannya pada Nanta.
"Lagi dong Oma." kata Nanta dengan suara mengantuk.
"Ih Oma kira kamu tidur." Mama Nina mengetuk jidat cucunya.
"Tidur Oma, ini baru terbangun dengar pada berisik." jawab Nanta masih dengan mata terpejam, masih mengantuk dan mau tidur lagi.
"Sebentar lagi magrib loh, sana mandi." perintah Oma pada Nanta.
"Lima menit, Oma." Nanta meminta waktu, Kenan terkekeh, bujangnya terlihat sangat lelah.
Menjelang magrib Nanta dan Ando sudah rapi bersiap akan ke mesjid, sekarang menunggu Opa, Bang Ray, Ayah dan Papa. Mereka duduk di sofa, sementara Wilma dari tadi belum keluar kamar, katanya nanti saja menjelang makan malam baru keluar kamar. Setelah menunggu beberapa saat secara bersamaan semua lelaki muncul, seperti janjian saja, sudah rapi dengan baju Koko masing-masing.
"Wilma mana Nan?" tanya Roma saat mereka akan keluar rumah.
"Ada dikamar." jawab Nanta.
"Kenapa Kak?" teriak Wilma dari kamar, serasa dirumah sendiri.
"Sholat berjamaah, dikamar Oma." Roma balas berteriak, Raymond terkekeh istrinya mendapat lawan yang sepadan, adiknya Anggita, istri Romi, sepupu Roma.
Setelah sholat Isha baru semua pulang dari mesjid, makan malam sudah tertata rapi dimeja makan.
"Jangan makan kenyang kalau mau Bakso President." kata Nanta pada keduanya.
"Kamu tidak ajak Dania?" tanya Kenan pada Nanta.
"Kamu tadi jadi telepon Dania tidak?" Nanta malah bertanya pada Wilma.
"Jadi, Dania minta dijemput." jawab Wilma mengedipkan mata pada Raymond.
"Oke." jawab Nanta yang tidak melihat gelagat aneh, entah habis ditraining apa Wilma tadi setelah sholat berjamaah.
"Telepon dulu sebelum jemput." kata Wilma kemudian.
"Ok."
Makan malam berjalan seperti biasa, bercanda tidak ada habisnya, apalagi ada Wilma yang membuat semakin ramai.
"Jadi nanti kamu mau bilang apa sama Daddy?" tanya Raymond pada Wilma.
"Tentang apa?" tanya Wilma menyapu pandangan, saat ini semua mata menatap dirinya.
"Kamu sudah jadi calon istri." Roma langsung terkikik.
"Oh, nanti kan saat jemput ke Airport Bang Ando dijemput orang tuanya,terus antar aku pulang, saat ketemu Mommy dan Daddy aku tinggal bilang, Mommy aku bawa calon menantu." jawab Wilma tanpa beban, membuat semuanya terbahak.
"Begitu, Ndo?" tanya Nanta merasa ketinggalan berita.
"Terserah dia saja bagaimana skenarionya." bisik Ando pada Nanta.
Baru akan keluar rumah handphone Nanta berdering, rupanya Dania yang menghubungi Nanta.
"Aku baru mau jalan." kata Nanta pada Dania.
"Tidak usah jemput, bertemu dirumah Mas Nanta saja." kata Dania dari seberang.
"Kenapa?"
"Kita lagi dijalan menuju rumah Omanya Mas Nanta." jawab Dania.
"Kita tuh kamu sekeluarga?"
"Hu uh."
"Oke, aku tunggu ya." Nanta kembali duduk.
"Om Micko sekeluarga mau kesini." katanya pada Papa. Papa menganggukkan kepalanya seperti sudah tahu. Ayah Eja juga ikut menganggukkan kepalanya.
"Sudah janjian ya?" tanya Nanta.
"Iya." jawab Papa.
"Tidak bahas aku dan Dania kan?" Nanta memastikan.
"Sedikit." sahut Raymond terkekeh. Nanta menghela nafas.
"Nanta umur kamu beberapa bulan lagi dua puluh satu tahun loh." kata Oma.
"Iya terus kenapa?" tanya Nanta bingung.
"Raymond menikah umur dua puluh dua tahun." kata Opa.
"Ya sudah aku juga umur segitu menikahnya, eh sebentar lagi ya?" Nanta jadi terkekeh dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Sama dong aku sama Bang Ando juga sebentar lagi menikah." sahut Wilma membuat Nanta mendorong jidatnya dengan telunjuk kanan.
"Kamu sebentar lagi ujian. belajar yang benar." kata Nanta mengingatkan.
"Iya setelah lulus sekolah aku tidak masalah jika harus menikah." jawab Wilma membuat yang lain senyum dan tertawa.
"Kamu tidak mau kuliah?" tanya Ando.
"Mau, setelah menikah kan masih bisa kuliah seperti Bunda Kiki." jawab Wilma.
"Malah enak." katanya lagi.
"Enaknya kenapa?"
"Kalau ada tugas minta Bang Ando saja yang kerjakan tugasku. Kuliahku jadi cepat selesai deh." jawabnya terkekeh.
"Siap-siap lu, Ndo." Nanta terbahak mentertawakan Ando.
"Iya, yang penting senin dapat memo dari Om Micko, biar bisa langsung bekerja." jawab Ando tersenyum.
"Jadi, Ndo? sudah bilang Papa?" tanya Kenan pada Ando.
"Jadi dong Papon, aku harus bekerja, calon istriku suka barang mewah." jawab Ando membuat semuanya terbahak.
"Hebat lu, Ndo. Tahu dia suka barang mewah langsung giat bekerja." Raymond mengacungkan jempolnya.
"Makanya aku pilih Bang Ando dari Nanta, Bang Ray." jawab Wilma membuat semuanya tertawa, entah apa kata Leo dan Liana nanti melihat anaknya membawa pulang calon suami beserta calon mertua.
"Kan semua sudah ada pasangannya, mungkin Allah Kirim Ando buat kamu tuh karena kalian cocok." kata Nanta terkekeh.
"Makanya, mana Mama sayang lagi sama aku. Aku suka numpang makan dirumahnya Oma, Mama Bang Ando tidak masalah tuh." Wilma bercerita pada Oma.
"Jadi yang beruntung kamu apa Mamanya Ando?" tanya Oma menggoda Wilma.
"Mama Ando dong Oma, karena makanannya jadi ada yang makan, kata Mama kemarin itu, kalau aku tidak makan bisa berhari-hari didalam kulkas malah terbuang." jawab Wilma bangga.
"Kamu juga beruntung berarti, bisa menghabiskan makanan Mamanya Ando, apa menu pavorit dirumah Ando?" tanya Oma.
"Pepes, Ayah dan Bunda sudah pernah coba." sahut Nanta membuat Roma yang hamil ngences.
"Aku mau Pepes, Ray." kata Roma pada Raymond.
"Besok kita beli." kata Raymond cepat.
"Maunya sekarang, Ray." rengek Roma mengusap perutnya. Ah kalau sudah begitu mau tidak mau Raymond beranjak mengambil kunci mobil. Reza dan Kenan terkekeh, giliran Raymond merasakan repot melayani istrinya yang hamil.
"Ayo." ajak Raymond.
"Malam begini cari dimana, Ray?" tanya Kiki pada anaknya.
"Yang penting dicari dulu, Bunda. Mau ada atau tidak, anaknya tidak peduli yang penting bapaknya bergerak." jawab Raymond berdasarkan kebiasaan Roma yang selalu minta ini itu, begitu ditengah jalan minta pulang sudah tidak kepengen.
"Aku ganti baju dulu." jawab Roma beranjak senang." Kiki dan Nona tertawa, ingat kelakuan saat hamil dulu.
"Bunda dulu hamil kamu malah tidak suka makan, muntah terus." Kiki bernostalgia.
"Untung Roma tidak begitu sih Bunda. Cuma labil saja banyak mau di awal, ujungnya tidak jadi." jawab Raymond terkekeh.
"Masing-masing ada kelakuannya Ray, mungkin mau jalan-jalannya saja." kata Kenan.
"Sepertinya begitu Om." Raymond terkekeh sambil menunggu Roma bersiap.