
"Habis kondangan diculik ke bogor. Mau apa sih?" tanya Rumi pada Larry saat mereka sedang menuju parkiran.
"Temani Dania beli roti unyil." jawab Larry tersenyum.
"Kenapa dibilang unyil? kecil-kecil rotinya?" tanya Rumi yang ternyata belum tahu roti unyil.
"Ya betul kecil-kecil banyak yang suka." celutuk Femi tertawa.
"Kalau hamil begitu ya, mau makan apa suami ikuti, walaupun jauh tetap saja ditemani." Femi tersenyum bayangkan Nanta dan Dania.
"Tergantung suaminya." jawab Rumi ingat Papanya.
"Aku kalau jadi suami begitu." Diky langsung saja promosikan diri.
"Begitu bagaimana?" tanya Larry.
"Seperti Nanta, ikuti kemauan Istriku." jawab Diky tersenyum pandangi Rumi. Mulai cari celah menarik perhatian Rumi.
"Semoga omongan kamu sesuai kenyataan." kata Rumi terkekeh pandangi Diky.
"Buktikan saja." jawab Diky.
"Bagaimana buktikannya?" Rumi tertawa, Femi pun ikut tertawa. Sementara Larry cengengesan melihat aksi temannya tebar pesona.
"Mesti jadi suami dulu dong, kamu berminat jadi Istriku?"
"Hah?" khas orang Indonesia sekali gaya Rumi saat terkejut.
"Itu kalau mau buktikan loh." Diky terkekeh dan membuka pintu mobilnya. Mereka ke Bogor gunakan Mobil Diky.
"Tidak usah." jawab Rumi terkekeh.
"Sebenarnya aku malas ke bogor, mau dirumah saja." kata Rumi kemudian.
"Yah jangan begitu dong." Larry langsung saja membujuk Rumi.
"Demi kamu Leyi aku ikut ke bogor. Nanti pulang antar ke rumah loh."
"Iya nanti aku antar." janji Larry pada Rumi.
"Nanti setelah dari bogor antar Rumi dan Femi, baru lu ambil mobil nyong." kata Diky pada Larry atur strategy.
"Iya." Larry setuju saja. Belum juga berangkat ke Bogor sudah mau pulang saja.
Diky mulai lajukan kendaraannya ikuti Mobil Nanta. Kemanapun hari ini Nanta mengajaknya Diky ikuti, karena ia lagi tidak ada acara, kebetulan geng kwartet ada acara langsung ikut saja. Mike sebenarnya mau ikut tapi masih banyak keluarga Seiqa berkumpul dari luar kota, tidak enak jika ditinggal begitu saja.
"Gue sudah bawa baju sih kalau terpaksa harus menginap." kata Nanta terkekeh.
"Gue dimobil juga ada, mau buka kamar kah?" tanya Doni pada Nanta.
"Tadinya kalau berdua saja, tapi kalau konvoi begini dan bawa anak gadis orang takut jadi fitnah." Nanta pikirkan Rumi dan Femi.
"Ke Cirebon kita ajak Seiqa."
"Itu kan ada elu sepupunya, ada Kak Dini juga." jawab Nanta.
"Iya sih." Doni terkekeh.
"Larry fixed pilih Femi nih?" tanya Dona pada suaminya.
"Tidak tahu, belum pasti. Femi jual mahal, Larry biasa dikejar. Jadi sekarang mereka seperti tarik ulur." Doni jelaskan pada Dona.
"Kita saja yang gong kan mereka. Duh kalian ini, Mike dibantu Om Micko masa Larry juga harus dibantu sih, katanya playboy." Dona mendengus kesal.
"Biarkan saja urusan Larry." kata Doni ingatkan istrinya.
"Aku geregetan." Kata Dona tertawa.
"Biar saja Don, biar Larry rasakan jadi jomblo, dia terlalu sering ganti pacar dulu, sampai kita bingung tiap dia kenalkan pacarnya kok beda terus. Gue sampai pikir ini gue sudah pikun atau bagaimana?" Nanta tertawa ingat dulu saat Larry kenalkan setiap pacar yang dibawanya.
"Sampai begitu?" Dania tidak percaya.
"Memang begitu." Nanta dan Doni terbahak.
"Kalian minder dong?" pancing Dona.
"Minder kenapa?"
"Larry tiap sebentar ganti pacar, kalian itu-itu saja." Dona tertawa sekaligus ingin tahu.
"Jangan suka pancing-pancing, nanti kesal sendiri." Doni menjewer telinga istrinya.
"Kan cuma tanya."
"Pertanyaanmu mengandung racun."
"Kalau tidak macam-macam pasti santai saja tidak marah ditanya begini." beneran Dona cari gara-gara.
"Hmmm..." tersenyum jahil dan kembali menjewer telinga Dona.
"Doni, sakit tahu."
"Iya tahu, kamu sih cari gara-gara."
"Ganti topik ya, tadi kan bahas pacarnya Larry kenapa jadi melenceng." Nanta seperti moderator saja tengahi Doni dan Dona.
"Jadi bagaimana caranya biar status Larry dan Femi jelas?" tanya Dona.
"Kenapa kamu yang mikir sih, Larry saja santai, Femi mau syukur tidak mau ya sudah." jawab Doni.
"Cowok tuh harusnya usaha keras. Bukan santai tunggu dilamar." cerocos Dona membuat Nanta dan Doni tertawa.
"Nanti kita bilang sama Larry. Sekarang pikirkan kita saja, dibogor mau makan apa?" tanya Doni.
"Iya setelah itu, ada Mie aceh enak di bogor. Kita makan itu saja." Nanta langsung ingat Mie Aceh kesukaannya di Kota Bogor.
"Mas kamu tuh lucu betul deh, Di Malang makan pempek, di Bogor makan Mie Aceh." Nanta terbahak mendengar komplenan istrinya.
"Iya betul juga. Mana aku tahu bisa begini." jawab Nanta tertawa.
"Di Bali makan nasi padang." celutuk Doni yang ingat saat ke Bali mereka hanya bisa makan nasi padang saja karena khawatir makanan di restaurant lain tidak halal.
"Iya malah di Medan ada Bika Ambon." celutuk Dona membuat mereka berempat tertawa. Ada saja hal receh tidak penting yang mereka bahas.
Sementara kembali Ke Mobil Doni.
"Tidak ada Mike dan Daniel kurang seru ya." Rumi jadi ingat Mike dan Daniel adik Larry.
"Kenapa?" tanya Larry.
"Mereka lucu, aku waktu satu mobil dengan Mike tertawa terus, begitu juga saat pesan makan sama Daniel." jawab Rumi merindukan Daniel yang sudah di asrama.
"Kalau menikah denganku aku pastikan kamu akan melupakan dua orang itu." kata Diky pada Rumi.
"Kamu melamar aku?" tanya Rumi tertawakan Diky.
"Kalau kamu mau sih." jawab Diky.
"Beli kucing dalam karung, cuma lihat bungkus Bagus, tidak tahu dalam hancur lebur." Rumi terkekeh.
"Maksudnya?" tanya Diky.
"Baru kenal berapa jam sudah melamar, kalau itu dikatakan melamar ya." Rumi tertawa sementara Diky fokus menatap ke depan.
"Memang tidak boleh?" tanya Diky.
"Yah terkesan gombal." jawab Rumi.
"Kalau begitu kita saling mengenal dulu juga boleh." Diky tertawa.
"Sebenarnya yang playboy tuh kamu atau Larry sih?" tanya Femi pada Diky.
"Atau kalian satu type?" tanya Femi lagi.
"Larry bukan playboy." jawab Rumi terkekeh.
"Tapi pacarnya banyak." jawab Femi.
"Larry hanya kasih kesempatan untuk para gadis maksimal dua minggu. Setelah itu mereka putus." Diky tertawakan Larry.
"Pacaran cuma dua minggu terus ganti begitu terus sampai enam bulan terakhir, sejak bergabung dengan Nanta, Doni dan Mike." Diky bocorkan rahasia Larry tanpa diminta.
"Apa rasanya pacaran hanya dua minggu?" sungut Femi.
"Tanya saja Larry." Diky tertawa.
"Tidak tahu memangnya aku makan." Larry tertawa.
"Beneran playboy berarti." Femi gelengkan kepalanya.
"Playboy itu suka merayu, aku tidak." jawab Larry.
"Seperti Diky dong tadi sibuk merayu." Rumi tertawakan Diky.
"Playboy juga matanya jelalatan kalau lihat cewek cantik, aku tidak." lanjut Larry lagi.
"Beneran itu seperti Diky suka jelalatan matanya." Rumi terbahak, Diky hanya meringis.
"Jadi playboy nya Diky bukan Larry." kata Rumi pada Femi.
"Gue bukan playboy kali, kata Dania tadi kita nih Pencari Cinta." Diky membela diri.
"Jadi kamu sedang mencari?"
"Hu uh."
"Cinta sejati?"
"Yah Cinta sejati."
"Selamat mencari." Rumi tersenyum manis pada Diky.
"Sudah ketemu." jawab Diky santai setir kendaraan tatap Rumi melalui kaca spion.
"Good dong sudah ketemu. Congratulations." Kembali tersenyum manis.
"Duh senyumnya Manis betul." gumam Diky, Larry menoyor kepala Diky, ia kalah aktif dengan Diky yang terus saja dekati Rumi, sementara Femi dan Larry tidak ada pergerakan, meyakinkan Femi bahwa ia ingin serius saja rasanya masih belum yakin.
"Diky tapi kamu keren." Femi acungkan jempolnya.
"Kenapa?" tanya Diky.
"Kalau suka satu orang kamu akan kejar terus sampai dapat." Femi seperti cenayang.
"Iya aku memang begitu." jawab Diky.
"Tidak seperti temanmu dong, dicueki sekali saja langsung tidak ada kabar." sindir Femi pada Larry.
"Sindir gue ya?" tanya Larry tertawa.
"Bapak merasa ya? saya kan tidak sebut nama." jawab Femi terkekeh.
"Tidak usah dikejar, langsung lamar saja nanti." jawab Larry membuat Femi jadi kehabisan kata-kata, harus bilang apa kalau begini karena perasaannya tidak karuan.