
Nanta baru saja sampai dirumah, selesai membersihkan diri, ketika Mike menghubunginya via telepon.
"Kenapa Maiiiik?" tanya Nanta pada sahabatnya.
"Gue tidak setuju ah kalau Larry sama Rumi." kata Mike langsung pada pokok permasalahan.
"Iya gue juga, kalau dia suka mabok." jawab Nanta pada Mike.
"Rumi termasuk cewek yang berani sih dekati Larry, gue khawatir Larry jatuh cinta sama Rumi." kata Mike lagi, suaranya terdengar resah.
"Larry kan sudah dewasa, pasti tahu mana yang baik mana yang tidak." jawab Nanta. Ia yakin pasti Larry tahu wanita seperti apa yang ia inginkan jadi istrinya nanti.
"Tapi Bang Steve sama Oma Lani tadi bicara sama Larry. Apa mereka win win solution? Mereka keluarga terpandang loh, kalo Larry mau bagaimana?" Mike bingung sendiri.
"Tanya saja Larry. Jangan menduga-duga." jawab Nanta.
"Telepon sekarang ya?" tanya Mike.
"Terserah, mau kapan, apa tidak capek, bahas masalah ini." jawab Nanta terkekeh.
"Justru karena masih hangat harus kita bahas, sebentar ya gue coba hubungi, kalau dia masih dijalan kita matikan saja." kata Mike pada Nanta, sudah seperti orangtuanya Larry saja, ikut menentukan jodoh Larry.
"Iya." Nanta terkekeh. Tadi Mike terlihat santai, kenapa sekarang jadi panik begini.
"Eh group apa nih?" Larry terkekeh saat mengangkat teleponnya.
"Masih dijalan sama Rumi?" tanya Mike langsung.
"Masih dijalan tapi Rumi sudah turun." jawab Larry.
"Kenapa memangnya?" tanya Larry lagi.
"Gue tidak setuju elu sama Rumi." tegas Mike pada sahabatnya.
"Kemarin yang mau jodohkan gue siapa?" tanya Larry.
"Iya gue, tapi kan gue tidak tahu dia suka mabok, tahunya dia cantik, pintar, berkarir, terlepas dia keponakan Papi atau bukan." jawab Nanta langsung jelaskan alasannya.
"Elu suka sama cewek mabok?" tanya Mike lagi.
"Ish, kan cuma teman. Memang kalau dia suka mabok kita tidak boleh berteman?"
"Tidak boleh kalau bawa pengaruh buruk, nanti elu ikutan suka mabok lagi." Mike langsung saja mengoceh sampaikan keberatannya pada Larry.
"Dari pada elu sama Rumi, mending elu tunggu Balen besar." kata Mike lagi konyol. Larry langsung terbahak.
"Kenapa jadi adek gue sih." dengus Nanta kesal.
"Adik kita, bukan adik elu saja Nanta." Larry malah ikut mendengus.
"Iya adik kita. Kenapa mesti Elu disuruh menunggu adik kita besar?" Nanta terkekeh.
"Ya kalau sampai merasa tidak ada wanita lain, masih ada Balen, Selin dan Tori." kata Mike membuat Nanta dan Larry tertawa.
"Tidak tunggu anak gue saja sekalian?" Nanta tambah-tambahi saja.
"Elu pikir gue segitu hopelessnya ya? Dengar ya kalian, gue dari awal kan belum pernah bilang kalau gue tertarik sama Rumi, gue hanya mau berteman. Kalian saja yang heboh tidak jelas." Larry tertawakan sahabatnya.
"Tapi ya asal kalian tahu, Bang Steve minta carikan tempat rehab untuk Rumi, Oma Lani juga tadi minta kita bantu Rumi agar lepas dari alcohol." kata Larry pada sahabatnya.
"Doni tidak diajak bicara nih?" tanya Nanta pada keduanya.
"Tidak usah, Doni minta diceritakan saja besok, dia tadi capek sekali dijalan saja sudah tidur." jawab Mike pada Nanta.
"Setahu gue alcoholic harus dibawa ke psikolog. Ke dokter psikolog Dania saja, mau tidak tuh?" tanya Nanta pada Larry.
"Nah tadi gue tanya, elu mau berhenti minum tidak. Dia bilang mau saja tapi tidak bisa. Gue tanya mau di rehab apa tidak, dia bilang percuma di rehab." Larry menjelaskan.
"Kalau Rumi belum ada keinginan lepas alcohol, bikin capek saja carikan dia psikolog untuk konseling." kata Mike menghela nafas panjang.
"Papi tahu tidak sih kalau Rumi alcoholic?" tanya Larry pada Nanta.
"Entah ya, besok gue tanya deh kalau situasi memungkinkan." jawab Nanta.
"Nah itu makanya mesti dibawa ke psikolog." jawab Nanta.
"Leyi, jangan sampai membebani elu ya." Nanta mengingatkan.
"Gue akan bantu sebatas kemampuan gue saja Nan, tidak memaksakan diri. Buat apa juga." Larry tertawa tapi terharu juga sahabatnya pikirkan dirinya.
"Leyi, jangan merasa kasihan dan tidak tegaan. Nanti naksir lagi karena kasihan." Sekali lagi Mike mengingatkan.
"Gue naksirnya sama Seiqa, Mike." jawab Larry menggoda Mike.
"Oh tidak bisa, tadi pagi aku sudah bicara hati kehati." kata Mike pada sahabatnya.
"Dibantu mertua gue kan?"
"Istri lu ember juga ya, Dona saja sampai tahu." dengus Mike karena ada Dania juga disana.
"Sepupu lu kan itu." kata Larry, mereka terbahak.
"Jadi tidak ada kesempatan gue sama Seiqa ya?" Larry memastikan.
"Jangan pernah berharap Leyi, cari yang lain saja, wanita baik-baik." Mike nasehati Larry.
"Rumi baik loh." kata Larry pada Mike.
"Hmm... sudah mulai naksir kan." langsung saja keluarkan nada sumbang.
"Elu mau Ibu dari anak-anak lu nanti mabok-mabokan?" tanya Nanta pada Larry.
"No Way." jawab Larry.
"Seperti Ichie saja No Way." Nanta terbahak.
"Oke gue sudah mau sampai, mau bahas apa lagi?" tanya Larry pada kedua sahabatnya.
"Leyi, kamu tidak boleh berduaan dengan Rumi." tegas Mike pada Larry.
"Tadi elu tinggalin gue, malah ikut Doni." Larry jadi sewot. Mike tertawa jadinya.
"Itu Doni kasihan, kamu nanti capek sayang." Mike membuat Larry jadi geli.
"Kok gue agak merinding." kata Larry pada keduanya.
"Gue juga." jawab Nanta. Mereka tertawa bersama.
"Sudah ya, kalian kenapa jadi seperti Bapak gue sih? Larry jadi kesal sendiri.
"Elu kira gue semalam tidak tidur karena apa? anak gue komplen karena gue lebih pentingin anak perawan."
"Maksud elu kita berdua anak perawannya?" tanya Larry.
"Iya lah siapa lagi." Nanta terkekeh.
"Gue sih iya masih perawan, Larry meragukan Nan." Mike menggoda sahabatnya.
"Sembarangan, dikira gue *** bebas kali punya banyak pacar. Kalau iya sudah ke Dokter kelamin dong gue." omel Larry pada Mike.
"Hahaha mulai spaneng, sudah ya Kakak Leyi, selamat istirahat. Ingat jangan kasih harapan sama Rumi." Kembali Bapak Mike ingatkan anaknya Larry.
"Iya Papa." jawab Larry membuat Nanta tertawa geli.
"Sudah seperti Bapak gue kan gayanya.". Larry terbahak.
"Leyi, coba dekati lagi itu Femi atau Rima." kata Mike pada Larry, pikirnya lebih baik Larry dengan dokter yang dikenalkan Om Deni pada Larry saat itu.
"Elu tuh ya, memangnya gue ini apa. Enak saja atur-atur perasaan gue." Larry jadi tambah kesal.
"Tambah spaneng, sudah lah kita akhiri sampai disini." kata Mike pada sahabatnya.
"Maik, Nan, thank you. Sudah care sama gue." kata Larry sebelum menutup teleponnya.
"That's what the friends are for, Leyi." jawab Nanta. Ya itulah gunanya teman, saling mengingatkan, saling support satu sama lain.