I Love You Too

I Love You Too
Pisah Kota



"Setuju kan Ken?" tanya Enji mengangkat alisnya pada Kenan. Kenan tersenyum saja sambil memandang Nanta yang cengengesan.


"Berteman sama siapa saja boleh." kata Kenan masih tersenyum pada Nanta.


"Kalau jodoh tidak kemana." kata Kiki pada Enji. Enji menganggukkan kepalanya. Kenan ikut menganggukkan kepalanya kemudian menatap Nanta.


"Nanta mau ikut Papa cek rumah kita atau mau istirahat?" tanya Kenan pada Nanta, ia sudah selesai makan.


"Ikut." jawab Nanta cepat segera menyelesaikan makannya.


"Besok sudah karantina lagi ya Nan?" tanya Enji, Nanta mengangguk cepat, mulutnya masih penuh dengan makanan.


"Titip Nona, Ki." kata Kenan ketika hendak menuju mobilnya. "Yuk Kak Enji aku keluar dulu." Kenan melambaikan tangannya pada Enji, sementara Nanta menyalami Bunda Kiki dan Ame.


"Hati-hati sayang, Nanti Ame kasih tahu Jelita, ada Bang Nanta, Jelita kangen sekali sama kamu." kata Enji menepuk bahu Nanta.


"Iya Ame, aku juga kangen Jelita, aku ikut Papa dulu." Nanta segera berlari menyusul Kenan yang sudah menunggu dimobil, mereka hanya berdua, Pak Atang dibiarkan istirahat.


"Kamu mau dijodohkan?" tanya Kenan pada Nanta ketika mereka sudah dalam perjalanan.


"Tidak tahu." jawab Nanta mengangkat bahunya. Kenan terkekeh mengacak rambut bujangnya, memang belum saatnya menjodohkan Nanta karena menurut Kenan perjalanan Nanta masih panjang. Walaupun pengalaman dikeluarga, Reza dan Raymond yang dijodohkan dari kecil baik-baik saja.


"Papa mau aku menikah cepat? belum kuliah sudah mau menjodohkan." tanya Nanta kemudian. Kenan menggelengkan kepalanya.


"Ayah Eja dan Bang Raymond dijodohkan dari kecil. Mau menikah cepat atau lambat yang penting kamu bahagia dan tidak bikin dosa." kata Kenan sambil fokus menyetir.


"Lagi pula yang ribut mau menjodohkan kamu itu Ame, bukan Papa." kata Kenan lagi.


"Hahaha iya Ame ada-ada saja. Sekolahku saja belum selesai. Wilma juga masih kecil Pa, bisa-bisa pernikahan dini kami kalau dijodohkan sekarang."


"Ish kenapa jadi pernikahan dini, kamu ini." Kenan terkekeh dibuatnya.


"Habis kalau dijodohkan sekarang, pikiranku sebelum kuliah aku menikah saja, hahahaha." Nanta terbahak.


"Kamu sudah mau menikah?"


"Tidak lah Pa, mau kasih makan apa Istriku, merepotkan Papa dan Mama nanti." kata Nanta menggelengkan kepalanya. Kenan mengangguk setuju.


Kenan memarkirkan kendaraannya didepan sebuah rumah sesuai dengan gambar dan map yang Reza kirimkan padanya, tidak begitu jauh dari Reza, masih dikomplek yang sama. Hanya saja kalau jalan kaki cukup melelahkan.


"Ini rumah kita pa?" tanya Nanta pada Kenan. Kenan mengangguk, keduanya segera masuk kedalam melihat interior yang sudah terisi, hanya saja rumah masih tampak Kotor karena masih ada tukang yang mondar-mandir.



Nanta duduk dipinggiran kolam renang, sementara Kenan berkeliling memeriksa setiap detail pekerjaan, apakah sesuai keinginan Nona apa tidak. Kenan tampak puas dengan hasil pekerjaan yang ada. Ia segera meminta Reza untuk mencarikan pekerja rumah tangga untuk membantu dan menemani Nona dirumah.


Sebelum pindah, Kenan mau semua sudah rapi dan bersih. Nantinya akan lebih ramai lagi karena ada istri dan anak Pak Atang ikut bekerja dirumah Kenan, juga Bibi Latifah.


"Papa, aku tidak sabar mau segera tinggal disini." kata Nanta ketika Kenan mendekat.


"Kita pindah, kamu masih di asrama." kata Kenan terkekeh.


"Iya, kalau Indonesia tidak lolos delapan besar, aku hanya dua minggu saja. Kalau lolos bisa lebih lama tinggal di asrama."


"Sabar saja, kamarmu kan tetap menunggu. Tidak akan diambil orang." Kenan menatap Nanta.


"Iya sih, tapi aku tidak sabar dikamar baru." kata Nanta tersenyum lebar.


"Mau Papa doakan biar kalah, jadi hanya sebentar di asrama?" Kenan terbahak, melihat Nanta yang memonyongkan bibirnya.


"Tetap mau menang, berarti harus sabar kan?" kata Kenan kemudian.


"Hu uh." Nanta tampak setengah hati.


"Fokus Boy, kamu pindah sekolah alasannya Basket kan? jadi harus maksimal, jangan terpecah konsentrasi karena kamar baru." kata Kenan mengingatkan Nanta.


"Lagi dirumah baru, sama Papa." kata Nanta begitu menggeser tombol hijau.


"Aih gaya sekali, itu kursi dipinggir kolam banyak sekali, orangnya hanya bertiga, tidak ada aku dan Roma." kata Raymond pada Nanta.


"Nanti kalau aku sudah selesai karantina ke Jakarta ya, menginap saja disini. Bang Ray bisa tidur di sofa pinggir kolam." kata Nanta terbahak, berhasil menggoda Raymond.


"Aku tidur dikolam saja." kata Raymond kesal, Nanta dan Kenan terbahak dibuatnya.


"Nanti barbeque sudah tidak di rooftop, tapi dipinggiran kolam." kata Nanta memberi ide.


"Terus saja kasih ide, jangan saja didepan Roma, bisa minta pindah ke Jakarta nanti." kata Raymond terkekeh.


"Bagaimana Fero?" tanya Kenan pada Raymond, hari kedua Raymond bekerja tanpa Kenan.


"Masih belajar kita Om, tapi asik sih." kata Raymond pada Kenan, sebenarnya ia sudah sangat menguasai, mungkin hanya sedikit adaptasi dengan Fero.


"Syukurlah, Om malah belum ke kantor pusat, mungkin besok atau minggu depan." kata Kenan lagi.


"Enak sekali minggu depan." protes Raymond.


"Bos sih bebas Bang." sahut Nanta kembali menggoda Raymond.


"Hu uh." Raymond mencebikkan bibirnya.


"Nanta, besok kamu ulang tahun loh, kado dari Papa mau Abang bisikkan?" kata Raymond jahil.


"Apa kadonya, aku besok masuk asrama." kata Nanta lagi.


"Berarti kadonya setelah selesai karantina baru bisa lihat." kata Raymond memanasi Nanta.


"Ray, Nanta tadi sudah tidak konsen karena kamar baru, jangan kamu tambah hilang fokus karena kado ulang tahun." kata Kenan mengingatkan.


"Iya Nan? kamu senorak itu kah, karena rumah dan kamar baru jadi malas ke asrama?" Raymond tidak percaya.


"Rumah baruku menyenangkan Bang Ray, aku sukaaaa." kata Nanta melompat girang.


"Ish masih saja seperti bocah, kamu besok tujuh belas tahun loh."


"Masih bocah juga Bang, dewasa kalau sudah dua puluh satu tahun, seperti film-film dua puluh satu tahun keatas " kata Nanta terbahak. Kenan ikut tertawa sementara Raymond menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Mana Kak Nona?" tanya Raymond.


"Dirumah Bunda, tadi tidur waktu kita kesini." kata Nanta.


"Berarti belum lihat rumah baru?"


"Belum, masih kotor juga." kata Nanta apa adanya.


"Om, bilang Ayah aku juga mau rumah dekat rumah Om Kenan." kata Raymond membuat Kenan terbahak.


"Tidak bisa jauh dari Om, boy? Di Malang dekat rumah Om, Dijakarta juga mau dekat rumah Om." kata Kenan masih terbahak.


"Sepertinya begitu, aku suntuk tidak ada Om, tadi malam rasanya seperti ada yang hilang padahal ada Bi Wasti dan yang lainnya." Raymond mulai curhat.


"Tadi shubuh ke mesjid sama Pak Ali, aduh aku kehilangan Om." kata Raymond lagi.


"Tinggal saja dirumah Om kalau begitu, Rumahmu kontrakan saja sama Fero." Kenan memberi ide.


"Memangnya pengaruh kalau begitu?"


"Paling tidak bisa ajak Fero untuk ke Mesjid bersama kan? hanya ganti orang saja, suasana tetap sama." kata Kenan santai.


"Om tidak kehilangan aku ya? santai sekali. Cuma aku yang rindu Om rupanya. Parah sekali Papamu, Nan. Lupa sama anaknya yang di Malang, padahal baru sehari." Raymond mulai ngomel sementara Nanta dan Kenan terbahak, Walaupun ikut merasa sedih karena mereka sekarang pisah kota.