I Love You Too

I Love You Too
Sepemikiran



Setelah makan, mereka pun langsung gerak cepat ke Musium Angkut, mengelilingi setiap sudut dan berfoto dengan berbagai gaya. Wilma senang sekali, tidak henti-henti memuji tempat wisata yang mereka kunjungi.


"Ini keren, Malang bisa punya yang begini itu keren sekali." katanya berulang-ulang. Nanta tertawa senang melihat kebahagiaan sahabatnya, Ando pun sama takjubnya dengan Wilma, mereka memang pasangan yang cocok, sama-sama jumpalitan.


Sebenarnya ini juga pertama kali Nanta ke Musium Angkut, selama ini ia hanya mendengar cerita dan melihat foto-foto sahabatnya, Nanta setuju dengan pendapat Wilma bahwa disini memang keren. Boleh lah bangga lahir dan besar di Malang, banyak tempat wisata dan kotanya menyenangkan.


"Kamu minggu lalu kesini juga?" tanya Nanta pada Dania sambil berjalan santai mengikuti Ando dan Wilma yang sudah berjalan lebih dulu.


"Tidak, tapi beberapa tahun lalu sudah pernah juga liburan kesini." jawab Dania.


"Bagus ya, walaupun di London kamu pasti sudah lihat aslinya." Nanta menunjuk replika Istana Buckingham yang baru saja mereka lewati.


"Bagus dong, walaupun Replika tapi ini menyenangkan, Indonesia memang selalu dihati." Dania tertawa malah memandang Nanta, bukan memandang Istana yang Nanta tunjuk.


"Mas Nanta, aku belum pernah ke Palembang loh, yuk travel kesana." ajak Dania kemudian.


"Kamu ajak aku travel, bukannya biasanya sendiri?" Nanta seperti tidak percaya.


"Katanya bahaya kalau sendiri, sekarang kan sudah punya teman, ayo tanggung jawab, jadi temanku harus mau ikut travel." kata Dania membuat Nanta terbahak.


"Tidak janji ya, aku tuh mulai semester depan sudah mulai kerja, belum tahu bisa travel apa tidak, yang pasti jadwalku dua minggu sekali mengunjungi Opa, Oma, Mama disini." kata Nanta pada Dania.


"Oh ya? kerja dimana? aku mau dong kalau ada lowongan. Lumayan buat uang jajan." Dania semangat sekali, Nanta terkekeh mendengarnya.


"Memangnya uang jajanmu kurang?" Nanta tertawa memandang Dania yang semakin lama semakin enak dipandang.


"Loh Mas Nanta sendiri kenapa masih kuliah sudah mau kerja, mau cari tambahan uang jajan bukan?" Dania malah balik bertanya.


"Hahaha aku bantu Ayah Eja, Om ku. sekalian belajar bisnis. Jadi tidak tahu nanti digaji apa tidak. Tapi kalau ada lowongan aku kasih tahu kamu ya. Yang jadi masalah, apa Papa dan Mama kamu nanti ijinkan kamu kerja? tanya dulu lah, aku yakin kamu akan bertemu Om Micko disini." Nanta menoleh pada Dania.


"Papa mana peduli aku sih, selama ini juga tidak pernah mencari tahu kabar tentang aku." Dania tersenyum miris.


"Jangan menduga-duga, telusuri dulu Om Micko pernah cari kamu tidak." Nanta terkekeh, ingin sekali bercerita apa adanya tapi kok takut merusak suasana.


"Cari tahu bagaimana? selama ini tidak pernah ada kabar beritanya. Aku sepuluh tahun tidak bertemu loh." Dania tampak serius.


"Pasti ada sebabnya, kenapa kalian tidak bertemu selama itu." Nanta mencoba menetralisir agar Dania tidak emosi.


"Mas Nanta bela Papa terus sih, mentang-mentang kenal dekat, jadi kesal aku." Dania cemberut.


"Ih Kamu tuh ternyata cantik loh kalau cemberut begitu. Jangan pernah senyum ya, cemberut saja terus, biar tambah cantiknya." kata Nanta terkekeh menggoda Dania.


"Hahaha rese, beneran kesal aku." malah tertawa mendengar perkataan Nanta.


"Baru kamu loh yang bilang aku rese." Nanta berhenti berjalan menatap Dania serius.


"Oh ya? yang lain biasanya bilang Mas Nanta apa?" tanya Dania ingin tahu ikut berhenti memandang Nanta.


"Ganteng." jawab Nanta sok polos kemudian lanjut melangkah membuat Dania terbahak dan mencubit bahunya.


"Eh siapa suruh tertawa, kan aku bilang cemberut saja terus." Nanta tersenyum jahil sambil mengusap bahu yang Dania cubit, lumayan terasa perih.


"Hahaha bodo ah, Mas Nanta nyebelin." kali ini Dania ingin memukul Nanta, tapi langsung Nanta tangkap tangannya, tanpa sadar mereka pun berpegangan tangan.


"Masa sih? baru kamu yang bilang aku nyebelin." kata Nanta masih memegang tangan Dania, khawatir kena pukul karena cubitannya tadi masih berasa.


"Iya yang lain bilang Mas Nanta ganteng kan?" Dania tiba-tiba saja ingin mencubit pipi Nanta gemas, jahil sekali teman barunya ini. Tapi tangannya masih dipegang Nanta.


"Ehem... pegangan terus." Ando tiba-tiba saja sudah berada didekat mereka, mungkin tadi masuk ke dalam arena didekat Replika Istana Buckingham.


"Elu sudah dikasih kepastian, mau saja dipegang tangan." bisik Wilma pada Dania.


"Apa sih?" Dania terkekeh mencubit pipi Wilma, efek tidak tersalurkan rasa gemasnya pada Nanta.


"Hadeh, sama saja seperti Bang Nanta suka cubit pipi gue." Wilma menggelengkan kepalanya sambil mengusap pipinya yang menjadi ranum.


"Ayo cepat, kita mengejar waktu untuk makan malam, perjalanan satu jam loh ke lokasi acara. Kalian mau mandi dulu tidak? kalau mau mandi aku minta satu kamar hotel untuk transit menumpang mandi." kata Nanta pada semuanya.


"Mau, minta dua kamar lah. Mana bisa mandi kamarnya hanya satu." kata Wilma protes.


"Ish kita kan hanya menumpang mandi, tidak menginap dihotel. Biasanya kamar transit hanya disediakan satu atau dua kamar. Tidak mungkin kita pakai semua. Atau mandi saja dirumahku ya. Ayo cepat bergerak." perintah Nanta pada semuanya.


Sebenarnya tidak enak liburan tergesa-gesa begini, tapi apalah daya. Om Micko pasti tidak sabar untuk bertemu dengan putrinya, dan memang mereka diajak ke Malang untuk menjalankan misi ini kan, mempertemukan Dania dengan Om Micko sekaligus menyenangkan Wilma yang ingin sekali berlibur ke Malang. Sekali dayung dua pulau terlampaui.


"Mas Nanta..." Dania ikut berjalan cepat mengikuti langkah Nanta, Ando dan Wilma, ia menarik ujung t-shirt yang Nanta pakai. Lagi-lagi Ando berjalan lebih dulu bersama Wilma karena Wilma tidak mau kehilangan setiap spot foto yang mereka lewati.


"Hmm..." Nanta menoleh masih terus dengan langkah besarnya.


"Cewek-cewek itu dari tadi fotoin kamu." kata Dania menunjuk segerombolan gadis seumurannya yang kasak kusuk dan mengarahkan kamera mereka pada Nanta.


"Mereka lagi selfie." kata Nanta tidak ambil pusing.


"Tadi aku lihat dilayar handphone salah satu dari mereka ada foto close up Mas Nanta." kata Dania dengan nafas memburu Karena kewalahan mengikuti langkah Nanta.


"Kecepatan ya jalannya?" tanya Nanta pada Dania yang nampak tersengal, tidak menggubris pembahasan gadis yang sedari tadi disampingnya ini. Dania menganggukkan kepalanya.


"Hehehe maaf." Nanta mengacak anak rambut Dania, sudah merasa dekat sepertinya.


"Ayo." Nanta memperlambat langkahnya, sementara Dania masih memegang ujung t-shirt Nanta. Sebenarnya Nanta ingin sekali menggandeng tangan Dania, supaya langkah mereka bisa beriringan, tapi kok rasanya sungkan.


"Boleh gandeng tangan, tidak?" tanya Dania membuat Nanta membesarkan bola matanya. Mereka sepemikiran rupanya.


"Hehehe boleh." Nanta langsung saja cengengesan.


"Biar gadis-gadis itu matanya tidak kesini terus." kata Dania dengan mulut maju beberapa senti.


"Aku tidak merasa mereka melihat kita." Mereka sudah bergandeng tangan kini, Dania memegang pergelangan tangan Nanta.


"Melihat kita? melihat kamu kali." protes Dania membuat Nanta terkekeh.


"Cerewet, mau foto seperti Wilma tidak?" tanya Nanta pada Dania.


"Aku tidak suka di foto sebenarnya." jawab Dania.


"Jadi kalau travel kamu foto apa? kemarin itu mengalungkan kamera." tanya Nanta pada gadis yang sekarang memegang tangannya, lucu sekali jadi ingat Balen, nanti kalau sudah besar harus betul-betul dijaga, supaya bertemu pria yang tepat. Eh jauh sekali memikirkan Balen, pikirkan yang didepan mata dulu deh, batin Nanta.


"Aku suka foto pemandangan. Makanya minggu lalu ke Bromo." jawab Dania tersenyum manis.


"Rencana ke Palembang mau lihat apa?" tanya Nanta, mereka berjalan agak santai, tapi lumayan cepat.


"Mau makan Pempek." jawab Dania.


"Ah itu sih tidak perlu ke Palembang. Dikulkas Mamaku ada." jawab Nanta tertawa, sepertinya akan segera mengosongkan kulkas Mama yang selalu terisi Pempek bikinan Om Bagus, terlebih kalau jadwal Nanta pulang ke Malang harus ada itu.


"Aku mau." kata Dania senang.


"Kenalan dulu sama Mamaku ya, baru kamu dikasih Pempek." jawab Nanta lagi-lagi membuat Dania tertawa. Entah kenapa senang saja rasanya bisa kenal dan seakrab ini dengan Nanta, walaupun menyebalkan banyak sekali gadis yang memandang kearahnya, padahal yang lebih ganteng juga banyak.